continued
from previous page
Rumit memang. Namun berkat pengkodean dan penggandaan berulang-ulang
tadi, ponsel dengan teknologi CDMA anti bajak dan sadap. Selain
itu, kualitas suara yang dihasilkan lebih jernih. Lagipula,
proses yang rumit tadi hanya berlangsung dalam hitungan detik,
sehingga saat berkomunikasi tidak akan terjadi penundaan (delayed)
suara. Komselindo, salah satu operator CDMA di Indonesia,
mempromosikan bahwa komunikasi memakai teknologi ini suaranya
nyaris sama dengan percakapan tatap muka langsung.
Keunggulan utama CDMA adalah konsumsi tenaga listrik yang
tidak besar, hanya 0,2 watt. Dengan tenaga listrik sekecil
itu kekuatiran penyakit kanker - akibat radiasi elektromagnetik
ponsel yang masih kontroversial - bisa diminimalkan. Sementara
GSM umumnya menggunakan energi listrik antara 2-4 watt, sehingga
efek radiasinya lebih besar. Baterai CDMA umumnya juga jauh
lebih tahan lama, sebab power output-nya cuma 0,25 watt, sementara
AMPS 0,6 watt dan GSM 1,5 – 4 watt. Kelebihan lain yang
sangat penting adalah biaya pulsa CDMA yang lebih murah. Berdasarkan
data Komselindo, biaya abomenen dan pajak hanya Rp 60.000,
sementara pulsanya dihitung perd etik dengan harga Rp 6,7
per unit pulsa. Bila saja Komselindo dan vendor ponsel lebih
gencar memasarkan keunggulan CDMA, mungkin teknologi akan
populer.
Tidak cuma itu. Kalau GSM sudah ditetapkan “kaplingnya”
di frekuensi 900 MHz, 1800 MHz (PCN/DCS-personal communication
network/digital communication service) atau 1900 MHz khusus
untuk Amerika, maka CDMA “bebas bergerak”. Di
Indonesia, PT Komselindo menggunakan frekuensi miliknya yang
selama ini digunakan untuk AMPS (0821 xxxxxx), sebagai pengantar
transmisi CDMA. Di belahan Asia bahkan ada yang menggunakan
CDMA di frekuensi 1800 MHz. Toh semua bisa berjalan dengan
baik.
Korea Selatan yang berjaya dan merupakan negara Asia pertama
yang menggunakan CDMA untuk menggantikan AMPS-nya, pernah
menawarkan investasi untuk CDMA 1800 MHz di Indonesia. Namun,
karena kita sudah kadung menggunakan frekuensi 1800 MHz untuk
PCN/DCS dan sudah sebagian besar dibagikan, sulit untuk menerima
CDMA di frekuensi 1800 MHz tadi. Kalaupun diterima, selain
harus menyediakan guard band agar tidak mengganggu performansi
1800 MHz yang lain, juga akan membingungkan masyarakat karena
lalu terlalu banyak pilihan. Kalau terlalu banyak teknologi
dan sistem yang diimplementasikan, akan banyak investasi yang
kurang tepat sasaran, sehingga beban masyarakat akan lebih
tinggi. Ingat, investasi sering dibebankan ke publik.
Memang, banyak yang mengkhawatirkan teknologi CDMA mandek
dan tidak bisa bermigrasi ke generasi ketiga, kenyataannya
tidak. Beda dengan PDC yang hanya bermigrasi ke WCDMA, CDMA
yang ada sekarang terbuka untuk bermigrasi tidak cuma ke G3
WCDMA. Generasi ketiga untuk CDMA terbuka luas, bisa juga
ke EDGE (enhance data rates for global evolution) atau CDMA20003X,
setelah melewati CDMA20001X. Kelemahan CDMA, ia tak punya
kemampuan roaming atau menjelajah di cakupan operator yang
berbeda. Sementara nomor dan berbagai data pelanggan menyatu
dengan ponsel, sama dengan NMT dan AMPS. Beda dengan GSM yang
data-data pelanggan ada dalam kartu SIM (subscriber identification
module) yang bisa ganti “rumah”, tergantung kemauan
dan selera pemiliknya, mau “dirumahkan” ke ponsel
mana. GSM juga bisa digunakan di mana saja sepanjang ada jaringan,
meski beda operator.
Inilah yang menurut Kepala Divisi Pembangunan PT Telkom, Tri
Djatmiko, membuat GSM meroket dan diserbu konsumen. Teknologi
GSM yang menjadikan positioning ponsel sebagai “personal”,
dan yang lebih penting lagi adalah fancy karena dengan model
kartu SIM, si pengguna dapat mengubah-ubah pesawat telepon
tangannya sesuai mode terbaru. Sebuah survei menyebutkan,
motivasi orang bergonta-ganti ponsel (GSM) bukan karena didorong
oleh feature-feature yang ada, tetapi lebih pada model dan
desainnya. Karena sifatnya yang personal dan untuk gaya hidup
tersebut, kata Tri, permintaan atas sambungan seluler terus
meningkat, apalagi handset dijual bebas sehingga setiap orang
mudah mengganti handset. Juga layanan prabayar mendorong peningkatan
kuantitas telepon seluler GSM, selain maraknya pemanfaatan
SMS (short message service).
Untuk bisa menikmati teknologi CDMA, ponsel yang digunakan
harus berbasis CDMA. Pasalnya, di dalamnya harus ada chip
khusus yang mengubah kembali sinyal digital menjadi analog
suara. Bukan seperti chip yang ada pada ponsel GSM yang hanya
berisi data dan nomor pelanggan. Nah, chip khusus yang ada
di dalam ponsel CDMA saat ini masih harus dipasok dari Qualcomm
sebagai pemegang hak paten. Tak aneh bila harga ponsel berteknologi
CDMA relatif lebih mahal dari ponsel berbasis GSM.
Harga mahal juga disebabkan ponsel berbasis CDMA tersebut
masih belum banyak beredar di pasaran. Mungkin cuma tiga-empat
merek dan model, paling banyak adalah Motorola Startac dan
Audiovox. Pada awal teknologi CDMA diperkenalkan di Indonesia
(1997), harga ponsel CDMA mencapai Rp 6 juta, sementara ponsel
GSM hanya sekitar Rp 2 jutaan. Apalagi, kini harga ponsel
GSM semakin murah, lebih-lebih di black market di Roxy. Hanya
dengan Rp 300.000 – 400.000, ponsel trendy ada di tangan.
Sementara ponsel CDMA sudah harganya mahal, pelanggan tidak
mudah begitu saja mengganti handset-nya kalau sudah bosan
sebagaimana pelanggan GSM, sebab nomornya melekat di ponsel.
CDMA tidak memerlukan kartu untuk bisa melakukan komunikasi
seperti halnya GSM, meski juga menyediakan feature-feature
yang tidak kalah dari GSM.
 |
| Roy Suryo, pengamat telematika |
Di Indonesia, operator ponsel CDMA sebenarnya cukup lumayan,
mulai dari Komselindo, Telesera, Metrosel hingga Mobisel.
Sayangnya, yang sudah menerapkan teknologi CDMA - dalam area
cakupan terbatas - baru Komselindo dengan dukungan Lucent
Technologies. Itu pun dengan wilayah operasi yang terbatas
di DKI Jakarta dan Jawa Barat saja. Padahal, cakupan operasinya
meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Selatan. Komselindo
rencananya akan melakukan merger dengan operator ponsel AMPS
seperti Metrosel, Telesera dan Mobisel yang juga akan melakukan
migrasi ke teknologi CDMA.
Saat ini, para operator ponsel CDMA itu didera kesulitan keuangan.
Komselindo misalnya, memerlukan suntikkan dana yang tidak
sedikit untuk bisa memberikan layanan yang sejajar dengan
operator ponsel lainnya. Salah satu layanan itu adalah meningkatkan
feature dengan cara menambah perangkat lunak versi terbaru.
Menurut Direktur Utama Komselindo Zen Smith, tanpa menyediakan
feature yang unggul, CDMA pasti tidak akan mampu bersaing
dengan GSM yang sudah memasuki generasi 2+, meski kualitas
CDMA jauh lebih bagus daripada GSM. Selain itu, untuk melayani
area Jabotabek serta Jawa Barat, perusahaannya memerlukan
300 RBS (radio base station), sementara yang ada baru 200
RBS. Padahal pembangunan RBS mencapai 200.000 dolar AS per
buahnya.
Itulah sebabnya, pertumbuhan jumlah pengguna CDMA, juga AMPS,
amat seret, bahkan menurun. Data yang dimiliki pengamat telematika
Roy Suryo menyebutkan, di saat total pelanggan seluler di
Indonesia mencapai 5 juta pengguna, pangsa pasar Komselindo
sekitar 1,26 persen, Metrosel 1,5 persen, Telesera 0,2 persen,
dan Mobilsel 0,25 persen. Jika saat ini jumlah pelanggan seluler
mencapai 10 juta, bahkan 10,5 juta, maka prosentase tersebut
dipastikan lebih kecil lagi. “Pertumbuhan pelanggan
AMPS memang sudah berhenti,” kata Roy Suryo. Makanya,
wajar jika jumlahnya terus menyusut.
Saat ini, yang sedang gencar berpromosi untuk menggunakan
teknologi CDMA di dalam negeri, justru operator telepon tetap,
seperti PT Telkom, PT Indosat dan Ratelindo. Operator telepon
tetap yang mengembangkan infrastruktur telekomunikasi di seantero
Nusantara dengan jaringan fixed wireless (jaringan telepon
tetap tanpa kabel), malah akan menerapkan generasi terbaru
dari teknologi CDMA, yaitu CDMA 2000 1X. PT Telkom dengan
didukung Motorola malah sudah meluncurkan salah satu produknya
yang berbasis CDMA 2000 1X di Surabaya akhir Nopember lalu
(CDMA 2000-1X: Mainan Baru Telkom).
Meskipun CDMA 2000 1X adalah fixed wireless, karena sifatnya
bisa setengah ponsel, tak ayal kehadiran sempat membuat operator
ponsel berbasis GSM ketar-ketir. Menurut Ketua Asosiasi Telepon
Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara, investasi agresif Telkom
dan Indosat di fixed lines berbasis teknologi CDMA 2000 1X
dalam jangka panjang, diperkirakan akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan pelanggan seluler. “Sebab CDMA menawarkan
tarif yang lebih murah tanpa menghilangkan keunggulan seluler
sebagai telepon mobile,” katanya. Jika itu terjadi,
saat itulah pelanggan benar-benar menjadi raja.•ki
|