| Cina
Kembangkan Aplikasi MMS Multimedia
Messaging Services (MMS), yang diluncurkan sekitar 18 bulan
lalu dan secara agresif diperkenalkan oleh para pemain global
di bidang komunikasi bergerak seperti Nokia, kini tidak lagi
sekedar gembar-gembor belaka, namun telah menjadi kenyataan.
Menurut survai yang dilakukan Evans Data Corporation bulan
Agustus lalu di Cina, dari sekitar satu dari empat pengembang
telah mulai membuat aplikasi untuk format interoperable rich
message. Dengan format ini, para pengguna MMS dapat mengirim
dan menerima gambar diam maupun bergerak, yang dikombinasikan
dengan pesan suara dan teks melalui ponsel-ponsel imaging
generasi baru.
Di Cina, dengan jumlah pelanggan telepon seluler terbesar
di dunia, 29 persen dari pengembang piranti lunak aplikasi
nirkabel mengatakan sedang atau akan mengerjakan aplikasi
MMS dalam tahun ini juga. Bandingkan dengan survai di tingkat
dunia, dimana angka tersebut berkisar 23 persen saja.
Menurut Brian Cooper, analis riset pasar Evans Data, pihaknya
selain akan terus mensurvai para pengembang aplikasi nirkabel
secara global, juga meluncurkan survai terpisah yang menyoroti
perkembangan pasar nirkabel Cina, yang ditengarai mengalami
pertumbuhan paling eksplosif.
Survei ini juga menyoroti tren yang tengah berkembang di
kalangan pengembang aplikasi nirkabel Cina. Menurut laporan,
para pengembang aplikasi nirkabel Cina dalam membuat aplikasi
yang menekankan kecepatan dan kualitas. Tidak heran bilamana
tools performance testing merupakan tools favorit para pengembang
Cina, dan hampir 70 persen aplikasi nirkabel menghabiskan
waktu lebih dari sebulan dalam tahap quality assurance-nya.
Selain itu, para pengembang aplikasi Cina lebih memusatkan
perhatiannya pada aplikasi nirkabel untuk ponsel dan smart
card daripada PDA (Personal Digital Assistants). Hal ini kontras
dengan tren di dunia, dimana dua per tiga pengembang aplikasi
nirkabel mengembangkan aplikasi untuk PDA. Aplikasi nirkabel
yang paling populer dikembangkan di Cina adalah aplikasi e-commerce,
diikuti aplikasi authentication dan e-mail.•
e-Gov
Untuk Pengawasan Pembangunan Desa
Penerapan
e-Government ternyata tidak terbatas untuk penyediaan layanan
dan informasi pemerintah, namun pengawasan pembangunan pun
dapat memanfaatkan fasilitas e-Government ini. Contohnya adalah
apa yang dilakukan pemerintah negara bagian Andhra Pradesh
di India. Dalam usahanya mengumpulkan data dan informasi utama
di lingkungan pedesaan dari hari ke hari melalui e-mail, pemerintah
Andhra Pradesh mengusulkan pemanfaatan infrastruktur yang
sudah ada milik bank, kantor pos di samping fasilitas milik
perkumpulan koperasi pertanian setempat atau primary agriculture
cooperative societies (PACS).
“Kami tidak ingin terjadi duplikasi dalam infrastruktur
komputer di tingkat desa dan berencana untuk memanfaatkan
fasilitas yang sudah ada, baik itu milik pemerintah maupun
swasta,” ujar Chief Minister negara bagian Andhra Pradesh,
N. Chandrababu Naidu.
Menurut Naidu, laporan harian berbagai proyek pembangunan
di desa-desa akan diperoleh melalui fasilitas e-mail atau
modem milik jaringan PACS untuk diteruskan ke kantor wilayah
dan dari sana data dapat diteruskan melalui portal milik negara
bagian ke sekretariat pusat di Hyderabad, ibu kota negara
bagian Andhra Pradesh. Tidak hanya itu, pusat-pusat Internet
pedesaan ini, nantinya, akan diberikan wewenang untuk memproses
tagihan fasilitas umum, pengurusan sertifikat-sertifikat pemerintah,
pengoperasian sistem distribusi publik dan berbagai layanan
pemerintahan lainnya, untuk mengurangi campur tangan perantara
dan para pejabat pemerintahan dalam proses tersebut.
Dalam pilot project PACS yang dikembangkan di empat distrik
- Krishna, Godavari Barat, Chittor dan Nizamabad – pemerintah
negara bagian Andhra Pradesh bekerjasama dengan perusahaan
CoOptions Technologies, yang dimodali co-founder Infosys Technologies,
NS Raghavan. Nadu telah meminta untuk segera meluncurkan jaringan
komputerisasi di seluruh 3.600 PACS di negara bagian tersebut
pada Oktober 2003 mendatang. CoOptions sendiri telah menyelesaikan
jaringan PACS di sekitar 110 koperasi, sementara 136 dalam
tahap akhir penyelesaian. Menurut managing director CoOptions,
Y. Subrahmanyam, perusahaannya akan menyelesaikan implementasi
di 404 koperasi pada akhir Januari 2003 mendatang.
Selain mendirikan pusat-pusat PACS di tingkat akar rumput,
CoOptions juga mendirikan pusat-pusat data (data centers)
di tingkat distrik dan data warehouse di tingkat negara bagian.
Selain layanan-layanan umum seperti kredit koperasi, perbankan
dan perdagangan, fasilitas ini juga menawarkan layanan lainnya
seperti asuransi, layanan kesehatan, informasi pasar, informasi
produk pertanian, dan lain sebagainya.•
Singapura Antisipasi Perkembangan Web Services
Web
Services, suatu metoda pembuatan piranti lunak yang memungkinkan
perusahaan saling berinteraksi melalui internet agaknya tidak
sekedar technology hype belaka. Walaupun dampak penerapan
web services secara komersial belum nyata terlihat, pemerintah
Singapura, melalui Infocomm Development Authority (IDA) sudah
berancang-ancang berdiri di garis depan dalam teknologi yang
tengah tumbuh ini dengan mengembangkan suatu kerangka kerja
pengembangan yang dinamakan Web Services Industry Development
Framework.
Menurut Lam Chuan Leong, ketua IDA, Singapura memiliki modal
landasan yang kokoh untuk mengimplementasi dan mengadopsi
web services ini mengingat Singapura memiliki tingkat konektivitas
tinggi, baik lokal maupun internasional. “Web Services
juga akan menjadi salah satu bidang yang menjadi pendorong
pertumbuhan industri piranti lunak dan layanan Tenologi Informasi
kami,” ujar Lam menambahkan.
Dalam mengembangkan kerangka kerja ini, IDA telah mengadakan
beberapa dialog tertutup dengan kalangan industri, perusahaan-perusahaan
riset pasar, kalangan akademisi dan organisasi-organisasi
end user. Hasilnya adalah kerangka kerja pengembangan industri
web services akan dikembangkan melalui tiga inisiatif.
Inisiatif pertama adalah membangun modal intelektual (Building
Intellectual Capital), yang bersasaran membangun kapabilitas
sumber daya manusia dan kekayaan intelektual (intellectual
property) yang diperlukan sebagai landasan untuk pertumbuhan
industri Web Services. Inisiatif ini sesungguhnya telah dilaksanakan
IDA melalui program infocomm Local Industry Upgrading Programme
(iLIUP), pendirian berbagai sentra kompetensi web services,
pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan dan komersialisasi
kekayaan intelektual.
Penciptaan pasar untuk mendorong pengadopsian web service
merupakan inisiatif IDA yang kedua. Inisiatif yang dinamakan
Living Lab ini bersasaran untuk mendorong pengembangan proyek-proyek
unggulan dan Pilots And Trials Hotspot (PATH) di berbagai
sektor vertikal seperti manufaktur, logistik dan supply chain,
kesehatan, keuangan, travel dan pariwisata, dan lain-lain.
Sebagai contoh adalah kerjasama IDA dengan Microsoft untuk
membangun inisiatif web services berskala nasional bernama
.NET MySingapore. Proyek unggulan ini akan menjadikan web
services sebagai salah satu teknologi kunci untuk meningkatkan
konektivitas masyarakat Singapura.
Inisiatif ketiga adalah penciptaan Enabling Infrastructure,
yang bersasaran untuk menangani masalah-masalah industri yang
mungkin dapat menghambat pertumbuhan web services. Masalah-masalah
ini meliputi masalah interoperabilitas, security, identitas
network, semantics, manajemen web services dan Public UDDI
(Universal Description, Discovery, and Integration) Registry.
Contoh inistiatif ini adalah kolaborasi IBM dengan Nanyang
Polytechnic (NYP) untuk mendirikan Web Services Innovation
Zone (WIZ), yang berfokus pada masalah-masalah interoperabilitas
lintas platform teknologi.
Sebagaimana diketahui, Singapura menempatkan Web Services
sebagai salah satu dari tiga bidang fokus dalam Infocomm Technology
Roadmap, yang memetakan tren teknologi dalam lima tahun mendatang.
Dua bidang fokus lainnya adalah grid computing dan peer-to-peer
technologies.•
Kolaborasi
Teknologi Messaging
GridNode, sebuah perusahaan Singapura yang bergerak dalam
penyediaan extended enterprise businessware (XB) mengadakan
kolaborasi dengan Sonic Software untuk membantu perusahaan-perusahaan
manufaktur berteknologi tinggi menggunakan Java Message Service
– teknologi messaging berbasis Java – guna mencapai
integrasi bisnis secara total dari enterprise system miliknya
dan partner bisnisnya.
Kolaborasi ini dibentuk di bawah payung program infocomm
Local Industry Upgrading Program (iLUP) dari badan pengembangan
infokom Singapura, IDA, yaitu sebuah program yang mempromosikan
kerjasama strategis dan saling menguntungkan antara perusahaan-perusahaan
Singapura dan multi nasional.
Dalam kolaborasi ini, piranti lunak unggulan Sonic, SonicXQ,
yaitu middleware Enterprise Application Integration (EAI)
yang mengusung Web services dan J2EE Connector Architecture
(JCA), dipadukan ke dalam piranti lunak B2Bi berbasis XML
milik GridNode, GridTalk, sehingga memungkinkan perusahaan-perusahaan
saling bertukar dokumen bisnis, mengotomatisasikan alur kerjanya
(workflow) serta mensinkronkan data yang di-sharing, langsung
dengan rekan bisnisnya dalam supply chain di Internet secara
real time.
Penerapan teknologi terkolaborasi semacam ini juga akan membantu
customer menghemat biaya dengan mengurangi besarnya standby
basis inventory yang mereka butuhkan.
Kolaborasi teknologi ini telah memperoleh customer pertamanya,
yaitu Ryder-Ascent Logistic, yang tengah memuluskan integrasi
bisnis antar supply chain agar dapat saling bertukar informasi
secara real time, sehingga pelanggannya terlayani secara lebih
baik.•
Sebagian Besar UKM Taiwan Sadar TI
Riset
yang dilakukan majalah Taiwan, Tech Vantage, dan badan pengelola
UKM kementrian ekonomi Taiwan pada 1042 perusahaan UKM mengungkapkan,
bahwa sebagian besar UKM sangat menyadari kebutuhan untuk
otomatisasi, meskipun anggaran TI-nya relatif kecil dan kurangnya
SDM pendukung infrastruktur TI.
Menurut Tech Vantage, sekitar 88.03% dari UKM, yang didefinisikan
sebagai perusahaan dengan jumlah pegawai kurang dari 200 orang
dan/atau pendapatan tahunan di bawah 1 milyar dolar Taiwan,
telah terotomatisasi untuk meningkatkan produktivitas internal
dan manajemen prosesnya. Sekitar 68% UKM juga mengungkapkan
bahwa otomatisasi mengurangi cost dan memperluas pasar mereka.
Sekitar 55.78% responden mengatakan bahwa kepuasan pelanggan
adalah alasan mereka menerapkan TI. Hanya 5.43% dari UKM yang
disurvai belum terotomatisasi, dan sebagian besar dari jumlah
ini – sekitar 60% - mengatakan karena memang belum membutuhkan
TI.
Dari sebagian besar UKM yang mengatakan telah terotomatisasi,
hanya 13.95% yang merasa telah mencapai otomatisasi tingkat
“tinggi”, 25.48% merasa masih dalam taraf otomatisasi
tingkat “rendah”. Sisanya merasa masih “rata-rata”.
Laporan ini juga menyebutkan bahwa otomatisasi tingkat tinggi
dipersepsikan sebagai jumlah frekuensi penggunaan teknologi.
Hanya 7.17% dari UKM yang mengeluarkan 500.000 dolar Taiwan
untuk TI merasa bahwa tingkat otomatisasinya tinggi, sementara
47.73% dari mereka yang menghabiskan lebih dari 10 juta dolar
Taiwan merasakan hal yang sama. Sementara itu, 60% UKM yang
memiliki staf sistem manajemen informasi (MIS) merasa tingkat
otomatisasinya tinggi.•
|