Peningkatan
efisiensi pada bisnis ini berasal dari perbaikan infrastruktur
fisik, seperti sarana angkutan yang lebih besar dan lebih
cepat, jangkauan yang lebih luas dan murah dari sarana angkutan,
jejaring pergudangan yang lebih luas dan pembekalan yang tepat.
Linster melihat bahwa proses pemindahan barang tidak banyak
berubah sejak revolusi industri dimulai. Pengiriman produk,
apakah itu sebuah lentera minyak tanah dari abad ke 19 atau
produk elektronik dari abad ke 20, urutan bisa digambarkan
sebagai mata rantai yang bermula dari pembuatan perkiraan
kebutuhan terhadap produk, pemesan bahan baku, membangun inventaris
agar bisa mencukupi kemudahan tersebut, mengambil pesanan
agar inventaris bisa dikeluarkan ke pasar; dan kembali lagi
ke urutan semula.
Dari sudut pandang pelaku logistik ada supply chain literal,
organisasi yang sifatnya sequensial yang terbentang dari pemasok
bahan baku ke produsen dan akhirnya ke konsumen. Komunikasi
yang terjadi hanya pada dua titik terdekat baik sebelum atau
sesudahnya. Seperti sebuah rantai, setiap mata rantainya adalah
kekuatan sekaligus kelemahannya. Setiap kegagalan dalam setiap
mata rantai supply chain tersebut akan bisa mengancam kelangsungan
keseluruhan proses. (Diagram 1)
Revolusi teknologi informasi (TI), dan konvergensinya dengan
tekonologi komunikasi, di akhir abad lalu memperlihatkan dampak
yang luar biasa terhadap perkembangan bisnis ini. Kecepatan
perubahan produk dan penolakan perusahaan terhadap keinginan
stakeholdernya mendorong lahirnya pendekatan sekuensial yang
tidak praktis, seperti reaksi yang lamban terhadap tuntutan
perubahan dan terlalu aset intensif. Perusahaan-perusahaan
mana saja yang membutuhkan sebuah model yang bisa mengatur
komunikasinya, meningkatkan utilisasi asetnya, membuat supply
chainnya lebih efektif, dan bisa melayani pelanggannya lebih
baik lagi.
| DIAGRAM 1 |
 |
| DIAGRAM 2 |
 |
Credit Suisse First Boston, pada tahun 2000 lalu melihat
bahwa perkembangan internet mendorong sejumlah perusahaan
untuk mengadopsi bahasa yang sama, yang bisa secara efektif
mentransfer data real time dengan biaya yang sangat rendah.
Perusahaan semacam ini berusaha untuk mengeksploitasi bahasa
elektronik internet dengan membangun aturan baru yang canggih
dan mengotomatisasikan sebagian atau seluruh pengelolaan supply
chain logistiknya.
Kemudian mulailah muncul perusahaan-perusahaan eLogistics.
eLogistics didefinisikan sebagai pergerakan yang sarat otomasi
dari barang, dana dan informasi mulai dari pemasok bahan baku
dan produsen barang hingga ke pelanggan sepanjang mata rantai
pasokan.
Dalam laporannya, lembaga keuangan ini memperlihatkan peningkatan
yang sangat besar dari bisnis ini dari tahun ke tahun (Tabel
1). Untuk sebaran geografis dari industri logisitk secara
global maka Amerika Utara meduduki peringkat pertama dengan
28,6 persen. Sedangkan Eropa mencapai 26,1%, Asia 18,2% dan
lain-lain 25,1%. Untuk Amerika Serikat saja, pasar transportasi
domestiknya akan bertumbuh menjadi US$930 milyar pada tahun
ini. Pertumbuhan pangsa perusahaan logistik outsourced diperkirakan
berkisar 8-10 persen dari total pengeluaran transportasi dan
logistik. Ini sekitar US$85 milyar berdasarkan tingkat pertumbuhan
perusahaan logisitk pihak ketiga (3PL) yang mencapai 15-20%
pertahun.
Tabel 1: Pengeluaran logistik global untuk transportasi,
storage, administratif dan informasi (dalam milyar USD)
| Wilayah |
1992 |
1996 |
1999 |
| Amerika Utara |
837 |
941 |
1.062 |
| Eropa |
876 |
941 |
1.040 |
| Lingkar Pasifik |
516 |
652 |
674 |
| Lainnya |
662 |
916 |
930 |
| Total |
2.891 |
3.450 |
3.706 |
| Sumber: Credit Suisse
First Boston, Logistic in The Digital Economy, 2000 |
Pertumbuhan Internet dan e-Commerce sebenarnya dapat meningkatkan
tren outsourcing bagi perusahaan logistik dalam dua sisi.
Pertama, kian banyak perusahaan e-commerce yang sedang mereka
model bisnis virtual secara lengkap, sehingga tuntutan untuk
pemenuhan produk secara outsource juga meningkat. Kedua, para
operator pergudangan dan suplai akan bisa mengutilisasi lebih
baik penggunaan internet. Ini memungkinkan penyebaran informasi
ke pelanggannya. Sehingga tingkat pelayanan bisa ditingkatkan
dari waktu ke waktu.
Sejak akhir tahun 1990-an lalu, perusahaan menemukan keuntungan
dengan menyewa perusahaan logistik outsource atau pihak ketiga.
Perusahaan semacam ini memiliki keahlian dalam pengelolaan
secara total arus produk, mulai bahan baku hingga barang jadi.
Perusahaan telah melihat manfaat dalam pengurangan biaya yang
dibarengi dengan peningkatan pelayanan, apakah itu penggunaan
jasa logistik secara parsial atau keseluruhan. Ini memungkinkan
pengurangan biaya pergudangan dan stok, pengurangan beban
administratif, pencapaian skala ekonomis sarana transportasi,
dan perluasan jangkauan geografis.
Eksploitasi terhadap kapabilitas internet dan e-Commerce,
mendorong munculnya bisnis eLogistics. Memang bukan berarti
bahwa bisnis logistik tradisional hilang begitu saja. Karena
sejumlah pakar meyakini akan terjadi adopsi terhadap ICT (information
and communication technology) dalam perusahaan-perusahaan
serupa. (Diagram 2)
Instink bertahan menjadi pendorong bagi perusahaan-perusahaan
logistik tradisional. Dengan mengadopsi teknologi, kemampuan
bersaing dalam kondisi sangat kompetitif akan terdongkrak.
Salah satu kekuatan perusahaan tradisional adalah hubungan
dengan pelanggan yang sudah berakar. Hubungan semacam ini
sangat kritis dan tidak bisa digantikan secara cepat. Yves
Dethier dari Distrilogistics, SPRL, Belgia, menyebut eLogistics
sebagai bisnis baru yang dibangun atas kompetensi perusahaan
logistik.
Perusahaan logistik tradisonal yang mengadopsi ICT ke dalam
organisasi dan pengelolaannya bisa menjadi pilar tersendiri
dalam kancah bisnis ini. Perusahaan ini tidak saja memiliki
aset yang luar biasa, mulai dari kepercayaan pelanggan, jaringan
kerja, jangkauan geografis, hingga armada transportasinya.
Dengan internet dan e-commerce, perusahaan semacam ini bisa
dengan cepat menyebarkan informasi yang bersifat real-time
atau mendekati real-time ke para pelanggan jasanya. Sehingga
dengan demikian pelanggan bisa mengetahui status dari barang-barang
mereka yang dikirimkan.
Itu sebabnya, aset terbaru dari perusahaan logisitik adalah
informasi. Informasi yang digenerasi dari penggunaan internet
ditujukan untuk memperkuat kebersamaan antara perusahaan dengan
mitra dagangnya. Internet memungkin seseorang berbagi informasi
dengan lainnya dengan modal minimal dalam piranti khusus atau
protokol.
Tabel 2: Perbandingan Logistik Tradisional dan eLogistic
|
Traditional
Logistics |
eLogistics |
| Order |
Predictable |
Variable, small lots |
| Order cycle time |
Weekly |
Short OTD/Daily or hour |
| Customer |
Strategic |
Broader base |
| Customer service |
Reactive, rigid |
Responsive, flexible |
| Replenishment |
Scheduled |
Real-time |
| Distribution model |
Supply driven (push) |
Demand cycle (pull) |
| Demand |
Stable, consistent |
More cyclical |
| Shipment type |
Bulk |
Smaller lots |
| Destination |
Concentrated |
More dispersion |
| Warehouse reconfiguration |
Weekly/monthly |
Continual/rules based |
| International Trade Compliance |
Manual |
Automated |
| Sumber:
The New Logistics Management Paradigm: The Impact of Today's
Trend, 2001 |
Hingga saat ini, dua moda utama untuk berbagi informasi
tersebut melalui EDI (Electronic Data Interchange) atau VAN
(Value Added Network). Kelebihan Internet adalah medium yang
mendekati real-time dan memungkinkan terjadinya komunikasi
dua arah antara perusahaan dan mitra dagangnya. eLogistics
memberikan mitra dagang untuk mengintegrasikan data, sehingga
memungkinan sebuah perusahaan dan mitra dagangnya memahami
dan bertindak dalam kerangka yang sama.
Logistik tradisional memfokuskan diri pada aset fisik, seperti
gudang, layanan transportasi, dokumentasi ekspor dan perijinan
beacukai. eLogistics memfokuskan pada alur informasi yang
memungkinkan logistik digunakan seefisien mungkin. Perusahaan
logistik tradisional dapat memindahkan jaringan kerja dari
satu kota ke kota lain yang berjauhan jaraknya di dunia. Tapi
pelanggannya tidak mengetahui bagaimana eksekusi itu dijalankan.
Ini membutuhkan sinkronisasi yang sangat rumit dan hampir
muskil.
Sementara, eLogistics membuka jendela bagi mitra dagang dan
pelanggan untuk memantau penerimaan order, pengeksekusian,
dan kesesuaian eksekusi dengan perencanaan. Visibilitas diperlukan
sebuah bisnis yang merencanakan mengoutsource pengelolaan
aset fisik, sekaligus mengharapkan tingkat keahlian yang tinggi.
(Tabel 2)
Visibilitas mata rantai suplai virtual penting dalam berkolaborasi,
karena tahapan berikutnya dari eLogistics adalah memiliki
mitra yang bisa memberikan layanan dengan nilai tambah tinggi
(Diagram 3). Dengan menggabungkan pengelolaan gudang, armada
transportasi, perencanaan kapasitas, dan tracking kapal serta
barang; eLogistics mampu mengolaborasikan kekuatannya atau
dengan pihak ketiga untuk tujuan yang sama.
Keuntungan semacam inilah yang dinikmati perusahaan logistik
tradisional yang menjelma menjadi perusahaan eLogistics. Dengan
mengkombinasikan aset tradisonalnya dengan kemampuan mengeksploitasi
internet, perusahaan ini menikmati manfaat lebih dibandingkan
logistik tradisonal atau eLogistics itu sendiri. •ew
|