Asia Highlights
Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Cina Kembangkan Aplikasi MMS

Multimedia Messaging Services (MMS), yang diluncurkan sekitar 18 bulan lalu dan secara agresif diperkenalkan oleh para pemain global di bidang komunikasi bergerak seperti Nokia, kini tidak lagi sekedar gembar-gembor belaka, namun telah menjadi kenyataan.

Menurut survai yang dilakukan Evans Data Corporation bulan Agustus lalu di Cina, dari sekitar satu dari empat pengembang telah mulai membuat aplikasi untuk format interoperable rich message. Dengan format ini, para pengguna MMS dapat mengirim dan menerima gambar diam maupun bergerak, yang dikombinasikan dengan pesan suara dan teks melalui ponsel-ponsel imaging generasi baru.

Di Cina, dengan jumlah pelanggan telepon seluler terbesar di dunia, 29 persen dari pengembang piranti lunak aplikasi nirkabel mengatakan sedang atau akan mengerjakan aplikasi MMS dalam tahun ini juga. Bandingkan dengan survai di tingkat dunia, dimana angka tersebut berkisar 23 persen saja.

Menurut Brian Cooper, analis riset pasar Evans Data, pihaknya selain akan terus mensurvai para pengembang aplikasi nirkabel secara global, juga meluncurkan survai terpisah yang menyoroti perkembangan pasar nirkabel Cina, yang ditengarai mengalami pertumbuhan paling eksplosif.

Survei ini juga menyoroti tren yang tengah berkembang di kalangan pengembang aplikasi nirkabel Cina. Menurut laporan, para pengembang aplikasi nirkabel Cina dalam membuat aplikasi yang menekankan kecepatan dan kualitas. Tidak heran bilamana tools performance testing merupakan tools favorit para pengembang Cina, dan hampir 70 persen aplikasi nirkabel menghabiskan waktu lebih dari sebulan dalam tahap quality assurance-nya.

Selain itu, para pengembang aplikasi Cina lebih memusatkan perhatiannya pada aplikasi nirkabel untuk ponsel dan smart card daripada PDA (Personal Digital Assistants). Hal ini kontras dengan tren di dunia, dimana dua per tiga pengembang aplikasi nirkabel mengembangkan aplikasi untuk PDA. Aplikasi nirkabel yang paling populer dikembangkan di Cina adalah aplikasi e-commerce, diikuti aplikasi authentication dan e-mail.•

e-Gov Untuk Pengawasan Pembangunan Desa

Penerapan e-Government ternyata tidak terbatas untuk penyediaan layanan dan informasi pemerintah, namun pengawasan pembangunan pun dapat memanfaatkan fasilitas e-Government ini. Contohnya adalah apa yang dilakukan pemerintah negara bagian Andhra Pradesh di India. Dalam usahanya mengumpulkan data dan informasi utama di lingkungan pedesaan dari hari ke hari melalui e-mail, pemerintah Andhra Pradesh mengusulkan pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada milik bank, kantor pos di samping fasilitas milik perkumpulan koperasi pertanian setempat atau primary agriculture cooperative societies (PACS).

“Kami tidak ingin terjadi duplikasi dalam infrastruktur komputer di tingkat desa dan berencana untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, baik itu milik pemerintah maupun swasta,” ujar Chief Minister negara bagian Andhra Pradesh, N. Chandrababu Naidu.

Menurut Naidu, laporan harian berbagai proyek pembangunan di desa-desa akan diperoleh melalui fasilitas e-mail atau modem milik jaringan PACS untuk diteruskan ke kantor wilayah dan dari sana data dapat diteruskan melalui portal milik negara bagian ke sekretariat pusat di Hyderabad, ibu kota negara bagian Andhra Pradesh. Tidak hanya itu, pusat-pusat Internet pedesaan ini, nantinya, akan diberikan wewenang untuk memproses tagihan fasilitas umum, pengurusan sertifikat-sertifikat pemerintah, pengoperasian sistem distribusi publik dan berbagai layanan pemerintahan lainnya, untuk mengurangi campur tangan perantara dan para pejabat pemerintahan dalam proses tersebut.

Dalam pilot project PACS yang dikembangkan di empat distrik - Krishna, Godavari Barat, Chittor dan Nizamabad – pemerintah negara bagian Andhra Pradesh bekerjasama dengan perusahaan CoOptions Technologies, yang dimodali co-founder Infosys Technologies, NS Raghavan. Nadu telah meminta untuk segera meluncurkan jaringan komputerisasi di seluruh 3.600 PACS di negara bagian tersebut pada Oktober 2003 mendatang. CoOptions sendiri telah menyelesaikan jaringan PACS di sekitar 110 koperasi, sementara 136 dalam tahap akhir penyelesaian. Menurut managing director CoOptions, Y. Subrahmanyam, perusahaannya akan menyelesaikan implementasi di 404 koperasi pada akhir Januari 2003 mendatang.

Selain mendirikan pusat-pusat PACS di tingkat akar rumput, CoOptions juga mendirikan pusat-pusat data (data centers) di tingkat distrik dan data warehouse di tingkat negara bagian. Selain layanan-layanan umum seperti kredit koperasi, perbankan dan perdagangan, fasilitas ini juga menawarkan layanan lainnya seperti asuransi, layanan kesehatan, informasi pasar, informasi produk pertanian, dan lain sebagainya.•

Singapura Antisipasi Perkembangan Web Services

Web Services, suatu metoda pembuatan piranti lunak yang memungkinkan perusahaan saling berinteraksi melalui internet agaknya tidak sekedar technology hype belaka. Walaupun dampak penerapan web services secara komersial belum nyata terlihat, pemerintah Singapura, melalui Infocomm Development Authority (IDA) sudah berancang-ancang berdiri di garis depan dalam teknologi yang tengah tumbuh ini dengan mengembangkan suatu kerangka kerja pengembangan yang dinamakan Web Services Industry Development Framework.

Menurut Lam Chuan Leong, ketua IDA, Singapura memiliki modal landasan yang kokoh untuk mengimplementasi dan mengadopsi web services ini mengingat Singapura memiliki tingkat konektivitas tinggi, baik lokal maupun internasional. “Web Services juga akan menjadi salah satu bidang yang menjadi pendorong pertumbuhan industri piranti lunak dan layanan Tenologi Informasi kami,” ujar Lam menambahkan.

Dalam mengembangkan kerangka kerja ini, IDA telah mengadakan beberapa dialog tertutup dengan kalangan industri, perusahaan-perusahaan riset pasar, kalangan akademisi dan organisasi-organisasi end user. Hasilnya adalah kerangka kerja pengembangan industri web services akan dikembangkan melalui tiga inisiatif.

Inisiatif pertama adalah membangun modal intelektual (Building Intellectual Capital), yang bersasaran membangun kapabilitas sumber daya manusia dan kekayaan intelektual (intellectual property) yang diperlukan sebagai landasan untuk pertumbuhan industri Web Services. Inisiatif ini sesungguhnya telah dilaksanakan IDA melalui program infocomm Local Industry Upgrading Programme (iLIUP), pendirian berbagai sentra kompetensi web services, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan dan komersialisasi kekayaan intelektual.

Penciptaan pasar untuk mendorong pengadopsian web service merupakan inisiatif IDA yang kedua. Inisiatif yang dinamakan Living Lab ini bersasaran untuk mendorong pengembangan proyek-proyek unggulan dan Pilots And Trials Hotspot (PATH) di berbagai sektor vertikal seperti manufaktur, logistik dan supply chain, kesehatan, keuangan, travel dan pariwisata, dan lain-lain. Sebagai contoh adalah kerjasama IDA dengan Microsoft untuk membangun inisiatif web services berskala nasional bernama .NET MySingapore. Proyek unggulan ini akan menjadikan web services sebagai salah satu teknologi kunci untuk meningkatkan konektivitas masyarakat Singapura.

Inisiatif ketiga adalah penciptaan Enabling Infrastructure, yang bersasaran untuk menangani masalah-masalah industri yang mungkin dapat menghambat pertumbuhan web services. Masalah-masalah ini meliputi masalah interoperabilitas, security, identitas network, semantics, manajemen web services dan Public UDDI (Universal Description, Discovery, and Integration) Registry. Contoh inistiatif ini adalah kolaborasi IBM dengan Nanyang Polytechnic (NYP) untuk mendirikan Web Services Innovation Zone (WIZ), yang berfokus pada masalah-masalah interoperabilitas lintas platform teknologi.

Sebagaimana diketahui, Singapura menempatkan Web Services sebagai salah satu dari tiga bidang fokus dalam Infocomm Technology Roadmap, yang memetakan tren teknologi dalam lima tahun mendatang. Dua bidang fokus lainnya adalah grid computing dan peer-to-peer technologies.•

Kolaborasi Teknologi Messaging

GridNode, sebuah perusahaan Singapura yang bergerak dalam penyediaan extended enterprise businessware (XB) mengadakan kolaborasi dengan Sonic Software untuk membantu perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi menggunakan Java Message Service – teknologi messaging berbasis Java – guna mencapai integrasi bisnis secara total dari enterprise system miliknya dan partner bisnisnya.

Kolaborasi ini dibentuk di bawah payung program infocomm Local Industry Upgrading Program (iLUP) dari badan pengembangan infokom Singapura, IDA, yaitu sebuah program yang mempromosikan kerjasama strategis dan saling menguntungkan antara perusahaan-perusahaan Singapura dan multi nasional.
Dalam kolaborasi ini, piranti lunak unggulan Sonic, SonicXQ, yaitu middleware Enterprise Application Integration (EAI) yang mengusung Web services dan J2EE Connector Architecture (JCA), dipadukan ke dalam piranti lunak B2Bi berbasis XML milik GridNode, GridTalk, sehingga memungkinkan perusahaan-perusahaan saling bertukar dokumen bisnis, mengotomatisasikan alur kerjanya (workflow) serta mensinkronkan data yang di-sharing, langsung dengan rekan bisnisnya dalam supply chain di Internet secara real time.

Penerapan teknologi terkolaborasi semacam ini juga akan membantu customer menghemat biaya dengan mengurangi besarnya standby basis inventory yang mereka butuhkan.

Kolaborasi teknologi ini telah memperoleh customer pertamanya, yaitu Ryder-Ascent Logistic, yang tengah memuluskan integrasi bisnis antar supply chain agar dapat saling bertukar informasi secara real time, sehingga pelanggannya terlayani secara lebih baik.•

Sebagian Besar UKM Taiwan Sadar TI

Riset yang dilakukan majalah Taiwan, Tech Vantage, dan badan pengelola UKM kementrian ekonomi Taiwan pada 1042 perusahaan UKM mengungkapkan, bahwa sebagian besar UKM sangat menyadari kebutuhan untuk otomatisasi, meskipun anggaran TI-nya relatif kecil dan kurangnya SDM pendukung infrastruktur TI.

Menurut Tech Vantage, sekitar 88.03% dari UKM, yang didefinisikan sebagai perusahaan dengan jumlah pegawai kurang dari 200 orang dan/atau pendapatan tahunan di bawah 1 milyar dolar Taiwan, telah terotomatisasi untuk meningkatkan produktivitas internal dan manajemen prosesnya. Sekitar 68% UKM juga mengungkapkan bahwa otomatisasi mengurangi cost dan memperluas pasar mereka. Sekitar 55.78% responden mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah alasan mereka menerapkan TI. Hanya 5.43% dari UKM yang disurvai belum terotomatisasi, dan sebagian besar dari jumlah ini – sekitar 60% - mengatakan karena memang belum membutuhkan TI.

Dari sebagian besar UKM yang mengatakan telah terotomatisasi, hanya 13.95% yang merasa telah mencapai otomatisasi tingkat “tinggi”, 25.48% merasa masih dalam taraf otomatisasi tingkat “rendah”. Sisanya merasa masih “rata-rata”.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa otomatisasi tingkat tinggi dipersepsikan sebagai jumlah frekuensi penggunaan teknologi. Hanya 7.17% dari UKM yang mengeluarkan 500.000 dolar Taiwan untuk TI merasa bahwa tingkat otomatisasinya tinggi, sementara 47.73% dari mereka yang menghabiskan lebih dari 10 juta dolar Taiwan merasakan hal yang sama. Sementara itu, 60% UKM yang memiliki staf sistem manajemen informasi (MIS) merasa tingkat otomatisasinya tinggi.•

Back to previous page
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved.