Columns Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Kondisi CIO di Indonesia
 

oleh Riri Satria

Bagi pembaca yang mengamati trend di dunia manajemen, maka pasti mengikuti suatu trend yang sangat menarik untuk dibahas. Trend tersebut adalah semakin membaurnya bidang-bidang fungsional di dalam perusahaan dan batas-batasnya menjadi semakin kabur. Dahulu orang beranggapan bahwa kegiatan pemasaran terpisah dengan manajemen sumber daya manusia, terpisah dengan keuangan, terpisah dengan teknologi informasi, dan sebagainya. Kondisi seperti itu disebut vertical enterprise, di mana bidang-bidang fungsional yang terdiri dari pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, operasi dan produksi, serta teknologi informasi menjadi pilar-pilar yang berdiri sendiri-sendiri di dalam perusahaan.

Tetapi saat ini ternyata anggapan tersebut mulai hilang perlahan-lahan. Dalam kegiatan pemasaran, ada aspek sumber daya manusia, yaitu perencanaan sumber daya penjualan, memotivasi tenaga penjual dan sebagainya. Demikian pula dengan keuangan, di mana kegiatan promosi saat ini dapat dianggap sebagai suatu investasi, bukan lagi biaya semata. Nah, dengan demikian, terlihat jelas bagaimana bidang-bidang fungsional ternyata semakin membaur, batas-batasnya semakin tipis, bahkan banyak sekali kegiatannya yang tumpang-tindih.

Perkembangan seperti ini melahirkan konsep yang disebut dengan process enterprise, seperti yang diungkapkan oleh Michael Hammer dan Steven Stanton dalam artikel mereka “How Process Enterprises Really Work” pada Harvard Business Review edisi November – Desember 1999. Konsep process enterprise betul-betul mengubah cara pandang kita mengenai perusahaan, dari pilar-pilar fungsional yang terpisah, menjadi proses-proses yang lintas bidang fungsional.

Pada konsep ini, teknologi informasi memegang peranan yang sangat penting. Secara tegas Hammer dan Stanton mengatakan, “No longer do executives see their organizations as sets of discrete units with well-defined boundaries. Instead, they see them as flexible groupings of intertwined work and information flows that cut horizontally across the business, ending at the points of contact with customers”.

Pada kondisi ini, dunia bisnis mulai mempertanyakan, masih relevankah jabatan-jabatan fungsional yang ada saat ini seperti CFO, COO, CIO, dan sebagainya ? Bukankah trend yang terjadi sekarang menuju ke process enterprise ? Kita sempitkan perhatian kita ke dunia teknologi informasi. Pertanyaan yang menggelitik tentu adalah, “Masih relevankah CIO?”

Trend ini semakin diperkuat dengan artikel pada Harvard Business Review edisi Maret – April 2000, yang berjudul “Are CIOs Obsolete ?”. Artikel ini merupakan rangkuman pendapat dari enam orang komentator, yaitu Dawn Lepore (CIO Charles Schwab), Jack Rockart (dosen MIT), Michael J. Earl (profesor London Business School), Tom Thomas (CEO Vantine, mantan CIO Dell, mantan CIO Kraft, mantan CIO 3Com), PeterMcAteer dan Jeffrey Elton (Giga Information Group, mereka berdua telah mewawancarai ratusan CIO). Artikel ini dibuka dengan kalimat yang provokatif, “Are information technology and strategy now so much a part of each other that all senior managers are – or should be – “information officers” ? If so, has the position of CIO outlived its usefulness ?”.

Menarik untuk disimak bahwa keenam komentator di atas sepakat (walaupun mereka menuliskan komentarnya secara terpisah) bahwa sekarang sedang terjadi pergeseran paradigma mengenai CIO. Dahulu barangkali bisa diterima bahwa CIO lebih banyak berkutat di permasalahan teknis teknologi informasi. Tetapi sekarang, CIO adalah bagian dari suatu kelompok yang membuat perencanaan stratejik perusahaan. Seorang CIO harus mampu mengimplementasikan teknologi informasi yang relevan untuk menunjang strategi perusahaan. Dengan demikian, seorang CIO adalah seorang strategist, bukan semata seorang technician atau engineer.

Dawn Lepore dengan tegas mengatakan, “Here [at Charles Schwab], the title [CIO] has always reflected an evolving senior management active role in strategy development and respected for input on all fronts. I have always been a peer to various business heads”. Sementara itu berkaitan dengan tantangan seorang CIO saat ini, Lepore mengungkapkan, “CIOs should ask themselves if they are adding the kind of value that would influence strategy discussions. Do I have the broad understanding of the business ?”.
Jack Rokart melihat dari sisi yang lain, “But all those who have predicted the demise of the CIO and his organization have consistently ingnored two important factors that are transforming companies and, therefore, IT and its management : sweeping changes in the way that business operate and even more dramatic changes in the technology that is available”. Micheal J. Earl dengan tegas mengatakan, “It is possible to imagine a CIO who is responsible for strategy, change, and information resources”.

Saya menyimpulkan beberapa hal dari komentar keenam pakar pada artikel tersebut, serta artikel yang ditulis oleh Michael Hammer dan Steven Stanton.

Pertama, paradigma mengenai CIO memang sedang berubah, dan memang harus berubah, yaitu dari berkutat seputar permasalahan teknologi informasi semata, menjadi meluas ke strategi bisnis perusahaan, dan seorang CIO juga bagian dari pembuat keputusan stratejik perusahaan. Tugas seorang CIO tetap berkaitan dengan teknologi informasi, tetapi dia adalah seorang strategist.

Kedua, perubahan tersebut terjadi akibat trend dalam manajemen dan bisnis, dari vertical enterprise menuju process enterprise yang membuat semua bidang fungsional membaur, sehingga seorang CIO juga harus mampu berbicara dalam “bahasa bisnis”, dan tidak hanya “bahasa teknologi”. Pada process enterprise, semua pejabat tinggi atau manajemen senior di masing-masing bidang fungsional sudah membaur, tidak terpisah satu dengan yang lain sama sekali, walaupun masing-masing memiliki fokus perhatian yang berbeda. Dengan demikian, CIO juga dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai bisnis dan strategi.

Ketiga, jika seorang CIO tidak mampu mengikuti kondisi tersebut, maka dia menjadi tertinggal (obsolete), dan tidak relevan lagi untuk kondisi bisnis saat ini, apalagi di masa mendatang. CIO seperti inilah yang disebut dengan obselete pada judul artikel di Harvard Business Review tersebut.•

Riri Satria •staf konsultan pada Lembaga Manajemen PPM, Jakarta, dan dosen corporate information system dan knowledge management pada program Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved