Columns Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Regulasi dan Strategi

 

Dunia informasi dan telekomunikasi (infokom) atau ICT (Information & Communications Technology), dalam dekade terakhir ini, telah memberikan suatu atraksi yang sangat fenomenal. Baik dampaknya terhadap ekosistem masyarakat, bisnis dan industri global maupun reformasi dalam dunia infokom itu sendiri. Banyak kemajuan dan perubahan yang dihasilkan industri infokom di berbagai sektor kehidupan yang membawa suatu paradigma baru, yang sering disebut sebagai genre new society. Meski kesempurnaan paradigma itu masih jauh, baik dilihat dari segi definitif apalagi pencapaian nyata yang bersifat stabil.

Diyakini bahwa era teleponi akan berakhir dan era multimedia sebagai penggantinya. Namun, konsep bisnis dan teknologinya belum mapan. Sampai saat ini, semua masih labil untuk dijelaskan. Bagi beberapa kalangan oportunistik, cukup dengan rambu yang “kabur”, mereka mencoba maju menarik gerbong raksasa.

Di sisi lain, dinamika industri memberi pelajaran bahwa melakukan prediksi jangka panjang sangat sulit. Karenanya, muncul pendekatan The Strategy is Execution. Pendekatan pragmatispun kemudian dilakukan untuk meraup hasil yang ada walau berceceran, sepanjang nilai ekonomisnya masih cukup untuk berjalan beberapa langkah ke depan, sambil mencari harapan yang lebih terang. Namun, eksekusi saja tidak cukup. Apa baiknya eksekusi, jika sasaran dan strateginya salah.

Secara gamblang sering dibuktikan bagaimana konvergensi ICT memberikan dampak mulia bagi masyarakat. Namun, jangan lupa realitas yang terjadi belakangan ini. Kita dituntut harus betul-betul sadar dan tergugah untuk melihat kenyataan bahwa industri dan bisnis yang mengusungnya sangat rentan. Sesuatu yang tidak dapat ditutup-tutupi lagi.

Lihat saja fenomena kejatuhan WorldCom, yang menjadi catatan sejarah bisnis di AS dalam hal nilai kebangkrutannya. Lihat juga kejadian yang sedang terjadi dengan AOL (America On Line). Nilai saham industri ini turun drastis. Para venture capitalist pun tidak lagi melirik pengembangan lanjutan dari industri ini sebagaimana beberapa bulan yang lalu. Apa makna semua pesan ini? Apakah kita akan menemukan suatu realitas yang sebenar-benarnya dari tendensi yang disebut sebagai bubble economy ? Dimana semuanya akan meledak, hancur dan hilang begitu saja, setelah menjadi sangat besar dalam waktu singkat. Akankah industri ini mengalami kematian atau kemunduran yang nyata? Itukah sebabnya mengapa revitalisasi menjadi kata yang tepat untuk dibicarakan saat ini?

Sebelum mencoba memberikan alternatif dalam menemukan jalan yang lebih terang, hendaknya kita tidak lupa membicarakan akar masalahnya. Akar itu dapat berarti mencoba menganalisis industri asal sebagai cikal bakal, yaitu, misalnya, industri telekomunikasi. Akar lainnya adalah pendekatan psiko sosial atau psiko bisnis, yang tidak melupakan nature, culture, dan jati diri manusia. Kita akan melihat persoalan dengan cara-cara yang tidak berharap keajaiban datang, namun langkah nyata. Dengan mendudukkan akar masalahnya dalam tataran filosofis diharapkan dapat menggugah kita melihat dengan lebih jernih, mana yang belum betul dan mana yang sudah benar dan perlu dilanggengkan.

Dalam perkembangannya, industri telekomunikasi memiliki karakter yang unik dan solid. Secara alami, industri ini tumbuh dari industri yang diatur: baik dari segi penanganan teknologi, pelanggan dan strategi bisnis. Faktor-faktor manuver teknologi, sikap pasar dan persaingan, tuntutan modal dan keuangan ternyata telah mengubah pola budaya industri ini.

Dengan kata lain, maturitas yang telah lama dimiliki coba digerakkan untuk memasuki kurva maturitas baru, dimana tenaga penggeraknya ternyata masih samar. Secara nyata tersirat kepentingan mendesak untuk suatu perubahan, namun pembuatan arah strategi dan kebijakan merupakan suatu seni pengambilan keputusan yang amat dinamis dan kontemporer. Karenanya, bagi siapapun yang saat ini sebagai pemegang keputusan di industri tersebut dituntut menjadi inovator ulung, yang dapat membawa korporasinya mampu melalui tantangan yang belum tentu arah rimbanya itu.

Faktor Dominan
Secara lebih dalam, khususnya dari kacamata telekomunikasi Indonesia, desakan proses akulturasi industri perlu disikapi sebelum mencoba mengambil keputusan. Caranya dengan mengenali setiap komponen, yang secara filosofis perlu dilihat dari aspek kekinian. Ringkasnya, sebagai berikut:

• Technology driven. Kemajuan selalu diwarnai oleh dorongan percepatan teknologi. Hanya saja, perlu disadari bahwa teknologi infokom adalah ‘enabler’ untuk mendorong tumbuhnya gerak industri riil dan jasa lainnya. Karenanya, cukuplah ia menjadi roda pemercepat mencapai tujuan. Kebiasaan manusia tidak bisa melompat. Namun, jika pendekatannya pas, introduksi teknologi bisa berdampak epidemik, seperti halnya industri selular. Banyak perkembangan cepat teknologi informasi diawali dengan ‘hype’. Gelombang cepat ‘hype’ ini dihindari dengan merangkul teknologi hanya pada tahap adanya kecerahan dan maturitas pasar. Di tengah pengembangan industri dan bisnis yang semakin standar dan generik, ruang inovasi semakin sempit dan cepat ditiru. Inovasi teknologi dan konsep bisnis harus seiring dan selektif, serta bertumpu pada kekuatan dan keunggulan yang sudah ada.

• Capital driven. Keinginan mendapatkan keuntungan (profit taking), baik secara langsung melalui industri (membangun korporat) maupun melalui mekanisme pasar modal sekunder/tersier, seringkali mendorong terjadinya desinkronisasi jalannya korporat/industri. Hendaknya konsentrasi para eksekutif dan inovator bisnis kembali pada sektor riil di lapangan. Misalnya dalam hal peningkatan efisiensi, pemuasan kebutuhan pelanggan, dan pertumbuhan.

• Trend demand driven.
Seringkali suatu prospek figur dari suatu pertumbuhan menjadi dorongan yang menggairahkan dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan. Namun perlu dikaji mendalam, apakah cukup seimbang antara pertumbuhan kemampuan industri dengan tuntutan pasar, atau sebaliknya. Jangan sampai kita mengolah lahan atau pasar yang itu-itu saja. Upaya ekstensifikasi pasar perlu diimbangi dengan intensifikasi layanan kepada pasar agar beban ekstensifikasi menjadi lebih ringan. Intensifikasi pasar, antara lain dengan meningkatkan efisiensi dan kepuasan pelanggan, serta layanan yang lebih variatif dan inovatif. Ekstensifikasi pada lahan terbatas, hanya akan menghancurkan pasar yang ujungnya menghancurkan industri itu sendiri, seperti terjadinya perebutan lahan melalui persaingan harga yang tidak sehat.•

Indra M. Utoyo • General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved