Question & Answer Volume I Nomor 04 -Februari 2003


DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A. dilahirkan di Jakarta pada 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada 1992. Setelah memperoleh gelar insinyur di bidang teknik komputer, Eko berhasil mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk melanjutkan studi pasca sarjananya di Amerika. Pada 1993, Eko diterima di Harvard University dan berhasil mendapatkan gelar Master of Applied Computer Science pada 1995. Pada saat yang sama, Eko belajar pula di Boston University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sekembalinya ke tanah air, Eko bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan multinasional sambil mengambil program jarak jauh Master of Business Administration di Leicester University, Inggris. Kemudian Eko mengambil program riset doctoral dari University of the City of Manila dan berhasil mendapatkan gelar Doctor of Business Administration pada pertengahan 1999. Saat ini, selain bekerja sebagai konsultan independen yang telah membantu sejumlah perusahaan swasta di berbagai jenis industri dan institusi pemerintahan dalam merencanakan dan mengembangkan teknologi informasinya Eko juga aktif mengajar di beberapa universitas terkemuka di Indonesia, seperti Program Pasca-Sarjana Universitas Bina Nusantara-Curtin University, Program Sarjana ITS Surabaya Program Magister Komputer Teknologi Informasi Universitas Indonesia, dan Institut Kesenian Jakarta. Di samping mengajar Eko berperan secara aktif sebagai konsultan dan peneliti khusus Kelompok Kerja Ketahanan Nasional dan Wakil Ketua Kelompok Kerja Sistem Manajemen Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tak kurang dari 12 buku telah ditulisnya, yang mencakup Teknologi Informasi, eBusiness, Supply Chain Management (SCM), Linux, Penuntun Mencari Informasi di Internet, dan lain sebagainya.•
 


Pak Eko, saya tertarik dengan rubrik yang Anda asuh. Saya bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Medan, dan saya memiliki beberapa pertanyaan. Apakah dalam industri farmasi khususnya, juga diperlukan penerapan eBusiness untuk meningkatkan bisnisnya? Sampai sejauhmana kepentingannya di lingkungan industri farmasi ini? Bisa nggak ditunjukkan perusahaan farmasi apa saja yang telah menerapkan eBusiness atau TI yang berhasil mendongkrak kinerja perusahaannya? Terima kasih atas jawabannya.
Basuki Siagian, Assistant Production Manager Medan

Berdasarkan laporan riset dan statistik, di Amerika, industri yang berkaitan dengan healthcare merupakan satu dari 5 (lima) industri dengan nilai transaksi e-business terbesar. Paling tidak terdapat 3 (tiga) penerapan aplikasi e-business yang diterapkan oleh beragam perusahaan di dalam industri farmasi, yaitu:

Enterprise Resource Planning (ERP) – yang merupakan konsep pengintegrasian berbagai divisi atau unit di dalam perusahaan berdasarkan proses bisnis yang berlaku. Tujuan dari ERP ini adalah terjadinya optimalisasi di dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki perusahaan, seperti: uang, manusia, material, bahan mentah, mesin, informasi, produk jadi, dan lain sebagainya. Adapun proses bisnis yang dimaksud antara lain: pengadaan, penyimpanan, distribusi, pemasaran, penjualan, perencanaan, dan lain sebagainya.

Supply Chain Management (SCM) – yang merupakan konsep pengintegrasian antara perusahaan dengan sejumlah mitra bisnisnya, terutama para pemasok (supplier) berbagai kebutuhan proses produksi; dan

Customer Relationship Management (CRM) - yang merupakan konsep pengintegrasian perusahaan dengan para pelanggannya agar tercipta suatu relasi atau hubungan yang mengarah pada terciptanya pelanggan yang loyal (long life customers).

Dalam industri farmasi, pengelolaan dan strategi yang baik terhadap penerapan ketiga konsep di atas akan mendatangkan keunggulan kompetitif tersendiri bagi perusahaan. Implementasi ERP secara efektif akan membuat proses bisnis di dalam perusahaan menjadi lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah. Di pihak lain, penerapan SCM yang tepat akan dapat meningkatkan efisiensi dan service level dari perusahaan, terutama yang berkaitan dengan proses distribusi dan transportasi. Sementara itu penerapan konsep CRM diharapkan akan mempertahankan bahkan memperluas basis pelanggan pada pasar industri farmasi yang ada.

Terdapat ribuan perusahaan farmasi yang telah sukses menerapkan berbagai konsep teknologi informasi, khususnya yang berkaitan dengan e-business. Melalui search engine seperti www.google.com anda dapat memperoleh berbagai informasi terkait dengan hal ini. Saran saya adalah menggunakan beberapa variasi search key sebagai berikut:
e-business + pharmacy + “success story” atau e-business + “pharmaceutical industry”
Sementara itu jika ingin mendapatkan informasi mengenai perusahaan farmasi lokal yang telah menerapkan e-business, anda dapat menggunakan search key seperti:
farmasi + e-business.

Apa Pertimbangan Menerapkan ERP, SCM atau CRM

Pertama, saya berterima kasih dengan hadirnya majalah eBizzAsia. Rubrik yang Pak Eko asuh ini juga menarik minat saya. Saya bekerja di suatu perusahaan manufaktur. Apa yang seharusnya menjadi pertimbangan perusahaan saya dalam menerapkan ERP, SCM atau CRM? Bisakah dirinci lebih jauh? Terima kasih.
Ridwan Mantani, Manajer Produksi, PT. Citrawangi Sejahtera

Dalam berbagai kesempatan kami selalu mengatakan bahwa pertimbangan utama yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan agar dapat secara efektif berhasil menerapkan konsep-konsep berbasis TI, seperti ERP, SCM, atau CRM adalah kemauan masing-masing pihak terkait (SDM perusahaan) untuk berubah. Paling tidak melakukan revolusi pemikiran dalam menghadapi persaingan ketat dan dinamika bisnis yang terjadi belakangan ini. Perubahan tersebut menyangkut dua hal, yaitu berhubungan dengan aspek “informasi” dan “teknologi”.

Perusahaan harus dapat memahami dan memperoleh keyakinan bahwa “informasi” merupakan faktor produksi yang penting di samping faktor 4M lainnya (materials, machines, money, dan men). Bayangkan jika sebuah perusahaan besar telah memiliki 4M tersebut, tetapi tidak memiliki informasi yang akurat mengenai keadaan industri, kebutuhan pasar, dan perilaku pelanggannya – bisa-bisa semua sumber daya fisik yang dimiliki dapat lenyap dalam waktu singkat dan perusahaan dapat bangkrut dalam waktu cepat.

Aplikasi ERP, SCM, dan CRM pada dasarnya bekerja berdasarkan proses yang berkaitan dengan mekanisme penciptaan informasi dan penyeberannya ke berbagai entiti organisasi yang membutuhkannya. Di bagian muka (front office) yang berhadapan langsung dengan pelanggan, terdapat aplikasi CRM yang bertujuan agar perusahaan dapat menjalin relasi/hubungan intim dengan customer-nya, sehingga yang bersangkutan akan menjadi pelanggan yang loyal.

Sementara itu, berdasarkan kebutuhan pelanggan tersebutlah maka perusahaan harus menerapkan konsep ERP, yang pada dasarnya, memberikan keleluasaan kepada perusahaan untuk dapat melakukan pengelolaan terhadap seluruh sumber daya yang dimilikinya agar efektif, efisien, dan terkontrol secara menyeluruh (holistik) dan terintegrasi (berbasis proses dan lintas fungsi). Karena merupakan suatu kenyataan, bahwa dalam usahanya untuk menciptakan produk dan jasanya perusahaan tidak dapat bekerja sendiri, alias membutuhkan kehadiran mitra bisnis yang menyediakan berbagai sumber daya yang dibutuhkan (bahan mentah, material, finansial, dsb.), maka perlu dikembangkan suatu sistem yang mengintegrasikan proses perusahaan tersebut dengan para mitra pemasoknya; di sinilah dibutuhkan penerapan konsep SCM.

Di samping menjadi seseorang yang memiliki “information literacy” yang tinggi, perusahaan juga harus mendorong SDM-nya untuk menjadi seorang yang “technology literate”, atau mampu dan bersedia menggunakan teknologi-teknologi terkait, yang dapat membantu mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Peribahasa semacam “tak kenal maka tak sayang” dan “ala bisa karena biasa” dapat dijadikan pedoman perusahaan untuk dapat membuat SDM-nya “mencitai” teknologi informasi.•

Bagaimana Menerapkan eBusiness Efektif

Saya mengikuti Kolom Tanya Jawab ini sejak edisi pertama, dan saya memiliki sejumlah pertanyaan. Harapan saya Bapak tidak berkeberatan untuk menjawabnya. Pertimbangan apa saja yang mesti kami lakukan dalam menerapkan eBusiness yang efektif, tetapi dengan biaya yang terjangkau? Apakah harus dimulai dengan bidang-bidang tertentu yang menurut kami strategis, atau sejauh mana komitmen pimpinan atau pemilik terhadap eBusiness itu sendiri? Apakah pilihan penggunaan software menjadi sangat penting, misalnya menggunakan software linux atau yang lainnya? Sampai sejauhmana linux cukup kredibel dalam penggunaan di perusahaan?
Winata Sugiya, Opeartion Manager, Bandung

Di dalam bisnis, pertimbangan untung-rugi dan/atau analisa biaya-manfaat kerap mendominasi keputusan manajemen puncak dalam usahanya untuk mengambil keputusan seberapa jauh mereka akan melangkah untuk menentukan tingkat penggunaan teknologi informasi di perusahaannya. Dalam hal ini, menghitung biaya yang dikeluarkan biasanya lebih mudah dibandingkan dengan mengukur manfaat yang diperoleh – karena kebanyakan manfaat dari teknologi informasi tersebut bersifat intangible (dirasakan positif, tetapi tidak berhubungan lansung dengan profitabilitas perusahaan) dan unquantifiable (tidak dapat dinyatakan dalam ukuran kuantitatif). Jika anda ingin menerapkan konsep e-business, pergunakanlah dua buah ukuran dasar terlebih dahulu, yaitu masing-masing:

• apakah dengan diterapkannya e-business, perusahaan anda telah berhasil meningkatkan efisiensi (optimalisasi) penggunaan sumber daya di berbagai entiti perusahaan? (biasanya hal ini berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menurunkan biaya operasional)
• apakah dengan diterapkannya e-business, perusahaan anda berhasil memperoleh peluang baru dalam berbisnis? (biasanya hal ini berkaitan dengan usaha perusahaan untuk meningkatkan dan/atau mencari sumber pendapatan baru)

Bagi perusahaan-perusahaan besar di dunia, biasanya mereka tidak terlampau mengambil pusing untuk menilai apakah investasi mereka layak atau tidak, karena yang bersangkutan memang sudah yakin bahwa penerapan teknologi informasi pasti akan meningkatkan daya saing usaha. Namun bagi perusahaan berskala kecil dan menengah di Indonesia, biasanya lebih tertarik pada penerapan teknologi informasi yang bersifat “tepat guna”.

Mulailah penerapan e-business pada proses-proses inti perusahaan, dalam arti kata sejumlah rangkaian aktivitas yang berkaitan langsung dengan core business perusahaan, agar manfaatnya dapat secara langsung dirasakan oleh para pelanggan. Setelah itu barulah perlahan-lahan diterapkan di berbagai proses pendukung lainnya (misalnya proses pada aktivitas backoffice). Tentu saja untuk dapat memilih dan menentukan proses-proses perusahaan perlu dilibatkan segenap pimpinan puncak manajemen. Komitmen pimpinan dan pemilik perusahaan harus dinyatakan paling tidak dalam 4 (empat) hal, masing-masing berhubungan dengan aspek: kepemimpinan (leadership) yang diperlihatkan melalui keyakinannya akan penerapan teknologi informasi di perusahaan, keterlibatannya dalam usaha untuk merubah paradigma segenap SDM perusahaan di dalam era informasi (change management), kemampuannya dalam membuat roadmap atau peta arah pengembangan teknologi informasi di perusahaan, dan kesediannya untuk mengalokasikan sejumlah waktu, biaya, dan sumber daya terkait lainnya untuk mengembangkan teknologi ini di perusahaan (technology deployment).

Mengenai strategi pemilihan perangkat lunak (software), tentu saja hal ini sangat terkait dengan kebutuhan perusahaan dan kemampuan sumber daya finansialnya. Berdasarkan pengalaman saya, sistem operasi Linux beserta keluarga aplikasinya memiliki kinerja dan kualitas yang tidak kalah dengan sistem operasi maupun aplikasi komersial lainnya. Yang penting adalah tersedianya SDM yang cukup memahami dan menguasai berbagai portofolio perangkat lunak berbasis Linux ini.•

Go to next page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved