Perkembangan
telepon seluler (ponsel) memang luar biasa. Para pengamat
kelas dunia semula memperkirakan pertumbuhan seluler yang
dianggap menjadi layanan premium (pelengkap dengan tarif lebih
tinggi), akan melampui pertumbuhan fix line pada tahun 2004.
Kenyataannya, di tahun 2002, fix line atau yang disebut dengan
PSTN (public switched telephone network) baru mencapai 950
juta SST (satuan sambungan telepon), ketika seluler sudah
melewati angka 1,2 milyar nomor di seluruh dunia.
Di Indonesia, penetrasi seluler juga luar biasa. Jika tahun
2001 angkanya masih sekitar 7 jutaan, di akhir tahun 2002
jumlahnya diperkirakan sudah mencapai 10 juta, bahkan 10,5
juta nomor. Padahal, telepon rumah yang sudah dibangun sejak
30-an tahun yang lalu baru mencapai 8,2 juta SST. Tetapi tahukah
Anda, teknologi apa yang paling populer di antara para operator
seluler tersebut? Mengapa pula teknologi itu yang mencorong?
Teknologi seluler di dunia diawali dengan teknologi AMPS (advance
mobile phone system). Teknologi ponsel terus bergerak, dan
kini sudah memasuki teknologi CDMA (code division multiple
access). Kedua teknologi ini berasal dari Amerika Serikat
(AS). AMPS sendiri pernah merajai dunia, khususnya di luar
Eropa menjelang tahun 1990-an, ketika GSM (global system for
mobile communications) masih dalam tahap uji coba. Kini, APMS
mengalami kemunduran, kurang populer dan mulai digantikan
CDMA.
Tidak ada yang salah dalam AMPS, seperti juga NMT (nordic
mobile telephone) yang merupakan seluler pertama di dunia,
kecuali bahwa keduanya sudah ketinggalan. Baik AMPS maupun
NMT masih memakai cara analog dalam mentransmisikan suara,
sementara GSM dan CDMA menggunakan digital yang lebih bermutu.
NMT dan AMPS digolongkan orang sebagai seluler generasi pertama,
sementara GSM, CDMA dan PDC (personal digital communication)
dari Jepang, menjadi seluler generasi kedua.
Kini, setelah lebih sepuluh tahun sejak debutnya, GSM sudah
berkembang pesat masuk ke generasi 2+. Bahkan, generasi kedua
ini segera masuk ke generasi ketiga (G3) yang berupa CDMA
pita lebar (WCDMA-wide band CDMA) yang menyajikan multimedia.
Sebagai generasi antara, sudah muncul GPRS (general packet
radio service) yang mengaplikasikan komunikasi data dan citra.
Meskipun harus diakui, GPRS belum sesempurna WCDMA yang nantinya
akan menyajikan citra yang bergerak.
Beda dengan PDC yang hanya digunakan di Jepang, CDMA digunakan
secara luas, terutama di Amerika dan Asia. Pengguna CDMA di
dunia cukup banyak, lebih dari 70 juta dan umumnya memuaskan,
karena secara teknis CDMA lebih baik dari GSM yang diunggulkan
oleh kelompok Eropa. Secara umum, dunia seluler dunia memang
terbagi dalam dua kubu yang bersaing ketat, yaitu Eropa (utara)
dan Amerika. Sementara teknologi Jepang berada di antaranya
dan “tidak berarti apa-apa”, sebab sangat lokal.
Meski harus diakui, PDC juga tergolong GSM yang berbasis TDMA
(time division multiple access), tetapi tidak bisa roaming
dengan GSM. Di Jepang PDC masih digunakan, juga PHS (personal
handyphone system) yang perangkatnya sangat mungil, tetapi
teknologinya sangat terkucil, sendirian, dan tidak mendunia.
Kedua teknologi Jepang ini sudah mulai berganti ke G3 yang
dipelopori oleh NTT DoCoMo.

CDMA sebenarnya mengambil prinsip yang hampir sama dengan
teknologi sebelumnya, yaitu AMPS atau Frequency Division Multiple
Access (FDMA) dan GSM atau TDMA. Cuma, beda dengan GSM yang
berdasarkan teknologi TDMA yang hanya mengacak suara yang
dipancarkan, CDMA selain mengacak juga mentransmisikan suara
dalam kode-kode sehingga sama sekali tidak bisa disadap. Ketangguhan
dalam mengantisipasi penggandaan nomor telepon terbukti dengan
digunakannya teknologi ini oleh Angkatan Darat Amerika Serikat
(US Army). Sejak perang dunia ke-II, US Army menggunakan CDMA
untuk berkoordinasi antarpasukan, dan untuk menghindari kemungkinan
penyadapan. Saat itu pula, teknologi CDMA dilarang digunakan
untuk keperluan sipil.
CDMA juga memancarkan seluruh frekuensinya sekaligus, tidak
membagi-bagi dalam sel-sel agar bisa digunakan di sel berseling
berikutnya, seperti yang dilakukan oleh GSM atau AMPS. Keunggulan-keunggulan
itu membuat CDMA lebih efisien, baik dibandingkan GSM, terlebih
dibandingkan AMPS yang sangat rawan sadap dan penggunaan spektrum
frekuensi yang termasuk boros. CDMA menggunakan seluruh spektrum
frekuensinya secara sekaligus, sehingga kemungkinan gagal
panggil (drop call) oleh penggunanya sangat minim. Baik di
AMPS maupun GSM, spektrum frekuensinya dibagi-bagi dan dipancarkan
kembali di sel-sel berikut yang berseling agar lebih efisien.
Namun, ketika seorang pengguna sedang bergerak dengan konsekuensi
pembicaraannya dioper-oper (handover) dari satu sel ke sel
berikut, kemungkinan drop call tetap saja ada.
Kalau sel berikut yang satu sektor bisa delapan kanal dipenuhi
oleh tujuh pengguna saja, ia tidak bisa masuk lagi, sehingga
pembicaraan terputus. Dalam layanan CDMA, frekuensi yang dipancarkan
seluruhnya ini menjamin pembicaraan tidak terputus. Kalaupun
sampai “tersandung” juga, masih banyak frekuensi
dari BTS (base transceiver) berdekatan yang bisa segera mengambil
alih. Sistem pemancaran frekuensinya memang tumpang tindih
(overlap), masing-masing BTS memancarkan frekuensi yang sama,
sehingga layanan kepada pelanggan sangat optimal.
Semua ini bisa dilakukan sebab CDMA tidak memerlukan channel
spacing sebagaimana halnya AMPS dan GSM, sementara AMPS membagi
frekuensinya dalam satuan 30 KHz dan GSM dalam 200 KHz. Dengan
pembagian itu, kalau tiap sektor dipancarkan 1,25 MHz, maka
AMPS bisa menyalurkan dua kanal pembicaraan, GSM bisa 2,375
kanal sementara CDMA mampu sampai 20 kanal. Itu sebabnya dengan
spektrum frekuensi yang sama, kapasitas CDMA 10 kali kemampuan
AMPS dan 8 kali kemampuan GSM. Dengan keunggulan ini, lebih
banyak kanal atau pelanggan yang ditampung dari satu kanal
yang sama dengan GSM atau AMPS, sehingga pelanggan CDMA tidak
perlu “berebut” untuk selalu bisa berkomunikasi
saat bergerak dan handover.
Bagaimana CDMA bisa menghasilkan suara dan kecanggihan tersebut?
Ketika seseorang menghubungi pengguna ponsel CDMA, di base
station milik operator, suara kemudian diubah menjadi kode
digital (bit). Lalu, kode digital tadi dimampatkan (compressed)
oleh alat yang disebut Vocoder. Keluar dari Vocoder, bit lalu
dilipatgandakan oleh alat yang disebut Convolutional Encoder,
sehingga mempunyai kecepatan transmisi hingga 19.200 bits
per second (bps). Kode yang telah dilipatgandakan tadi, kemudian
digandakan lagi sebanyak 64 kali dengan alat Walsh Code, yang
hasilnya disebut eksklusif OR.
Juga masih ada Pseudo-random Number (PN) Generator, yang akan
melipatgandakan kode-kode tersebut, sehingga pelipatgandaannya
mencapai 128 kali sejak kode-kode keluar dari Vocoder. Lalu,
kode-kode itu dikirim ke based transreceiver station (BTS)
yang paling dekat dengan pesawat ponsel yang dituju, yang
lalu dipancarkan ke ponsel. Di dalam ponsel CDMA, kode-kode
tersebut diurai lagi, dengan alat-alat serupa namun prosesnya
terbalik. Sehingga dapat diterima sebagai suara oleh si pemegang
ponsel.
Go to next page
|