Tengoklah
Malaysia dan India. Kedua negara ini, pemerintahnya sangat
aktif dalam menggariskan kebijakan penting tentang prioritas
dan arah kebijakan pengembangan industri teknologi informasinya.
Keduanya kini menikmati pertumbuhan industri yang sangat mengagumkan
dalam sektor ini. Di ujung lain, kita bisa melihat Pilipina
yang pemerintahannya tak ambil pusing dalam soal prioritas
dan arah pengembangan industri ini. Manila sempat tersentak
dan baru memberikan perhatian serius ketika muncul kasus Love
Bug yang menghebohkan dunia. Kedua cerita ekstrem ini tampaknya
harus disimak secara serius oleh para petinggi di negeri yang
sudah morat-marit ini.
Sedikit perhatian dan arahan yang serius bisa mentransformasikan
masyarakat ini ke dalam dunia digital yang sangat dinamis.
Upaya ini sudah dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT). Awal tahun ini, BPPT telah meluncurkan dua
piranti lunak yaitu Winbi dan Kantaya. Menurut Andrari G.
Tangkilisan, MSc., Head of Automation System BPPT, kelahiran
kedua piranti lunak tersebut dipicu keinginan mantan Presiden
KH Abdurrahman Wahid untuk membahasa Indonesiakan aplikasi-aplikasi
komputer.
Keinginan itu dikembangkan mantan Menristek Dr. AS Hikam
dengan mencoba mengIndonesiakan Windows. Namun Microsoft menyebutkan
rendahnya volume dan waktu pengembangan yang lama sebagai
alasan penolakan halusnya. “Padahal ada lho Windows
berbahasa Cina dan Jerman,” ungkap Andrari sedikit keheranan.
Penolakan halus Microsoft justru memacu BPPT. Mereka pun
menengok sumber-sumber lain yang bersedia bermitra guna mewujudkan
itu. Menurut Michael A. Purwoadi, Electrical and Control System
Engineer BPPT sekaligus Koordinator Winbi dan Kantaya, kemitraan
datang dari Trustix Merdeka dan Universitas Gajah Mada.
Sebelumnya, BPPT telah melakukan penelitian terhadap kurang
lebih 1500 responden di tiga wilayah. Ini diperkuat dengan
masukan dari seminar-seminar yang diadakan di sebelas kota.
Keengganan masyarakat di daerah untuk belum menggunakan komputer,
bukan hanya mahalnya perangkat keras, tetapi juga karena mahalnya
aplikasi yang digunakan, selain ketidak mampuan berbahasa
asing. Setiap aplikasi yang digunakan berlisensi, sehingga
lembaga penyelenggara kursus komputer mematok harga tinggi
yang tidak bisa diakomodir calon pesertanya. Sedangkan bahasa
asing yang menjadi standar tidak dipahami secara meluas oleh
masyarakat di daerah. “Kedua kendala itulah yang ingin
di atasi dengan kegiatan ini,” tambah Andrari.
Itu sebabnya, BPPT memilih untuk menggunakan Linux. “Itu
keuntungan dari open source, karena sejak awal telah direncanakan
untuk dibagikan gratis,” kata Michael. Artinya masalah
platform sejak awal telah diperhatikan secara serius, sehingga
dipilihlah Linux karena gratis. Dengan demikian keluhan tentang
harga yang tinggi telah bisa dieliminir.
Alasan lain untuk ketersediaan secara gratis adalah karena
BPPT merupakan lembaga nirlaba. Sehingga Winbi ditujukan agar
masyarakat mau menggunakan komputer. Sedangkan Kantaya ditujukan
agar masyarakat mau menggunakan jaringan, agar benar-benar
memperoleh manfaat riil. Paling tidak, seperti yang dikatakan
Andrari, bahwa mendorong masyarakat untuk mengurangi jurang
informasi elektronik yang sangat lebar saat ini.”Jadi
ada misi BPPT untuk mendorong masyarakat menggunakan komputer
dan internet untuk memperoleh informasi dan pengetahuan,”
jelas Andrari.
Winbi yang didesain untuk desktop bisa dikatakan sebagai
interface seperti Windows maupun Unix. Di dalamnya telah terkandung
operating system, user interface dan keterangan dalam bahasa
Indonesia. Dengan menggunakan Linux, Winbi tidak hanya bisa
disebarkan secara gratis, tetapi juga lebih secure, sekalipun
tidak berarti bebas sama sekali. Ini dimungkinkan karena masih
belum populernya penggunaan Linux dibandingkan Windows. Lagi
pula, menurut Michael, fitur-fitur Winbi dibuat secara mandiri,
sehingga data dari masing-masing pengguna tersimpan secara
aman dan tidak bisa diganggu oleh pengguna lainnya.
Sedang Kantaya, yang merupakan singkatan dari kantor maya,
merupakan aplikasi yang dibuat dengan bahasa program PHP untuk
keperluan server. Di dalamnya terdapat sejumlah fitur yang
diperlukan dalam penggunaan sehari-hari. Fitur-fitur ini dipilih
berdasarkan seleksi dari berbagai macam masukan, baik dari
kalangan internal maupun eksternal BPPT.
Mungkin Kantaya bisa dipadankan dengan Microsoft Office yang
sangat populer itu, dan menjadi standar di banyak kantor.
Namun, kelebihan dari Kantaya yang berbahasa Indonesia adalah
akan sangat akrab dengan para penggunannya yang kemampuan
berbahasa asingnya masih terbatas. Tidak terlalu mengherankan
bila kemudian, Andrari menunjuk bahwa sejumlah pemerintah
lokal, seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo, Pemerintah
Propinsi Sumatera Selatan, dan Litbang Gas di Cepu sudah mulai
menggunakan Kantaya untuk keperluan situsnya. “Jadi
penggunaannya jelas dan modul-modulnya masih bisa diganti
dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan mereka,” jelas
Andrari.
Bagi pemerintah lokal yang menggunakan keduanya, keuntungan
yang paling jelas adalah terpecahkannya masalah keuangan yang
membebani mereka. Untuk daerah-daerah yang makmur, seperti
Kabupaten Kutai Timur, persoalan komputerisasi di lingkungannya
bukanlah masalah. Namun untuk daerah-daerah yang tidak segemah
ripah seperti Kutai Timur, bisa jadi komputerisasi dalam kerangka
penciptaan e-Government justru bisa membebani keuangan daerah.
“Bayangkan ada daerah yang harus melunasi cicilan pembayaran
sebesar Rp. 4 juta perbulannya,” jelas Andrari.
Implementasi Winbi dan Kantaya juga menghindarkan pemerintah
daerah dari kemungkinan dituntut karena pemberlakuan undang-undang
hak cipta. Bila itu benar maka kebiasaan main copy di banyak
instansi bisa menjadikan mereka sebagai target bagi pengenaan
hak cipta yang undang-undangnya sebentar lagi berlaku. Cilakanya,
UU tersebut diberlakukan tanpa jeda waktu seperti kebanyakan
UU lain di negeri ini. Itu sebabnya Michael dan Andrari menegaskan
bahwa paling tidak kehadiran Winbi dan Kantaya bisa memberikan
opsi pilihan. Apalagi keduanya memang bisa diperoleh secara
gratis dan dikembangkan bersama-sama dengan perusahaan-perusahaan
di daerah setempat.
Saat ini, BPPT tidak hanya bermitra dengan Universitas Gajah
Mada dan Trustix Merdeka. Tapi juga dengan individu dan kelompok-kelompok
individu untuk mengembangkan Winbi dan Kantaya. Bahkan, kini
telah dibentuk komunitas pengembang dan komunitas pengguna
yang dikoordinir oleh salah seorang deputi ketua BPPT. Artinya,
BPPT menaruh perhatian yang sangat serius. Ini tentu akan
menguntungkan.
Munculnya komunitas tersebut mendorong BPPT untuk mempersiapkan
versi lanjutan dari Winbi dan Kantaya. Awalnya sebenarnya
Winbi, menurut Michael, ditujukan kepada para pemula. Namun
perkembangannya, Winbi justru banyak dipergunakan bukan untuk
kalangan tersebut.
Selain itu, “Kami menerima beragam usulan bagi pengembangannya,
misalnya ada yang berminat untuk mengembangkan gamesnya untuk
menarik minat lebih banyak orang,” jelas Michael. Perhatian
BPPT sendiri masih tercurahkan pada upaya untuk melepaskan
user interface-nya yang dibangun di atas Kernel 2.2. Hal ini
disebabkan masukan yang menyatakan bahwa Kernel versi itu
belum mensupport berbagai periferal yang baru, seperti USB.
Hal ini justru disupport dalam Kernel versi terbaru. Dengan
melepaskannya, user interface dengan berbagai programnya bisa
dipergunakan di Kernel versi berapapun.
Kantaya juga sedang dikembangkan oleh BPPT. Misalnya, jika
awalnya masih belum dipikirkan masalah-masalah keamanan dan
encryption-nya. Karena memang didesain agar fitur-fitur tersebut
dikembangkan perusahaan-perusahaan di daerah. Namun, kini,
keduanya termasuk dalam top list pengembangan. Pergeseran-pergeseran
akibat tingginya kebutuhan masyarakat inilah yang sedang diakomodasikan
oleh tim BPPT pada saat ini. Selain itu, BPPT juga sedang
menyiapkan modul yang berisikan aplikasi e-Government. Namun
itu masih terbatas pada aplikasi-aplikasi dasar yang menggambarkan
potensi sebuah daerah, seperti aplikasi kependudukan, kepegawaian,
potensi pertanian dan perternakan.•ew
|