eEnterprise - eBizzAsia Vol I No 01 - Oktober 2002
Meraih Mimpi dengan Teknologi
Penerapan solusi e-Business terbukti tidak hanya monopoli perusahaan-perusahaan besar, AJBS yang tergolong perusahaan UKM pun terbukti mampu mengaplikasikannya.

Meski tergolong Usaha Kecil Menengah (UKM), PT AJBS tak gentar untuk melebarkan pasar-nya. Investasi teknologi e-Business diyakini bakal mampu membawanya menjadi leader.

Setiap kali melihat McDonald atau Kentucky Fried Chicken, ada sesuatu yang mengganjal di benak Andrianto Suhartono. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, “McDonald atau KFC saja bisa berkembang begitu besar, kenapa swalayan teknik yang saya miliki tidak bisa berkembang seperti mereka?” Padahal, swalayan teknik di Surabaya yang bernama AJBS (Anak Jaya Bapak Sejahtera) yang kini dipimpinnya mempunyai peluang yang sangat besar, jika dikembangkan dengan model waralaba seperti McDonald atau KFC.

Lelaki kelahiran 5 November 1978 ini terus berfikir bagaimana caranya supaya swalayan yang telah dirintis oleh orangtuanya sejak tahun 1966 itu tak stagnan begitu saja. Apalagi swalayan teknik tersebut merupakan swalayan teknik pertama di Indonesia. “Kita bukanlah follower, melainkan leader, sayang kalau kesempatan ini disia-siakan,” katanya kepada eBizzAsia. Pengalaman mengelola swalayan yang sudah berjalan puluhan tahun itu, menurutnya, merupakan modal penting untuk bisa memajukan swalayannya.

Namun, pengalaman puluhan tahun tersebut tak menjadi bekal yang cukup untuk menembus pasar. “Saya sadar bahwa untuk terus maju, saya memerlukan sebuah sistem teknologi terkoneksi,” kata lelaki asal Surabaya ini yang juga Chief Executive Officer, PT AJBS. Gayungpun bersambut, saat itu bertepatan dengan gencarnya perusahaan TI merambah segmen Usaha Kecil Menengah (UKM), seperti AJBS. Akhirnya bertemulah AJBS ini dengan salah satu perusahaan penyedia solusi software e-Business, SAP.

Sebelum bertemu dengan perusahaan asal Jerman ini, Adrianto mengaku telah mencoba menggunakan berbagai software untuk membantu kelancaran bisnis ritelnya. “Namun, ternyata itu belum mencukupi, karena solusi tersebut tak terkoneksi satu dengan lainnya,” tambah Andrianto. Aplikasi tersebut justru membentuk isle of automation dan tidak dapat berintegrasi satu dengan lainnya. Setelah bertemu dengan SAP yang mengusung solusi mySAP Retailnya, agaknya Andrianto yakin bahwa solusi tersebut sangat cocok dengan kebutuhannya saat ini.

Pada awalnya, banyak orang yang tercengang-cengang ketika Andrianto memutuskan untuk mengaplikasikan solusi dari SAP. “It’s a big crazy, begitulah orang bilang,” kata Andrianto seraya tertawa. Tetapi dengan perhitungan bisnis yang cukup matang, Andrianto tetap kukuh untuk mengimplementasikan mySAP Retail. Bayangkan ritel teknik yang kini mempunyai empat cabang tersebut, baru akan mampu membayar biaya investasi ini ketika mereka telah mempunyai 60 buah cabang. “Tapi inilah satu-satunya jalan, apalagi menghadapi pasar bebas AFTA 2003 nanti. Saya yakin solusi bisnis ini merupakan modal utama bagi saya,” katanya optimis.

Dengan solusi mySAP khusus retail ini, AJBS akan memperkuat tiga pilar dari bisnis ritelnya antara lain supply chain management, flow of information dan merchandise logistic. Semua ini akan berjalan baik secara terintegrasi dengan solusi e-Business tersebut. Selain supply yang harus bagus, stok juga tak kalah pentingnya dalam bisnis ritel ini. Stok dan supply ini akan bisa dikelola dengan baik, jika mereka juga melengkapinya dengan flow of information yang bagus juga.

Flow of information ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan data mulai dari ketersediaan barang di setiap toko. Karena setiap barang material yang dibutuhkan oleh satu gerai dengan gerai lainnya tidaklah sama. Kebutuhan barang setiap toko ditentukan oleh lokasi toko tersebut. Misalnya toko yang ada di Kediri akan berbeda dengan toko yang ada di Tulungagung. Karena industri utama di kedua daerah tersebut berbeda.

Dengan solusi bisnis terintegrasi ini diharapkan tak akan pernah terjadi kekurangan stok barang di toko mereka. Sistem akan mengolah data sehingga kebutuhan barang disatu toko terus terpantau. Nah dengan mudah perusahaan akan mengatur stok barang ke toko melalui distribution center yang mereka memili. Jika sistem ini berjalan lancar, maka tak lagi diperlukan distribution center dan gudang dalam jumlah banyak. Yang penting adalah penjadwalan barang datang sampai digudang dan toko.

Solusi ERP saja belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan AJBS. Maka dari itu AJBS memilih untuk menggunakan solusi e-Business khusus untuk retail. Karena solusi ini bisa memanage mulai dari store management, supply chain management dan warehouse management. Tak hanya itu, solusi tersebut juga mampu menjangkau penjualan dan distribusi. Solusi ini juga memungkinkan setiap toko mempunyai store management yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Muara dari solusi ini adalah efisiensi dalam proses kerja, pengurangan biaya operasional serta keuntungan yang didapat. Implementasi ini baru akan selesai dalam waktu tujuh bulan. Setelah itu AJBS akan mampu roll out keberbagai daerah, tentu saja dengan untung yang memuaskan. Bukan berarti selama menunggu waktu tersebut, AJBS tak bisa membuka cabang baru.

Perusahaan dengan 160 karyawan tersebut akan merangkul pasar dengan cara memanage pelanggannya. Mau tak mau mereka harus menciptakan customer loyalty. Dan customer loyalty ini akan terbentuk dengan penyediaan barang yang sesuai dengan keinginan pelanggan dengan harga barang yang tak berubah-ubah. Solusi mySAP retail ini bakal mengontrol harga sehingga perusahaan bisa menetapkan harga tetap.

Untuk mengimplementasikan solusi e-Business itu, SAP bekerja sama dengan Perdana Consulting sebagai konsultan serta pelaksana dan Metrodata sebagai resellernya. Sebelum go live diperlukan langkah-langkah supaya implementasi tersebut tak keluar dari koridor yang telah ditentukan oleh SAP. “Saat ini kita tengah mengerjakan blueprint AJBS, dari blueprint yang kita buat akan diteruskan dengan realisasi antara lain memasukkan parameter,” kata Budiono Tarunadjaja, Director Marketing for Small & Medium Enterprise Perdana Consulting.

Menurut Budiono, sejauh ini blueprint yang mereka garap sudah sesuai dengan standar yang diterapkan oleh SAP. “Jika langkah-langkah tidak kita lakukan sesuai standart, maka proses yang distandartkan akan banyak berubah dan kalau ini terjadi hasil yang diperoleh tak lagi optimum,” tambah Budiono. Implementasi solusi e-Business untuk UKM seperti AJBS ini biasanya lebih mudah diterapkan sesuai standar. Karena perusahaan tersebut berskala kecil, sehingga mudah mengikuti perkembangan.

Andrianto yakin optimis bahwa penerapan solusi e-Business ini bakal mampu mewujudkan impiannya untuk menjadi leader dalam ritel teknik di Indonesia. Selain berencana untuk membuka cabang diseluruh Indonesia, Andrianto juga berangan-angan untuk mengembangkan usahanya di pasar Internasional. Dengan strategi franchising, Andrianto yakin akan mampu mewujudkan keinginannya dengan membuka dua cabang setiap bulannya. “Jika ini berjalan lancar, saya kok yakin bakal mencapai titik impas pada waktunya,” ujarnya.•wi


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.