|
Hal
Rosenbluth, presiden dan CEO Rosenbluth Internasional, agen
travel di Philadelphia, punya visi untuk travel di masa mendatang,
yang disebut The Vacation Chamber. Visi ini ditujukan untuk
dua pasar. Pertama, pelanggan yang punya uang tapi tidak punya
waktu. Kedua, pelanggan yang punya waktu tapi tidak punya
uang.
Menurut Rosenbluth, di masa mendatang, kedua kategori pelanggan
itu masuk ke dalam suatu ruangan dan menikmati pemandangan,
suara, dan suasana liburan di tujuan wisata, tanpa perlu uang
dan waktu untuk pergi ke sana. Cukup dilakukan di depan komputer.
Rosenbluth tentu tidak tanpa alasan mengungkapkan visinya
itu. Kini bekerja jarak jauh sudah menjadi trend. Ketika modem
menghubungkan dengan dunia luar, semua kendala lenyap. Dinding
pembatas tumbang ketika orang bekerja di rumah. Kantor tidak
lagi menjadi tempat, tetapi sistem - namun ini baru permulaan.
Visi Rosenbluth itu bukan tidak mungkin terjadi. Namun, tidak
dalam waktu dekat ini. Kini, berlibur masih ditujukan bagi
mereka yang memiliki waktu dan uang. Namun, mereka tidak usah
repot-repot untuk mengurusi reservasi dan akomodasinya. Cukup
duduk di depan komputer dan membuka situs pelayanan pariwisata.
Di situ sudah lengkap pelayanannya; mulai dari biro perjalanan,
booking hotel, ticketing, hingga penyewaan mobil.
Berdasarkan data Forester Research, sektor travel memang memiliki
kepentingan paling tinggi terhadap eksistensi Internet. Soalnya,
selain lebih mudah, wisatawan juga lebih banyak memberikan
pilihan peluang. Forester Research menghitung tak kurang dari
25 juta orang kini mencari informasi wisata melalui Internet.
Sementara transaksi travel online sendiri pada 1999 mencapai
US$ 3,5 miliar, jauh lebih besar ketimbang segmen peritel
buku online, seperti amazon.com dan Barnes & Noble yang
hanya senilai US$ 216 juta.
One Stop Service
 |
| Weny Hartati Anwari, E-biz
Supervisor Vayatour. |
Di Indonesia, kini hampir semua biro perjalanan (travel agent)
melengkapi pelayanannya dengan website. Semua fasilitas sudah
disediakan di Internet. One stop services, begitu istilah
populernya. Vayatour, misalnya. Biro Perjalanan yang sudah
38 tahun berdiri ini melengkapi pelayanannya melalui internet.
Website-nya menyediakan layanan booking online, dimana programnya
sudah connect dengan salah satu Computer Reservation System
(CRS) Ticketing, yaitu Galileo. Website-nya juga menampilakan
semua produk yang ditawarkan, seperti tiket domestik, internasional,
voucher hotel, tour, visa dan paspor. “Jadi kalau orang
booking tiket, di website akan keluar harga-harga dari berbagai
airline, dan akan mendapatkan kode booking yang di keluarkan
langsung oleh Galileo”, kata Weny Hartati Anwari, E-biz
Supervisor Vayatour.
Menurut Weny, dengan adanya website, costumer tidak perlu
capek-capek menelepon atau bertanya tentang harga tiket, karena
di website sudah ada menu yang menjelaskannya. Untuk pesan
tiket, costumer juga sudah bisa melakukan jadwal pemesanan
tanpa harus mengecek. “Tapi website ini masih ada personal
touch-nya, yaitu masalah payment. Dalam waktu dekat kita akan
online”, tambahnya.
Jalan Tour, biro perjalanan yang bermarkas di Jepang ini juga
melengkapi pelayanannya dengan computer authorized system,
yang bernama Abacus dan Galileo. Kedua computer authorized
system ini memudahkan reservasi dan ticketing untuk pasar
domestik dan internasional. Jalan Tour juga menambah fasilitasnya
melalui www.jalansantai.com untuk keperluan marketing perusahaan.
Bahkan untuk memudahkan retailer agen, Jalan Tour membuat
www.jualanyuk.com. “Dengan adanya website ini membuat
konsumen lebih efisien dan efektif. Hal ini sesuai dengan
motto perusahaan kami, yaitu sopan, cepat, dan tepat”,
ujar Daniel I. Surjadi, Vice President Jalan Tour.
Bagi travel agent, adanya fasilitas e-travel memang dapat
memberikan informasi yang akurat tentang produk-produk yang
ditawarkan kepada wisatawan. Dalam operasionalnya, pelayanan
yang diberikan juga lebih cepat, murah, efektif dan efisien.
Tidak itu saja. Fasilitas internet juga menampilkan suatu
banner yang memungkinkan travel agent berkorespondensi bersama
costumer via e-mail. Ambil contoh, www.indo.com, travel agent
yang beroperasi di internet, dalam satu hari menerima sekitar
1.000 e-mail. Ini menunjukan bahwa internet telah menjadi
komponen penting di dunia pariwisata.
 |
| Daniel I. Surjadi, Vice President
Jalan Tour. |
Karenanya, kini travel agent mulai gencar mengampanyekan
pelayanannya melalui internet. Tidak tanggung-tanggung, investasi yang
dikeluarkan untuk proyek ini mulai ratusan juta sampai milyaran
rupiah. Menurut Weny dan Daniel, perusahaannya harus mengeluarkan
dana ratusan juta untuk meluncurkan website-nya itu. Pasalnya,
kedua agen travel itu menggunakan tenaga konsultan untuk membuat
website yang sesuai dengan produk perusahaannya. Bahkan indo.com,
sejak berdiri tahun 1995, telah mengeluarkan hingga milyaran
rupiah untuk membuat aplikasi-aplikasi yang memudahkan pengunjungnya.
Namun dalam operasionalnya, travel agent sudah mulai mengelolanya
sendiri. Di Vayatour ada dua bagian khusus yang menggarap
fasilitas ini, IT Departement dan E-biz Departement. IT berperan
sebagai technical network dari sistem, dan E-biz berfokus
pada booking online yang ada di website.
Sedang Jalan Tour, memiliki bagian EDP (Electronic Data Processing)
yang selalu memantau perkembangan teknologi. Jalan Tour juga
menerima informasi dari konsultan untuk merevisi dan mengembangkan
sistem-sistem yang ada. Bahkan dalam jangka panjang, perusahaan
ini tetap menggunakan tenaga konsultan, karena sistem ini
sangat profesional untuk ditangani. Selain website, Jalan
Tour juga menggunakan tenaga konsultan untuk bidang-bidang
lain seperti Advertisement, printing, perpajakan, corporate
public accounting, packing, tour leader, dan agency. “Liability-nya
memilih pihak ketiga karena lebih clear dalam pencapaian tanggung
jawab. Jadi kita konsentrasi ke core bisnis”, tutur
Daniel.
Menjual Informasi
Berbeda dengan Vayatour dan Jalan Tour yang memiliki cabang-cabang
diberbagai kota, travel agent Indo.com justru sebaliknya.
Perusahaan yang dikomandoi oleh Eka N. Ginting ini bisa dibilang
merupakan perkawinan antara teknologi internet dengan industri
pariwisata. Perusahaan yang berdiri tahun 1995 ini membuat
portal wisata dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan
oleh wisatawan. Bahkan, indo.com tidak menjual produk yang
dimiliki seperti Vayatour dan Jalan Tour, tapi menempatkan
diri sebagai information gateway. Namun, informasi yang dimaksud
adalah informasi dalam arti luas, seperti jenis kamar hotel
dan pembayaran melalui kartu kredit.
Hingga kini, indo.com memiliki partner bisnis mulai dari airline,
hotel yang jumlahnya sekitar 400-an dan dijual langsung oleh
sistem, travel agent sampai rental car. Indo.com itu sendiri
merupakan inbound travel yang ditujukan untuk wisatawan luar
negeri yang datang ke Indonesia, terutama Bali. Sedangkan
untuk pasar dalam negeri, indo.com meluncurkan www.paketrupiah.com.
Kerja sama antara indo.com dengan hotel-hotel ini tentunya
memudahkan wisatawan untuk mencari hotel mulai dari level
Melati hingga Bintang Lima, plus harga-harga yang ditawarkan.
Begitu wisatawan melakukan transaksi untuk found pembayaran
melalui internet, konfirmasinya juga bisa diberikan secara
online. Hanya dalam waktu satu sampai dua menit, wisatawan
sudah langsung dapat kamar. Wisatawan juga tidak perlu khawatir.
Transaksi melalui kartu kredit via indo.com sangat aman. Indo.com
bekerjasama dengan perusahaan pembayaran online terkemuka,
VeriSign.
 |
| Eka N. Ginting, CEO indo.com
|
Menurut Eka Namara Ginting, CEO indo.com, masalah keamanan
transaksi dilihat dari dua sisi. Pertama, untuk industri pariwisata,
kalau menjual kamar hotel, wisatawan yang booking untuk menikmati
kamar hotel itukan harus datang sendiri ke hotelnya. Indo.com
sudah menyiapkan bahwa setelah transaksi, voucher-nya itu
harus sesuai dengan kartu kreditnya. Kedua, kalau melihat
keamanan kartu kredit, kadang-kadang ini memang masalah persepsi,
karena banyak kejadian fraud dengan menggunakan kartu kredit
itu justru kartu kredit itu didapatkan dari non-internet.
Misalnya, dilakukan oleh orang yang pernah bekerja di travel
agent dibagian keuangan, dan dia punya akses-akses ke foto
copy kartu kredit, foto copy pasword dan lain-lainnya.
Indo.com dengan bisnis informasinya via internet memang fenomenal.
Di Indonesia, belum ada pesaing yang berarti dalam bisnis ini.
“Baru Singapura dan Malaysia saja pesaing kita”,
kata Eka seraya menambahkan bahwa strategi bisnis yang dikembangkannya
adalah inovasi. Selama tiga tahun ini, indo.com selalu menyajikan
aplikasi-aplikasi baru pada sistemnya. Bahkan, booking hotel
via handphone pun baru saja diluncurkan pada September lalu.
Website-nya sendiri terdiri dari berbagai komponen yang memudahkan
pelanggan. Disitu ada content management yang menyajikan informasi
tentang agenda kegiatan, berita mengenai Bali, dan tujuan-tujuan
wisata menarik lainnya. Content management ini merupakan sistem
database untuk mengelola komunikasi antara wisman dengan customer
services. Content management ini penting sekali untuk bisnis-bisnis
yang menggunakan internet dan melakukan interaksi dengan pelanggannya.
Disamping itu, ada juga campaign management yang digunakan
untuk marketing perusahaan, seperti melalui newsletter dan
Short Message Service (SMS).
Dalam 10 tahun ini, penjualan travel dan pariwisata telah
mencapai lebih dari $7.9 milyar. Ini berkat teknologi baru
yang mentrasformasikan setiap perusahaan di lapangan dan para
wisatawan. Database multimedia memungkinkan mengubah produk
pariwisata dan travel. Pengaplikasian teknologi meningkatkan
dan mentransformasikan layanan, sehingga mengubah peran setiap
orang yang terlibat. Banyak pemikir masa depan setuju dengan
Rosenbluth dan mengatakan bahwa teknologi baru mampu memberi
orang pengganti travel, bukan menjadi bagian dari proses.
•rf |