Asia Highlights Volume I Nomor 06 - April 2003
MALAYSIA

Malaysia Genjot Jumlah Wireless Hotspot

Mendengar kata hotspot, terbayang oleh kita suatu tempat bersuhu panas, yang sudah pasti bukanlah suatu lokasi nyaman untuk kongkow-kongkow. Namun di dunia wireless, hotspot, atau lengkapnya wireless hotspot, justru menjadi tempat idaman para penggila perangkat nirkabel, yang ingin mengakses Internet Broadband.

Menurut catatan In-Stat/MDR, sebuah perusahaan riset pasar internasional, tahun 2002 lalu adalah tahun pertumbuhan wireless hotspot yang paling fantastis. Bayangkan saja, dalam waktu setahun, jumlah hotspot diseluruh dunia tumbuh dari sekitar 2.000 lokasi menjadi lebih dari 12.000 lokasi. Di tahun 2003 ini, InStat memperkirakan akan semakin banyak pemain atau penyedia jasa nirkabel yang terjun ke bisnis ini, dan menurutnya, Asia Pasifik merupakan salah satu wilayah yang menunjukkan tingkat minat yang tinggi.

Ambil contoh negara tetangga, Malaysia. Melihat potensi wireless broadband atau Wi-Fi yang cukup menggiurkan, perusahaan-perusahaan telekomunikasi terkemuka Malaysia mulai mengambil langkah menambah jumlah wireless hotspot di beberapa daerah penting perkotaan. Jika wireless hotspot kini banyak dijumpai di tempat-tempat kongkow, seperti di kafe-kafe dan kompleks pertokoan di Kuala Lumpur, ke depan, berbagai penyedia hotspot akan mulai membangun hotspot di lokasi-lokasi lain.

TM Net, unit penyedia jasa internet (ISP) milik Telekom Malaysia, dan Time dotCom misalnya, sudah membangun titik-titik lokasi broadband nirkabel sejak tahun lalu. Dua perusahaan non telekomunikasi – Airzed Networks dan Palette Multimedia Bhd - juga ikut terjun menjadi hotspot provider. Namun demikian, Maxis Communication, operator mobile terkemuka Malaysia justru tertinggal satu langkah karena ia baru melakukan uji coba wireless hotspot-nya. Diperkirakan baru tahun ini Maxis akan meluncurkan layanannya.

ISP terbesar Malaysia, TM Net telah membangun 43 hotspot, terbanyak di daerah Klang Valley, yang meliputi Kuala Lumpur dan daerah pemukiman sekitarnya di negara bagian Selangor. Menurut chief executive TM Net, Baharum Salleh, TM Net kini tengah membangun 40 hotspot tambahan di berbagai lokasi.

“Ada pula rencana untuk memperluas layanan di seluruh negeri, terutama di tempat-tempat ramai di kota-kota besar seperti hotel-hotel, kampus-kampus universitas, club house golf, rumah sakit dan bandara,” jelas Baharum. TM Net menargetkan menambah lebih dari 200 lokasi tahun ini, khususnya di wilayah Klang Valley, Penang, Johor Baru dan Malaka.

TM Net rencananya juga akan menyediakan pelanggan fasilitas on-the-move connectivity sepanjang jalan-jalan utama di Kuala Lumpur dengan membangun titik-titik akses setiap 300 m sepanjang jalan-jalan penting. Dalam hal kecepatan, para user dijanjikan bisa menikmati kecepatan akses sampai 384 kbps. “Itu berdasarkan best-effort basis,” lanjut Baharum.

Biaya akses yang dikenakan untuk layanan ini menurut TM Net “sangat terjangkau dan lebih kompetitif dibandingkan yang lain.” Rencananya, TM Net akan menyediakan paket pra-bayar dan pasca-bayar, sementara pelanggan broadband fixed-line juga dapat menikmati layanan nirkabel ini dengan tambahan biaya beberapa ringgit per bulannya.

Seakan tidak mau kalah, penyedia hotspot lainnya, Time dotCom merencanakan untuk meluncurkan 200 hotspot sampai akhir tahun ini. Time merupakan perusahaan telekomunikasi pertama yang membangun hotspot nirkabel di Malaysia.

Saat ini, hotspot-hotspot TimeZone miliknya tersedia di outlet-outlet kafe Stardust di beberapa tempat di Kuala Lumpur. Perusahaan ini juga menunjuk Penang, Johor Baru dan Klang Valley sebagai sasaran lokasi penting untuk peluncuran hotspot, demikian menurut senior general manager product development Time dotCom, Karan Henrik Ponnudurai. Menurutnya, Time berharap akan bisa memulai layanannya akhir triwulan pertama atau awal triwulan kedua tahun ini.•

Malaysia Dorong Penggunaan e-Procurement


Untuk memperkuat posisi Malaysia menghadapi era e-commerce, pemerintah Malaysia, melalui kementrian keuangannya mewajibkan sekitar 35.000 pemasok di negara jiran tersebut menjadi e-procurement enabled.

Melalui sekjen kementerian keuangan Malaysia, Dr Samsudin Hitam, pemerintah Malaysia telah mengeluarkan edaran bahwa semua pembelian, penawaran dan tender harus disampaikan melalui sistem yang dinamakan ePerolehan. Meskipun lebih dari 35.000 pemasok telah mendaftar untuk sistem e-procurement pemerintah Malaysia yang diluncurkan tahun lalu, hanya sekitar 6.000 pemasok saja yang aktif menggunakannya. Menurut edaran tersebut, para pemasok harus menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk bisa berhubungan dengan sistem ePerolehan. Kementerian ini juga menginstruksikan para pemasok agar melatih para stafnya untuk bisa mengoperasikan sistem ePerolehan. Untuk lebih mengintensifkan penggunaan e-procurement, dalam edaran tersebut juga ditekankan bahwa para pemasok yang tidak menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan akan kehilangan peluang bisnis dengan pemerintah.

Commerce Dot Com (CDC) Malaysia mengembangkan sistem e-procurement sebagai salah satu dari lima komponen inti proyek aplikasi e-government Multimedia Super Corridor (MSC). Proyek aplikasi unggulan ini diluncurkan sebagai katalis pengembangan MSC. Pemerintah Malaysia memandang e-government sebagai penemuan kembali atas pemerintahan itu sendiri, dengan memposisikan ePerolehan sebagai sebuah layanan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan transparansi pengadaan (procurement) oleh pemerintah.

Chief executive CDC, Mohamad Salleh Masduki, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan suplier pemerintah akan segera menyadari pentingnya ePerolehan dalam menjamin keberlangsungan usaha mereka.

“Kami mengerti bahwa hambatan terbesar yang dihadapi sebagian besar pemasok adalah belum terbiasanya mereka dengan teknologi baru,” ujar Salleh. Ia pun mengakui, untuk bisa terbiasa dan nyaman dengan teknologi baru itu membutuhkan waktu. Kini ada sekitar 4.288 kantor pengadaan milik pemerintah di semenanjung Malaysia.

Sistem ePerolehan ini diharapkan bisa diperluas sampai negara-negara bagian di wilayah timur Malaysia, seperti Sabah dan Sarawak, pada bulan Juni tahun ini.

Sebagai suatu entitas komersial, CDC memperoleh pemasukan dari volume transaksi yang dilakukan melalui ePerolehan. CDC memperoleh sekitar 0.8% atau paling tinggi 9.600 ringgit (sekitar 25 juta rupiah) dari nilai total masing-masing transaksi yang dilakukan di ePerolehan.

Salleh juga mengatakan bahwa CDC tengah menjajaki kemungkinan menjual keahlian e-procurement-nya ke pemerintah negara-negara sahabat. Sejauh ini, baru pemerintah Myanmar yang menunjukkan minat terhadap sistem ePerolehan ini, dan menurutnya, kedua belah pihak sudah menandatangani MoU.•

HONG KONG

Hong Kong Uji Coba Pembayaran via SMS


Siapa yang tidak mengenal short messaging service (SMS)? Teknologi pengiriman pesan teks ini begitu populer di kalangan pengguna ponsel, karena selain biaya pengiriman pesannya relatif murah, SMS juga membuka peluang sumber pemasukan baru bagi para operator mobile dengan memperkaya fungsionalitasnya. Tidak heran, kini SMS pun semakin jamak digunakan sebagai sarana melakukan transaksi perbankan maupun perdagangan, dengan munculnya SMS-banking, SMS-payment, dan sebagainya.

Di HongKong, CSL, yang merupakan anak perusahaan telekomunikasi terbesar Australia, Telstra, baru-baru ini meluncurkan sebuah layanan pembayaran melalui SMS. Melalui program uji coba selama empat bulan, sekitar 3.000 pemegang kartu kredit Bank of China Visa dan pelanggan CSL dapat membayar tagihan telepon dan membeli tiket bioskop melalui SMS.

“Layanan pembayaran melalui SMS ini akan terbuka bagi khalayak luas setelah fase uji coba ini selesai. Kami tengah menjajaki kemungkinan untuk memperluas layanan ini ke pemegang kartu kredit dan para merchant lainnya,” jelas Marisa Kwok, direktur pemasaran dan operasi CSL.

Untuk bisa menikmati layanan ini, para pelanggan harus mendaftar terlebih dahulu di situs Web yang sudah ditentukan. Mereka akan mendapat password melalui e-mail, yang akan mereka gunakan untuk mengotentikasi transaksi mobile-nya via SMS di atas jejaring milik CSL.

Bagi Visa sendiri, ini merupakan layanan m-commerce berbasis SMS pertama yang diverifikasikannya (Verified by Visa). “Otentikasi layanan pembayaran melalui SMS memungkinkan transaksi antara 100 dolar Hong Kong (Rp 130.000) sampai 400 dolar HongKong (Rp 510.000),” ujar Mark Burbidge, general manager e-Visa Asia Pacific.

Di Hong Kong sendiri, CSL sudah dikenal sejak lama sebagai operator mobile yang aktif memromosikan m-commerce. Tahun 2001 lalu misalnya, CSL memperkenalkan sebuah layanan m-commerce berbasis WAP (wireless application protocol), yang memungkinkan para pelanggan membeli asuransi, melakukan reservasi hotel, membayar tagihan ponsel dan membeli tiket dari hampir 100 bioskop di seluruh Hong Kong.

CSL yakin bahwa popularitas SMS di Hong Kong, dimana sekitar 82 juta pesan SMS diterima dan dikirim setiap bulannya, bisa menjadikan SMS sebagai sebuah model keberhasilan m-commerce.

Di negara Asia lainnya, Singapura baru-baru ini juga meluncurkan layanan yang sama. Melalui layanan YW8, para pengguna di Singapura dapat menggunakan SMS untuk membeli tiket bioskop, membeli asuransi perjalanan, membayar denda dan tagihan ponsel, baik melalui sebuah prepaid account atau kartu kredit Visa.•

Go back to previous page
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved