| Sebelumnya, memberikan
kepada perusahaan lain pekerjaan yang seharusnya dikerjakan sendiri,
terlebih-lebih bila itu inti bisnis yang di jalankan, bukan saja tabu
tapi riskan. Kalaupun harus diberikan ke pihak lain, hal itu akan
diikuti dengan sederet persyaratan yang terkadang sangat rumit. Itu
pun masih dibayang-bayangi dengan rasa “was-was” dan “ragu”,
apakah tidak akan dibohongi.
Namun, sekitar awal 1990an, ketika komputer dan teknologi informasi
mulai banyak digunakan di perusahaan-perusahaan, khususnya dengan
dibentuknya departemen TI tersendiri, memberi pekerjaan ke pihak
lain, yang istilah kerennya outsourcing, semakin banyak dilakukan.
Masalahnya tidak hanya karena ketidakmampuan melakukannya dengan
baik, tetapi masih banyak alasan lain yang tidak memungkinkan melakukannya.
“Kita tidak menguasai bisnis TI,” ujar para eksekutif
beralasan, “karenanya lebih baik kita outsource saja ke pihak
lain yang dapat melakukannya lebih baik”. Bukankah dengan
begitu kita dapat lebih berkonsentrasi ke inti bisnis yang kita
lakukan?
Outsourcing seperti mendapatkan momentum baru seiring dengan penggunaan
teknologi informasi, yang banyak digandrungi para eksekutif. Internet,
dan platform komunikasi yang dibangunnya di perusahaan-perusahaan,
telah memungkinkan terjadinya aliansi, bukan alinasi, dan hubungan
yang mulai semakin banyak dirasakan kalangan perusahaan. Aliansi
boleh dibilang menjadi kata lain dari outsourcing ini. Misalnya
saja, peritel Internet Amazon.com Inc. (www.amazon.com) dan peritel
elektronik Circuit City Stores Inc. (www.circuitcity.com) bekerjasama
sebelum masa liburan datang. Hal itu memungkinkan pelanggan Amazon
masuk ke Amazon, membeli kamera digital, dan mengambil barangnya
di Circuit City terdekat. Jika kamera tersebut rusak karena jatuh
dan tak dapat digunakan lagi, penggantinya tersedia dan dapat diambil
di Circuit City. Dalam hal ini, Amazon mengoutsource layanan pelanggannya
ke Circuit City.
Pola yang ditunjukkan oleh kerjasama antara Amazon dan Circuit City
ini menunjukkan bahwa outsourcing dilihat dari sudut yang berbeda.
Outsourcing tidak hanya dilakukan karena kita tidak dapat melakukannya
saja, melainkan berubah menjadi suatu aliansi strategis karena dimilikinya
keunggulan-keunggulan tersendiri, yang jika disatukan akan membentuk
suatu kekuatan baru yang lebih powerful. Sekarang, bahkan proses
bisnis yang bersifat lintas departemen, seperti logistik, manufaktur
bahkan riset, sekalipun telah banyak dioutsource ke perusahaan lain.
Hasil riset Gartner Group menunjukkan bahwa outsource proses bisnis
dunia bertumbuh sebesar 23% setahun dan nilainya mencapai $300 miliar
pada 2004.
Bagaimana dengan batasannya? Apakah semuanya bisa dioutsource?
Beberapa perusahaan melihatnya hampir tak ada batasnya. Bayer AG,
perusahaan farmasi raksasa Jerman, bahkan telah mengoutsource hampir
30% area kegiatan yang dapat menghancurkan perusahaan: riset dan
pengembangan jangka panjang. Di lingkungan industri farmasi, sekitar
20% pengembangan obat-obatan sekarang ini telah dioutsource, dan
perusahaan riset Frost & Sullivan memperkirakan bahwa hingga
2004 sekitar 42% dari semua pembiayan pengembangan obat-obatan farmasi
($38.4 miliar) akan dikeluarkan untuk biaya outsourcing mitra bisnis.
Namun, perusahaan masih saja dapat melakukan kesalahan jika mereka
hanya melihat kemampuan perusahaan sebagai suatu entitas tersendiri
dan tidak mempertimbangkan seberapa besar pengaruhnya terhadap bidang-bidang
lainnya. Mungkin hasilnya berupa peningkatan efisiensi, namun efisiensi
tidak berada di dunia vakum, ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
bidang lainnya.
Yang juga tak kalah serunya dan perlu mendapat perhatian adalah
“scope” pekerjaan dan fleksibilitas dalam melakukannya.
Karena, perubahan waktu terkadang membutuhkan perubahan atau penyesuaian,
yang bukan tidak mungkin justru akan semakin membuatnya optimal.•
|