oleh
Peter F. Drucker
Dalam
10-15 tahun mendatang, pengembangan data terutama informasi
eksternal korporasi akan menjadi garis depan terbaru. Sekalipun
pekerjaan ini sudah mulai dilakukan, tapi tidak oleh orang-orang
MIS (Management Information Systems) dan TI (teknologi informasi),
tapi justru oleh manajemen puncak dari perusahaan berskala
kecil-menengah dan bisnis yang sangat terspesialisasi dalam
peran mereka selaku eksekutif pemasaran. Jadi, hanya sedikit
dari orang-orang MIS dan TI yang menyadari tantangan tersebut
atau telah bersiap ke arah tersebut.
Revolusi informasi telah dimulai dalam sektor bisnis tertentu
dan sebagian telah berlangsung jauh dari dugaan banyak pihak.
Tetapi, masih terpusatkan pada pendidikan dan kesehatan. Namun,
akan berdampak perubahan drastis pada keduanya. Saat ini,
sudah bisa diterima pandapat bahwa teknologi pendidikan akan
berubah dan dengan itu akan mengubah dalam strukturnya. Belajar
jarak jauh, misalnya, akan sulit dilakukan dan diterima dalam
waktu 25 tahun lalu dalam lembaga-lembaga di Amerika, terutama
pada pendidikan undergraduate yang berdiri sendiri. Sudah
jelas dan kian jelas setiap harinya perubahan-perubahan teknik
tersebut membawa perubahan, dalam arti pendidikan itu sendiri.
Salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah: pusat
titik berat dari pendidikan tingkat lanjut akan bergeser ke
pendidikan profesional berkelanjutan dan terjadi sepanjang
hidupnya. Ini berarti akan menggeser posisi kampus dan dijelmakan
ke dalam banyak tempat, seperti rumah, kendaraan atau kereta
komuter, kantor atau bahkan basement tempat-tempat ibadah,
atau juga auditorium sekolah yang bisa dipergunakan kelompok-kelompok
kecil selama berapa jam.
Dalam perawatan kesehatan, konsep akan bergeser dari pengertian
memerangi penyakit menjadi upaya untuk mempertahankan fungsi
mental dan fisikal. Konsep memerangi penyakit tentu masih
tetap penting dalam perawatan kesehatan, tapi para pelaku
bisnisnya tidak akan menekankannya lagi. Para provider kesehatan
tradisional, rumah sakit dan dokter umum dapat bertahan dalam
arus perubahan ini, tapi tentunya tidak dalam posisi dan perannya
seperti sekarang. Dalam sektor pendidikan dan pelayanan kesehatan,
penekanannya akan bergeser dari “T” dalam IT ke
“I”, seperti juga yang terjadi dalam bisnis dan
perekonomian. Apakah komunitas informatika dalam MIS dan TI
sudah bersiap untuk itu. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda
ke arah tersebut.
Revolusi informasi saat ini sebenarnya gelombang revolusi
informasi keempat dalam sejarah peradaban manusia. Yang pertama
terjadi dengan penemuan huruf tulis sekitar 5-6 ribu tahun
lalu di Mesopatamia, Mesir. Gelombang serupa terjadi secara
independen dalam berapa ratus tahun kemudian di Cina, dan
sekitar 1500 tahun kemudian gelombang yang sama terjadi juga
di Suku Maya, Amerika Tengah.
Gelombang kedua terjadi saat ditemukannya buku tulis, di Cina
pada 1300 SM dan di Yunani pada 800 SM. Gelombang ketiga terjadi
dengan penemuan Gutenberg akan mesin cetak antara tahun 1450-1455.
Gelombang ini menimbulkan riak-riak penemuan dan pengembangan
engraving.
Memang jarang ditemukan dokumen-dokumen tertulis dari kedua
gelombang awal, tapi kita tahu pasti bagaimana dampaknya di
Yunani, Roma dan Cina. Dalam kenyataannya, peradaban dan sistem
pemerintahan Cina masih didasari penemuan dan pengembangan
itu. Tapi kita menembukan bukti berlimpah dari gelombang ketiga
dengan teknik percetakan dan engraving. Masalahnya, apakah
ada yang bisa dipelajari saat ini dari temuan-temuan itu?
Saat ini, banyak yang yakin bahwa revolusi informasi sekarang
terjadi tanpa bisa diduga, terutama dalam soal pengurangan
biaya, penyebaran informasi, dan kecepatan serta perluasan
dampaknya. Semuanya hampir-hampir dilihat tidak masuk akal.
Pada waktu Gutenberg menemukan mesin cetak, telah ada industri
informasi yang luar biasa besarnya di Eropa. Malahan mungkin
industri dengan tenaga kerja terbesar saat itu di sana. Bayangkan
ada ratusan biara, dengan ribuan biarawan yang ahli. Setiap
biarawan bekerja dari subuh hingga larut malam, menyalin buku
dengan tangannya. Sebagai sebuah industri, setiap biarawan
yang sudah ahli bisa menyelesaikan 4 halaman per hari, 25
halaman dalam enam hari kerja perminggu atau pertahunnya mencapai
1.200 hingga 1.300 halaman tulis tangan.
Hanya 50 tahun kemudian, pada tahun 1500, para biarawan telah
menjadi pengangguran. Mereka diperkirakan 10.000 orang di
seluruh Eropa diganti dengan sejumlah kecil perajin ahli dengan
kualitas craftsmen yang dijuluki pencetak. Jumlahnya sekitar
1.000 orang dan tersebar di seluruh Eropa. Awalnya mereka
beroperasi di kawasan Skandinavia. Untuk memproduksi buku
cetak hanya diperlukan tim terdiri hingga 20 orang. Dipimpin
oleh seorang pemotong kertas ahli yang dibantu bookbinders.
Tim ini bisa menghasilkan 25 judul buku rata-rata 200 halaman
per buku, atau 5.000 halaman siap cetak per tahunnya. Tahun
1505, diperkirakan kemampuan produksinya mencapai 500 buku.
Ini berarti bisa dihasilkan 25 juta halaman per tahun atau
sekitar 125.000 buku siap jual. Atau, 2,5 juta halaman per
anggota tim. Bandingkan ini dengan 1.200-1.300 halaman yang
dikerjakan setiap biarawan setahunnya.
Akibatnya, harga jual buku melorot drastis. Sebelum penemuan
Gutenberg, buku merupakan barang mewah yang hanya bisa dibeli
kalangan tertentu. Ketika Injil Luther diluncurkan pada 1522,
harganya sedemikian murah dan tiap keluarga miskin di Jerman
bisa membelinya. Pengurangan harga dan biaya pada saat gelombang
revolusi informasi ketiga sedemikian besarnya, demikian juga
kecepatan dan perluasan penyebarannya.
Fenomena di atas merupakan esensi dari revolusi teknologi
besar. Sekalipun katun masih merupakan serat tekstil yang
paling digemari, karena mudah dibilas dan dirajut. Untuk memproduksinya,
diperlukan 12-14 buruh untuk menghasilkan satu pound benang
rajut katun dengan tangan. Bandingkan ini dengan 1-2 buruh
perhari untuk 1 pound wool, 2 buruh untuk 5 pound linen atau
6 pound sutra.
Go to next page
|