|


Pak Eko, saya tertarik dengan
rubrik yang Anda asuh. Saya bekerja di sebuah perusahaan farmasi
di Medan, dan saya memiliki beberapa pertanyaan. Apakah dalam
industri farmasi khususnya, juga diperlukan penerapan eBusiness
untuk meningkatkan bisnisnya? Sampai sejauhmana kepentingannya
di lingkungan industri farmasi ini? Bisa nggak ditunjukkan
perusahaan farmasi apa saja yang telah menerapkan eBusiness
atau TI yang berhasil mendongkrak kinerja perusahaannya? Terima
kasih atas jawabannya.
Basuki Siagian, Assistant Production
Manager Medan
Berdasarkan laporan riset dan statistik, di Amerika, industri
yang berkaitan dengan healthcare merupakan satu dari 5 (lima)
industri dengan nilai transaksi e-business terbesar. Paling
tidak terdapat 3 (tiga) penerapan aplikasi e-business yang
diterapkan oleh beragam perusahaan di dalam industri farmasi,
yaitu:
• Enterprise Resource Planning (ERP) –
yang merupakan konsep pengintegrasian berbagai divisi atau
unit di dalam perusahaan berdasarkan proses bisnis yang berlaku.
Tujuan dari ERP ini adalah terjadinya optimalisasi di dalam
pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan, seperti:
uang, manusia, material, bahan mentah, mesin, informasi, produk
jadi, dan lain sebagainya. Adapun proses bisnis yang dimaksud
antara lain: pengadaan, penyimpanan, distribusi, pemasaran,
penjualan, perencanaan, dan lain sebagainya.
• Supply Chain Management (SCM) – yang
merupakan konsep pengintegrasian antara perusahaan dengan
sejumlah mitra bisnisnya, terutama para pemasok (supplier)
berbagai kebutuhan proses produksi; dan
• Customer Relationship Management (CRM) -
yang merupakan konsep pengintegrasian perusahaan dengan para
pelanggannya agar tercipta suatu relasi atau hubungan yang
mengarah pada terciptanya pelanggan yang loyal (long life
customers).
Dalam industri farmasi, pengelolaan dan strategi yang baik
terhadap penerapan ketiga konsep di atas akan mendatangkan
keunggulan kompetitif tersendiri bagi perusahaan. Implementasi
ERP secara efektif akan membuat proses bisnis di dalam perusahaan
menjadi lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah. Di pihak
lain, penerapan SCM yang tepat akan dapat meningkatkan efisiensi
dan service level dari perusahaan, terutama yang berkaitan
dengan proses distribusi dan transportasi. Sementara itu penerapan
konsep CRM diharapkan akan mempertahankan bahkan memperluas
basis pelanggan pada pasar industri farmasi yang ada.
Terdapat ribuan perusahaan farmasi yang telah sukses menerapkan
berbagai konsep teknologi informasi, khususnya yang berkaitan
dengan e-business. Melalui search engine seperti www.google.com
anda dapat memperoleh berbagai informasi terkait dengan hal
ini. Saran saya adalah menggunakan beberapa variasi search
key sebagai berikut:
e-business + pharmacy + “success story”
atau e-business + “pharmaceutical industry”
Sementara itu jika ingin mendapatkan informasi mengenai perusahaan
farmasi lokal yang telah menerapkan e-business, anda dapat
menggunakan search key seperti:
farmasi + e-business.
Apa
Pertimbangan Menerapkan ERP, SCM atau CRM
Pertama, saya berterima kasih dengan hadirnya majalah eBizzAsia.
Rubrik yang Pak Eko asuh ini juga menarik minat saya. Saya
bekerja di suatu perusahaan manufaktur. Apa yang seharusnya
menjadi pertimbangan perusahaan saya dalam menerapkan ERP,
SCM atau CRM? Bisakah dirinci lebih jauh? Terima kasih.
Ridwan Mantani, Manajer
Produksi, PT. Citrawangi Sejahtera
Dalam berbagai kesempatan kami selalu mengatakan bahwa pertimbangan
utama yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan agar
dapat secara efektif berhasil menerapkan konsep-konsep berbasis
TI, seperti ERP, SCM, atau CRM adalah kemauan masing-masing
pihak terkait (SDM perusahaan) untuk berubah. Paling tidak
melakukan revolusi pemikiran dalam menghadapi persaingan ketat
dan dinamika bisnis yang terjadi belakangan ini. Perubahan
tersebut menyangkut dua hal, yaitu berhubungan dengan aspek
“informasi” dan “teknologi”.
Perusahaan harus dapat memahami dan memperoleh keyakinan bahwa
“informasi” merupakan faktor produksi yang penting
di samping faktor 4M lainnya (materials, machines, money,
dan men). Bayangkan jika sebuah perusahaan besar telah memiliki
4M tersebut, tetapi tidak memiliki informasi yang akurat mengenai
keadaan industri, kebutuhan pasar, dan perilaku pelanggannya
– bisa-bisa semua sumber daya fisik yang dimiliki dapat
lenyap dalam waktu singkat dan perusahaan dapat bangkrut dalam
waktu cepat.
Aplikasi ERP, SCM, dan CRM pada dasarnya bekerja berdasarkan
proses yang berkaitan dengan mekanisme penciptaan informasi
dan penyeberannya ke berbagai entiti organisasi yang membutuhkannya.
Di bagian muka (front office) yang berhadapan langsung dengan
pelanggan, terdapat aplikasi CRM yang bertujuan agar perusahaan
dapat menjalin relasi/hubungan intim dengan customer-nya,
sehingga yang bersangkutan akan menjadi pelanggan yang loyal.
Sementara itu, berdasarkan kebutuhan pelanggan tersebutlah
maka perusahaan harus menerapkan konsep ERP, yang pada dasarnya,
memberikan keleluasaan kepada perusahaan untuk dapat melakukan
pengelolaan terhadap seluruh sumber daya yang dimilikinya
agar efektif, efisien, dan terkontrol secara menyeluruh (holistik)
dan terintegrasi (berbasis proses dan lintas fungsi). Karena
merupakan suatu kenyataan, bahwa dalam usahanya untuk menciptakan
produk dan jasanya perusahaan tidak dapat bekerja sendiri,
alias membutuhkan kehadiran mitra bisnis yang menyediakan
berbagai sumber daya yang dibutuhkan (bahan mentah, material,
finansial, dsb.), maka perlu dikembangkan suatu sistem yang
mengintegrasikan proses perusahaan tersebut dengan para mitra
pemasoknya; di sinilah dibutuhkan penerapan konsep SCM.
Di samping menjadi seseorang yang memiliki “information
literacy” yang tinggi, perusahaan juga harus mendorong
SDM-nya untuk menjadi seorang yang “technology literate”,
atau mampu dan bersedia menggunakan teknologi-teknologi terkait,
yang dapat membantu mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Peribahasa semacam “tak kenal maka tak sayang”
dan “ala bisa karena biasa” dapat dijadikan pedoman
perusahaan untuk dapat membuat SDM-nya “mencitai”
teknologi informasi.•
Bagaimana
Menerapkan eBusiness Efektif
Saya mengikuti Kolom Tanya Jawab
ini sejak edisi pertama, dan saya memiliki sejumlah pertanyaan.
Harapan saya Bapak tidak berkeberatan untuk menjawabnya. Pertimbangan
apa saja yang mesti kami lakukan dalam menerapkan eBusiness
yang efektif, tetapi dengan biaya yang terjangkau? Apakah
harus dimulai dengan bidang-bidang tertentu yang menurut kami
strategis, atau sejauh mana komitmen pimpinan atau pemilik
terhadap eBusiness itu sendiri? Apakah pilihan penggunaan
software menjadi sangat penting, misalnya menggunakan software
linux atau yang lainnya? Sampai sejauhmana linux cukup kredibel
dalam penggunaan di perusahaan?
Winata Sugiya, Opeartion Manager,
Bandung
Di dalam bisnis, pertimbangan untung-rugi dan/atau analisa
biaya-manfaat kerap mendominasi keputusan manajemen puncak
dalam usahanya untuk mengambil keputusan seberapa jauh mereka
akan melangkah untuk menentukan tingkat penggunaan teknologi
informasi di perusahaannya. Dalam hal ini, menghitung biaya
yang dikeluarkan biasanya lebih mudah dibandingkan dengan
mengukur manfaat yang diperoleh – karena kebanyakan
manfaat dari teknologi informasi tersebut bersifat intangible
(dirasakan positif, tetapi tidak berhubungan lansung dengan
profitabilitas perusahaan) dan unquantifiable (tidak dapat
dinyatakan dalam ukuran kuantitatif). Jika anda ingin menerapkan
konsep e-business, pergunakanlah dua buah ukuran dasar terlebih
dahulu, yaitu masing-masing:
• apakah dengan diterapkannya e-business, perusahaan
anda telah berhasil meningkatkan efisiensi (optimalisasi)
penggunaan sumber daya di berbagai entiti perusahaan? (biasanya
hal ini berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menurunkan
biaya operasional)
• apakah dengan diterapkannya e-business, perusahaan
anda berhasil memperoleh peluang baru dalam berbisnis? (biasanya
hal ini berkaitan dengan usaha perusahaan untuk meningkatkan
dan/atau mencari sumber pendapatan baru)
Bagi perusahaan-perusahaan besar di dunia, biasanya mereka
tidak terlampau mengambil pusing untuk menilai apakah investasi
mereka layak atau tidak, karena yang bersangkutan memang sudah
yakin bahwa penerapan teknologi informasi pasti akan meningkatkan
daya saing usaha. Namun bagi perusahaan berskala kecil dan
menengah di Indonesia, biasanya lebih tertarik pada penerapan
teknologi informasi yang bersifat “tepat guna”.
Mulailah penerapan e-business pada proses-proses inti perusahaan,
dalam arti kata sejumlah rangkaian aktivitas yang berkaitan
langsung dengan core business perusahaan, agar manfaatnya
dapat secara langsung dirasakan oleh para pelanggan. Setelah
itu barulah perlahan-lahan diterapkan di berbagai proses pendukung
lainnya (misalnya proses pada aktivitas backoffice). Tentu
saja untuk dapat memilih dan menentukan proses-proses perusahaan
perlu dilibatkan segenap pimpinan puncak manajemen. Komitmen
pimpinan dan pemilik perusahaan harus dinyatakan paling tidak
dalam 4 (empat) hal, masing-masing berhubungan dengan aspek:
kepemimpinan (leadership) yang diperlihatkan melalui keyakinannya
akan penerapan teknologi informasi di perusahaan, keterlibatannya
dalam usaha untuk merubah paradigma segenap SDM perusahaan
di dalam era informasi (change management), kemampuannya dalam
membuat roadmap atau peta arah pengembangan teknologi informasi
di perusahaan, dan kesediannya untuk mengalokasikan sejumlah
waktu, biaya, dan sumber daya terkait lainnya untuk mengembangkan
teknologi ini di perusahaan (technology deployment).
Mengenai strategi pemilihan perangkat lunak (software), tentu
saja hal ini sangat terkait dengan kebutuhan perusahaan dan
kemampuan sumber daya finansialnya. Berdasarkan pengalaman
saya, sistem operasi Linux beserta keluarga aplikasinya memiliki
kinerja dan kualitas yang tidak kalah dengan sistem operasi
maupun aplikasi komersial lainnya. Yang penting adalah tersedianya
SDM yang cukup memahami dan menguasai berbagai portofolio
perangkat lunak berbasis Linux ini.•
Go to next page
|