Columns - Vol I No 1 - Oktober 2002
 
Peran Teknologi Standar


Fondasi dari semua evolusi e-Business ini adalah ketersediaan standar teknologi yang memungkinkan adopsinya semakin meluas sesuai kebutuhan. Pada Era Web Publishing, penggunaan standar protokol aplikasi masih suatu kemewahan, kecuali platform protokol komunikasi TCP/IP.

Teknologinya terbuka, sederhana, dan dapat diakses di manapun di seluruh titik di dunia. Dengan platform baku dan terbuka ini, tumbuh inovasi yang luar biasa di industri teknologi komunikasi data. Mulai tersedianya standar bahasa HTML (HyperText Markup Language), untuk presentasi World Wide Web secara mudah, dan kaya penampilan, WYSWYG (what you see is what you get), namun masih bersifat statis dan tersentralisasi. Akses ke WWW cukup menggunakan web browser.

Selanjutnya pada fase E-Business transaction, tersedianya standar keamanan SSL (Secure Socket Layer) yang memberi keamanan koneksi ke web. SSL memberi autentikasi server, namun belum autentikasi pembeli (client). Teknologi SSL cukup memadai untuk transaksi B2C. Sedangkan untuk B2B, muncul teknologi PKI (Public Key Infrastructure) yang mampu autentikasi dua arah.

Pada fase E-Business Integration, tersedianya standar protokol aplikasi sangat penting dalam memadukan sistem dan platform yang beragam. Muncul bahasa pemrograman JAVA yang mampu dioperasikan secara cross-platform, interaksi dan transaksi yang dinamis (melalui applet), eksekusi yang terdistribusi di client secara bersamaan, dan penggunaan sumberdaya (prosesor, bandwidth) yang sangat efisien.

JAVA memungkinkan integrasi aplikasi inter-departemental dalam suatu entreprise. Selanjutnya standar XML (eXtensible Markup Language) muncul untuk memfasilitasi integrasi B2B. XML memiliki kemampuan presentasi dan integrasi data secara multiformat pada lingkungan multiplatform.

Evolusi e-Business akan terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dan kemampuan teknologi standar untuk menopangnya. Para engineer terbaik di seluruh dunia terus berlomba-lomba menyempurnakan platform yang ada secara collaborative. Teknologi sudah seperti udara, pilihan begitu berlimpah dan efisien. Kata kunci ada pada kebutuhan dan kekuatan model bisnis yang rasional, scalable, dan menjadi kepentingan bersama untuk meraih masa depan yang lebih cerah.•

Evolusi E-Business dan Peran Teknologi Standar
oleh Indra M. Utoyo
Penyempurnaan kapabilitas teknologi internet dan web telah diterima secara luas, yang kemudian dipercaya sebagai platform dominan dalam trasformasi bisnis menuju ekonomi jaringan (network economy) dengan tatanan model bisnis yang terus diperbaharui.

Evolusinya dimulai dari fase Web Publishing, yang dimanfaatkan untuk publikasi informasi perusahaan dan media massa di situs web atau homepage yang dibarengi komunikasi e-mail. Perusahaan-perusahaan didorong untuk memanfaatkan internet dalam mempublikasikan profil perusahaan, aktivitas promosi, produk dan layanan.

Fase ini dapat dikatakan sudah mencapai tahap critical mass. Saat ini, perusahaan yang tidak punya situs web dianggap ketinggalan jaman. Yang tidak kalah pentingnya adalah peran Web Publishing dalam mentransformasikan bisnis media cetak. Masih hangat dalam ingatan kita, kemunculan detik.com yang menghasilkan paradoks dalam bisnis media, dimana berita media cetak yang semula disajikan harian, menjadi hangat detik per detik melalui web. Pada era ini, peran iklan di internet menjadi penopang utama model bisnis publishing melalui web. Web informasi merupakan salah satu jasa besar internet di samping e-mail.

Selanjutnya masuk ke fase E-Business Transaction, dimana teknologi internet diadop sebagai cara baru berbisnis dengan munculnya perusahaan dot.com yang membuka layanan dan toko Web dalam format business-to-consumer (B2C). Pada transformasi menuju media transaksi, terjadi “jurang penghalang” yang harus dilewati usaha dot.com untuk diterima pasar, yaitu isu keamanan (security chasm) berbelanja di internet. Solusi keamanan selanjutnya mendorong pemanfaatan teknologi web secara lebih luas lagi.

Fase selanjutnya adalah E-Business Integration. Bisnis mulai mendapat tekanan untuk menjalankan usahanya secara lebih efisien dan seluruh proses bisnis terintegrasi secara korporasi (enterprise). Berarti ada kebutuhan agar aplikasi-aplikasi sistem informasi internal, server-server, dan databases yang berjalan di unit-unit bisnis, kantor cabang, dan kantor perusahaan secara inter-departemental dapat saling dipertukarkan (shared) dan saling terhubung.

Kebutuhan integrasi internal perusahaan memunculkan teknologi EAI (Enterprise Application Integration) yang berfungsi menyambung, mentransformasi, dan mempertukarkan data antar aplikasi inter-departemental dengan mengakomodasi heterogenitas format data dan protokol aplikasi. Selanjutnya, integrasi bisnis diperluas ke mitra usaha atau B2B Integration, yang mengintegrasikan sistem dan platform yang beragam antar perusahaan. Berbeda dengan EAI, pada B2B Integration kendali terhadap sistem terbatas, karena mencakup perusahaan yang berbeda.

Integrasi dan konsolidasi bisnis menjadi arah yang semakin kuat didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, globalisasi yang menuntut perusahaan harus semakin lincah, efisien, dan luwes. Kondisi ini memunculkan berbagai kenyataan merger dan akusisi antar perusahaan atau kelompok usaha.

Kedua, kompetisi dan kekuatan kastamer. Saat ini, untuk bertahan, sebuah perusahaan harus memiliki diferensiasi dengan inovasi tanpa henti. Semakin sulit bagi suatu perusahaan untuk mendapatkan loyalitas pelanggannya. Perusahaan yang sukses adalah yang mampu memanfaatkan e-Business untuk mendefinisikan pasar, menciptakan peluang pendapatan, mencapai tingkat efisiensi yang tinggi, mendapatkan loyalitas pelanggan dengan pengetahuan pasar yang dalam dan membentuk kolaborasi yang kokoh dengan mitra usaha, pemasok, dan kanal distribusi.

Ketiga, biaya dan siklus waktu. Ada desakan terus-menerus untuk mengefisienkan biaya di semua lini. Siklus pengembangan produk pun harus semakin pendek. Tidak ada cara lain mengatasinya, kecuali melakukan konsolidasi bisnis dan integrasi seoptimal mungkin. Teknologi web memungkinkan integrasi bisnis end-to-end mengingat teknologinya standar secara global, bersahaja, dan dapat diakses di mana saja (ubiquitous).

Fase berikutnya adalah Business Transformation. Suatu proses evolusi yang dimulai dari simplifikasi proses-proses internal, standarisasi proses-proses sejenis (shared services) hingga perubahan model bisnis secara bertumbuh (scalable). Ada dua aspek dimana e-Business berdampak besar terhadap pola bisnis suatu usaha, yaitu aspek reach (jangkauan) and richness (kaya manfaat). Pada fase awal e-Business berdampak menghilangkan perantara (disintermediation).

Pada proses disintermediation, perluasan bisnis (reach) berbanding terbalik dengan richness. Misalnya, layanan perbankan umumnya sederhana (low richness) yaitu hanya mencakup waktu dan nilai uang, sehingga penggunaan e-Business pada layanan perbankan bisa menjangkau penetrasi layanan yang luas, ATM tersebar di mana-mana (high reach). Untuk toko ritel seperti Matahari Department Store, yang kaya tawaran (high richness), terjadi hal sebaliknya (low reach).

Sebelum hadirnya teknologi internet, disintermediasi sulit dilakukan kecuali melalui waralaba (franchise). E-Business didukung teknologi internet mampu mengubah kedua faktor menjadi seiring. Fenomena ini disebut dekonstruksi. Misalnya, Toko Buku amazon.com dengan membuka layanan di internet mampu menjangkau pelanggan yang luas (high reach), dan kaya tawaran (high richness) yaitu buku, elektronik, CD, dan lainnya. Kemampuan melayani yang luas dengan jenis barang yang beragam juga didukung oleh integrasi e-Business yang kokoh dengan para supplier. Demikian juga perusahaan komputer Dell yang mampu melayani secara customised, one-to-one kepada pembeli dengan kekuatan integrasi B2B terhadap pemasok-pemasok komponen. Hal ini memunculkan paradigma baru menjalankan jasa penyediaan perangkat komputer.•

*Indra M. Utoyo, Project Director eBusiness, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.