|
| Asia
Highlights |
Volume I Nomor
04 - Februari 2003 |
|
SINGAPURA
Hadapi e-ASEAN, Ecquaria Kembangkan Platform
Web Services
Ecquaria,
perusahaan TI berbasis di Singapura awal Desember lalu mengumumkan
dukungan gugus tugas e-ASEAN (e-ASEAN Task Force) terhadap proposal
infrastruktur kolaboratif ASEAN untuk layanan-layanan bersifat
service-oriented dan citizen-centric.
e-ASEAN Task Force, yang diketuai Emmanuel C. Lallana ini adalah
badan penasehat asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)
mengenai masalah pengembangan action plan bersifat luas dan
komprehensif untuk ASEAN e-space (atau e-ASEAN), yang nantinya
akan membantu kesepuluh negara anggota ASEAN sukses bersaing
di ekonomi informasi global.
Untuk mencapai sasaran ini, e-ASEAN Task Force akan memanfaatkan
Teknologi Informasi dan Internet untuk mempercepat integrasi
ekonomi masing-masing negara anggota serta meningkatkan daya
saingnya. Gugus Tugas ini telah mempersiapkan beberapa pilot
projects yang dapat mempercepat realisasi inisiatif ini dan
memberikan dampak yang bisa langsung dinikmati komunitas ASEAN.
Tidak bisa tidak, inisiatif e-ASEAN ini membutuhkan infrastruktur
terintegrasi, dimana bisa saja terjadi negara anggota memiliki
sistem infrastruktur yang berbeda satu sama lain, sehingga menyulitkan
pengintegrasiannya. Celah inilah yang hendak digarap Ecquaria
dengan mengembangkan ASEAN Service Access Platform (ASAP). ASAP
adalah suatu platform kolaborasi infrastruktur yang disediakan
untuk setiap organisasi di dalam lingkungan pemerintahan negara-negara
ASEAN, maupun perusahaan swasta, guna dimanfaatkan untuk membangun
dan meluncurkan layanan bersifat customer-centric, yang tersedia
bagi negara-negara ASEAN lainnya maupun negara-negara di luar
ASEAN. ASAP memberdayakan semua negara-negara anggota ASEAN
untuk berkolaborasi lintas negara melalui suatu layanan informasi
maupun transaksional melalui sindikasi layanan diantara negara-negara
anggota.
Dengan penerapan ASAP diharapkan para user, baik dari negara
anggota ASEAN maupun di luar ASEAN dapat menikmati “one-stop
services” melalui ASAP, sekaligus mendorong kolaborasi
antara para pihak peserta di dalam masing-masing negara ASEAN.
Di sisi lain, ketersediaan layanan ASAP kepada negara-negara
di luar ASEAN akan membantu meningkatkan daya saing regional
ASEAN secara menyeluruh, yang dampaknya mendorong perdagangan
antara sesama negara ASEAN maupun antara ASEAN dengan negara-negara
di luar ASEAN.
Sebagai contoh, sebuah badan milik pemerintah yang berkaitan
dengan turisme di Thailand dapat mensindikasikan layanan mulai
dari hotel sampai ke perusahaan penerbangan dan menampilkannya
dalam satu tampilan bagi para pelancong yang hendak mengunjungi
Phuket. Ketika seorang pelancong menggunakan layanan badan pemerintah
ini, si pelancong dapat merancang perjalanan dengan mengumpulkam
informasi mengenai Phuket, persyaratan visa, memeriksa harga
dan ketersediaan kamar hotel, biaya tiket pesawat, dan sebagainya,
dan mengkonfirmasi rencana perjalanannya cukup dengan sekali
klik.
Sebagai platform terbuka berbasis teknologi Web Services, di
dalam ASAP sudah terkemas best practices untuk bidang manajemen
layanan. Best practices ini merupakan buah pengalaman Ecquaria
dalam menggarap proyek-proyek e-Government, antara lain di Singapura
sendiri maupun di negara lain, misalnya proyek Bank Dunia untuk
e-Government Meksiko.•
INDIA
Outsourcing Proses Bisnis dan Call Center, Andalan
Industri TI India
Kepemimpinan
India dalam pertumbuhan industri teknologi informasi (TI), khususnya
dalam outsourcing proses bisnis diperkirakan dapat bertahan
sampai lima tahun mendatang, ujar seorang pemuka industri TI
India.
“India memiliki keunggulan dalam bidang piranti lunak
dan layanan berbasis TI dan kepemimpinannya akan terus berlanjut
tiga sampai lima tahun mendatang,” ujar Azim Premji, chairman
Wipro Ltd, ekportir piranti lunak terbesar ketiga India. Namun,
di sisi lain, ia memperingatkan bahwa tren outsourcing, dimana
perusahaan-perusahaan asing yang ingin menghemat biaya dengan
“memindahkan” back office-nya ke India, akan menghadapi
pukulan balik dari para serikat pekerja seluruh dunia ketika
pekerjaan-pekerjaan mulai dialihkan ke luar dari masing-masing
negara.
Lobi piranti lunak India terkemuka, National Association of
Software and Service Companies (Nasscom) memperkirakan layanan
berbasis TI – termasuk outsourcing proses bisnis dan call
center – akan menjadi penggerak utama pertumbuhan industri
tersebut. Peran perusahaan India dalam suatu kontrak outsourcing
dengan industri bursa saham, Wipro Technologies dengan New York
Stock Exchange (NYSE) misalnya, memperlihatkan bahwa outsourcing
mancanegara dari proses-proses tingkat tinggi semakin jamak
dilakukan. Pengalaman dalam proyek-proyek TI taktis membuat
perusahaan-perusahaan India mulai dipercaya menangani pemrosesan
payroll dan transaksi.
Tindakan outsourcing perusahaan-perusahaan dunia, khususnya
AS ini dapat memotong 30 sampai 40 persen ongkos tenaga kerjanya,
ujar direktur Forrester Research, John McCarthy. Banyak perusahaan
India menerapkan pengawasan proses ketat, yang bahkan dapat
lebih ketat dibandingkan standar AS sendiri. “Kondisi
ini tidak sama dengan industri manufaktur, dimana kadang-kadang
kualitas dikorbankan untuk memperoleh cost yang lebih murah,”
ujar McCarthy.
Sampai Maret 2002 lalu, sektor berbasis TI India mengalami pertumbuhan
70 persen dan membukukan pemasukan 41 milyar rupee atau sekitar
850 juta dolar. Sekitar 250 perusahaan global meng-outsource
piranti lunaknya ke India, yang memiliki tenaga trampil komputer
dan mampu berbahasa Inggris terbesar kedua di dunia setelah
AS.
India mengekspor piranti lunaknya ke 95 negara, namun pasar
terbesarnya tetap AS, yang mengambil 62 persen dari total ekspor
industri TI India. Sampai tahun 2008, sektor layanan berbasis
TI diproyeksikan akan memberikan pemasukan sekitar 24 milyar
dolar untuk India.
Namun, lebih jauh Premji menambahkan bahwa kendala utama yang
kini dihadapi India adalah justru infrastruktur fisik yang dimilikinya.
“Kami tertinggal dalam penyediaan listrik, jalan-jalan
dan bandar udara. Keadaan ini tentu akan mengurangi minat para
pelanggan luar negeri,” ujarnya.•
HONG KONG
Internet Broadband via Kabel Listrik
Setelah
percobaan selama dua tahun, Hutchison Global Communications
(HGC) meluncurkan layanan Internet broadband jenis baru untuk
perumahan dengan menggunakan jaringan pasokan listrik.
Perusahaan telekomunikasi fixed-line milik taipan Hong Kong
Li Ka-shing ini mulai mempromosikan teknologi PowerCom milik
Cheung Kong (Holdings) setelah membelinya dari CLP Telecom tahun
lalu. Layanan komersialnya sendiri resmi diluncurkan sekitar
pertengahan Desember lalu di daerah-daerah tertentu di Hong
Kong, antara lain Whampoa Garden di distrik Hunghom.
Layanan komunikasi lewat jalur setrum atau dikenal dengan istilah
Power Line Courier ini adalah yang pertama untuk wilayah Asia.
PLC merupakan cara alternatif bagi para pelanggan untuk mengakses
internet broadband, dan memunculkan ancaman baru bagi layanan
broadband lainnya seperti ADSL dan cable internet yang sudah
lebih dulu bersaing di pasar. Di Hong Kong sendiri, untuk layanan
Internet kecepatan 1,5 Mbps, dikenakan biaya bulanan 138 dolar
Hong Kong (Rp 170.000), sementara di pasar, akses Internet dari
berbagai jenis ditawarkan dengan harga mulai dari 68 sampai
200 dolar Hong Kong.
“Teknologi ini sudah siap memasuki pasar Hong Kong,”
ujar seorang pejabat HGC. “Kami akan meluncurkan layanan
ini di daerah perumahan tertentu sebelum secara bertahap ditawarkan
di daerah-daerah lain.”
HGC akan memasarkan teknologi ini dengan merek PowerCom Internet,
yang memiliki kemampuan transmisi data, suara dan gambar melalui
jaringan pasokan listrik. Menurut pejabat HGC, mereka dapat
menawarkan layanan akses sampai 10 Mbps, dengan memanfaatkan
jaringan serat optiknya.
Penetrasi akses broadband di Hong Kong memang relatif cukup
tinggi. Sampai akhir Oktober 2002 saja, pelanggan broadband
di perumahan saja sudah mencapai angka 872.000, naik sekitar
46 persen dibandingkan Januari 2002.
Sebagai informasi, Perusahaan Listrik Negara (PLN) Indonesia
pun kini tengah mengembangkan PLC, melalui anak perusahaannya
Icon Plus, dan kabarnya akan mulai dipasarkan tahun ini.•
Go to next page |
|
 |
|