Snapshot Volume I Nomor 04 - Februari 2003
Call Center
Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel Indonesia Corp., melihat bahwa untuk Jawa dan sebagian kota-kota besar di luar Jawa persoalan akses terhadap pengembangan ICT sudah tidak menjadi masalah besar. Namun, untuk bisa lebih memeratakan akses tersebut sekaligus mengurangi gap antara Indonesia dan negara-negara tetangganya, Ia melihat perlunya endorsement langsung dari pimpinan tertinggi negeri ini. “Kalau sekedar dari menteri, kayaknya bakalan dicuekin”, ujar alumunus Teknik Elektro FTUI. Berikut petikan wawancara eBizzAsia dengan orang pertama Intel di Indonesia ini.
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Bagaimana Anda melihat perkembangan ICT di Indonesia terutama saat ini?
Saya lihat PT Telkom. Saya lihat IT Leadershipnya di sana jutsru di atas rata-rata kalangan pemerintahan. Visinya sudah sama dengan kalangan perbankan swasta papan atas.

Bisa dijelaskan yang dimaksud dengan IT Leadership?
IT itu hanya salah satu bagian dari korporasi. Biasanya yang menjadi lawan orang-rang dari bagian ini adalah orang-orang keuangan. Semuanya bergantung pada pemberian pemahaman dari orang-orang IT bahwa IT bukan sekedar cost tapi tools efisiensi. Itu sebabnya perlu pembangkitan pemahaman yang serupa dari bagian-bagian lain dalam perusahaan.

Artinya IT itu sebagai investasi, dan bukan sekedar spending?
Ya, investasi yang nantinya bisa dinikmati ROI-nya

Lantas ROInya dari mana?
IT ini intangible. Kalau beli software sebenarnya yang dibeli servicesnya. Beda jika kita membeli mobil atau gedung yang secara fisik terlihat. IT kebanyakan intangible karena untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan. Kalau dulu dikerjakan tiga orang dalam waktu lima hari, maka sekarang dikerjakan seorang dalam berapa jam. Yang dicari adalah bagaimana menerjemahkannya ke dalam bahasa finance. Katakanlah dibandingkan antara komputer baru dengan komputer lama, maka akan terjadi penghematan dalam man hour-nya. Penggunaan sebuah aplikasi harus diterjemahkan ke dalam bahasa marketing, yaitu dengan aplikasi X maka lebih banyak pelanggan yang bisa dijangkau perusahaan.

Bagaimana dengan implementasi ICT terutama dari aplikasinya?
Saya lihat cukup tinggi dan tidak kalah dengan negara-negara ASEAN lainnya, tapi porsinya yang justru kecil. Kalau ditanya apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia juga menggunakan software terbaru dan teratas, jawabannya pasti ya. Misalnya ketika XP diluncurkan, saya yakin sebagian besar user sudah menggunakannya. Itu diluar dari bajakan atau asli. Hanya saja user di sini sangat sedikit dibanding dengan jumlah user di kawasan ASEAN. Tingkat serapannya tinggi, tapi tingkat sebarannya yang rendah karena terbatas pada perusahaan-perusahaan besar dan itu-itu juga.

Kenapa bisa begitu?
Dari sisi orangnya sudah jelas bahwa di perusahaan-perusahaan tersebut ada IT leadereship yang mendrivenya. Misalnya di Telkom, Indofood dan BCA. Selain itu, jelas ada dananya. Apakah perusahaan di luar itu mampu membelinya, saya belum lihat saatnya.

Belum saatnya atau belum membutuhkan?
Sebenarnya sudah membutuhkan. Ini pengalaman di Intel yang sudah menerapkan e-corporate secara menyeluruh. Itu memang memudahkan. Ada waktu yang dihemat dan ada proses yang dipersingkat. Kalau itu diterapkan ke seluruh perusahaan maka jelas akan lebih nyaman. Misalnya yang tadinya costnya tinggi maka bisa diminimasikan, hanya untu, bisa ke sana diperlukan investasi. Jadi kalau dibilang membutuhkan, pasti membutuhkan hanya seberapa jauh mereka punya kesadaran, IT leadership dan dana untuk merealisasikannya.

Langkah yang ditempuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi dengan membuat Sistim Informasi Nasional bagaimana?
Langkah itu bagus sebenarnya, tapi jangan melupakan sejarah bahwa di sini yang menggongkan sebuah rencana kerja besar harus dan tetap harus dilakukan sendiri oleh presiden secara langsung. Endorsement harus datang dari tingkat tertinggi, kalau sekedar menteri kayaknya bakalan dicuekin dan itu terasa. Paling tidak ada petunjuk dasar dari presiden. Bisa saja isinya atau cara membuatnya berbeda, tapi yang penting ada kerangka atau blue printnya sama. Jadi mudahnya mengintegrasikannya. Jangan yang satu membangun dengan batu bata, tapi lainnya dengan keramik Italia. Ketika digabungkan malahan belang-belang.

Seberapa besar gap antara Indonesia dengan negara-negara tetangga dalam ICT?
Tolok ukurnya agak sulit, tapi biasanya dilihat dari indikasi jumlah sambungan telepon per penduduk, atau jumlah PC per penduduk, atau jumlha internet user atau jumlah internet subscriber per penduduk. Dari keempatnya, kita yang terkecil. Dengan jumlah penduduk sekitar 206 juta jiwa, maka angka relatifnya menjadi sangat kecil. Memang angka absolutnya cukup besar. Katakanlah satu sumber pernah menyebutkan bahwa jumlah internet user di Indonesia mencapai 8 juta orang, baik aktif maupun tidak aktif. Itu kan jumlahnya dua hingga tiga kali dari Singapura, namun secara prosentase kecil.

Apa indikator itu langsung bisa mengindikasikan ketertinggalan?
Ini seperti persoalan income per capita. Semua digeneralisasikan. Kompas pernah memberitakan seorang ibu dengan tenang menggesekan kartu kreditnya untuk membayar berlian yang harganya puluhan juta, sementara ada orang di lain tempat yang kelaparan. Di sebuah kabupaten, rata-rata pendidikannya tidak tamat SD. Sementara di negara-negara tetangga rata-rata pendidikannya sudah high school atau college. Mungkin di sini yang pendidikannya S4 juga ada. Jadi kalau dibilang masih tertinggal, ya karena masih banyak yang tidak mengerti akan IT. Tapi jumlah absolutnya yang mengerti IT pun pastinya tidak sedikit. Ini karena jumlah total penduduk kita sangat besar.•ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved