oleh
Riri Satria
Bagi
pembaca yang mengamati trend di dunia manajemen, maka pasti
mengikuti suatu trend yang sangat menarik untuk dibahas. Trend
tersebut adalah semakin membaurnya bidang-bidang fungsional
di dalam perusahaan dan batas-batasnya menjadi semakin kabur.
Dahulu orang beranggapan bahwa kegiatan pemasaran terpisah
dengan manajemen sumber daya manusia, terpisah dengan keuangan,
terpisah dengan teknologi informasi, dan sebagainya. Kondisi
seperti itu disebut vertical enterprise, di mana bidang-bidang
fungsional yang terdiri dari pemasaran, keuangan, sumber daya
manusia, operasi dan produksi, serta teknologi informasi menjadi
pilar-pilar yang berdiri sendiri-sendiri di dalam perusahaan.
Tetapi saat ini ternyata anggapan tersebut mulai hilang perlahan-lahan.
Dalam kegiatan pemasaran, ada aspek sumber daya manusia, yaitu
perencanaan sumber daya penjualan, memotivasi tenaga penjual
dan sebagainya. Demikian pula dengan keuangan, di mana kegiatan
promosi saat ini dapat dianggap sebagai suatu investasi, bukan
lagi biaya semata. Nah, dengan demikian, terlihat jelas bagaimana
bidang-bidang fungsional ternyata semakin membaur, batas-batasnya
semakin tipis, bahkan banyak sekali kegiatannya yang tumpang-tindih.
Perkembangan seperti ini melahirkan konsep yang disebut dengan
process enterprise, seperti yang diungkapkan oleh Michael
Hammer dan Steven Stanton dalam artikel mereka “How
Process Enterprises Really Work” pada Harvard Business
Review edisi November – Desember 1999. Konsep process
enterprise betul-betul mengubah cara pandang kita mengenai
perusahaan, dari pilar-pilar fungsional yang terpisah, menjadi
proses-proses yang lintas bidang fungsional.
Pada konsep ini, teknologi informasi memegang peranan yang
sangat penting. Secara tegas Hammer dan Stanton mengatakan,
“No longer do executives see their organizations as
sets of discrete units with well-defined boundaries. Instead,
they see them as flexible groupings of intertwined work and
information flows that cut horizontally across the business,
ending at the points of contact with customers”.
Pada kondisi ini, dunia bisnis mulai mempertanyakan, masih
relevankah jabatan-jabatan fungsional yang ada saat ini seperti
CFO, COO, CIO, dan sebagainya ? Bukankah trend yang terjadi
sekarang menuju ke process enterprise ? Kita sempitkan perhatian
kita ke dunia teknologi informasi. Pertanyaan yang menggelitik
tentu adalah, “Masih relevankah CIO?”
Trend ini semakin diperkuat dengan artikel pada Harvard Business
Review edisi Maret – April 2000, yang berjudul “Are
CIOs Obsolete ?”. Artikel ini merupakan rangkuman pendapat
dari enam orang komentator, yaitu Dawn Lepore (CIO Charles
Schwab), Jack Rockart (dosen MIT), Michael J. Earl (profesor
London Business School), Tom Thomas (CEO Vantine, mantan CIO
Dell, mantan CIO Kraft, mantan CIO 3Com), PeterMcAteer dan
Jeffrey Elton (Giga Information Group, mereka berdua telah
mewawancarai ratusan CIO). Artikel ini dibuka dengan kalimat
yang provokatif, “Are information technology and strategy
now so much a part of each other that all senior managers
are – or should be – “information officers”
? If so, has the position of CIO outlived its usefulness ?”.
Menarik untuk disimak bahwa keenam komentator di atas sepakat
(walaupun mereka menuliskan komentarnya secara terpisah) bahwa
sekarang sedang terjadi pergeseran paradigma mengenai CIO.
Dahulu barangkali bisa diterima bahwa CIO lebih banyak berkutat
di permasalahan teknis teknologi informasi. Tetapi sekarang,
CIO adalah bagian dari suatu kelompok yang membuat perencanaan
stratejik perusahaan. Seorang CIO harus mampu mengimplementasikan
teknologi informasi yang relevan untuk menunjang strategi
perusahaan. Dengan demikian, seorang CIO adalah seorang strategist,
bukan semata seorang technician atau engineer.
Dawn Lepore dengan tegas mengatakan, “Here [at Charles
Schwab], the title [CIO] has always reflected an evolving
senior management active role in strategy development and
respected for input on all fronts. I have always been a peer
to various business heads”. Sementara itu berkaitan
dengan tantangan seorang CIO saat ini, Lepore mengungkapkan,
“CIOs should ask themselves if they are adding the kind
of value that would influence strategy discussions. Do I have
the broad understanding of the business ?”.
Jack Rokart melihat dari sisi yang lain, “But all those
who have predicted the demise of the CIO and his organization
have consistently ingnored two important factors that are
transforming companies and, therefore, IT and its management
: sweeping changes in the way that business operate and even
more dramatic changes in the technology that is available”.
Micheal J. Earl dengan tegas mengatakan, “It is possible
to imagine a CIO who is responsible for strategy, change,
and information resources”.
Saya menyimpulkan beberapa hal dari komentar keenam pakar
pada artikel tersebut, serta artikel yang ditulis oleh Michael
Hammer dan Steven Stanton.
Pertama, paradigma mengenai CIO memang sedang berubah,
dan memang harus berubah, yaitu dari berkutat seputar permasalahan
teknologi informasi semata, menjadi meluas ke strategi bisnis
perusahaan, dan seorang CIO juga bagian dari pembuat keputusan
stratejik perusahaan. Tugas seorang CIO tetap berkaitan dengan
teknologi informasi, tetapi dia adalah seorang strategist.
Kedua, perubahan tersebut terjadi akibat trend dalam
manajemen dan bisnis, dari vertical enterprise menuju process
enterprise yang membuat semua bidang fungsional membaur, sehingga
seorang CIO juga harus mampu berbicara dalam “bahasa
bisnis”, dan tidak hanya “bahasa teknologi”.
Pada process enterprise, semua pejabat tinggi atau manajemen
senior di masing-masing bidang fungsional sudah membaur, tidak
terpisah satu dengan yang lain sama sekali, walaupun masing-masing
memiliki fokus perhatian yang berbeda. Dengan demikian, CIO
juga dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai bisnis dan
strategi.
Ketiga, jika seorang CIO tidak mampu mengikuti kondisi
tersebut, maka dia menjadi tertinggal (obsolete), dan tidak
relevan lagi untuk kondisi bisnis saat ini, apalagi di masa
mendatang. CIO seperti inilah yang disebut dengan obselete
pada judul artikel di Harvard Business Review tersebut.•
Riri Satria •staf konsultan pada Lembaga
Manajemen PPM, Jakarta, dan dosen corporate information system
dan knowledge management pada program Magister Manajemen Sekolah
Tinggi Manajemen PPM, Jakarta.
|