Meski
tergolong Usaha Kecil Menengah (UKM), PT AJBS tak gentar untuk
melebarkan pasar-nya. Investasi teknologi e-Business diyakini
bakal mampu membawanya menjadi leader.
Setiap kali melihat McDonald atau Kentucky Fried Chicken,
ada sesuatu yang mengganjal di benak Andrianto Suhartono.
Dalam hatinya dia bertanya-tanya, “McDonald atau KFC
saja bisa berkembang begitu besar, kenapa swalayan teknik
yang saya miliki tidak bisa berkembang seperti mereka?”
Padahal, swalayan teknik di Surabaya yang bernama AJBS (Anak
Jaya Bapak Sejahtera) yang kini dipimpinnya mempunyai peluang
yang sangat besar, jika dikembangkan dengan model waralaba
seperti McDonald atau KFC.
Lelaki kelahiran 5 November 1978 ini terus berfikir bagaimana
caranya supaya swalayan yang telah dirintis oleh orangtuanya
sejak tahun 1966 itu tak stagnan begitu saja. Apalagi swalayan
teknik tersebut merupakan swalayan teknik pertama di Indonesia.
“Kita bukanlah follower, melainkan leader, sayang kalau
kesempatan ini disia-siakan,” katanya kepada eBizzAsia.
Pengalaman mengelola swalayan yang sudah berjalan puluhan
tahun itu, menurutnya, merupakan modal penting untuk bisa
memajukan swalayannya.
Namun, pengalaman puluhan tahun tersebut tak menjadi bekal
yang cukup untuk menembus pasar. “Saya sadar bahwa untuk
terus maju, saya memerlukan sebuah sistem teknologi terkoneksi,”
kata lelaki asal Surabaya ini yang juga Chief Executive Officer,
PT AJBS. Gayungpun bersambut, saat itu bertepatan dengan gencarnya
perusahaan TI merambah segmen Usaha Kecil Menengah (UKM),
seperti AJBS. Akhirnya bertemulah AJBS ini dengan salah satu
perusahaan penyedia solusi software e-Business, SAP.
Sebelum bertemu dengan perusahaan asal Jerman ini, Adrianto
mengaku telah mencoba menggunakan berbagai software untuk
membantu kelancaran bisnis ritelnya. “Namun, ternyata
itu belum mencukupi, karena solusi tersebut tak terkoneksi
satu dengan lainnya,” tambah Andrianto. Aplikasi tersebut
justru membentuk isle of automation dan tidak dapat berintegrasi
satu dengan lainnya. Setelah bertemu dengan SAP yang mengusung
solusi mySAP Retailnya, agaknya Andrianto yakin bahwa solusi
tersebut sangat cocok dengan kebutuhannya saat ini.
Pada awalnya, banyak orang yang tercengang-cengang ketika
Andrianto memutuskan untuk mengaplikasikan solusi dari SAP.
“It’s a big crazy, begitulah orang bilang,”
kata Andrianto seraya tertawa. Tetapi dengan perhitungan bisnis
yang cukup matang, Andrianto tetap kukuh untuk mengimplementasikan
mySAP Retail. Bayangkan ritel teknik yang kini mempunyai empat
cabang tersebut, baru akan mampu membayar biaya investasi
ini ketika mereka telah mempunyai 60 buah cabang. “Tapi
inilah satu-satunya jalan, apalagi menghadapi pasar bebas
AFTA 2003 nanti. Saya yakin solusi bisnis ini merupakan modal
utama bagi saya,” katanya optimis.
Dengan solusi mySAP khusus retail ini, AJBS akan memperkuat
tiga pilar dari bisnis ritelnya antara lain supply chain management,
flow of information dan merchandise logistic. Semua ini akan
berjalan baik secara terintegrasi dengan solusi e-Business
tersebut. Selain supply yang harus bagus, stok juga tak kalah
pentingnya dalam bisnis ritel ini. Stok dan supply ini akan
bisa dikelola dengan baik, jika mereka juga melengkapinya
dengan flow of information yang bagus juga.
Flow of information ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
data mulai dari ketersediaan barang di setiap toko. Karena
setiap barang material yang dibutuhkan oleh satu gerai dengan
gerai lainnya tidaklah sama. Kebutuhan barang setiap toko
ditentukan oleh lokasi toko tersebut. Misalnya toko yang ada
di Kediri akan berbeda dengan toko yang ada di Tulungagung.
Karena industri utama di kedua daerah tersebut berbeda.
Dengan solusi bisnis terintegrasi ini diharapkan tak akan
pernah terjadi kekurangan stok barang di toko mereka. Sistem
akan mengolah data sehingga kebutuhan barang disatu toko terus
terpantau. Nah dengan mudah perusahaan akan mengatur stok
barang ke toko melalui distribution center yang mereka memili.
Jika sistem ini berjalan lancar, maka tak lagi diperlukan
distribution center dan gudang dalam jumlah banyak. Yang penting
adalah penjadwalan barang datang sampai digudang dan toko.
Solusi ERP saja belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan AJBS.
Maka dari itu AJBS memilih untuk menggunakan solusi e-Business
khusus untuk retail. Karena solusi ini bisa memanage mulai
dari store management, supply chain management dan warehouse
management. Tak hanya itu, solusi tersebut juga mampu menjangkau
penjualan dan distribusi. Solusi ini juga memungkinkan setiap
toko mempunyai store management yang berbeda sesuai dengan
kebutuhan.
Muara dari solusi ini adalah efisiensi dalam proses kerja,
pengurangan biaya operasional serta keuntungan yang didapat.
Implementasi ini baru akan selesai dalam waktu tujuh bulan.
Setelah itu AJBS akan mampu roll out keberbagai daerah, tentu
saja dengan untung yang memuaskan. Bukan berarti selama menunggu
waktu tersebut, AJBS tak bisa membuka cabang baru.
Perusahaan dengan 160 karyawan tersebut akan merangkul pasar
dengan cara memanage pelanggannya. Mau tak mau mereka harus
menciptakan customer loyalty. Dan customer loyalty ini akan
terbentuk dengan penyediaan barang yang sesuai dengan keinginan
pelanggan dengan harga barang yang tak berubah-ubah. Solusi
mySAP retail ini bakal mengontrol harga sehingga perusahaan
bisa menetapkan harga tetap.
Untuk mengimplementasikan solusi e-Business itu, SAP bekerja
sama dengan Perdana Consulting sebagai konsultan serta pelaksana
dan Metrodata sebagai resellernya. Sebelum go live diperlukan
langkah-langkah supaya implementasi tersebut tak keluar dari
koridor yang telah ditentukan oleh SAP. “Saat ini kita
tengah mengerjakan blueprint AJBS, dari blueprint yang kita
buat akan diteruskan dengan realisasi antara lain memasukkan
parameter,” kata Budiono Tarunadjaja, Director Marketing
for Small & Medium Enterprise Perdana Consulting.
Menurut Budiono, sejauh ini blueprint yang mereka garap sudah
sesuai dengan standar yang diterapkan oleh SAP. “Jika
langkah-langkah tidak kita lakukan sesuai standart, maka proses
yang distandartkan akan banyak berubah dan kalau ini terjadi
hasil yang diperoleh tak lagi optimum,” tambah Budiono.
Implementasi solusi e-Business untuk UKM seperti AJBS ini
biasanya lebih mudah diterapkan sesuai standar. Karena perusahaan
tersebut berskala kecil, sehingga mudah mengikuti perkembangan.
Andrianto yakin optimis bahwa penerapan solusi e-Business
ini bakal mampu mewujudkan impiannya untuk menjadi leader
dalam ritel teknik di Indonesia. Selain berencana untuk membuka
cabang diseluruh Indonesia, Andrianto juga berangan-angan
untuk mengembangkan usahanya di pasar Internasional. Dengan
strategi franchising, Andrianto yakin akan mampu mewujudkan
keinginannya dengan membuka dua cabang setiap bulannya. “Jika
ini berjalan lancar, saya kok yakin bakal mencapai titik impas
pada waktunya,” ujarnya.•wi
|