Asia Highlights Volume I Nomor 04 - Februari 2003
... continued from previous page

KOREA

Luncurkan e-Government Terpadu

Pemerintah Korea pertengahan November lalu secara resmi mengumumkan bahwa 11 proyek e-Governmentnya telah selesai, serta membuka jalan bagi layanan administratif elektronis secara penuh, yang dapat menghemat waktu serta biaya bagi para warga negara Korea.

Kesebelas proyek e-Gov, yang dimulai awal 2001 lalu itu menyatuatapkan koordinasi berbagai badan pemerintah berbeda untuk merampingkan prosedur administratif dan penanganan dokumen berbasis Internet.

Dibawah sistem bernama G4C (government for citizen), masyarakat Korea kini dapat mengurus sekitar 393 jenis surat-surat resmi melalui situs portal tunggal (www.egov.go.kr) dan menerima hasilnya melalui pos atau mengambilnya sendiri di kantor-kantor pemerintahan terdekat. Selain itu, informasi rinci mengenai sekitar 4.000 surat-surat yang ditangani pemerintah untuk perizinan dan layanan administratif lainnya juga sudah tersedia di Web.

Proyek e-Gov bernilai 290 milyar won (sekitar 2,1 trilyun rupiah) ini memperkenalkan e-procurement, asuransi sosial terpadu, tanda tangan digital dan sistem e-seal atau segel elektronik. Dokumen-dokumen administratif yang ditangani e-government ini, di antaranya adalah pencatatan domisili dan sensus, sertifikat pembayaran pajak dan pendaftaran usaha.
Bagi para pemohon aplikasi surat-surat resmi melalui Internet dapat membayar biaya layanan dengan kartu kredit, e-money atau dengan mendatangi bank-bank atau kantor-kantor pemerintah. Adapun sertifikat pendaftaran usaha dan 159 dari 393 jenis dokumen lain yang dapat diurus melalui Internet membutuhkan e-signature, yang harus disahkan terlebih dahulu oleh bank-bank pemerintah dan komersial, perusahaan sekuritas atau kantor pos.

Selain itu, para pemohon dapat mencetak dokumen-dokumen resmi, seperti pendaftaran tanah dan pembayaran pajak, meski print-out ini tidak memiliki kekuatan hukum secara penuh, jelas para pejabat pemerintahan Korea.

Infrastruktur e-gov ini diperkirakan akan menghemat sekitar 1,8 trilyun won (sekitar 12 trilyun rupiah) per tahun dalam hal pengurusan berbagai dokumen dan sertifikat yang berkaitan dengan pemerintah. Dari e-procurement dan pembayaran pajak terpadu, pemerintah Korea akan menghemat masing-masing 3,2 trilyun won (sekitar 21 trilyun rupiah) dan 140 milyar won (1 trilyun rupiah).
Kementrian informasi Korea mengatakan bahwa proyek e-government ini juga menerapkan solusi e-commerce pada layanan-layanan administratif, dengan mengurangi proses-proses birokrasi dan paper work yang berbelit-belit. Dengan demikian, kemungkinan pengurangan biaya akan lebih signifikan baik bagi pemerintah maupun bagi masyarakatnya.

Selain portal e-government yang menawarkan berbagai jenis layanan, tersedia pula situs-situs khusus yang dirancang untuk mempercepat penerbitan dokumen dan sertifikat administratif lainnya. Situs-situs tersebut antara lain mengenai perpajakan (www.hometax.go.kr), catatan diploma dan transkrip akademis (www.neis.go.kr), transaksi real estate (registry.scourt.go.kr) dan informasi-informasi yang berkaitan dengan angkatan bersenjata (www.mma.go.kr).

Perusahaan-perusahaan swasta pun kini mengikuti tender untuk proyek-proyek umum bernilai 70 trilyun per tahun melalui situs Web e-procurement (www.g2b.go.kr). Para pejabat pemerintahan menekankan bahwa sistem procurement online ini akan menghilangkan ketidaktransparanan dalam penanganan tender-tender skala besar untuk proyek-proyek umum.

Situs G2B yang dibuka tanggal 23 September menawarkan 12.685 tender proyek publik dan satu juta peserta tender telah bergabung dalam kompetisi ini. Menurut para pejabat pemerintah, transaksi yang terjadi sebesar 1,85 trilyun won (sekitar 9 trilyun rupiah).

Lebih lanjut, kementrian informasi dan komunikasi Korea juga akan melangkah maju dengan mengimplementasikan m-government atau mobile government tahun ini. Proyek yang rinciannya belum dijabarkan ini akan menerapkan inisiatif yang memungkinkan para petugas pemerintahan dan masyarakat untuk berkomunikasi melalui jaringan bergerak (mobile network) untuk berbagai layanan administratif.•

THAILAND

Siapkan Tanda Tangan Digital untuk e-Government

Guna mendorong pengadopsian tanda tangan elektronik (electronic signatures) untuk e-Commerce oleh lembaga-lembaga milik negara, National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec) Thailand baru-baru ini meluncurkan Government Certification Authority (G-CA), yang akan dijalankan sebagai bagian dari Government Information Technology Services (GITS).

Menurut direktur Nectec, Dr Thaweesak Koanantakool, pemerintah Thailand berniat mengeluarkan sertifikat tanda tangan digital meski komite perancang undang-undang transaksi elektronik (Electronic Transaction Act) belum dibentuk. G-CA sendiri hanya akan melayani lembaga-lembaga pemerintah dan akan menyediakan tiga jenis layanan, yaitu: sertifikasi pribadi, sertifikasi server dan hosting CA.

Tiap sertifikasi memiliki sebuah public key. Agar penggunanya yakin terhadap public key yang menempel di sertifikat tersebut, G-CA menerapkan tanda tangan digital yang menggunakan teknologi kriptografi untuk menandatangani sertifikat dan menjamin bahwa informasi di dalam sertifikat itu benar adanya. Menurut Dr Thaweesak, G-CA menggunakan teknologi PKI (Public Key Infrastructure), yang secara ketat menerapkan empat langkah keamanan data, antara lain confidentiality, data integrity, authentication, dan non-repudiation.

Sertifikasi personal digunakan bersama-sama dengan prprogram e-mail, seperti Netscape Messenger, Microsoft Outlook dan Outlook Express. Biaya tahunannya sekitar 400 baht per individu. Sementara layanan sertifikasi server disediakan untuk melayani peningkatan keamanan, baik untuk server maupun client-nya. Untuk layanan ini dikenakan biaya 3.000 baht per tahun. Bagi badan pemerintahan yang beroperasi sebagai CA, namun tidak ingin pusing-pusing mengurusi peralatan maupun sistemnya sendiri, disediakan layanan CA hosting.

Untuk tiga bulan pertama, G-CA menyediakan layanan ini secara gratis, namun sesudahnya, para pejabat maupun lembaga pemerintahan harus membayar.

Selain itu, GITS kini tengah mengembangkan layanan untuk digunakan dengan instant messaging. “Instant messaging adalah salah satu bentuk aplikasi e-Government masa datang dan cocok digunakan para pegawai administrasi karena sistem ini dapat menyimpan dan memeriksa data,” ujar Thaweesak.

Sementara itu, asisten direktur GITS, Dr Sak Segkhoontod menambahkan bahwa pengembangan teknologi informasi (TI) di sektor publik mencakup master plan ICT (Information and Communication Technology) dan kebijakan TI lainnya, serta inisiatif-inisiatif internasional, seperti e-ASEAN, APEC dan WTO. Master plan ICT ini meliputi banyak proyek-proyek pemerintah antara lain data exchange, gateway, portal pemerintah, standar back-office, sistem Geographical Information System (GIS) dan kartu identitas pintar (smart ID card). Konsekuensinya, kebutuhan akan sekuriti pun semakin mendesak, apalagi kini banyak sistem-sistem TI di Thailand yang dikerjai hacker, tambah Segkhoontod.•

FILIPINA

Genjot Daya Saing Eksportir Garmen dengan TI

Pemerintah Filipina kini tengah mempersiapkan industri ekspor garmen menjadi lebih berdaya saing di pasar internasional menghadapi implementasi era bebas kuota tahun 2005 mendatang.

Menteri Perdagangan dan Perindustrian Filipina, Mar Roxas mengatakan bahwa Garments and Textile Export Board (GTEB), lengan ekspor garmen Departemen Perdagangan dan Industri Filipina, menyediakan fasilitas layanan terkomputerisasi bagi para eksportir garmen untuk meningkatkan produktivitas di taraf pabrik. Fasilitas layanan terkomputerisasi yang dinamakan General Sewing Data (GSD) akan tersedia bagi eksportir garmen, tergantung dari ukuran perusahaan, lanjut Roxas.

“Perusahaan-perusahaan garmen mikro atau yang nilai ekspornya kurang dari 2 juta dolar per tahun adalah yang paling diuntungkan dengan adanya GSD,” jelas Roxas. Sekitar 70 persen atau 828 perusahaan dari 1176 perusahaan sektor garmen diharapkan meraup keuntungan dari sistem peningkatan produktivitas ini, lanjutnya.

Industri garmen Filipina kini terbagi atas tiga kategori, yaitu industri menengah/besar dengan ekspor lebih dari 6 juta dolar, industri kecil dengan nilai ekspor lebih dari 2 juta namun kurang dari 6 juta dolar; dan industri garmen mikro dengan nilai ekspor kurang dari 2 juta dolar.

“Bilamana perusahaan garmen tidak mampu membeli piranti lunak tersebut, mereka dapat memanfaatkan GSD Common Service Facility milik GTEB,” ujar Roxas. Untuk ini, lanjut Roxas, beberapa personel GTEB tengah menjalani pelatihan intensif mengenai GSD, sebagai langkah awal mendirikan fasilitas layanan.

Sistem GSD yang dirancang oleh Methods Workshop Ltd dari Inggris adalah semacam sistem predetermined motion time yang dirancang khusus untuk industri garmen dengan menggunakan standar waktu. Sistem ini mencakup sebuah teknik untuk analisis metoda dan pengaturan standar waktu untuk industri produk jahitan. Piranti lunak ini dapat digunakan untuk mengevaluasi semua operasi, seperti pemotongan, penjahitan, pressing dan pengepakan.

GSD membuat kode-kode untuk serangkaian operasi yang dikerjakan oleh para buruh di suatu pabrik garmen. Dengan demikian, pekerjaan di dalam pabrik dapat diukur dan data yang diperoleh akan digunakan pihak manajemen untuk menilai keefektifan buruh dan mesin-mesin di dalam perusahaan garmen. Produktivitas pun dapat ditingkatkan dengan penyempurnaan metode, latihan ketrampilan, pemacuan kinerja dan pengeliminasian atau pereduksian sumber masalah.

Ketersediaan GSD ini adalah bagian dari “Garment Export Industry Transformation Package” yang tengah diimplementasikan oleh Garment Industry Transformation Team dari Departmen Perdagangan dan Industri Filipina. Sasarannya tidak lain untuk membantu mendorong daya saing industri garmen menghadapi dihapusnya sistem kuota ekspor pasar internasional, seperti AS, yang merupakan negara tujuan utama ekspor garmen Filipina.•

Go back to previous page
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved