...
continued from previous page
 |
| Pendidikan TI di Indonesia: Sudah
mulai mendukung penggunaan open source software |
Apa pun yang akan menjadi pasar Linux, kenaikan pangsa pasarnya
akan ditentukan oleh besarnya pemakai OS Linux. Padahal, saat
ini OS Linux baru berkisar di server, dan belum banyak menyentuh
end user client. Makanya, peluang terbesar software house
Linux baru dari sisi software di server. Namun, baik Ridwan,
Made maupun Rheza sepakat, peluang solusi Linux di masa depan
semakin cerah. Selain Linux menawarkan banyak hal yang tidak
bisa disediakan closed source, perbedaan fungsi antara kedua
sistem ini semakin kecil. Saat ini merupakan titik penting
sejarah PC dan konvergensinya dengan device seperti PDA, mobile
phone dan tablet. Namun, konvergensi itu tidak mulus lantaran
fungsi masing-masing tidak bisa begitu saja digabung. “Nah,
Linux bisa mengambil kesempatan di device-device baru yang
sedang tumbuh,” kata Ridwan.
Menurut Made Wiryana, di masa depan software house lokal berbasis
Linux pasti akan meningkat. Hal ini didorong oleh makin terbukanya
pengetahuan tentang Linux, banyaknya orang yang mempelajari,
makin mahalnya aplikasi berlisensi komersial dan aksi rasia
perangkat lunak closed source. Ujung-ujungnya, Linux makin
diterima luas. Di tingkat dunia, Linux juga mulai merambah
ke mana-mana. Bukan saja makin banyak perusahaan yang menjual
Linux sebagai aplikasi dekstop (Lindows, HP) dengan sistem
operasi Linux, tapi juga kian banyak consumer product (seperti
HiFi PC, webtop, atau PDA) yang menggunakan Linux, seperti
yang dikembangkan Sony, Nokia dan Shrap.
Tidak cuma itu. Beberapa negara malah mensyaratkan penggunaan
Linux dalam pengembangan TI-nya, seperti Brazil, Jerman, Perancis,
Norway dan Peru. Baik karena alasan ekonomi maupun faktor
bahasa. India dan Cina bahkan telah mendirikan pusat pengembangan
aplikasi Linux. Tidak heran, kata Made, jika kini mulai muncul
cerita sukses penggunaan Linux, tidak saja sebagai infrastruktur
(server atau gateway), tapi juga sebagai dekstop. Di Jerman,
beberapa perusahaan asuransi (DEBEKA misalnya menggunakan
3000 dekstop berbasiskan Linux) telah menggunakan Linux sebagai
OS dekstop-nya. Kepolisian Inggris juga sedang dalam proses
migrasi yang sama.
Bagaimana Indonesia? Secara formal, pemerintah tidak menghambat
pengembangan perangkat lunak. Malah, lewat Inpres No. 06/2001
pemerintah mendukung pengembangan open source. Proyek pemerintah
seperti Software RI yang dimotori BPPT bahkan menelurkan dua
aplikasi berbasiskan Linux, yaitu Kantaya (aplikasi groupware)
dan WINBI (dekstop berbahasa Indonesia). Menurut Made, sumberdaya
manusia Indonesia sebenarnya cukup memadai dan tidak kalah
dengan luar negeri. Masalahnya, meskipun tidak menghambat,
pemerintah tak punya fokus kebijakan di bidang software house
ini. “Software house kita selain masih balita, jumlahnya
juga sedikit. Sementara entry barrier-nya tinggi,” jelas
Sofyan. Sayang Sofyan tidak memerinci entry barier ini.
Berbeda sekali dengan India misalnya. Dari sisi pendapatan
perkapita, Indonesia dan India tidak jauh beda. Tapi negeri
Mahatma Gandhi itu bisa menumbuhkan industri software yang
besar berskala internasional. India menumbuhkan industri software
dengan target pasar ke luar negerinya, dengan jumlah ekspor
6 milyar dollar berbanding 2 milyar dollar pasar domestik.
Perusahaan India seperti Infosys, Nasscom atau Wipro bukan
nama asing di pasar software USA dan Eropa. ”Ini tumbuh
karena kesadaran pemerintah India dalam mengarahkan pengembangan
industri software yang fokus, dengan regulasi, dorongan dan
infrastruktur pendidikan yang memadai,” kata Ridwan.
"Secara individu
orang-orang Indonesia dijamin tidak kalah kelas ilmunya
dengan negara lain. Masalahnya, soal industri software
tidak lagi bicara orang, tapi sudah soal tradisi, budaya
dan image negara."
Ridwan
Prasetyarto, CEO eBdesk Indonesia. |
Namun, dalam hal Linux, sebenarnya tidak ada kata kalah atau
menang. Karena sifatnya open source, Linux tidak menjadikan
suatu negara menjadi leader, sementara yang lain cuma follower.
“Linux memberikan kesetaraan pada semua negara,”
kata Made. Tapi Made tidak menampik jika sejumlah negara punya
fokus bidang tertentu di Linux. Jepang misalnya, mengembangkan
aplikasi untuk controller atau home consumer di Linux, Jerman
banyak di aplikasi dekstop dan small office, sementara Norway
mengembangkan aplikasi security. China dan India juga membangun
jenis aplikasi yang khas. Sejumlah negara cepat mengadaptasi
dan mengembangkan Linux, kata Made, karena telah memiliki
dasar pengetahuan yang baik untuk itu, yaitu UNIX. Negara
lain sudah belajar UNIX sejak tahun 1980-an, sementara Indonesia
baru melakukannya pada 1997-an.
UNIX merupakan dasar pengetahuan pemrograman yang cukup baik.
Makin banyak orang mempelajarinya, akan makin banyak SDM yang
mengetahui bagian internal dari suatu sistem, dan bukan hanya
pemrograman luar an sich. Lambatnya adopsi UNIX tidak lepas
dari dikotomi masuknya teknologi komputer ke Indonesia. Setelah
digunakan oleh militer, perbankan dan perusahaan minyak, komputer
personal (PC) baru merambah ke kampus-kampus. Pembelajaran
secara massal pun terjadi. Tapi itu di PC, bukan di mesin
seperti S/36, SUN, SGI dan DEC. Piranti ini masih jauh dari
jangkauan para mahasiswa dan pengajar. Ujung-ujungnya, pengetahuan
akan teknologi komputer kelas mainframe dan mini ke atas,
termasuk SO UNIX, masihlah pengetahuan yang elit dan terbatas.
Sebenarnya perguruan tinggi (PT) bukan tidak mau menggunakan
UNIX, adopsi yang lambat itu semata-mata karena mahalnya peralatan
pendukung mempelajari materi tersebut. Karena mendapatkan
bantuan pemerintah, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memungkinkan
komunitasnya mengenal UNIX. Tapi di swasta, hanya PTS yang
cukup dana, seperti Universitas Gunadarma, Bina Nusantara,
Tarumanegara dan Trisaksi, yang mampu membekali mahasiswanya
dengan pengetahuan semacam itu dengan membeli produk UNIX
dan aplikasinya seperti SCO-UNIX, DG-UX, dan sekelasnya. Kemudahan
dan kebiasaan mengkopi secara tidak sah membuat MS-DOS dan
aplikasinya menjadi populer dan seolah-olah menutup aplikasi
alternatif. Ya, ada semacam quasi-monopoly.
Software Linux di Indonesia memang tidak mudah diterima pasar.
Ini terjadi, menurut Made, karena banyaknya software bajakan.
Lisensi belum menjadi pertimbangan konsumen. Selain itu, SDM
yang mengerti Linux masih sedikit. Ini makin parah karena
buku-buku yang membahas pemrograman berbasis Linux masih amat
terbatas. Amat kontras dengan ketersediaan buku pemrograman
di MS Windows. Persepsi bahwa Linux hanya untuk orang “jago”
dan tidak memiliki GUI (Graphical User Inteface) membuat pengembangan
Linux bak dikepung hambatan dari segala penjuru. Software
house di Indonesia, kata Rheza, tidak banyak bermain di platform
UNIX, akar Linux. Kurikulum pendidikan tinggi TI di Indonesia
pun tidak memberikan porsi yang cukup untuk Linux. “Ini
makin komplet karena dukungan pemerintah pun masih setengah
hati,” kata Rheza.
Dari semua itu, menurut Made, yang agak “menghambat”
perkembangan Linux di Indonesia adalah lembaga pendidikan.
Ini ditandai oleh masih banyaknya resistansi lembaga pendidikan
untuk memberikan pengetahuan perangkat lunak Linux dan pengembangan
perangkat lunak Linux. Ini disebabkan beberapa faktor. Misalnya,
lembaga pendidikan tersebut harus mempersiapkan modul baru
(praktikum), sementara tenaga yang bersedia tidak ada. Ada
juga akibat lembaga pendidikan tersebut merasa tidak enak
dengan vendor tertentu, karena memiliki hubungan khusus degan
vendor tersebut, misalnya kontrak sebagai X Academy atau pusat
sertifiksai vendor.
Industri software memang bukan sederhana. Menurut Ridwan,
secara individu orang-orang Indonesia dijamin tidak kalah
kelas ilmunya dengan negara lain. Masalahnya, soal industri
software tidak lagi bicara orang, tapi sudah soal tradisi,
budaya dan image negara. Soal kualitas software, Ridwan yakin
Indonesia bisa membuat yang kualitasnya sama dengan market
leader seperti Microsoft. Cuma, untuk mencapai itu harus bisa
mengorganisasi ribuan orang pintar, yang tentu berbeda dengan
membuat pabrik sepatu. “Industri software adalah industri
ide, sesuai sifat software yang merupakan hasil kreasi otak
dan dipadukan kemampuan melihat arah pasar,” kata Ridwan.
Sebab, kualitas software hanya berguna dalam kerangka ilmiah
dan teori. Tapi dalam praktek bisnis, justru aspek fungsionalitas,
kemasaran dan pemasaran jadi penentu keunggulan software.
Toh sikap pesimis harus dibuang jauh-jauh. eBdesk bisa menjadi
cermin. Perusahaan yang didirikan di Bandung tahun 1999 itu
sekarang karyawannya berjumlah 42 orang dan memiliki kantor
pemasaran di Jakarta dan Singapura. Setelah produk masuk pasar
pada pertengahan 2001, lebih dari 30 perusahaan menengah besar
di Indonesia dan 7 departemen pemerintah menjadikan sebagai
eBdesk sebagai standard. Di banyak tempat, produk eBdesk menggantikan
fungsi software-software vendor Microsoft, seperti Sharepoint
dan Exchange, serta IBM, yaitu Lotus Domino dan Notes.
Bahkan, eBdesk berhasil melakukan ekspor pertama ke USA di
Agustus 2002, ke perusahaan besar Interim Healthcare yang
mempunyai 50 ribu karyawan dan franchise di semua negara bagian
USA dan Brazil. “Meskipun itu sudah menjadi cita-cita,
ini benar-benar tak terbayangkan bagaimana caranya,”
kata Ridwan. Nilai penjualan eBdesk 2002 sekitar USD 550.000,
dan ditargetkan USD 1.5 million pada 2003 dengan produk-produk
baru dan pasar yang terbuka ke global. Keberhasilan eBdesk
ini patut diacungi jempol. Sebab, delivery product jadi ke
USA berarti mereka harus bisa bersaing dengan produk-produk
sekelas Microsoft (Sharepoint dan Exchange) dan Lotus (Lotus
Domino dan Notes). “Eh, ternyata bisa juga,” kata
Ridwan, bak bunyi iklan: “Ayo, kamu Bisa”. •ki
Go back to previous page
|