 |
| Rachmat Akbari, Senior Manager
Technical Operations & Engineering SCTV |
Continued from previous
page
Master Control sebagai Hulu
Untuk stasiun televisi yang lahir belakangan, permasalahan
digitalisasi tidak serumit dibandingkan pendahulunya. Chrys
dan Sukarna mengakui adanya keuntungannya hadir belakangan.
Bukan saja peralatan digital telah sedemikian maraknya, tapi
juga lebih mudah mengimplementasikannya dari hulu ke hilir,
serta mengoptimalisasikannya secara menyeluruh di semua lini.
Sukarna memaparkan tahapan implementasi peralatan digital
dimulai dari perangkat dalam Master Control, yang merupakan
jantung sebuah stasiun televisi. “Kami sengaja melakukan
pilihan untuk fully digital,” katanya. Setelah Master
Control, set-up pun merambah ke bagian produksi, yang terdiri
dari peralatan produksi utama dan penunjang, dari editing
hingga ke paska produksi. Menurutnya, semua peralatan yang
digunakan sepenuhnya digital.
Untuk melayani pasokan program outsource atau pihak luar,
mau tidak mau Lativi juga menyediakan converter dua arah,
yaitu dari analog ke digital dan sebaliknya. Namun, biasanya,
converter tersebut sudah tergabung dalam VTR (Video Tape Recorder)
versi terbaru. Master Control juga terhubung online dengan
RF Transmission yang memang fully digital, sebelum siaran
dipancar luaskan ke jaringan kerja internal dan terestrial
yang terletak di Jakarta Barat.
Dari bagian produksi, set up fully digital dilanjutkan pada
bagian automation. Bagian ini merupakan otak dari penyiaran,
sehingga semua program dan komersial yang telah berjadual
diadress untuk disiarkan pada waktunya. Inti dari bagian ini
adalah VTR server yang mampu beroperasi 2 kali 24 jam. Bagian
ini terhubung secara online dengan bagian Traffic yang mencatat
program dan promo yang telah disiarkan dan online dengan bagian
iklan serta keuangan guna keperluan penagihan.
Lahan
Bisnis Baru
Apa yang terjadi bila televisi digital sudah benar siaran?
Yang jelas stasiun televisi tidak lagi sekedar stasiun
televisi seperti yang dikenal saat ini. Stasiun televisi
mungkin berubah menjadi perusahaan multimedia atau information
provider. Pokoknya, stasiun televisi bisa menyediakan
layanan bernilai tambah dibanding sekarang.
Layanan semacam ini bisa memanfaatkan sisa ruang kanal,
yang sebagian telah ditempati dengan program siaran tradisionalnya.
Layanan yang bernilai tambah ini bisa berupa aplikasi
messaging dan aplikasi interaktif.
Aplikasi messaging dapat diberikan ke pemirsa berdasarkan
kemampuan stasiun untuk mengarahkan pesan kepada individu
atau segmen pasar tertentu. Aplikasi ini bisa berupa bulk
mail, yaitu pengiriman brosur ataun katalog. Bisa juga
layanan billing, yaitu stasiun mengirimkan tagihan berlangganan
televisi atau tagihan-tagihan lainnya langsung ke pemirsa.
Layanan ini bisa berupa aplikasi messaging dua arah. Pemirsa
juga dapat mengirim balik pesan ke stasiun televisi yang
dituju, entah berupa jawaban atas polling atau kuis.
Yang agak sulit sebenarnya adalah aplikasi interaktif
karena membutuhkan saluran yang terbuka secara konstan.
Layanan semacam ini diperkirakan tidak akan bisa tersedia
secara menyeluruh. Layanan interaksi dimungkinkan dengan
menggunakan informasi atau data pribadi yang disimpan
dalam smart card dalam set top box atau pesawat televisi.
Pemirsa dimungkinan memilih content tertentu untuk ditampilkan
di layar televisi, seperti informasi tentang harga saham
dan pergerakannya, nilai tukar valuta asing terkini, informasi
statistik atau hasil dari sebuah pertandingan olah raga.
Layanan yang juga bisa dilayani siaran digital ini bisa
pula mencakup home banking dan home shopping, yang membutuhkan
tingkat keamanan tinggi.
Yang terakhir dan telah diimplementasikan di sebuah kota
kecil di Amerika adalah layanan Internet dengan menggunakan
media siaran televisi digital. Untuk mengakses Internet,
pemirsa dapat dengan mudah mengubah pesawat televisi yang
telah dilengkapi dengan keyboard dan trackball. Kalau
dulu tampilannya di monitor, kini di layar televisi.• |
Dalam proses pembangunan tersebut, Sukarna melihat bahwa
bukan berarti bahwa Lativi bisa menentukan peralatan dengan
merek apa saja yang akan dipergunakan. Skala ekonomis dan
ketersediaan suku cadang terutama untuk fast moving parts,
seperti VTR, menjadi pertimbangan penting. Ujung-ujungnya,
Lativi harus follow the market leader. Artinya, Lativi mau
tidak mau dan suka tidak suka harus memilih peralatan yang
berasal dari sejumlah merek yang menjadi market leader.
Untuk stasiun televisi yang terlebih dahulu hadir seperti
SCTV, dorongan untuk melakukan digitalisasi sebenarnya lebih
banyak disebabkan karena kian usangnya peralatan yang sudah
ada. “Obsolete karena sudah berusia di atas sepuluh
tahun,” paparnya. Dengan kian menuanya peralatan tersebut,
maka tak hanya kesesuaian teknologi yang menjadi masalah,
tapi juga biaya perawatannya ikut membengkak. “Jadi
semakin tidak effisien,” papar Rachmat.
Untuk kembali ke peralatan yang fully analog, nampaknya sudah
tidak dimungkinkan lagi. Apalagi peralatan analog justru dirasakan
lebih mahal.
Rachmat merujuk pada pengalamannya, “Tahun 1990-an untuk
peralatan editing analog diperlukan dana sebesar Rp. 2,5 milyar,
sedang sekarang hanya diperlukan sebesar Rp. 250 juta untuk
menghasilkan kualitas yang setara,” paparnya. Lagi pula,
para vendor menyediakan peralatan yang mengombinasikan antara
sistem analog dan digital dalam satu peralatan.
Sebuah VTR terbaru dari suatu vendor yang menjadi leader market
memiliki 4 format dan bisa mendeteksi secara otomatis untuk
playback. Tetapi, hanya bisa merekam dalam format digital.
Ketersediaan semacam ini tentu memudahkan transisi berjalan
secara mulus dan mudah.
Sebuah sumber di RCTI mengungkapkan bahwa kesulitan terbesar
dari digitalisasi dalam stasiunnya adalah life time perangkat
digital yang singkat. Di sisi lain, begitu banyak format digital
yang tersedia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Akibatnya,
persoalan digitalisasi menjadi pilihan yang dilematis. Sebab,
“sekali salah berinvestasi maka bisa jadi akan kejeblos
dalam kerugian yang tidak sedikit”. Tidak heran bila
RCTI sangat hati-hati dalam menjalani proses digitalisasi
ini.
SCTV, hingga saat ini proses digitalisasinya telah mencapai
kisaran 50%. Menurut Rachmat, tahun 2003 ini direncanakan
proses tersebut akan mencapai 75 hingga 80 persen. Namun,
itu tergantung dana yang tersedia. Tapi, secara keseluruhan
proses digitalisasi di SCTV akan berlangsung dalam kurun 2-3
tahun mendatang untuk bisa mencapai 100% untuk keseluruhan
internal organisasi.
Proses digitalisasi bermula dari Master Control, studi produksi
dan pemberitaan, paska produksi hingga ke RF Transmisi. Kini,
proses tersebut ditujukan pada proses pendukung siaran di
luar gedung studio. Ini meliputi pula peralatan-peralatan
analog. Selain itu, proses digitalisasi ditujukan pula pada
pendukung siaran, seperti penyiapan program dan berita, mulai
news gathering hingga editing.
Optimalisasi tergantung SDM
 |
| Optimalisasi perangkat digital:
sangat tergantung pada kualitas SDM sebuah stasiun televisi |
Beruntunglah stasiun televisi yang lebih dulu hadir, karena
persoalan optimalisasi dari perangkat digital justru terletak
dari sumber daya manusianya ketimbang sekedar alat. Indosiar,
RCTI, SCTV, TPI bahkan TVRI, misalnya, rajin menggelar program-program
live atau langsung, baik untuk produksi maupun pemberitaan.
Ini dimungkinkan dengan dukungan armada peralatan mobile dan
portable micro. Untuk siaran live, SCTV misalnya, tidak hanya
berani mengoptimalisasikan penggunaan satelit dan kabel serat
optik yang telah disewanya dari operator telepon. Untuk penyiaran
internal dari studio 8 dan 9 yang berlokasi di Gedung Penta,
Kebon Jeruk ke RF Transmission yang berada di kawasan Gatot
Subroto digunakan gelombang mikro.
Namun, karena gedung SCTV termasuk yang paling rendah ketinggiannya,
maka dipancangkan hub repeater di Plaza Mandiri yang terletak
berseberangan. “Ini daerah yang sangat crowded, apalagi
kami berhadapan langsung dengan gedung Telkom yang merupakan
international gateway,” kata Salah Istanto, System Engineer
SCTV.
Stasiun-stasiun tersebut tidak hanya mengoptimalisasikan pemberitaan
live ataupun news gathering. Sejak tahun lalu, stasiun-stasiun
tersebut bahkan berani melakukan siaran langsung berupa variety
show, yang menghubungkan sejumlah kota besar di tanah air
secara on air.
Bahkan SCTV, misalnya, berani memfasilitasi conference news
antara pengadilan di Jakarta Pusat dengan mantan Presiden
BJ Habibie di Jerman. Sekalipun hal tersebut sempat dipersoalkan
landasan hukumnya, namun yang jelas hal ini menunjukkan peningkatan
kemampuan dan optimalisasi karena dibantu berbagai peralatan
digital.•ew
Go back to previous page |