Focus Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
Industri Software di Indonesia tampaknya penuh dengan warna. Di satu sisi ada cerita tentang keberhasil-an yang sedemikian gemilang. Di sisi lainnya, justru cerita buram mendominasi gambaran mengenai industri yang satu ini. Keberhasilan BaliCamp ternyata menarik perhatian banyak kalangan. BaliCamp, bahkan berhasil merebut order dari International Finance Corporation untuk mengembangkan Software keuangan untuk keperluan Internasional
 
RELATED ARTICLES

Peluang Besar, Ancaman Juga Besar

Menyoal piranti lunak di balik industri software

Ayo Indonesia Kamu Bisa!


Industri TI India: Software Meredup BPO Jadi Primadona
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Keberhasilan Bali Camp, menurut Technical Report Indonesia – Information and Communication Technologies Assessment yang dikeluarkan PEG-USAID Januari tahun 2001; telah menjadikannya sebagai contoh dari pengembangan sebuah Software House menjadi Software Center dan segera direplikasikan. Menurut laporan tersebut, pada saat itu TobaCamp juga sudah dalam tahap perencanaan. Sebelumnya Indonesia Software Exchange, DataOn, RisTI Telkom dan Jatis telah lebih dahulu hadir dan beroperasi. Bahkan dilaporkan sebuah perusahaan India, LCC Infotech juga tertarik melihat peluang tersebut.

Keberhasilan Bali Camp mendorong didirikannya Salatiga Camp, yang bisa dibilang sister company BaliCamp. Salatiga Camp ini merupakan kerja sama antara Sigma Cipta Caraka, Universitas Kristen Satya Wacana dan DEG Investment dari Jerman.

Keberhasilan itu tidak banyak mempengaruhi minat pemerintah. Berbeda dengan pemerintah sebelumnya yang berminat, dan sempat menelurkan kebijakan yang merangsang tumbuhnya software berbahasa Indonesia. Pemerintah saat ini lebih terfokus pada masalah-masalah di luar bidang itu. Akibatnya, banyak praktisi dan pengamat yang mengeluh tentang kepedulian pemerintah.

Memang ada keraguan di benak sebagian kalangan pemerintah terhadap kontribusi industri ini terhadap perekonomian. Menurut Menteri Riset dan Teknologi, Hatta Radjasa, ekspor Software Indonesia pada tahun 2000 tercatat sebesar US$70 juta. Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo, Deputi Rektor Universitas Paramadina, menyebutkan kontribusi sektor ini masih kecil. Namun, ia menunjuk keberhasilan India yang dalam satu dekade berhasil menjadikan sektor ini sebagai kontributor signifikan perolehan devisanya (Lihat Industri TI India). Dalam kurun 1985 hingga 1995, India berhasil menaikan ekspor Software dari US$24 juta menjadi US$375 juta. Marsudi memperkirakan volume pasar dunia tahun ini mencapai US$375 milyar.

Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo, Deputi Rektor Universitas Paramadina

Yang menjadi keprihatinan Marsudi adalah industri Software lokal kian berkurang pangsanya sejak krisis terjadi. Salah satu penggusurnya adalah bantuan Bank Dunia ke perbankan nasional yang mensyaratkan penggunaan package software asal negara-negara donor. Akibatnya, sejumlah piranti lokal yang dipergunakan perbankan nasional tersingkir setelah pencairan bantuan. Ia memperkirakan pangsa pasar Software lokal saat ini hanya 5 persen. Bahkan untuk perbankan dan perhotelan bisa jadi porsi lokal lebih kecil dari angka itu.

Andrari Grahitandaru MSc., Head of Automation Systems Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memprihatinkan berlakunya Undang-undang Hak Cipta. Pemberlakuan itu akan menguras devisa besar-besaran. Laporan PEG-USAID mencatat ada sekitar 1,9 juta Personal Computer di Indonesia pada tahun 1999 dengan penetrasi sebesar 0,9%. Laporan ISA yang diterbitkan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta memperkirakan sekitar 2 juta PC terpasang di 250.000 rumah di Indonesia pada tahun 2000. Dengan perkiraan 90% Software adalah hasil bajakan maka untuk membayar operating system yang populer akan menghabiskan devisa sebesar US$30 juta. Belum lagi penggunaan office suite yang harga per lisensinya mencapai US$800.

Besarnya masalah memunculkan wacana untuk menggunakan Software berbasiskan open sources. Menurut Marsudi, peralihan tersebut mengeliminasi keterjebakan pada lisensi sekaligus memberdayakan industri lokal. “Tahun 1996 lalu kerugian akibat pembajakan telah mencapai US$197juta” katanya. Namun menurut Markus A. Straub, Senior Technical Advisor dari www.merapi.co.id, pengalihan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Ia melihat begitu banyak masalah yang harus dibenahi, mulai dari kurang populer dan familiarnya program-program berbasiskan open source hingga masih kurang easy use-nya developer tools-nya. Ini belum termasuk masalah paradigma software house dan persoalan sumber daya manusia yang sedemikian peliknya.

Di sisi lain, saat ini daya serap pasar lokal terhadap produk-produk IT justru sedang mengalami penuruan. “The name of the game is survival,” ujar Dr. Bobby Nazief, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Komputer UI. Kelesuan ini bisa menjadi batu sandungan bagi pengorbitan produk Software lokal, apalagi pemerintah tidak memiliki kebijakan spesifik yang bisa mendorong pertumbuhan industri ini dalam program-program pemerintah sendiri. Sehingga akses ke pasar, menurut Bobby, masih menjadi belenggu bagi sebagian besar pengembang Software lokal. Apa boleh buat, seperti juga ramalan cuaca, industri Software lokal sebagian memang cerah, tapi sebagian lagi berawan.•ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved