Cover Story Volume I Nomor 05 - Maret 2003
Call Center
Bisnis logistik, seperti yang diungkapkan oleh Marc Linster, CTO Avicon merupakan operasi bisnis yang sangat taktis. Bisnis ini selalu digambarkan sebagai pemindahan bisnis dari satu tempat ke tempat lainnya, secara langsung dan mudah untuk diekskusi.
 
RELATED ARTICLES

Konsumen Pengendali eLogistics

Dengan TI Memanjakan Konsumen
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Peningkatan efisiensi pada bisnis ini berasal dari perbaikan infrastruktur fisik, seperti sarana angkutan yang lebih besar dan lebih cepat, jangkauan yang lebih luas dan murah dari sarana angkutan, jejaring pergudangan yang lebih luas dan pembekalan yang tepat.

Linster melihat bahwa proses pemindahan barang tidak banyak berubah sejak revolusi industri dimulai. Pengiriman produk, apakah itu sebuah lentera minyak tanah dari abad ke 19 atau produk elektronik dari abad ke 20, urutan bisa digambarkan sebagai mata rantai yang bermula dari pembuatan perkiraan kebutuhan terhadap produk, pemesan bahan baku, membangun inventaris agar bisa mencukupi kemudahan tersebut, mengambil pesanan agar inventaris bisa dikeluarkan ke pasar; dan kembali lagi ke urutan semula.

Dari sudut pandang pelaku logistik ada supply chain literal, organisasi yang sifatnya sequensial yang terbentang dari pemasok bahan baku ke produsen dan akhirnya ke konsumen. Komunikasi yang terjadi hanya pada dua titik terdekat baik sebelum atau sesudahnya. Seperti sebuah rantai, setiap mata rantainya adalah kekuatan sekaligus kelemahannya. Setiap kegagalan dalam setiap mata rantai supply chain tersebut akan bisa mengancam kelangsungan keseluruhan proses. (Diagram 1)

Revolusi teknologi informasi (TI), dan konvergensinya dengan tekonologi komunikasi, di akhir abad lalu memperlihatkan dampak yang luar biasa terhadap perkembangan bisnis ini. Kecepatan perubahan produk dan penolakan perusahaan terhadap keinginan stakeholdernya mendorong lahirnya pendekatan sekuensial yang tidak praktis, seperti reaksi yang lamban terhadap tuntutan perubahan dan terlalu aset intensif. Perusahaan-perusahaan mana saja yang membutuhkan sebuah model yang bisa mengatur komunikasinya, meningkatkan utilisasi asetnya, membuat supply chainnya lebih efektif, dan bisa melayani pelanggannya lebih baik lagi.

DIAGRAM 1
DIAGRAM 2

Credit Suisse First Boston, pada tahun 2000 lalu melihat bahwa perkembangan internet mendorong sejumlah perusahaan untuk mengadopsi bahasa yang sama, yang bisa secara efektif mentransfer data real time dengan biaya yang sangat rendah. Perusahaan semacam ini berusaha untuk mengeksploitasi bahasa elektronik internet dengan membangun aturan baru yang canggih dan mengotomatisasikan sebagian atau seluruh pengelolaan supply chain logistiknya.

Kemudian mulailah muncul perusahaan-perusahaan eLogistics. eLogistics didefinisikan sebagai pergerakan yang sarat otomasi dari barang, dana dan informasi mulai dari pemasok bahan baku dan produsen barang hingga ke pelanggan sepanjang mata rantai pasokan.

Dalam laporannya, lembaga keuangan ini memperlihatkan peningkatan yang sangat besar dari bisnis ini dari tahun ke tahun (Tabel 1). Untuk sebaran geografis dari industri logisitk secara global maka Amerika Utara meduduki peringkat pertama dengan 28,6 persen. Sedangkan Eropa mencapai 26,1%, Asia 18,2% dan lain-lain 25,1%. Untuk Amerika Serikat saja, pasar transportasi domestiknya akan bertumbuh menjadi US$930 milyar pada tahun ini. Pertumbuhan pangsa perusahaan logistik outsourced diperkirakan berkisar 8-10 persen dari total pengeluaran transportasi dan logistik. Ini sekitar US$85 milyar berdasarkan tingkat pertumbuhan perusahaan logisitk pihak ketiga (3PL) yang mencapai 15-20% pertahun.

Tabel 1: Pengeluaran logistik global untuk transportasi, storage, administratif dan informasi (dalam milyar USD)
Wilayah
1992
1996
1999
Amerika Utara
837
941
1.062
Eropa
876
941
1.040
Lingkar Pasifik
516
652
674
Lainnya
662
916
930
Total
2.891
3.450
3.706
Sumber: Credit Suisse First Boston, Logistic in The Digital Economy, 2000

Pertumbuhan Internet dan e-Commerce sebenarnya dapat meningkatkan tren outsourcing bagi perusahaan logistik dalam dua sisi. Pertama, kian banyak perusahaan e-commerce yang sedang mereka model bisnis virtual secara lengkap, sehingga tuntutan untuk pemenuhan produk secara outsource juga meningkat. Kedua, para operator pergudangan dan suplai akan bisa mengutilisasi lebih baik penggunaan internet. Ini memungkinkan penyebaran informasi ke pelanggannya. Sehingga tingkat pelayanan bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Sejak akhir tahun 1990-an lalu, perusahaan menemukan keuntungan dengan menyewa perusahaan logistik outsource atau pihak ketiga. Perusahaan semacam ini memiliki keahlian dalam pengelolaan secara total arus produk, mulai bahan baku hingga barang jadi. Perusahaan telah melihat manfaat dalam pengurangan biaya yang dibarengi dengan peningkatan pelayanan, apakah itu penggunaan jasa logistik secara parsial atau keseluruhan. Ini memungkinkan pengurangan biaya pergudangan dan stok, pengurangan beban administratif, pencapaian skala ekonomis sarana transportasi, dan perluasan jangkauan geografis.

Eksploitasi terhadap kapabilitas internet dan e-Commerce, mendorong munculnya bisnis eLogistics. Memang bukan berarti bahwa bisnis logistik tradisional hilang begitu saja. Karena sejumlah pakar meyakini akan terjadi adopsi terhadap ICT (information and communication technology) dalam perusahaan-perusahaan serupa. (Diagram 2)

Instink bertahan menjadi pendorong bagi perusahaan-perusahaan logistik tradisional. Dengan mengadopsi teknologi, kemampuan bersaing dalam kondisi sangat kompetitif akan terdongkrak. Salah satu kekuatan perusahaan tradisional adalah hubungan dengan pelanggan yang sudah berakar. Hubungan semacam ini sangat kritis dan tidak bisa digantikan secara cepat. Yves Dethier dari Distrilogistics, SPRL, Belgia, menyebut eLogistics sebagai bisnis baru yang dibangun atas kompetensi perusahaan logistik.

Perusahaan logistik tradisonal yang mengadopsi ICT ke dalam organisasi dan pengelolaannya bisa menjadi pilar tersendiri dalam kancah bisnis ini. Perusahaan ini tidak saja memiliki aset yang luar biasa, mulai dari kepercayaan pelanggan, jaringan kerja, jangkauan geografis, hingga armada transportasinya. Dengan internet dan e-commerce, perusahaan semacam ini bisa dengan cepat menyebarkan informasi yang bersifat real-time atau mendekati real-time ke para pelanggan jasanya. Sehingga dengan demikian pelanggan bisa mengetahui status dari barang-barang mereka yang dikirimkan.

Itu sebabnya, aset terbaru dari perusahaan logisitik adalah informasi. Informasi yang digenerasi dari penggunaan internet ditujukan untuk memperkuat kebersamaan antara perusahaan dengan mitra dagangnya. Internet memungkin seseorang berbagi informasi dengan lainnya dengan modal minimal dalam piranti khusus atau protokol.

Tabel 2: Perbandingan Logistik Tradisional dan eLogistic
Traditional Logistics
eLogistics
Order Predictable Variable, small lots
Order cycle time Weekly Short OTD/Daily or hour
Customer Strategic Broader base
Customer service Reactive, rigid Responsive, flexible
Replenishment Scheduled Real-time
Distribution model Supply driven (push) Demand cycle (pull)
Demand Stable, consistent More cyclical
Shipment type Bulk Smaller lots
Destination Concentrated More dispersion
Warehouse reconfiguration Weekly/monthly Continual/rules based
International Trade Compliance Manual Automated
Sumber: The New Logistics Management Paradigm: The Impact of Today's Trend, 2001

Hingga saat ini, dua moda utama untuk berbagi informasi tersebut melalui EDI (Electronic Data Interchange) atau VAN (Value Added Network). Kelebihan Internet adalah medium yang mendekati real-time dan memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara perusahaan dan mitra dagangnya. eLogistics memberikan mitra dagang untuk mengintegrasikan data, sehingga memungkinan sebuah perusahaan dan mitra dagangnya memahami dan bertindak dalam kerangka yang sama.

Logistik tradisional memfokuskan diri pada aset fisik, seperti gudang, layanan transportasi, dokumentasi ekspor dan perijinan beacukai. eLogistics memfokuskan pada alur informasi yang memungkinkan logistik digunakan seefisien mungkin. Perusahaan logistik tradisional dapat memindahkan jaringan kerja dari satu kota ke kota lain yang berjauhan jaraknya di dunia. Tapi pelanggannya tidak mengetahui bagaimana eksekusi itu dijalankan. Ini membutuhkan sinkronisasi yang sangat rumit dan hampir muskil.

Sementara, eLogistics membuka jendela bagi mitra dagang dan pelanggan untuk memantau penerimaan order, pengeksekusian, dan kesesuaian eksekusi dengan perencanaan. Visibilitas diperlukan sebuah bisnis yang merencanakan mengoutsource pengelolaan aset fisik, sekaligus mengharapkan tingkat keahlian yang tinggi. (Tabel 2)

Visibilitas mata rantai suplai virtual penting dalam berkolaborasi, karena tahapan berikutnya dari eLogistics adalah memiliki mitra yang bisa memberikan layanan dengan nilai tambah tinggi (Diagram 3). Dengan menggabungkan pengelolaan gudang, armada transportasi, perencanaan kapasitas, dan tracking kapal serta barang; eLogistics mampu mengolaborasikan kekuatannya atau dengan pihak ketiga untuk tujuan yang sama.

Keuntungan semacam inilah yang dinikmati perusahaan logistik tradisional yang menjelma menjadi perusahaan eLogistics. Dengan mengkombinasikan aset tradisonalnya dengan kemampuan mengeksploitasi internet, perusahaan ini menikmati manfaat lebih dibandingkan logistik tradisonal atau eLogistics itu sendiri. •ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved