| Malaysia
Siapkan Standar Keamanan Informasi Pemerintah
Malaysia mengumumkan akan mengembangkan standar keamanan informasi
nasional, yang merupakan bagian dari usaha untuk mendorong
perkembangan e-security di negara tersebut. Usaha ini akan
dipelopori oleh Malaysian Communications and Multimedia Commission
(MCMC), yang diperkirakan akan segera memulai kerjanya.
Menurut ketua MCMC, Tan Sri Nuraizah Abdul Hamid, pihaknya
akan membentuk kelompok kerja untuk mengembangkan skema standar
keamanan informasi Malaysia (Malaysian Scheme on Information
Security Standards). “Skema ini akan mencakup seluruh
permasalahan yang berkaitan dengan standar information security,”
jelas Nuraizah.
Ia menambahkan skema ini akan meliputi proses akreditasi
untuk standar, metodologi untuk penilaian dan evaluasi risiko
oleh perusahaan dan organisasi serta prosedur-prosedur untuk
sertifikasi. Skema ini juga akan menangani database dari seluruh
perusahaan dan organisasi yang diberi sertifikat berdasarkan
standar, badan sertifikasi, auditor dan konsultan bersertifikasi.
“Kami berharap bahwa dengan hadirnya skema ini, perusahaan
dan organisasi akan memiliki sertifikat sesuai standar yang
berlaku,” tandas Nuraizah.
Pengumuman skema ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian
langkah yang diambil pemerintah Malaysia untuk meningkatkan
kemanan informasinya, seperti pengadopsian beberapa standar
security IT dari ISO, yaitu ISO 17799 dan 13335 untuk diadopsi
menjadi standar Malaysia, serta didirikannya National ICT
Security and Response Center (Niser) oleh National IT Council
(NITC) tahun lalu untuk menangani masalah-masalah ancaman
keamanan informasi.
Bahkan Februari tahun ini, Malaysian Administrative Modernization
and Management Planning Unit (Mampu), sebuah badan milik pemerintah
menerbitkan sebuah buku pedoman manajemen keamanan teknologi
infokom (MyMIS) guna memberi panduan perlindungan aset-aset
informasi sektor publik dan ICT. Yang menarik, MyMIS juga
memasukkan rencana untuk menunjuk semacam chief security officer
untuk masing-masing kementrian dan badan-badan milik pemerintah.
Selain menerapkan berbagai tindak pencegahan, Malaysia juga
aktif mendorong sektor swasta melakukan hal yang sama. Menurut
Nuraizah, meski pemerintah sudah mengeluarkan pedoman-pedoman,
mengembangkan kebijakan dan mengeluarkan kerangka kerja peraturan
untuk menjamin keamanan, “semua itu belum cukup jika
sektor ekonomi lainnya tidak berperan dan mengambil tanggung
jawab tertentu.”•
MSC Tambah
Fasilitas Virtual Reality
Multimedia Super Corridor (MSC) Malaysia tidak lama lagi
akan memiliki pusat Virtual Reality, yang akan dibangun oleh
perusahaan komputer grafis terkemuka dunia, Silicon Graphics
(SGI).
Pihak pengelola MSC, Multimedia Development Corporation (MDC)
baru-baru ini memberikan kontrak senilai 21,3 juta ringgit,
atau sekitar 50,4 miliar rupiah kepada SGI untuk pengadaan
peralatan VRC, sistem Virtual Area Networking, dan layanan-layanan
terkait.
“Kami gembira dapat bekerja sama dengan SGI, sebuah
perusahaan terkemuka yang memiliki spesialisasi di bidang
komputasi dan visualisasi berkinerja tinggi, serta manajemen
data yang kompleks,” ujar kepala MDC, Othman Yeop Abdullah.
Peralatan berteknologi tinggi buatan SGI ini akan ditempatkan
di Creative Applications and Development Center (CADC), yang
merupakan bagian dari pusat multifasilitas MSC Flagship, yang
juga baru diluncurkan. Menurut senior vice-president MDC,
Mohamed Arif Nun, VRC ini akan menjadi fasilitas unggulan
CADC.
“VRC akan memungkinkan penggunanya memahami secara
mendalam desain engineering, kajian simulasi, serta pemodelan
kompleks untuk industri sains, kesehatan dan hiburan,”
ujarnya.
Menurutnya, CADC akan fokus pada pemercepatan pengembangan
industri multimedia kreatif dengan menyediakan sebuah fasilitas
terpusat untuk layanan pemrosesan data dan visualisasi high-end.
“Fasilitas ini berpotensi untuk digunakan oleh para
mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti virtual reality,
animasi, dan komputasional, serta sebagai sarana pelatihan
para pengembang piranti lunak (software developers),”
jelas Arif.•
ERP Korea
Merambah Asia
Menyemarakkan
pasar ERP (Enterprise Resource Planning) kelas menengah yang
didominasi para pemain Eropa, Samsung SDS memasarkan piranti
lunak Bizentro ERP di beberapa negara Asia melalui rekanannya,
Acepio.
Penyedia jasa TI asal Korea ini telah menunjuk perusahaan
konsultasi e-Business yang bermarkas di Singapura, Acepio,
untuk mendistribusikan Bizentro di Singapura, Malaysia, Hong
Kong dan Cina.
Dengan sasaran sektor ritel dan manufaktur, piranti lunak
berbasis Windows ini menyediakan sebuah platform CRM (Customer
Relationship Management), SCM (Supply Chain Management) dan
e-Procurement tools yang terintegrasi, serta menyediakan dukungan
tutorial interaktif dan multi-bahasa secara online.
Menurut Michael Toh, CEO Acepio, Samsung SDS pada awalnya
mengembangkan Bizentro untuk beberapa perusahaan subsidiaries-nya,
sebelum akhirnya memutuskan untuk memasarkan piranti lunak
ini ke pihak lain.
“Samsung SDS memasukkan berbagai best practices yang
mereka pelajari dari sistem SAP miliknya ke dalam Bizentro,”
ujar Toh.
Dengan harga 3.000 dolar AS per user, Bizentro tersedia dalam
versi bahasa Korea, Jepang, Mandarin dan Inggris. Toh mengklaim
bahwa implementasi piranti lunak ini dapat dilakukan dalam
waktu relatif singkat, sekitar empat sampai lima bulan.
Sampai saat ini, ada sekitar 600 implementasi Bizentro di
Korea, serta tiga pelanggan di luar Korea, termasuk di antaranya
adalah perusahaan kosmetik I Nuovi Cosmetics. Untuk mendukung
Acepio dalam aktivitas konsultasi regional dan implementasinya,
Samsung SDS juga merencanakan mendirikan kantor perwakilannya
di Singapura pada akhir tahun 2002.•
|