C o l u m n s Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Bicara e-Business, semua dulu berpikir bahwa everything becoming online, semua akan menjadi e-Business. Seolah-olah infrastruktur itu jalan, kemudian tiba-tiba secara overnight berubah menjadi online.
 

KRISTIONO
Direktur Utama, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Tetapi, ternyata tidak terjadi. Jadi, yang digembar-gemborkan itu jauh dari realita. Akibatnya, terjadi kebangkrutan di media, dotcom dan sebagainya.

Kalau kita lihat peta per negara, itu memang agak beda masalahnya. Karena itu, penting bagi kita belajar agar jangan sampai mengulangi jebakan-jebakan yang sama. Amerika misalnya, yang survive itu yang punya customer dan itu di wireline. Cuma wireline operator itu under pressure dari cables. Sekarang muncul triple bundle, dimana VoIP termasuk di dalamnya.

Sedang di wireless, growth-nya tidak terlalu bagus karena standarisasinya tidak seragam. Sebaliknya, di Eropa wireline yang lebih superior, karena cable belum terlalu besar. Sedang wireless-nya kena masalah dengan 3G.

Jepang sukses di bisnis data dan wireless. Bisnis model yang paling baik itu Jepang dengan NTT DoCoMo-nya. DoCoMo memiliki 40.000 websites karena business model-nya sangat sederhana, dimana dia hanya menguasai 5 persen, sedangkan 95 persennya dibagi ke content provider.

Lain lagi Cina, peran policy government untuk pembangunan infrastruktur itu luar biasa. Driver-nya bukan private, tetapi pemerintah. Kebijakannya, infrastrukur itu nomor satu. Dalam transfer teknologi, pemerintah punya kebijakan untuk membangun industri lokal. Karena market-nya besar, semua vendor masuk, meski marjinnya kecil, tapi dia harus menyerahkan teknologinya. Pemerintah hanya sebagai regulator dan policy maker saja. Pemainnya juga sebagian BUMN, yang kecenderungannya akan diprivatisasi juga.

Kalau Korea, driver awalnya adalah internet café atau warnet. Di warnet itu selain akses internet, ada gaming-nya, dan juga e-learning. Itu menjadi bagian media yang mengedukasi. Di sana penetrasi internet itu bagus sekali dan aksesnya juga murah. Dulu kalau perlu disubsidi. Setelah penetrasinya tinggi, baru dikompetisikan. Sekarang tidak boleh disubsidi lagi.

Dari tipikal banyak negara, kita bisa belajar bahwa Indonesia itu, pertama, resources-nya tidak banyak, jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kedua, basis industrinya memang tidak ada. Yang ada hanya trading. Ketiga, sebenarnya local access di kita itu bukannya mahal, tapi karena akses internet di-blending dengan local access akhirnya jadi mahal. Sebenarnya tarif lokal kita ini masih disubsidi 30 persen. Sekarang, orang ke ISP masih harus bayar local access plus service. Ini seharusnya tidak begitu. Seharusnya ISP dengan Telkom mem-bundling-nya, sehingga pelanggan dibebani untuk satu paket saja. Mungkin kita bisa belajar banyak dari Korea dengan internet café sebagai suatu community access.

Penetrasi PC kita masih rendah. Individual access-nya masih mahal. Jadi, community access-nya yang harus ditingkatkan. Warnet Café dan Warnet bisa ditingkatkan perannya tidak hanya sebagai retail customer, melainkan reseller. Justru ini yang penetrasinya harus tinggi, karena itu sebenarnya sebagai learning media, dimana orang yang tidak punya PC bisa belajar di situ.

Dari Jepang kita bisa belajar bahwa perlu ada business model, supaya industri content-nya tumbuh. Industri content itu tumbuh bilamana “pipanya” tidak banyak, sehingga lebih efisien dan memberi benefit kepada industri content. Colapse-nya di Amerika itu karena overcapacity. Karena Indonesia resources-nya tidak banyak, kita harus berpikir efisien.

Sebagai contoh, persoalan backbone. Persoalan backbone itu sebenarnya tidak hanya Telkom. Telkom punya, Indosat mau buat, Excelcom punya, PN Gas punya, PLN juga punya. Kenapa sekarang masing-masing berpikir menjadi pemain sendiri-sendiri? Kenapa tidak disatukan? Karena invest-nya sendiri-sendiri kemungkinan terjadi duplikasi. Backbone itu investasinya sangat tinggi, jangka panjang dan risikonya akan semakin tinggi, karena harga bandwidth akan semakin murah.

Sekarang coba lihat Jawa, Indosat punya, Telkom punya, Excelcomindo punya, Gas punya fibre optic, PLN punya. Terus semua berlomba-lomba investasi untuk apa? Kalau ini disinergikan, backbonenya satu saja, kemudian sumber daya yang ada bisa diinvestasikan untuk penetrasi di akses.

Itulah yang kita bicarakan dulu dalam konteks industri. Industri itu pasti ada regulatornya dan juga policy. Pemerintahlah yang membuat framework ini, bagaimana kita bicara dalam konteks Indonesia berhadapan dengan dunia global. Dalam globalisasi berarti kompetisi global. Kalau kompetisi global bagaimana Indonesia mendapatkan manfaat maksimum. Jangan sampai Indonesia menjadi victim dari globalisasi.

Sekarang kan hanya bargaining power saja. Anda punya apa, saya punya apa. Ambil contoh Internet. Internet traffic sangat fragmented. Keluar Indonesia lewat bermacam-macam gateway. Berarti bargaining internet, volume traffic-nya pecah. Sedang bargaining kita dengan dunia kan hanya volume. Makin besar traffic, ya makin bagus.

Itu terjadi karena tidak ada central policy. Contohnya, kenapa sekarang operator selular membangun tower sendiri-sendiri. Kenapa tidak belajar dari Eropa? Setelah mereka bangkrut, mereka melakukan outsourcing total. Mereka melakukan cost restructuring dengan outsourcing. Sampai tahun 2010, enam puluh persen cost digunakan untuk outsourcing. Cost saving-nya bisa mencapai 10 persen, optimal 30 persen.

Ada satu perusahaan di Eropa yang ketika bangkrut memiliki sekitar 14.000 tower. Setelah bangkrut, mereka melakukan restrukturisasi dengan meng-outsource operasionalnya. Jadi, tower-tower seluruhnya di-outsource, bahkan sampai operasi core competence-nya pun di-outsource ke para vendor. Lalu kenapa di Indonesia semua masih membuat tower sendiri, kenapa tidak di-outsource saja. Cukup satu atau beberapa perusahaan saja yang menyediakan tower, yang bisa dipakai bersama. Dengan begitu, cellular operators bisa saving investment cukup besar.

Bayangkan, kalau untuk membangun satu tower bisa menghabiskan 500 juta. Misalnya Telkomsel, ada sekitar 3.000 lokasi, dikali 500 juta sudah berapa? Belum lagi Satelindo, IM3, Excelcomindo. Memangnya mau balapan tower. Kalau satu tower digunakan bersama kan bisa lebih efisien.

Soal mutu layanan, kan ada service level guarantee. Itu bisa dibuat dalam framework legal. Provider bisa memberikan garansi dan segala macam yang dibutuhkan.•

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved