Bagaimana
Anda melihat perkembangan ICT di Indonesia terutama saat ini?
Saya lihat PT Telkom. Saya lihat IT Leadershipnya di sana
jutsru di atas rata-rata kalangan pemerintahan. Visinya sudah
sama dengan kalangan perbankan swasta papan atas.
Bisa dijelaskan yang dimaksud
dengan IT Leadership?
IT itu hanya salah satu bagian dari korporasi. Biasanya yang
menjadi lawan orang-rang dari bagian ini adalah orang-orang
keuangan. Semuanya bergantung pada pemberian pemahaman dari
orang-orang IT bahwa IT bukan sekedar cost tapi tools efisiensi.
Itu sebabnya perlu pembangkitan pemahaman yang serupa dari
bagian-bagian lain dalam perusahaan.
Artinya IT itu sebagai investasi,
dan bukan sekedar spending?
Ya, investasi yang nantinya bisa dinikmati ROI-nya
Lantas ROInya dari mana?
IT ini intangible. Kalau beli software sebenarnya yang dibeli
servicesnya. Beda jika kita membeli mobil atau gedung yang
secara fisik terlihat. IT kebanyakan intangible karena untuk
mempercepat penyelesaian pekerjaan. Kalau dulu dikerjakan
tiga orang dalam waktu lima hari, maka sekarang dikerjakan
seorang dalam berapa jam. Yang dicari adalah bagaimana menerjemahkannya
ke dalam bahasa finance. Katakanlah dibandingkan antara komputer
baru dengan komputer lama, maka akan terjadi penghematan dalam
man hour-nya. Penggunaan sebuah aplikasi harus diterjemahkan
ke dalam bahasa marketing, yaitu dengan aplikasi X maka lebih
banyak pelanggan yang bisa dijangkau perusahaan.
Bagaimana dengan implementasi
ICT terutama dari aplikasinya?
Saya lihat cukup tinggi dan tidak kalah dengan negara-negara
ASEAN lainnya, tapi porsinya yang justru kecil. Kalau ditanya
apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia juga menggunakan
software terbaru dan teratas, jawabannya pasti ya. Misalnya
ketika XP diluncurkan, saya yakin sebagian besar user sudah
menggunakannya. Itu diluar dari bajakan atau asli. Hanya saja
user di sini sangat sedikit dibanding dengan jumlah user di
kawasan ASEAN. Tingkat serapannya tinggi, tapi tingkat sebarannya
yang rendah karena terbatas pada perusahaan-perusahaan besar
dan itu-itu juga.
Kenapa bisa begitu?
Dari sisi orangnya sudah jelas bahwa di perusahaan-perusahaan
tersebut ada IT leadereship yang mendrivenya. Misalnya di
Telkom, Indofood dan BCA. Selain itu, jelas ada dananya. Apakah
perusahaan di luar itu mampu membelinya, saya belum lihat
saatnya.
Belum saatnya atau belum membutuhkan?
Sebenarnya sudah membutuhkan. Ini pengalaman di Intel yang
sudah menerapkan e-corporate secara menyeluruh. Itu memang
memudahkan. Ada waktu yang dihemat dan ada proses yang dipersingkat.
Kalau itu diterapkan ke seluruh perusahaan maka jelas akan
lebih nyaman. Misalnya yang tadinya costnya tinggi maka bisa
diminimasikan, hanya untu, bisa ke sana diperlukan investasi.
Jadi kalau dibilang membutuhkan, pasti membutuhkan hanya seberapa
jauh mereka punya kesadaran, IT leadership dan dana untuk
merealisasikannya.
Langkah
yang ditempuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi dengan
membuat Sistim Informasi Nasional bagaimana?
Langkah itu bagus sebenarnya, tapi jangan melupakan sejarah
bahwa di sini yang menggongkan sebuah rencana kerja besar
harus dan tetap harus dilakukan sendiri oleh presiden secara
langsung. Endorsement harus datang dari tingkat tertinggi,
kalau sekedar menteri kayaknya bakalan dicuekin dan itu terasa.
Paling tidak ada petunjuk dasar dari presiden. Bisa saja isinya
atau cara membuatnya berbeda, tapi yang penting ada kerangka
atau blue printnya sama. Jadi mudahnya mengintegrasikannya.
Jangan yang satu membangun dengan batu bata, tapi lainnya
dengan keramik Italia. Ketika digabungkan malahan belang-belang.
Seberapa besar gap antara Indonesia
dengan negara-negara tetangga dalam ICT?
Tolok ukurnya agak sulit, tapi biasanya dilihat dari indikasi
jumlah sambungan telepon per penduduk, atau jumlah PC per
penduduk, atau jumlha internet user atau jumlah internet subscriber
per penduduk. Dari keempatnya, kita yang terkecil. Dengan
jumlah penduduk sekitar 206 juta jiwa, maka angka relatifnya
menjadi sangat kecil. Memang angka absolutnya cukup besar.
Katakanlah satu sumber pernah menyebutkan bahwa jumlah internet
user di Indonesia mencapai 8 juta orang, baik aktif maupun
tidak aktif. Itu kan jumlahnya dua hingga tiga kali dari Singapura,
namun secara prosentase kecil.
Apa indikator itu langsung
bisa mengindikasikan ketertinggalan?
Ini seperti persoalan income per capita. Semua digeneralisasikan.
Kompas pernah memberitakan seorang ibu dengan tenang menggesekan
kartu kreditnya untuk membayar berlian yang harganya puluhan
juta, sementara ada orang di lain tempat yang kelaparan. Di
sebuah kabupaten, rata-rata pendidikannya tidak tamat SD.
Sementara di negara-negara tetangga rata-rata pendidikannya
sudah high school atau college. Mungkin di sini yang pendidikannya
S4 juga ada. Jadi kalau dibilang masih tertinggal, ya karena
masih banyak yang tidak mengerti akan IT. Tapi jumlah absolutnya
yang mengerti IT pun pastinya tidak sedikit. Ini karena jumlah
total penduduk kita sangat besar.•ew
|