|

continued from previous page
Optimalisasi
Penerapan TI: Tanggung Jawab Siapa?
Saya sangat tertarik dengan
majalah eBizzAsia yang sangat fokus membicarakan masalah TI
dan eBusiness. Namun saya memiliki beberapa pertanyaan, semoga
tidak keberatan menjawabnya. Perusahaan kami memang telah
menerapkan teknologi informasi, namun saya merasa masih belum
optimal, karena masih banyak aspek yang belum terdukung oleh
keberadaan perangkat TI tersebut. Pertimbangan apa saja yang
mesti kami lakukan untuk benar-benar secara penuh kami bisa
meningkatkan bisnis kami melalui penerapan TI? Apakah penggunaan
komputer, pada saat yang sama, telah mampu mendukung keberhasilan?
Apakah persoalan TI hanya semata-mata persoalan orang-orang
EDP? Bagaimana kami harus melihatnya kembali agar penerapan
TI bisa lebih memberi manfaat yang optimal?
Kaka Siswoyo, Manager IT, Jakarta
Banyak cara untuk dapat mengetahui dan membuktikan klaim anda
sehubungan dengan belum optimalnya penggunaan teknologi informasi
di dalam sebuah perusahaan. Cara yang paling mudah adalah
dengan melakukan perbandingan dengan perusahaan sejenis (benchmarking)
atau belajar dari perusahaan yang dianggap sebagai terbaik
dalam menerapkan teknologi informasi pada industri serupa
(best practices). Saran saya adalah anda mulai menentukan
sebuah konsep pengukuran kinerja teknologi informasi yang
dapat menjadi panduan/patokan dalam menentukan apakah dari
hari ke hari terjadi peningkatan dalam optimalisasi penggunaan
teknologi informasi di berbagai proses dan fungsi terkait
dengan bisnis perusahaan anda. Misalnya adalah dengan menggunakan
konsep semacam IT Balanced-Scorecard atau IS Maturity Model
(seperti COBIT = Control Objectives for Information and Related
Technology). Karena ada pepatah mengatakan “something
that cannot be measured, cannot be controlled”, dan
“something that cannot be controlled, cannot be managed”.
Anda harus memiliki ukuran untuk mengukur kinerja teknologi
informasi.
Agar penerapan teknologi informasi di perusahaan anda dapat
berhasil, dalam arti kata penggunaan komputer dan aplikasinya
dapat mendukung keberhasilan usaha, anda harus dapat menemukan
konteks yang tepat di dalam mengkaitkan berbagai inisiatif
proyek pengembangan dan implementasi teknologi informasi dengan
obyektif bisnis perusahaan (yang merupakan ukuran dari penurunan
visi dan misi perusahaan).
Hal ini perlu dilakukan karena banyak sekali perusahaan di
Indonesia yang gagal dalam menerapkan teknologi informasi
karena penerapannya hanya didasarkan oleh sikap latah atau
mengikuti trend semata (me too strategy). Perlu diingat bahwa
setiap perusahaan adalah unik (tidak ada perusahaan yang identik,
walaupun dalam bisnis dan industri sejenis), sehingga kebutuhannya
akan teknologi informasi pasti berbeda-beda, dan bergantung
pada strategi bisnis yang diterapkan.
Persoalan teknologi informasi bukan hanya merupakan orang-orang
EDP (jika hal ini terjadi, berarti kita mundur 40 tahun ke
belakang) tetapi merupakan persoalan segenap SDM perusahaan,
dari manajemen puncak sampai dengan level staf. Alasannya
adalah karena “informasi” telah menjadi sebuah
faktor produksi penting yang bersifat krusial bagi perusahaan,
sehingga merupakan sebuah entiti yang bernilai strategis –
sebagaimana layaknya fungsi darah di dalam tubuh manusia yang
mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh (teknologi informasi
bertugas mendistribusikan knowledge ke seluruh entiti perusahaan
yang membutuhkan).
Agar manfaat optimal dapat diperoleh oleh perusahaan anda,
ada baiknya segenap manajemen kunci perusahaan berkumpul untuk
meredefinisikan kembali fungsi dan peranan strategis teknologi
informasi bagi perusahaan, tentu saja setelah mereka yang
bersangkutan memahami berbagai fenomena baru di dalam dunia
bisnis akibat kehadiran teknologi informasi.•
Penerapan
TI, Meningkatkan Daya Saing
Pak Eko, saya ingin bertanya kepada Bapak berkenaan dengan
masalah eBusiness. Dalam penerapan CRM, kabarnya sebagian
besar perusahaan mengalami kegagalan. Bagaimana melihat masalah
ini secara lebih proporsional? Apakah benar yang justru harus
menjadi perhatian kita adalah bagaimana menyesuaikannya dengan
tingkat kebutuhan kita? Benarkah memang kita harus masuk ke
dalam penerapan eBusiness kalau kita akan berhasil dalam menghadapi
persaingan bisnis ke depan? Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai
hal tersebut.
Nana H, Marketing Manager,
Jakarta
Di negara berkembang seperti Indonesia, setiap penerapan berbagai
inisiatif konsep teknologi informasi – seperti Customer
Relationship Management – harus selalu diiringi dengan
program change management atau manajemen perubahan. Kebanyakan
kegagalan dalam penerapan CRM terjadi karena manajemen perusahaan
hanya menekankan pada aspek teknologinya semata, tanpa menyadari
pentingnya mengelola perubahan itu sendiri yang berfokus pada
aspek sumber daya manusia. Dalam menerapkan konsep CRM, terlihat
adanya dua pihak yang akan berinterksi secara intensif melalui
pemanfaatan aplikasi teknologi informasi, yaitu pihak perusahaan
- yang diwakili oleh sejumlah representatives seperti customer
service, help desk, salesman, dan lain sebagainya - dengan
pihak pelanggan atau konsumen itu sendiri. Hubungan yang secara
tradisional selalu dilakukan melalui mekanisme pertemuan fisik
tersebut (face-to-face) akan diubah menjadi sebuah mekanisme
berbasis teknologi informasi. Tentu saja perubahan “budaya
berinteraksi” ini merupakan hal yang baru bagi kedua
belah pihak, sehingga proses perubahan harus dikelola secara
baik agar hasilnya efektif. Peribahasa yang kerap saya pergunakan
sebagai pedoman dalam berbagai usaha manajemen untuk membiasakan
mereka dalam menggunakan berbagai teknologi baru adalah “tak
kenal maka tak sayang” dan “ala bisa karena biasa”.
Memang benar, bahwa teknologi informasi yang dikembangkan
harus sesuai dengan tingkat kebutuhan perusahaan agar penerapannya
tidak kehilangan konteks (adanya hubungan yang jelas antara
pengembangan teknologi informasi dengan strategi pencapaian
visi dan misi perusahaan). Di satu titik ekstrim, perusahaan
menerapkan CRM karena alasan survival yang dipacu karena tingginya
persaingan di era globalisasi, sementara di titik ekstrim
yang lain, perusahaan berusaha untuk menerapkan CRM karena
manajemen melihat sejumlah peluang bisnis baru yang ada. Oleh
karena itulah sebelum memutuskan untuk memilih teknologi mana
yang sesuai, perusahaan harus melakukan proses analisa kebutuhan
(requirements analysis) terlebih dahulu. Adalah merupakan
suatu keharusan bagi perusahaan untuk memiliki sebuah masterplan
perencanaan dan pengembangan teknologi informasinya yang didasarkan
pada dokumen business plan atau strategi perencanaan dan pengembangan
bisnis korporat.
Telah
menjadi bukti bahwa perusahaan yang berhasil menjadi besar
dan sukses di era globalisasi dunia ini adalah mereka yang
berhasil mengawinkan konsep manajemen konvensional yang berbasis
sumber daya fisik dengan paradigma perusahaan di era ekonomi
digital yang berbasis informasi. Dengan kata lain, informasi
telah menjadi faktor produksi penting kelima disamping sumber
daya 4M yang telah kita kenal (men, money, machines/methods,
dan materials). Dengan kata lain, penerapan konsep e-business
yang pada dasarnya merupakan suatu inisiatif memanfaatkan
teknologi internet sebagai medium dan sarana efektif dalam
berbagai usaha melakukan proses pertukaran barang dan/atau
jasa antara berbagai perusahaan menjadi hal yang krusial (jika
perusahaan ingin tetap dapat memiliki daya saing di dalam
arena kompetisi yang semakin marak dan kompleks).•
Go back to previous page
|