Broadcasting & Multimedia Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Rachmat Akbari, Senior Manager Technical Operations & Engineering SCTV

Continued from previous page

Master Control sebagai Hulu

Untuk stasiun televisi yang lahir belakangan, permasalahan digitalisasi tidak serumit dibandingkan pendahulunya. Chrys dan Sukarna mengakui adanya keuntungannya hadir belakangan. Bukan saja peralatan digital telah sedemikian maraknya, tapi juga lebih mudah mengimplementasikannya dari hulu ke hilir, serta mengoptimalisasikannya secara menyeluruh di semua lini.

Sukarna memaparkan tahapan implementasi peralatan digital dimulai dari perangkat dalam Master Control, yang merupakan jantung sebuah stasiun televisi. “Kami sengaja melakukan pilihan untuk fully digital,” katanya. Setelah Master Control, set-up pun merambah ke bagian produksi, yang terdiri dari peralatan produksi utama dan penunjang, dari editing hingga ke paska produksi. Menurutnya, semua peralatan yang digunakan sepenuhnya digital.

Untuk melayani pasokan program outsource atau pihak luar, mau tidak mau Lativi juga menyediakan converter dua arah, yaitu dari analog ke digital dan sebaliknya. Namun, biasanya, converter tersebut sudah tergabung dalam VTR (Video Tape Recorder) versi terbaru. Master Control juga terhubung online dengan RF Transmission yang memang fully digital, sebelum siaran dipancar luaskan ke jaringan kerja internal dan terestrial yang terletak di Jakarta Barat.

Dari bagian produksi, set up fully digital dilanjutkan pada bagian automation. Bagian ini merupakan otak dari penyiaran, sehingga semua program dan komersial yang telah berjadual diadress untuk disiarkan pada waktunya. Inti dari bagian ini adalah VTR server yang mampu beroperasi 2 kali 24 jam. Bagian ini terhubung secara online dengan bagian Traffic yang mencatat program dan promo yang telah disiarkan dan online dengan bagian iklan serta keuangan guna keperluan penagihan.

Lahan Bisnis Baru

Apa yang terjadi bila televisi digital sudah benar siaran? Yang jelas stasiun televisi tidak lagi sekedar stasiun televisi seperti yang dikenal saat ini. Stasiun televisi mungkin berubah menjadi perusahaan multimedia atau information provider. Pokoknya, stasiun televisi bisa menyediakan layanan bernilai tambah dibanding sekarang.

Layanan semacam ini bisa memanfaatkan sisa ruang kanal, yang sebagian telah ditempati dengan program siaran tradisionalnya. Layanan yang bernilai tambah ini bisa berupa aplikasi messaging dan aplikasi interaktif.

Aplikasi messaging dapat diberikan ke pemirsa berdasarkan kemampuan stasiun untuk mengarahkan pesan kepada individu atau segmen pasar tertentu. Aplikasi ini bisa berupa bulk mail, yaitu pengiriman brosur ataun katalog. Bisa juga layanan billing, yaitu stasiun mengirimkan tagihan berlangganan televisi atau tagihan-tagihan lainnya langsung ke pemirsa. Layanan ini bisa berupa aplikasi messaging dua arah. Pemirsa juga dapat mengirim balik pesan ke stasiun televisi yang dituju, entah berupa jawaban atas polling atau kuis.

Yang agak sulit sebenarnya adalah aplikasi interaktif karena membutuhkan saluran yang terbuka secara konstan. Layanan semacam ini diperkirakan tidak akan bisa tersedia secara menyeluruh. Layanan interaksi dimungkinkan dengan menggunakan informasi atau data pribadi yang disimpan dalam smart card dalam set top box atau pesawat televisi. Pemirsa dimungkinan memilih content tertentu untuk ditampilkan di layar televisi, seperti informasi tentang harga saham dan pergerakannya, nilai tukar valuta asing terkini, informasi statistik atau hasil dari sebuah pertandingan olah raga. Layanan yang juga bisa dilayani siaran digital ini bisa pula mencakup home banking dan home shopping, yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi.

Yang terakhir dan telah diimplementasikan di sebuah kota kecil di Amerika adalah layanan Internet dengan menggunakan media siaran televisi digital. Untuk mengakses Internet, pemirsa dapat dengan mudah mengubah pesawat televisi yang telah dilengkapi dengan keyboard dan trackball. Kalau dulu tampilannya di monitor, kini di layar televisi.•

Dalam proses pembangunan tersebut, Sukarna melihat bahwa bukan berarti bahwa Lativi bisa menentukan peralatan dengan merek apa saja yang akan dipergunakan. Skala ekonomis dan ketersediaan suku cadang terutama untuk fast moving parts, seperti VTR, menjadi pertimbangan penting. Ujung-ujungnya, Lativi harus follow the market leader. Artinya, Lativi mau tidak mau dan suka tidak suka harus memilih peralatan yang berasal dari sejumlah merek yang menjadi market leader.

Untuk stasiun televisi yang terlebih dahulu hadir seperti SCTV, dorongan untuk melakukan digitalisasi sebenarnya lebih banyak disebabkan karena kian usangnya peralatan yang sudah ada. “Obsolete karena sudah berusia di atas sepuluh tahun,” paparnya. Dengan kian menuanya peralatan tersebut, maka tak hanya kesesuaian teknologi yang menjadi masalah, tapi juga biaya perawatannya ikut membengkak. “Jadi semakin tidak effisien,” papar Rachmat.

Untuk kembali ke peralatan yang fully analog, nampaknya sudah tidak dimungkinkan lagi. Apalagi peralatan analog justru dirasakan lebih mahal.

Rachmat merujuk pada pengalamannya, “Tahun 1990-an untuk peralatan editing analog diperlukan dana sebesar Rp. 2,5 milyar, sedang sekarang hanya diperlukan sebesar Rp. 250 juta untuk menghasilkan kualitas yang setara,” paparnya. Lagi pula, para vendor menyediakan peralatan yang mengombinasikan antara sistem analog dan digital dalam satu peralatan.

Sebuah VTR terbaru dari suatu vendor yang menjadi leader market memiliki 4 format dan bisa mendeteksi secara otomatis untuk playback. Tetapi, hanya bisa merekam dalam format digital. Ketersediaan semacam ini tentu memudahkan transisi berjalan secara mulus dan mudah.

Sebuah sumber di RCTI mengungkapkan bahwa kesulitan terbesar dari digitalisasi dalam stasiunnya adalah life time perangkat digital yang singkat. Di sisi lain, begitu banyak format digital yang tersedia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Akibatnya, persoalan digitalisasi menjadi pilihan yang dilematis. Sebab, “sekali salah berinvestasi maka bisa jadi akan kejeblos dalam kerugian yang tidak sedikit”. Tidak heran bila RCTI sangat hati-hati dalam menjalani proses digitalisasi ini.

SCTV, hingga saat ini proses digitalisasinya telah mencapai kisaran 50%. Menurut Rachmat, tahun 2003 ini direncanakan proses tersebut akan mencapai 75 hingga 80 persen. Namun, itu tergantung dana yang tersedia. Tapi, secara keseluruhan proses digitalisasi di SCTV akan berlangsung dalam kurun 2-3 tahun mendatang untuk bisa mencapai 100% untuk keseluruhan internal organisasi.

Proses digitalisasi bermula dari Master Control, studi produksi dan pemberitaan, paska produksi hingga ke RF Transmisi. Kini, proses tersebut ditujukan pada proses pendukung siaran di luar gedung studio. Ini meliputi pula peralatan-peralatan analog. Selain itu, proses digitalisasi ditujukan pula pada pendukung siaran, seperti penyiapan program dan berita, mulai news gathering hingga editing.

Optimalisasi tergantung SDM

Optimalisasi perangkat digital: sangat tergantung pada kualitas SDM sebuah stasiun televisi

Beruntunglah stasiun televisi yang lebih dulu hadir, karena persoalan optimalisasi dari perangkat digital justru terletak dari sumber daya manusianya ketimbang sekedar alat. Indosiar, RCTI, SCTV, TPI bahkan TVRI, misalnya, rajin menggelar program-program live atau langsung, baik untuk produksi maupun pemberitaan.

Ini dimungkinkan dengan dukungan armada peralatan mobile dan portable micro. Untuk siaran live, SCTV misalnya, tidak hanya berani mengoptimalisasikan penggunaan satelit dan kabel serat optik yang telah disewanya dari operator telepon. Untuk penyiaran internal dari studio 8 dan 9 yang berlokasi di Gedung Penta, Kebon Jeruk ke RF Transmission yang berada di kawasan Gatot Subroto digunakan gelombang mikro.

Namun, karena gedung SCTV termasuk yang paling rendah ketinggiannya, maka dipancangkan hub repeater di Plaza Mandiri yang terletak berseberangan. “Ini daerah yang sangat crowded, apalagi kami berhadapan langsung dengan gedung Telkom yang merupakan international gateway,” kata Salah Istanto, System Engineer SCTV.

Stasiun-stasiun tersebut tidak hanya mengoptimalisasikan pemberitaan live ataupun news gathering. Sejak tahun lalu, stasiun-stasiun tersebut bahkan berani melakukan siaran langsung berupa variety show, yang menghubungkan sejumlah kota besar di tanah air secara on air.

Bahkan SCTV, misalnya, berani memfasilitasi conference news antara pengadilan di Jakarta Pusat dengan mantan Presiden BJ Habibie di Jerman. Sekalipun hal tersebut sempat dipersoalkan landasan hukumnya, namun yang jelas hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan dan optimalisasi karena dibantu berbagai peralatan digital.•ew

Go back to previous page

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved