KRISTIONO
Direktur Utama, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Tetapi, ternyata tidak terjadi. Jadi, yang digembar-gemborkan
itu jauh dari realita. Akibatnya, terjadi kebangkrutan di
media, dotcom dan sebagainya.
Kalau kita lihat peta per negara, itu memang agak beda masalahnya.
Karena itu, penting bagi kita belajar agar jangan sampai mengulangi
jebakan-jebakan yang sama. Amerika misalnya, yang survive
itu yang punya customer dan itu di wireline. Cuma wireline
operator itu under pressure dari cables. Sekarang muncul triple
bundle, dimana VoIP termasuk di dalamnya.
Sedang di wireless, growth-nya tidak terlalu bagus karena
standarisasinya tidak seragam. Sebaliknya, di Eropa wireline
yang lebih superior, karena cable belum terlalu besar. Sedang
wireless-nya kena masalah dengan 3G.
Jepang sukses di bisnis data dan wireless. Bisnis model yang
paling baik itu Jepang dengan NTT DoCoMo-nya. DoCoMo memiliki
40.000 websites karena business model-nya sangat sederhana,
dimana dia hanya menguasai 5 persen, sedangkan 95 persennya
dibagi ke content provider.
Lain lagi Cina, peran policy government untuk pembangunan
infrastruktur itu luar biasa. Driver-nya bukan private, tetapi
pemerintah. Kebijakannya, infrastrukur itu nomor satu. Dalam
transfer teknologi, pemerintah punya kebijakan untuk membangun
industri lokal. Karena market-nya besar, semua vendor masuk,
meski marjinnya kecil, tapi dia harus menyerahkan teknologinya.
Pemerintah hanya sebagai regulator dan policy maker saja.
Pemainnya juga sebagian BUMN, yang kecenderungannya akan diprivatisasi
juga.
Kalau Korea, driver awalnya adalah internet café atau
warnet. Di warnet itu selain akses internet, ada gaming-nya,
dan juga e-learning. Itu menjadi bagian media yang mengedukasi.
Di sana penetrasi internet itu bagus sekali dan aksesnya juga
murah. Dulu kalau perlu disubsidi. Setelah penetrasinya tinggi,
baru dikompetisikan. Sekarang tidak boleh disubsidi lagi.
Dari tipikal banyak negara, kita bisa belajar bahwa Indonesia
itu, pertama, resources-nya tidak banyak, jadi harus dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Kedua, basis industrinya memang tidak
ada. Yang ada hanya trading. Ketiga, sebenarnya local access
di kita itu bukannya mahal, tapi karena akses internet di-blending
dengan local access akhirnya jadi mahal. Sebenarnya tarif
lokal kita ini masih disubsidi 30 persen. Sekarang, orang
ke ISP masih harus bayar local access plus service. Ini seharusnya
tidak begitu. Seharusnya ISP dengan Telkom mem-bundling-nya,
sehingga pelanggan dibebani untuk satu paket saja. Mungkin
kita bisa belajar banyak dari Korea dengan internet café
sebagai suatu community access.
Penetrasi PC kita masih rendah. Individual access-nya masih
mahal. Jadi, community access-nya yang harus ditingkatkan.
Warnet Café dan Warnet bisa ditingkatkan perannya tidak
hanya sebagai retail customer, melainkan reseller. Justru
ini yang penetrasinya harus tinggi, karena itu sebenarnya
sebagai learning media, dimana orang yang tidak punya PC bisa
belajar di situ.
Dari Jepang kita bisa belajar bahwa perlu ada business model,
supaya industri content-nya tumbuh. Industri content itu tumbuh
bilamana “pipanya” tidak banyak, sehingga lebih
efisien dan memberi benefit kepada industri content. Colapse-nya
di Amerika itu karena overcapacity. Karena Indonesia resources-nya
tidak banyak, kita harus berpikir efisien.
Sebagai contoh, persoalan backbone. Persoalan backbone itu
sebenarnya tidak hanya Telkom. Telkom punya, Indosat mau buat,
Excelcom punya, PN Gas punya, PLN juga punya. Kenapa sekarang
masing-masing berpikir menjadi pemain sendiri-sendiri? Kenapa
tidak disatukan? Karena invest-nya sendiri-sendiri kemungkinan
terjadi duplikasi. Backbone itu investasinya sangat tinggi,
jangka panjang dan risikonya akan semakin tinggi, karena harga
bandwidth akan semakin murah.
Sekarang coba lihat Jawa, Indosat punya, Telkom punya, Excelcomindo
punya, Gas punya fibre optic, PLN punya. Terus semua berlomba-lomba
investasi untuk apa? Kalau ini disinergikan, backbonenya satu
saja, kemudian sumber daya yang ada bisa diinvestasikan untuk
penetrasi di akses.
Itulah yang kita bicarakan dulu dalam konteks industri. Industri
itu pasti ada regulatornya dan juga policy. Pemerintahlah
yang membuat framework ini, bagaimana kita bicara dalam konteks
Indonesia berhadapan dengan dunia global. Dalam globalisasi
berarti kompetisi global. Kalau kompetisi global bagaimana
Indonesia mendapatkan manfaat maksimum. Jangan sampai Indonesia
menjadi victim dari globalisasi.
Sekarang kan hanya bargaining power saja. Anda punya apa,
saya punya apa. Ambil contoh Internet. Internet traffic sangat
fragmented. Keluar Indonesia lewat bermacam-macam gateway.
Berarti bargaining internet, volume traffic-nya pecah. Sedang
bargaining kita dengan dunia kan hanya volume. Makin besar
traffic, ya makin bagus.
Itu terjadi karena tidak ada central policy. Contohnya, kenapa
sekarang operator selular membangun tower sendiri-sendiri.
Kenapa tidak belajar dari Eropa? Setelah mereka bangkrut,
mereka melakukan outsourcing total. Mereka melakukan cost
restructuring dengan outsourcing. Sampai tahun 2010, enam
puluh persen cost digunakan untuk outsourcing. Cost saving-nya
bisa mencapai 10 persen, optimal 30 persen.
Ada satu perusahaan di Eropa yang ketika bangkrut memiliki
sekitar 14.000 tower. Setelah bangkrut, mereka melakukan restrukturisasi
dengan meng-outsource operasionalnya. Jadi, tower-tower seluruhnya
di-outsource, bahkan sampai operasi core competence-nya pun
di-outsource ke para vendor. Lalu kenapa di Indonesia semua
masih membuat tower sendiri, kenapa tidak di-outsource saja.
Cukup satu atau beberapa perusahaan saja yang menyediakan
tower, yang bisa dipakai bersama. Dengan begitu, cellular
operators bisa saving investment cukup besar.
Bayangkan, kalau untuk membangun satu tower bisa menghabiskan
500 juta. Misalnya Telkomsel, ada sekitar 3.000 lokasi, dikali
500 juta sudah berapa? Belum lagi Satelindo, IM3, Excelcomindo.
Memangnya mau balapan tower. Kalau satu tower digunakan bersama
kan bisa lebih efisien.
Soal mutu layanan, kan ada service level guarantee. Itu bisa
dibuat dalam framework legal. Provider bisa memberikan garansi
dan segala macam yang dibutuhkan.•
foto-foto: LS Widiyanto
|