| Dewasa ini, perhatian
kalangan bisnis tidak lagi semata-mata time-to-market, melainkan
muncul kesadaran baru dan sangat fokus pada aspek pengurangan
biaya (cost reduction). Konsekuensinya, efisiensi dan efektivitas
menjadi kata kunci dalam setiap mempertimbangkan kegiatan
perusahaan, mulai dari penyediaan bahan baku, pemrosesan dan
pembuatan produk, hingga penyampaiannya ke pasar, serta kegiatan
promosi dan iklan.
Namun, umumnya, perhatian mereka lebih pada segi pengeluaran,
yang realisasinya terwujud dalam bentuk pengurangan budget,
pemotongan biaya, atau, bahkan, penghapusan sejumlah kegiatan,
yang dianggap tidak secara langsung mendukung peningkatan
profitabilitas perusahaan. Apa yang mereka sebut efisiensi
dan efektivitas masih sering yang secara finansial terlihat
sangat nyata. Padahal, masih banyak aspek yang kalau tidak
jeli melihatnya, justru hal itulah yang menjadi salah satu
sumber pemborosan biaya yang cukup besar.
Pengurangan biaya demi efisiensi yang dilakukan secara berlebihan,
bukan saja akan berdampak pada menurunnya realiasi kegiatan,
melainkan juga pada dorongan moral karyawan dalam melakukan
setiap tugas pekerjaannya. Sebaliknya, terlalu berlebihan,
bukan saja akan meningkatkan biaya, tetapi juga tidak memberikan
pelajaran yang efektif bagi karyawan dalam melakukan tugas
pekerjaannya secara efisien dan efektif.
Apa yang dialami perusahaan piranti lunak “Rational
Software” menarik untuk disimak. Suatu waktu, perusahaan
yang berkedudukan di Amerika ini mengalami penurunan pendapatannya.
Tapi simak apa yang justru dilakukan Mike Devlin, Co-founder
Rational Software dalam menghadapi masalah tersebut.
“Delapan belas bulan yang lalu, ketika pendapatan perusahaan
mengalami penurunan, kami harus memutuskan apakah akan mengurangi
struktur biaya atau sebaliknya terus melakukan investasi,
guna mencoba meraih pangsa pasar yang lebih besar. Tahukah
Anda apa yang kami putuskan? Kami memutuskan untuk tetap mengeluarkan
25-30 persen dari pendapatan kami untuk biaya riset dan pengembangan
(R&D). Dan itu dengan pertimbangan sepanjang cash-flow
kami positif,” jelas Mike Devlin.
Satu pelajaran lain yang tak kalah menariknya adalah fenomena
kahadiran hypermarket Carrefour di Indonesia. Di saat Indonesia
mengalami awal masa krisis, dimana tingkat keamanan boleh
dibilang masih sangat rawan, perusahaan pengelola hypermarket
Perancis ini, justru secara besar-besaran membuka pusat penjualannya.
Sekarang, tak kurang dari sepuluh pusat penjualan telah di
bangun di Jakarta. Di Paris, Perancis, bahkan Carrefour tidak
memiliki pusat penjualan sebanyak itu.
Mungkin mereka sangat efisien, namun keberhasilan bisnisnya
tak hanya bertumpu pada efisiensi semata. Melainkan, seperti
ditunjukkan Carrefour, lebih pada pemikiran strategis, keberanian
mengambil risiko bisnis, jeli melihat peluang, dan tentu didukung
oleh “proses bisnis” dan sistem pengelolaan yang
tepat dan andal.
Begitu juga dengan penerapan teknologi informasi (TI) di perusahaan.
Apakah penerapannya hanya berdasarkan pertimbangan finansial
semata? Bukankah sebagai enabler, TI mestinya lebih dilihat
sebagai upaya yang “memungkinkan” pencapaian misi
perusahaan yang sesuai dengan visi yang telah ditentukan?
Karenanya, bukan mustahil penerapan TI dapat meningkatkan
biaya, memboroskan waktu dan tenaga. Kecuali, bila hal itu
dilakukan secara tepat dan dengan visi yang jelas, yang secara
finansial juga mestinya reasonable.
Karenanya, jangan terjebak pada aspek finansial saja, lihatlah
lebih luas, karena ada banyak aspek lain yang seharusnya juga
diperhatikan, terutama visi perusahaan. Pertimbangan finansial
hanyalah salah satu aspek, dan bukan satu-satunya.
Tharsikin Insa
|