IT & Communications Volume I Nomor 02 - Nopember 2002
Setelah dua tahun berjalan, implementasi GPS di Blue Bird semakin mantap. Tamu tak perlu lagi menunggu lama mobil yang dipesannya. Rencananya Blue Bird bakal menerapkan aplikasi baru yakni MDT (Mobile Data Terminal)
 
SIDE BAR

Tak Perlu Bayar Untuk Akses GPS
 

Seorang wanita cantik, eksekutif muda, terlihat sibuk memutar telepon di kantornya menghubungi Blue Bird untuk memesan taksi yang akan mengantarkannya ketemu partner bisnis. Sembari menunggu taksi datang, dia mengisi waktu dengan mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa untuk keperluan bisnisnya. Tak sampai 10 menit kemudian, ada telepon dari receptionist bahwa taksi yang dipesannya sudah datang. Winda, begitu panggilan wanita tersebut agak kaget, “Lho kok cepat banget ya,” ungkapnya dalam hati. Bergegas dia keluar ruangan dan masuk ke dalam taksi yang ditumpanginya menuju suatu tempat yang telah ditentukan.

Winda tak sadar bahwa kecepatan pelayanan yang diberikan oleh Silver Bird merupakan hasil aplikasi sistem GPS (Global Positioning system), yang diterapkan Blue Bird untuk armada Silvernya. Pasalnya, dengan GPS, taksi yang akan mengambil order yang diberikan dari call center di pusat hanya bisa diambil oleh taksi yang tengah berada di lokasi terdekat tamu pengorder taksi.

Meningkatkan pelayanan kepada tamu, itulah tujuan diterapkannya sistem GPS ini di Blue Bird. “Kita sudah merasa bahwa kita harus melakukan improvement. Apalagi, sistem radio ini sangat memungkinkan kita untuk menggunakan sistem GPS,” ungkap Sigit P. Djokosoetono, General Manager Operational Blue Bird Group kepada eBizzAsia. Awalnya, dengan adanya sistem radio, Blue Bird menggunakan bidding system dalam menanggapi datangnya order. Namun dalam sistem ini, receiver hanya bisa mengetahui nomor taksi, dan tidak mengetahui posisi taksi yang merespon penawaran tersebut.

Nomor ini diketahui karena pengemudi, saat merespon adanya penawaran, menjawabnya melalui suara dan mereka menyebutkan nomor taksi yang dikemudikan. Semakin banyak order akhirnya membuat Blue Bird terketuk untuk mengimplementasikan GPS sekitar dua tahun lalu, khususnya pada mobil jenis Silver Bird. Perangkat yang masih mahal membuat manajemen Blue Bird hanya mengimplementasikan di Silver Bird saja. Total perangkat GPS ini dipasang pada armada Blue Bird mencapai 640 unit mobil.

“Memang, jika dilihat secara sepintas, aplikasi GPS di Blue Bird ini cukup sederhana atau hanya merupakan enhancement dari sistem bidding yang lama, yakni pada awalnya hanya muncul nomor, sekarang bisa tahu jarak dan posisinya. Sebenarnya, untuk menghasilkan taksi seperti itu diperlukan proses yang sangat panjang” tutur Sigit. Proses yang panjang itu antara lain pemindahan dari pemakaian sistem analog menjadi sistem digital. Begitu masuk pada GPS berarti banyak data yang harus ditransmit seperti posisi dan bujur lintang dll, sehingga sistem analog sudah tak memungkinkan untuk digunakan. Karenanya, mau tak mau harus menggunakn sistem digital.

Untuk mengubah dari sistem analog ke sistem digital, harus dilakukan perubahan total dalam sistem reservasi secara menyeluruh. “Maka dari itu, pada tahun 2000 kami mengganti sistem reservasi dari sistem yang lama ke sistem yang baru untuk siap ke langkah berikutnya. Ketika sistem ini sudah diaplikasikan, kami tinggal menambah aplikasi yang diinginkan dengan basis GPS atau istilahnya berjalan diatas sistem GPS,” tambah Sigit. Misalnya, kami bisa memandu seorang pengemudi memilih jalan untuk menuju suatu lokasi tertentu.

Pada tahap awal aplikasi GPS, kendala nyata yang langsung dihadapi adalah pembuatan peta secara digital. “Saat itu kita masih sulit mencari peta digital, berbagai jalan dicoba dan akhirnya Blue Bird memutuskan untuk membuat peta sendiri” tambah Sigit. Dan karena peta itu buatan sendiri, maka sangat spesifik terhadap wilayah yang kita miliki. Dengan dibantu konsultan komunikasi, kita membuat peta digital itu sendiri. Ternyata, setelah dipelajari tak mudah membuat sebuah peta. Apalagi posisi ketinggian sangat berpengaruh terhadap implementasi GPS ini.

Kendala lain yang juga harus dipecahkan dalam penerapan GPS ini antara lain sulitnya memadukan pengiriman data dan suara secara bersamaan dalam satu kanal radio. Akhirnya data dan suara dikirim secara bergantian. Disinilah dijumpai kendala teknologi yang cukup kompleks. Meskipun suara terkadang harus delay beberapa detik, namun kami sekarang tetap merasa bangga karena pengiriman data dan gambar bisa dilakukan secara lancar. Kalau tidak, kami harus menggunakan dua jalur yang berbeda untuk pengiriman data dan suara. Nah, kalau itu terjadi, kendala yang akan dialami adalah kesulitan pada kantor pusat untuk menggabungkan dua hal tersebut. Ujungnya, di kendaraan pun membutuhkan dua alat yang berbeda.

Untuk mengoperasikan aplikasi ini, Blue Bird menggunakan frekuensi radio dengan kapasitas 9600 kpps, namun kenyataannya kami bisa running pada 2400 kpps. Justru jika menggunakan 9600 kpps koreksi terhadap errornya cukup tinggi.

Pemasangan aplikasi GPS ini memakan waktu kurang lebih selama setahun. Proyek yang dimulai pada 2000 ini selesai implementasi totalnya pada 2001. Hasil yang diperoleh dari sistem GPS ini, antara lain service bisa dilakukan secara lebih cepat. Dengan sistem lama, secara otomatis taksi yang nge-bid lebih dahulu yang akan mendapatkan order tersebut, padahal bisa jadi lokasi mobil tersebut jauh dari lokasi tamu yang akan dijemput. “Nah dengan GPS, keberadaan taksi yang nge-bid akan diketahui, jadi belum tentu taksi yang nge-bid duluan akan mendapatkan order. Yang diutamatakan adalah taksi yang berada pada jarak paling dekat dengan tamu jemputan” kata Sigit.

Dengan GPS ini respon terhadap order akan lebih cepat. Jika dulu respon terhadap order memakan waktu sekitar 25 menit, kini dalam waktu 10 hingga 15 menit saja taksi sudah berada di depan tamu pemesan. Dulu dari 10 order setidaknya ada 5 yang tidak on time. Sekarang paling tidak hanya 2 dari 10 order saja yang tidak bisa dilayani secara on time. Beberapa factor, seperti kemacetan dan lokasi yang sulit dijangkau membuat sistem ini tak bisa menjamin semua order bisa diakomodir secara baik.

Tampilan yang muncul di kantor pusat atau receiver adalah lokasi tamu yang minta dijemput dan lokasi mobil yang nge-bid. Begitu tamu menelepon, secara otomatis mereka menyebutkan data seperti nomor telepon dan alamat secara lengkap. Begitu data tersebut di-entry di sistem, data tersebut langsung diolah dan dihitung posisi bujur dan lintangnya, sehingga posisi rumah tamu langsung bisa dipetakan oleh sistem. Pada saat order dibacakan, gambar posisi tamu itu dipetakan di komputer. Kemudian, ketika pengemudi nge-bid, komputer langsung melakukan kalkulasi berapa jarak lurus dari titik tamu terhadap transmisi yang dikirim oleh mobil yang nge-bid tersebut. Operator akan menunjuk mobil yang mempunyai jarak terdekat dengan lokasi tamu untuk mengambil order tersebut.

Sedang alat yang dipasang pada armada kendaraan berupa sebuah kotak yang terdiri dari beberapa tombol. Tombol tersebut, antara lain tombol roger, query dan tombol perekam. Jika pengemudi ingin merespon order tinggal menekan tombol roger dan dari tombol inilah akan terkirim sinyal. Dari sinyal inilah akan diketahui keberadaan kendaraan. Sedang query ini akan ditekan jika pengemudi membutuhkan bantuan. Tombol rekam digunakan untuk secara otomatis merekam order yang dibacakan operator. Jadi, pengemudi tak perlu mencatat alamat tamu yang akan dijemput. Jika tombol ini dijemput maka secara otomatis penyebutan alamat tamu yang minta dijemput akan diulang.

Biaya investasi untuk aplikasi sistem ini memang cukup mahal. Alat yang dipasang untuk setiap satu unit kendaraan seharga 450 dollar Amerika. “Jika dihitung-hitung investasi alat pada mobil yang memakan biaya besar. Untuk investasi di kantor pusat bisa dikatakan relatif murah. Karena dengan investasi sebesar itu sangat memungkinkan untuk mendevelop dengan aplikasi lain yang lebih canggih,” jelas Sigit.

Boleh dibilang GPS di Blue Bird yang sudah berjalan tak kurang dari satu tahun ini cukup memberi hasil yang menggembirakan. Kesuksesan ini membuat Blue Bird tergerak untuk menjalankan aplikasi lain. “Dua atau tiga bulan mendatang kita akan aplikasikan sistem MDT (Mobile Data Terminal) untuk taksi Pusaka Group,” kata Sigit. Dengan MDT ini, penawaran order kepada pengemudi tidak lagi menggunakan suara, tetapi mengandalkan data.

Order yang dilempar oleh operator di kantor pusat, tak lagi berupa suara melainkan tulisan. Pengemudi tinggal membaca pesan tertulis yang dikirim oleh operator pusat. Ketika dia ingin mengambil order, seperti sistem terdahulu, pengemudi tinggal meresponnya dengan menekan tombol yang ada pada perangkat taksinya. Manfaat yang bisa dipetik dengan sistem MDT ini antara lain mengurangi tingkat antrean order. Karena, dengan sistem ini setiap order yang masuk langsung bisa dikirim secara otomatis ke kendaraan yang mempunyai jarak terdekat dengan tamu yang minta dijemput.

Selain itu, dengan MDT satu order bisa dikirim langsung ke beberapa kendaraan secara berbarengan dalam waktu yang singkat. Sedangkan dengan sistem GPS, order harus antre karena dikirim oleh pusat ke kendaraan melalui suara. Bagi penumpang, MDT tentu juga mempunyai manfaat. Penumpang, kini, tak lagi terganggu dengan suara order yang dilelang.

Untuk penerapan MDT ini, perusahaan taksi berawak 5800 unit ini harus mengeluarkan investasi sekitar 900 dollar untuk setiap mobil. Yang pasti, kini, perusahaan taksi terkemuka itu akan semakin lancar dalam merespon order tamu yang setiap hari bisa mencapai 7000-an. •wi

foto-foto: LS Widiyanto

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved