...
continued from previous page
Tahun
1764, ketika mesin pemintal katun diperkenalkan memicu terjadinya
revolusi industri. Tahun 1784, waktu pemintalan katun berkurang
dari harian menjadi berapa jam. Harga pun melorot 70% sedang
kapasitas produksi melonjak 25 kali. Interval tersebut serupa
antara ENIAC dan IBM 360. Kondisi ini bertahan sebelum mesin
cotton gin temuan Eli Whitney diperkenalkan. Mesin ini mendorong
penurunan harga cotton yarn lebih dari 90%, dan terjadi hanya
dalam 50-60 tahun setelah revolusi industri.
Ini sama pentingnya dengan penurunan ongkos dan kecepatan
distribusi teknologi percetakan baru yang berimbas pada makna
informasi itu sendiri. Buku cetak pertama berupa Injil Gutenberg
yang ditulis dalam bahasa Latin, memuat apa yang ditulis tangan
oleh para biarawan jauh sebelumnya. Hanya 20 tahun setelah
penemuan Gutenberg, buku cetak editor kontemporer pun bermunculan,
sekalipun tetap dalam bahasa Latin.
Sepuluh tahun kemudian, buku cetak dalam bahasa Yunani dan
Israil kuno mulai diluncurkan. Sejalan dengan cetakan dalam
berbagai bahasa Eropa dimulai dengan bahasa Inggris. Pada
tahun 1476, 30 setelah Gutenberg, pencetak Inggris William
Caxton menerbitkan buku teka-teki silangnya. Pada tahun 1500,
literatur popular tidak lagi menjadi hal asing. Bukan hanya
epik, tapi juga prosa diterbitkan dalam bentuk buku.
Revolusi percetakan telah mengubah pranata-pranata, termasuk
sistem pendidikan. Dalam dekade berikutnya, berbagai perguruan
tinggi didirikan di seluruh Eropa tapi institusi ini didirikan
tidak lagi untuk pendidikan keagamaan dan studi theologia.
Perguruan tinggi tersebut didirikan untuk mempelajari berbagai
disiplin, mulai dari hukum, kedokteran dan kesehatan, matematika,
dan ilmu alam.
Percetakan berdampak luar bisa, sebenarnya merupakan inti
aktivitas gereja di Eropa sebelum masa Gutenberg. Percetakan
telah memungkin revolusi kaum Protestan. Pendahulunya, reformator
John Wycliffe dari Inggris dan John Huss dari Bohemia telah
bertemu dengan respon polar yang sangat entusiastis tapi bisa
tersebar dan berjalan dengan cepat. Api tersebut masih bisa
dilokalisasi serta ditekan. Ini tidak terjadi pada Luther
yang memampangkan 95 tesisnya pada pintu-pintu gereja di Jerman.
Ia tidak hanya bertujuan menantang dibukanya kembali perdebatan
yang sudah lama terkubur di bawah gereja. Semua pampletnya
dicetak dan disebarkan gratis ke seluruh pelosok Jerman dan
Eropa kemudian. Pampletnya telah tersebut menginisiasikan
bola api keagamaan ke dalam reformasi.
Apakah abad penemuan akan bisa berlangsung, yang dimulai pada
paruh abad ke 15, tanpa kehadiran mesin-mesin cetak? Percetakan
telah mempublikasikan kemajuan-kemajuan yang dicapai pelaut
Portugis di sepanjang pantai Afrika dalam usaha mencari rute
laut baru ke India. Hasil cetakan juga telah menuntun Columbus
dengan peta bumi pertama, sekalipun salah, ke daerah-daerah
eksotis baru seperti Cina dan Jepang, yang dikisahkan terletak
di seberang Barat horison. Percetakan memungkinkan pencatatan
hasil penjelajahan laut secara cepat dan menghasilkan peta
bumi baru yang lebih handal. Perubahan nonekonomis tidak dapat
dikuantifikasikan. Tapi, dampaknya terhadap masyarakat, pendidikan
dan kebudayaan dari revolusi tersebut sangat cepat dan meluas.
Ini bisa diperbandingkan dengan revolusi informasi saat ini.
Hal terpenting dari revolusi informasi dapat ditemukan dalam
keberuntungan bagi para teknolog. Revolusi percetakan telah
menghasilkan kelas baru yaitu teknolog informasi yang belum
ada sebelumnya. Ini serupa dengan revolusi informasi sekarang
yang menghasilkan pebisnis informasi, MIS, dan spesialis IT,
desainer piranti lunak dan CIO. Komunitas TI sebelumnya terbatas
pada ahli cetak. Sesuatu pekerjaan yang tidak pernah eksis
dan terbayangkan sebelum tahun 1455. Mereka bermunculan di
seluruh Eropa dalam masa 25 tahun setelahnya dan menjadi bintang
saat itu.
Berbeda dengan craftsmen terdahulu, mereka merupakan tokoh
besar. Perusahaan dan pengelolanya menjadi terkenal di seluruh
Eropa. Mungkin ini bisa disamakan dengan merek komputer dan
perusahaan piranti lunak yang dikenal dan dihormati saat ini.
Para pencetak ditemui para raja, ratu dan paus dan saudagar
kaya; serta bermandikan uang dan kehormatan.
Pencetak yang terkenal adalah Aldus Manutius dari Venesia,
Italia. Manutius sadar bahwa dengan plat yang sama bisa diproduksi
ribuan cetakan. Pada tahun 1515, percetakannya menghasilkan
1000 buku yang merupakan buku produksi massal dengan harga
rendah untuk pertama kalinya. Ia mendirikan percetakan tidak
hanya mencetak buku dalam bahasa Latin, tapi juga mencetak
karya-karya penulis kontemporer untuk pertama kalinya. Perusahaannya
menerbitkan sekitar 1.000 judul.
Penerbit besar lainnya dalah Christophe Plantin dari Antwerpen.
Karirnya bermula dari pekerja kelas bawah yang berhasil membangun
percetakan terkenal dan terbesar dalam sejarah Eropa. Dengan
mengombinasikan dua teknologi baru, percetakan dan engraving,
Plantin mengawali buku bergambar pertama kalinya. Ia menjadi
sangat kaya sehingga mampu membangun istana pribandinya yang
kini menjadi musium buku.
Pada 1580, para pencetak dengan berfokus pada teknologi telah
menjadi craftsmen yang handal dan saudagar terhormat. Tapi
tidak otomatis menjadi bagian dari kelas atas. Posisi mereka
kemudian digantikan apa yang kemudian kita sebut sebagai penerbit.
Mereka telah merubah masyarakat dan perusahaan untuk berfokus
pada “I” dalam “IT”.
Pergeseran ini telah berlangsung dengan datang teknologi baru
yang berdampak pada pemahaman akan informasi. Di dalamnya,
pergeseran terjadi pada pengertian dan fungsi dari institusi-institusi
kunci pada abad ke 15 seperti gereja dan universitas. Hal
serupa juga terjadi pada saat ini, yang mana kita menemukan
diri kita dalam gelombang yang menggeser bisnis informasi.
Ini membawa kita pada redefinisi fungsi dan tujuan bisnis
itu sendiri.
Hal ini merupakan pelajaran yang bisa diambil bagi para teknolog
informasi saat ini, para CIO, desainer dan developer piranti
lunak, dan untuk menekuni hukum Moore lebih lanjut.•
Back to previous page
|