JOS
F. LUHUKAY
Partner, Ernst & Young
Beberapa perusahaan yang banyak menggunakan jasa agen asuransi,
seperti umumnya asuransi jiwa, mulai memperluas dukungan komputerisasi
ini pada pengelolaan agen. Masalah yang terakhir ini tidak
sederhana, terutama apabila jumlah produk dan agen mulai besar.
Sebuah perusahaan asuransi jiwa bersama yang berpusat di Jakarta
misalnya, diperkirakan mempekerjakan sekitar 20.000 orang
agen, sebuah jumlah yang tidak tertangani bila dikerjakan
secara manual. Apalagi bila hendak diperhitungkan pula kenyataan
bahwa tagihan premium di masa awal sebagian besar digunakan
untuk menutup komisi agen tersebut.
Di asuransi kerugian, perkembangan penggunaan komputer tidak
banyak berbeda. Karena asuransi kerugian umumnya menangani
klien korporasi, jumlah polis juga terbatas, dan dukungan
TI-nya tidak demikian urgen.
Peran TI dalam bentuk awal ini, pada dasarnya, adalah untuk
mendukung proses yang sebelumnya manual penuh. Dengan perkataan
lain, sebetulnya yang dilakukan adalah otomatisasi belaka.
Kemampuan teknologi tersebut, mulai dari yang mendasar hingga
yang paling canggih, digunakan sebagai substitusi tenaga manusia
dalam konteks manual.
Dalam bentuknya yang lebih mutakhir, seperti juga di industri
lainnya, idiosinkrasi dan kemampuan TI mulai dimanfaatkan
di bidang asuransi. Karenanya, e-Insurance sebaiknya ditinjau
dalam konteks komputerisasi, dan bukannya dalam lingkup otomatisasi
belaka. Disini, asuransi dan transaksinya mulai mendapatkan
bentuk dan pola transaksi baru, yang sebelumnya tidak dimungkinkan.
TI mulai memberikan warna baru bagi industri asuransi. Sesuatu
yang mulai terjadi di awal 1990an, kini mulai mengambil bentuk
yang menarik untuk disimak.
Asuransi dan Manajemen Risiko
Pada dasarnya, asuransi, atau pertanggungan, adalah sebuah
solusi yang digunakan dalam mengelola risiko, baik pribadi
maupun korporasi. Dalam membeli asuransi, pihak perusahaan
asuransi menjual coverage, dan pada prinsipnya mengambil alih
risiko dari pihak tertanggung. Dalam konteks tertanggung pribadi,
risiko ini antara lain dapat berupa sakit sehingga memerlukan
perawatan, kehilangan bagian tubuh, kematian, kehilangan pekerjaan
sampai kehilangan bagasi pada saat bepergian. Bagi tertanggung
korporasi, risiko ini antara lain dapat berupa fixed assets,
termasuk antara lain gedung kantor dan kendaraan bermotor,
dan berkisar hingga kegiatan eksplorasi penambangan di daerah
berbahaya.
Dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah transaksi pertanggungan
dilakukan oleh si calon tertanggung dengan perusahaan asuransi
dengan pola one-on-one. Dengan pola ini, transaksi mengambil
pola risk transfer yang paling primordial.
Ketika TI, dalam perannya sebagai pemberdaya, mulai mewarnai
transaksi pertanggungan, mulailah dikenal pola transaksi yang
lebih “terbuka”, sehingga tercipta bursa-bursa
pertanggungan yang lebih dikenal dengan istilah insurance
exchanges. Dalam konteks ini, transaksi terjadi dalam bentuk
risk trading, dimana pertanggunan diperdagangkan secara lebih
terbuka dan melibatkan lebih banyak calon tertanggung dan
sebuah perusahaan asuransi.
Risk Trading
Sebuah survai yang dilakukan paruh kedua dasawarsa 1990an
menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan pembeli pertanggungan
cenderung lebih menyukai pasar risk trading yang dilakukan
secara online dan terbuka. Pola ini bukan saja akan efektif,
tetapi juga akan memaksimalkan manfaat dari anggaran asuransi
mereka. CEO dari salahsatu perusahaan pemasok sistem risk
trading ini, Global Risk Exchange, Andrew Barry, menyatakan
bahwa pengelolaan risiko korporasi ini adalah “A 37
cent problem in a US$140 billion market”. Masalahnya,
37% dari premium yang diperoleh sebuah perusahaan asuransi
akan dihabiskan untuk administrasi dan distribusi. Konvergensi
dalam pasar jasa keuangan, termasuk asuransi, akan menyebabkan
dorongan untuk mencari solusi hyper-efficient dalam pengembangan
pasar.
Pola risk trading yang online ini bukannya tidak bermasalah,
paling tidak untuk para agen atau broker asuransi. Peran mereka
akan sangat dikurangi, paling-paling untuk akhirnya menjadi
penasehat bagi para calon tertanggung. Perubahan ini diindikasikan
oleh survai di atas. Nyaris 80% dari perusahaan pembeli jasa
asuransi yang disurvai menyatakan masih akan menggunakan agen
dan broker, akan tetapi akan membayar mereka berdasarkan fixed
fee dan bukannya dalam bentuk komisi.
Peningkatan Efisiensi
Menarik untuk disimak manfaat yang diperoleh dari pola risk
trading ini. Di website mereka, GRX menyatakan bahwa para
Risk Managers akan memperoleh peningkatan efisiensi antara
17% sampai 21%, sedang perusahaan asuransi dan reasuransi
akan menikmati efisiensi yang membaik antara 10% sampai 15%.
Informasi lebih lanjut mengenai insurance exchange ini, baik
asuransi maupun reasuransinya, dapat diperoleh di internet,
antara lain di www.catex.com, www.riskworld.com dan www.grx.com.
Nyatanya, e-Insurance akan dengan cepat didorong ke arah terbentuknya
pasar untuk risk trading. Dalam bentuk inilah baru akan dapat
dimanfaatkannya TI dengan segala aspek pemberdayanya. Penggunaan
teknologi ini sebagai substitusi tenaga manusia hanyalah sebuah
bentuk pengkerdilan yang akhirnya akan sangat mahal.•
foto-foto: LS Widiyanto
|