Rubrik
tanya jawab seputar eBusiness
diasuh oleh Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit
Q
Saya banyak mendengar bahwa aplikasi CRM tidak semata-mata dilihat
sebagai aspek teknologi. Jika demikian, CRM harus dilihat sebagai
apa? Bagaimana pertimbangan untuk penerapannya di perusahaan?
Wawan
Marketing Manager, PT. Dipaprima Wisata
A
Pada dasarnya, teknologi merupakan salah satu komponen penting
dalam sebuah kerangka CRM (Customer Relationship Management)
yang efektif. Karena, secara prinsip, tujuan diimplementasikannya
konsep CRM adalah untuk menjalin suatu hubungan atau relasi
yang “intim” antara perusahaan dengan masing-masing
customer-nya, sehingga customer yang bersangkutan menjadi
loyal dengan perusahaan terkait. Jelas terlihat di sini adanya
hal-hal lain yang harus dipertimbangkan dalam CRM, seperti
aspek psikologis, sosial, dan budaya.
Seringkali dikatakan bahwa, pada dasarnya, penerapan CRM
merupakan sebuah program change management bagi sebuah perusahaan
yang berniat mengimplementasikannya secara efektif. Melihat
hal tersebut, jelas terlihat bahwa pertimbangan penting yang
harus dipikirkan oleh manajemen adalah kesiapan perusahaan
untuk melakukan perubahan paradigma yang cukup mendasar. Yakni,
dari perusahaan yang berorientasi produk menjadi perusahaan
berorientasi customer, dari perusahaan yang menerapkan push
management system menjadi pull management system, dari perusahaan
yang berbasis fungsi/struktur menjadi perusahaan yang berbasis
proses, dari perusahaan yang tidak perduli dengan pentingnya
informasi, menjadi perusahaan yang information literacy-nya
tinggi, dan lain sebagainya.•
Q
Setelah membaca eBizzAsia edisi perdana, saya ingin bertanya
ke Bapak. Bagaimana sebenarnya pandangan pak Eko terhadap
perkembangan dan penerapan eBusiness di perusahaan-perusahaan
Indonesia hingga sekarang ini? Masihkan kita bisa berharap
bahwa penerapan eBusiness akan sangat strategis, baik bagi
perusahaan maupun secara nasional dalam kompetisi global?
Bisa diberikan pandangan yang lebih rinci?
Ismawan Noor
Manajer Pengembangan Bisnis, PT. Ismawan Tatalaksana
A
Ada dua kendala utama yang dialami perusahaan Indonesia yang
ingin menerapkan eBusiness secara efektif. Pertama, kendala
internal, yaitu yang terkait masalah pemahaman terhadap konsep
eBusiness dan komitmen seluruh stakeholder yang berkepentingan.
Dua hal ini sangat penting diperhatikan, karena menerapkan
konsep ini diperlukan suatu perubahan yang sangat mendasar
dan radikal dalam melakukan pengelolaan perusahaan. Setiap
lini manajemen, dari puncak sampai operasional harus siap
dan mau berubah. Faktor internal ini cukup mudah diatasi karena
tergantung dari kemampuan manajemen puncak dalam men-drive
armadanya. Yang penting adalah adanya niat dan kemampuan.
Kedua adalah yang tersulit, yaitu faktor eksternal, yang
secara prinsip berada di luar jangkauan kontrol perusahaan.
Contohnya adalah kesiapan infrastruktur, perangkat hukum dan
peraturan, faktor keamanan (security), akses teknologi, sistem
permodalan dan investasi (venture capital), dan lainnya. Walau
faktor internal sudah dapat diatasi dengan baik, tapi faktor
eksternal tidak mendukung terjadinya suatu lingkungan kondusif.
Karenanya, akan sulit bagi perusahaan di Indonesia untuk terjun
ke arena eBusiness yang efektif. Namun, kendala eksternal
akan segera teratasi sejalan dengan diimplementasikannya pasar
bebas dan perdagangan terbuka dalam waktu dekat ini, yang
secara teoretis akan membuat dunia menjadi lebih efisien (karena
adanya kompetisi yang sehat) – yang berarti berbagai
teknologi murah dan efektif akan diperkenalkan di Indonesia.
Lihatlah contohnya, bagaimana Malaysia, Filipina, dan India
banyak sekali mendapatkan proyek outsourcing dari negara-negara
maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman melalui
penerapan konsep eBusiness yang sangat sederhana (hanya dengan
menggunakan teknologi website, email, dan chatting!). Yang
penting dilakukan oleh perusahaan di Indonesia adalah jeli
dalam melihat peluang. Secara pragmatis, bisnis yang paling
menjanjikan saat ini adalah melakukan penjualan produk atau
jasa buatan dalam negeri ke pasar yang sudah matang kondisi
internal dan eksternalnya di luar negeri melalui eBusiness.•
Q
Pak Eko, saya ingin mengetahui lebih banyak apa yang dimaksud
dengan Knowledge Management? Perusahaan-perusahaan apa saja
yang harus menerapkan konsep KM ini? Apakah penerapan KM membutuhkan
perangkat dan program secara khusus?
Keke Irawansyah
Media Planner, PT. Nawangwulan Senikarta
A
Menurut definisi konsultan internasional terkemuka Accenture,
KM (Knowledge Management) adalah “suatu proses pengelolaan
sistematis yang berkaitan dengan aktivitas penciptaan, pengumpulan,
penyimpanan, dan pendistribusian informasi, pengetahuan, dan
pengalaman untuk menunjang pencapaian tujuan organisasi”.
Hampir semua perusahaan modern harus menerapkan konsep KM,
karena dalam era ekonomi baru (new economy), knowledge telah
menjadi salah satu faktor produksi yang penting di samping
4M yang lain (men, machines, materials, money). Bayangkan
sebuah perusahaan yang telah memiliki sumber daya manusia,
mesin, material, dan finansial yang cukup, tetapi salah melakukan
alokasi karena tidak memiliki informasi (bahan baku knowledge)
yang tepat dan akurat.
Seperti halnya pada konsep CRM, teknologi informasi dalam
KM merupakan alat bantu dalam proses penciptaan dan pendistribusian
data, informasi, dan knowledge yang efisien dan efektif. Kunci
utama tetap pada information literacy, yang harus dimiliki
oleh setiap individu di dalam organisasi, terutama bagi para
pengambil keputusan.•
Q
Setelah membaca eBizzAsia edisi perdana yang lalu, saya tertarik
dengan kolom Bapak. Kami bergerak di bidang farmasi, pertimbangan-pertimbangan
apa saja yang harus kami prioritaskan untuk menerapkan TI
dan eBusiness? Mana yang lebih dahulu dikerjakan? Memang,
kami kini telah memiliki situs web, apakah itu berarti kami
telah menerapkan eBusiness?
Indra Kalaindra
Manajer Produk, Kaltamaya Pharmaceutical.
A
Ada tiga langkah strategis yang harus dilakukan. Pertama,
memahami secara benar terlebih dahulu mengenai fenomena eBusiness
dan seluk beluknya (terutama yang berkaitan dengan konsep
ekonomi digital). Kedua, mencoba mengkaji dan mempelajari
apakah fenomena dan paradigma baru tersebut akan sangat berdampak
pada industri farmasi (cara termudah adalah dengan belajar
dari industri sejenis di negara-negara lain) dimana perusahaan
ybs. berada. Jika ternyata hal tersebut memang berpengaruh,
maka perlu dilaksanakan langkah ketiga, yaitu mempersiapkan
program “migrasi” ke perusahaan berbasis teknologi
informasi (internet). Cara awalnya cukup mudah, yaitu sebagai
berikut:
Petakanlah proses-proses inti (core processes) yang ada di
perusahaan dan juga aktivitas-aktivitas penunjangnya (supporting
activities) ke dalam sebuah diagram sederhana Input-Process-Output
– baik yang bersifat internal maupun eksternal (link
dengan pihak lain seperti supplier, customers, dan para mitra
bisnis). Kajilah masing-masing proses tersebut dan tentukanlah
di mana saja teknologi informasi dapat berperan menggantikan
proses tradisional tersebut, sehingga terjadi perbaikan efisiensi,
efektivitas, dan kontrol. Biasanya dapat dilakukan empat tipe
perbaikan, yaitu: eliminasi proses, simplifikasi proses, integrasi
proses, atau otomatisasi proses. Secara evolusioner, gantilah
proses-proses tersebut dengan teknologi informasi (pemanfaatan
teknologi software, hardware, dan telekomunikasi) yang sesuai
dan lakukan aktivitas sosialisasi dan implementasi.
Memiliki situs web merupakan langkah awal dari penerapan
eBusiness dimana fenomena ini kerap diistilahkan oleh para
praktisi sebagai tahap brochurware. Tahap selanjutnya, adalah
customer interaction, transaction enabler, real-time organisation,
dan communities of interests.•
Q
Kami telah menerapkan TI, namun masih banyak aplikasi yang
belum kami terapkan di perusahaan kami, yang bergerak di bidang
tekstil. Aplikasi-aplikasi apa saja yang harus kami terapkan
agar kami dapat lebih kompetitif lagi? Bagaimana biayanya,
apakah sangat besar?
Misano Kabaraki, Manajer Produksi,
PT. Kirama Textile Industries
A
Secara umum, portofolio aplikasi lengkap yang perlu dimiliki
oleh sebuah perusahaan yang ingin bersaing di level nasional
maupun global terbagi menjadi 4 (empat) golongan besar:
Aplikasi Internal – yang menghubungkan
antara masing-masing individu/fungsi dalam sebuah organisasi
dengan tujuan utama efisiensi dan efektivitas proses manajemen,
seperti: intranet, knowledge management, office automation,
electronic document management system, enterprise management,
dan lain-lain.
Aplikasi Mitra – yang menghubungkan
antara internal perusahaan dengan mitra bisnisnya, terutama
para supplier, seperti: supply chain management (SCM), enterprise
resource planning (ERP), e-procurement, B2B commerce, dan
lain-lain.
Aplikasi Pelanggan – yang menghubungkan
antara internal perusahaan dengan para customer-nya, seperti:
customer relationship management (CRM), selling chain management,
B2C commerce, call center management, dan lain-lain.
Aplikasi Stakeholder – yang menghubungkan
antara internal perusahaan dengan stakeholder lainnya (mereka
yang berkepentingan), seperti: decision support system, executive
information system, expert system, dan lain-lain.
Untuk menjustifikasi biaya, biasanya terlebih dahulu harus
dilakukan suatu analisa biaya dan manfaat (cost and benefit
analysis). •
|