IT & Communications Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
 
 

continued from previous page

Rumit memang. Namun berkat pengkodean dan penggandaan berulang-ulang tadi, ponsel dengan teknologi CDMA anti bajak dan sadap. Selain itu, kualitas suara yang dihasilkan lebih jernih. Lagipula, proses yang rumit tadi hanya berlangsung dalam hitungan detik, sehingga saat berkomunikasi tidak akan terjadi penundaan (delayed) suara. Komselindo, salah satu operator CDMA di Indonesia, mempromosikan bahwa komunikasi memakai teknologi ini suaranya nyaris sama dengan percakapan tatap muka langsung.

Keunggulan utama CDMA adalah konsumsi tenaga listrik yang tidak besar, hanya 0,2 watt. Dengan tenaga listrik sekecil itu kekuatiran penyakit kanker - akibat radiasi elektromagnetik ponsel yang masih kontroversial - bisa diminimalkan. Sementara GSM umumnya menggunakan energi listrik antara 2-4 watt, sehingga efek radiasinya lebih besar. Baterai CDMA umumnya juga jauh lebih tahan lama, sebab power output-nya cuma 0,25 watt, sementara AMPS 0,6 watt dan GSM 1,5 – 4 watt. Kelebihan lain yang sangat penting adalah biaya pulsa CDMA yang lebih murah. Berdasarkan data Komselindo, biaya abomenen dan pajak hanya Rp 60.000, sementara pulsanya dihitung perd etik dengan harga Rp 6,7 per unit pulsa. Bila saja Komselindo dan vendor ponsel lebih gencar memasarkan keunggulan CDMA, mungkin teknologi akan populer.

Tidak cuma itu. Kalau GSM sudah ditetapkan “kaplingnya” di frekuensi 900 MHz, 1800 MHz (PCN/DCS-personal communication network/digital communication service) atau 1900 MHz khusus untuk Amerika, maka CDMA “bebas bergerak”. Di Indonesia, PT Komselindo menggunakan frekuensi miliknya yang selama ini digunakan untuk AMPS (0821 xxxxxx), sebagai pengantar transmisi CDMA. Di belahan Asia bahkan ada yang menggunakan CDMA di frekuensi 1800 MHz. Toh semua bisa berjalan dengan baik.

Korea Selatan yang berjaya dan merupakan negara Asia pertama yang menggunakan CDMA untuk menggantikan AMPS-nya, pernah menawarkan investasi untuk CDMA 1800 MHz di Indonesia. Namun, karena kita sudah kadung menggunakan frekuensi 1800 MHz untuk PCN/DCS dan sudah sebagian besar dibagikan, sulit untuk menerima CDMA di frekuensi 1800 MHz tadi. Kalaupun diterima, selain harus menyediakan guard band agar tidak mengganggu performansi 1800 MHz yang lain, juga akan membingungkan masyarakat karena lalu terlalu banyak pilihan. Kalau terlalu banyak teknologi dan sistem yang diimplementasikan, akan banyak investasi yang kurang tepat sasaran, sehingga beban masyarakat akan lebih tinggi. Ingat, investasi sering dibebankan ke publik.

Memang, banyak yang mengkhawatirkan teknologi CDMA mandek dan tidak bisa bermigrasi ke generasi ketiga, kenyataannya tidak. Beda dengan PDC yang hanya bermigrasi ke WCDMA, CDMA yang ada sekarang terbuka untuk bermigrasi tidak cuma ke G3 WCDMA. Generasi ketiga untuk CDMA terbuka luas, bisa juga ke EDGE (enhance data rates for global evolution) atau CDMA20003X, setelah melewati CDMA20001X. Kelemahan CDMA, ia tak punya kemampuan roaming atau menjelajah di cakupan operator yang berbeda. Sementara nomor dan berbagai data pelanggan menyatu dengan ponsel, sama dengan NMT dan AMPS. Beda dengan GSM yang data-data pelanggan ada dalam kartu SIM (subscriber identification module) yang bisa ganti “rumah”, tergantung kemauan dan selera pemiliknya, mau “dirumahkan” ke ponsel mana. GSM juga bisa digunakan di mana saja sepanjang ada jaringan, meski beda operator.

Inilah yang menurut Kepala Divisi Pembangunan PT Telkom, Tri Djatmiko, membuat GSM meroket dan diserbu konsumen. Teknologi GSM yang menjadikan positioning ponsel sebagai “personal”, dan yang lebih penting lagi adalah fancy karena dengan model kartu SIM, si pengguna dapat mengubah-ubah pesawat telepon tangannya sesuai mode terbaru. Sebuah survei menyebutkan, motivasi orang bergonta-ganti ponsel (GSM) bukan karena didorong oleh feature-feature yang ada, tetapi lebih pada model dan desainnya. Karena sifatnya yang personal dan untuk gaya hidup tersebut, kata Tri, permintaan atas sambungan seluler terus meningkat, apalagi handset dijual bebas sehingga setiap orang mudah mengganti handset. Juga layanan prabayar mendorong peningkatan kuantitas telepon seluler GSM, selain maraknya pemanfaatan SMS (short message service).

Untuk bisa menikmati teknologi CDMA, ponsel yang digunakan harus berbasis CDMA. Pasalnya, di dalamnya harus ada chip khusus yang mengubah kembali sinyal digital menjadi analog suara. Bukan seperti chip yang ada pada ponsel GSM yang hanya berisi data dan nomor pelanggan. Nah, chip khusus yang ada di dalam ponsel CDMA saat ini masih harus dipasok dari Qualcomm sebagai pemegang hak paten. Tak aneh bila harga ponsel berteknologi CDMA relatif lebih mahal dari ponsel berbasis GSM.

Harga mahal juga disebabkan ponsel berbasis CDMA tersebut masih belum banyak beredar di pasaran. Mungkin cuma tiga-empat merek dan model, paling banyak adalah Motorola Startac dan Audiovox. Pada awal teknologi CDMA diperkenalkan di Indonesia (1997), harga ponsel CDMA mencapai Rp 6 juta, sementara ponsel GSM hanya sekitar Rp 2 jutaan. Apalagi, kini harga ponsel GSM semakin murah, lebih-lebih di black market di Roxy. Hanya dengan Rp 300.000 – 400.000, ponsel trendy ada di tangan. Sementara ponsel CDMA sudah harganya mahal, pelanggan tidak mudah begitu saja mengganti handset-nya kalau sudah bosan sebagaimana pelanggan GSM, sebab nomornya melekat di ponsel. CDMA tidak memerlukan kartu untuk bisa melakukan komunikasi seperti halnya GSM, meski juga menyediakan feature-feature yang tidak kalah dari GSM.

Roy Suryo, pengamat telematika

Di Indonesia, operator ponsel CDMA sebenarnya cukup lumayan, mulai dari Komselindo, Telesera, Metrosel hingga Mobisel. Sayangnya, yang sudah menerapkan teknologi CDMA - dalam area cakupan terbatas - baru Komselindo dengan dukungan Lucent Technologies. Itu pun dengan wilayah operasi yang terbatas di DKI Jakarta dan Jawa Barat saja. Padahal, cakupan operasinya meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Selatan. Komselindo rencananya akan melakukan merger dengan operator ponsel AMPS seperti Metrosel, Telesera dan Mobisel yang juga akan melakukan migrasi ke teknologi CDMA.

Saat ini, para operator ponsel CDMA itu didera kesulitan keuangan. Komselindo misalnya, memerlukan suntikkan dana yang tidak sedikit untuk bisa memberikan layanan yang sejajar dengan operator ponsel lainnya. Salah satu layanan itu adalah meningkatkan feature dengan cara menambah perangkat lunak versi terbaru. Menurut Direktur Utama Komselindo Zen Smith, tanpa menyediakan feature yang unggul, CDMA pasti tidak akan mampu bersaing dengan GSM yang sudah memasuki generasi 2+, meski kualitas CDMA jauh lebih bagus daripada GSM. Selain itu, untuk melayani area Jabotabek serta Jawa Barat, perusahaannya memerlukan 300 RBS (radio base station), sementara yang ada baru 200 RBS. Padahal pembangunan RBS mencapai 200.000 dolar AS per buahnya.

Itulah sebabnya, pertumbuhan jumlah pengguna CDMA, juga AMPS, amat seret, bahkan menurun. Data yang dimiliki pengamat telematika Roy Suryo menyebutkan, di saat total pelanggan seluler di Indonesia mencapai 5 juta pengguna, pangsa pasar Komselindo sekitar 1,26 persen, Metrosel 1,5 persen, Telesera 0,2 persen, dan Mobilsel 0,25 persen. Jika saat ini jumlah pelanggan seluler mencapai 10 juta, bahkan 10,5 juta, maka prosentase tersebut dipastikan lebih kecil lagi. “Pertumbuhan pelanggan AMPS memang sudah berhenti,” kata Roy Suryo. Makanya, wajar jika jumlahnya terus menyusut.

Saat ini, yang sedang gencar berpromosi untuk menggunakan teknologi CDMA di dalam negeri, justru operator telepon tetap, seperti PT Telkom, PT Indosat dan Ratelindo. Operator telepon tetap yang mengembangkan infrastruktur telekomunikasi di seantero Nusantara dengan jaringan fixed wireless (jaringan telepon tetap tanpa kabel), malah akan menerapkan generasi terbaru dari teknologi CDMA, yaitu CDMA 2000 1X. PT Telkom dengan didukung Motorola malah sudah meluncurkan salah satu produknya yang berbasis CDMA 2000 1X di Surabaya akhir Nopember lalu (CDMA 2000-1X: Mainan Baru Telkom).

Meskipun CDMA 2000 1X adalah fixed wireless, karena sifatnya bisa setengah ponsel, tak ayal kehadiran sempat membuat operator ponsel berbasis GSM ketar-ketir. Menurut Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara, investasi agresif Telkom dan Indosat di fixed lines berbasis teknologi CDMA 2000 1X dalam jangka panjang, diperkirakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan pelanggan seluler. “Sebab CDMA menawarkan tarif yang lebih murah tanpa menghilangkan keunggulan seluler sebagai telepon mobile,” katanya. Jika itu terjadi, saat itulah pelanggan benar-benar menjadi raja.•ki

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved