IT & Communications Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
Dunia telekomunikasi seluler kini dikuasai dua standar yang tengah bersaing ketat, GSM dan CDMA. Meskipun dari sisi jumlah pengguna GSM lebih unggul, dari sisi teknologi beberapa kalangan mengklaim CDMA lebih baik. Namun, mengapa CDMA sulit merebut popularitas?
 

Perkembangan telepon seluler (ponsel) memang luar biasa. Para pengamat kelas dunia semula memperkirakan pertumbuhan seluler yang dianggap menjadi layanan premium (pelengkap dengan tarif lebih tinggi), akan melampui pertumbuhan fix line pada tahun 2004. Kenyataannya, di tahun 2002, fix line atau yang disebut dengan PSTN (public switched telephone network) baru mencapai 950 juta SST (satuan sambungan telepon), ketika seluler sudah melewati angka 1,2 milyar nomor di seluruh dunia.

Di Indonesia, penetrasi seluler juga luar biasa. Jika tahun 2001 angkanya masih sekitar 7 jutaan, di akhir tahun 2002 jumlahnya diperkirakan sudah mencapai 10 juta, bahkan 10,5 juta nomor. Padahal, telepon rumah yang sudah dibangun sejak 30-an tahun yang lalu baru mencapai 8,2 juta SST. Tetapi tahukah Anda, teknologi apa yang paling populer di antara para operator seluler tersebut? Mengapa pula teknologi itu yang mencorong?

Teknologi seluler di dunia diawali dengan teknologi AMPS (advance mobile phone system). Teknologi ponsel terus bergerak, dan kini sudah memasuki teknologi CDMA (code division multiple access). Kedua teknologi ini berasal dari Amerika Serikat (AS). AMPS sendiri pernah merajai dunia, khususnya di luar Eropa menjelang tahun 1990-an, ketika GSM (global system for mobile communications) masih dalam tahap uji coba. Kini, APMS mengalami kemunduran, kurang populer dan mulai digantikan CDMA.

Tidak ada yang salah dalam AMPS, seperti juga NMT (nordic mobile telephone) yang merupakan seluler pertama di dunia, kecuali bahwa keduanya sudah ketinggalan. Baik AMPS maupun NMT masih memakai cara analog dalam mentransmisikan suara, sementara GSM dan CDMA menggunakan digital yang lebih bermutu. NMT dan AMPS digolongkan orang sebagai seluler generasi pertama, sementara GSM, CDMA dan PDC (personal digital communication) dari Jepang, menjadi seluler generasi kedua.

Kini, setelah lebih sepuluh tahun sejak debutnya, GSM sudah berkembang pesat masuk ke generasi 2+. Bahkan, generasi kedua ini segera masuk ke generasi ketiga (G3) yang berupa CDMA pita lebar (WCDMA-wide band CDMA) yang menyajikan multimedia. Sebagai generasi antara, sudah muncul GPRS (general packet radio service) yang mengaplikasikan komunikasi data dan citra. Meskipun harus diakui, GPRS belum sesempurna WCDMA yang nantinya akan menyajikan citra yang bergerak.

Beda dengan PDC yang hanya digunakan di Jepang, CDMA digunakan secara luas, terutama di Amerika dan Asia. Pengguna CDMA di dunia cukup banyak, lebih dari 70 juta dan umumnya memuaskan, karena secara teknis CDMA lebih baik dari GSM yang diunggulkan oleh kelompok Eropa. Secara umum, dunia seluler dunia memang terbagi dalam dua kubu yang bersaing ketat, yaitu Eropa (utara) dan Amerika. Sementara teknologi Jepang berada di antaranya dan “tidak berarti apa-apa”, sebab sangat lokal.

Meski harus diakui, PDC juga tergolong GSM yang berbasis TDMA (time division multiple access), tetapi tidak bisa roaming dengan GSM. Di Jepang PDC masih digunakan, juga PHS (personal handyphone system) yang perangkatnya sangat mungil, tetapi teknologinya sangat terkucil, sendirian, dan tidak mendunia. Kedua teknologi Jepang ini sudah mulai berganti ke G3 yang dipelopori oleh NTT DoCoMo.



CDMA sebenarnya mengambil prinsip yang hampir sama dengan teknologi sebelumnya, yaitu AMPS atau Frequency Division Multiple Access (FDMA) dan GSM atau TDMA. Cuma, beda dengan GSM yang berdasarkan teknologi TDMA yang hanya mengacak suara yang dipancarkan, CDMA selain mengacak juga mentransmisikan suara dalam kode-kode sehingga sama sekali tidak bisa disadap. Ketangguhan dalam mengantisipasi penggandaan nomor telepon terbukti dengan digunakannya teknologi ini oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army). Sejak perang dunia ke-II, US Army menggunakan CDMA untuk berkoordinasi antarpasukan, dan untuk menghindari kemungkinan penyadapan. Saat itu pula, teknologi CDMA dilarang digunakan untuk keperluan sipil.

CDMA juga memancarkan seluruh frekuensinya sekaligus, tidak membagi-bagi dalam sel-sel agar bisa digunakan di sel berseling berikutnya, seperti yang dilakukan oleh GSM atau AMPS. Keunggulan-keunggulan itu membuat CDMA lebih efisien, baik dibandingkan GSM, terlebih dibandingkan AMPS yang sangat rawan sadap dan penggunaan spektrum frekuensi yang termasuk boros. CDMA menggunakan seluruh spektrum frekuensinya secara sekaligus, sehingga kemungkinan gagal panggil (drop call) oleh penggunanya sangat minim. Baik di AMPS maupun GSM, spektrum frekuensinya dibagi-bagi dan dipancarkan kembali di sel-sel berikut yang berseling agar lebih efisien. Namun, ketika seorang pengguna sedang bergerak dengan konsekuensi pembicaraannya dioper-oper (handover) dari satu sel ke sel berikut, kemungkinan drop call tetap saja ada.

Kalau sel berikut yang satu sektor bisa delapan kanal dipenuhi oleh tujuh pengguna saja, ia tidak bisa masuk lagi, sehingga pembicaraan terputus. Dalam layanan CDMA, frekuensi yang dipancarkan seluruhnya ini menjamin pembicaraan tidak terputus. Kalaupun sampai “tersandung” juga, masih banyak frekuensi dari BTS (base transceiver) berdekatan yang bisa segera mengambil alih. Sistem pemancaran frekuensinya memang tumpang tindih (overlap), masing-masing BTS memancarkan frekuensi yang sama, sehingga layanan kepada pelanggan sangat optimal.

Semua ini bisa dilakukan sebab CDMA tidak memerlukan channel spacing sebagaimana halnya AMPS dan GSM, sementara AMPS membagi frekuensinya dalam satuan 30 KHz dan GSM dalam 200 KHz. Dengan pembagian itu, kalau tiap sektor dipancarkan 1,25 MHz, maka AMPS bisa menyalurkan dua kanal pembicaraan, GSM bisa 2,375 kanal sementara CDMA mampu sampai 20 kanal. Itu sebabnya dengan spektrum frekuensi yang sama, kapasitas CDMA 10 kali kemampuan AMPS dan 8 kali kemampuan GSM. Dengan keunggulan ini, lebih banyak kanal atau pelanggan yang ditampung dari satu kanal yang sama dengan GSM atau AMPS, sehingga pelanggan CDMA tidak perlu “berebut” untuk selalu bisa berkomunikasi saat bergerak dan handover.

Bagaimana CDMA bisa menghasilkan suara dan kecanggihan tersebut? Ketika seseorang menghubungi pengguna ponsel CDMA, di base station milik operator, suara kemudian diubah menjadi kode digital (bit). Lalu, kode digital tadi dimampatkan (compressed) oleh alat yang disebut Vocoder. Keluar dari Vocoder, bit lalu dilipatgandakan oleh alat yang disebut Convolutional Encoder, sehingga mempunyai kecepatan transmisi hingga 19.200 bits per second (bps). Kode yang telah dilipatgandakan tadi, kemudian digandakan lagi sebanyak 64 kali dengan alat Walsh Code, yang hasilnya disebut eksklusif OR.
Juga masih ada Pseudo-random Number (PN) Generator, yang akan melipatgandakan kode-kode tersebut, sehingga pelipatgandaannya mencapai 128 kali sejak kode-kode keluar dari Vocoder. Lalu, kode-kode itu dikirim ke based transreceiver station (BTS) yang paling dekat dengan pesawat ponsel yang dituju, yang lalu dipancarkan ke ponsel. Di dalam ponsel CDMA, kode-kode tersebut diurai lagi, dengan alat-alat serupa namun prosesnya terbalik. Sehingga dapat diterima sebagai suara oleh si pemegang ponsel.

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved