Dunia
informasi dan telekomunikasi (infokom) atau ICT (Information
& Communications Technology), dalam dekade terakhir ini,
telah memberikan suatu atraksi yang sangat fenomenal. Baik
dampaknya terhadap ekosistem masyarakat, bisnis dan industri
global maupun reformasi dalam dunia infokom itu sendiri. Banyak
kemajuan dan perubahan yang dihasilkan industri infokom di
berbagai sektor kehidupan yang membawa suatu paradigma baru,
yang sering disebut sebagai genre new society. Meski kesempurnaan
paradigma itu masih jauh, baik dilihat dari segi definitif
apalagi pencapaian nyata yang bersifat stabil.
Diyakini bahwa era teleponi akan berakhir dan era multimedia
sebagai penggantinya. Namun, konsep bisnis dan teknologinya
belum mapan. Sampai saat ini, semua masih labil untuk dijelaskan.
Bagi beberapa kalangan oportunistik, cukup dengan rambu yang
“kabur”, mereka mencoba maju menarik gerbong raksasa.
Di sisi lain, dinamika industri memberi pelajaran bahwa melakukan
prediksi jangka panjang sangat sulit. Karenanya, muncul pendekatan
The Strategy is Execution. Pendekatan pragmatispun kemudian
dilakukan untuk meraup hasil yang ada walau berceceran, sepanjang
nilai ekonomisnya masih cukup untuk berjalan beberapa langkah
ke depan, sambil mencari harapan yang lebih terang. Namun,
eksekusi saja tidak cukup. Apa baiknya eksekusi, jika sasaran
dan strateginya salah.
Secara gamblang sering dibuktikan bagaimana konvergensi ICT
memberikan dampak mulia bagi masyarakat. Namun, jangan lupa
realitas yang terjadi belakangan ini. Kita dituntut harus
betul-betul sadar dan tergugah untuk melihat kenyataan bahwa
industri dan bisnis yang mengusungnya sangat rentan. Sesuatu
yang tidak dapat ditutup-tutupi lagi.
Lihat saja fenomena kejatuhan WorldCom, yang menjadi catatan
sejarah bisnis di AS dalam hal nilai kebangkrutannya. Lihat
juga kejadian yang sedang terjadi dengan AOL (America On Line).
Nilai saham industri ini turun drastis. Para venture capitalist
pun tidak lagi melirik pengembangan lanjutan dari industri
ini sebagaimana beberapa bulan yang lalu. Apa makna semua
pesan ini? Apakah kita akan menemukan suatu realitas yang
sebenar-benarnya dari tendensi yang disebut sebagai bubble
economy ? Dimana semuanya akan meledak, hancur dan hilang
begitu saja, setelah menjadi sangat besar dalam waktu singkat.
Akankah industri ini mengalami kematian atau kemunduran yang
nyata? Itukah sebabnya mengapa revitalisasi menjadi kata yang
tepat untuk dibicarakan saat ini?
Sebelum mencoba memberikan alternatif dalam menemukan jalan
yang lebih terang, hendaknya kita tidak lupa membicarakan
akar masalahnya. Akar itu dapat berarti mencoba menganalisis
industri asal sebagai cikal bakal, yaitu, misalnya, industri
telekomunikasi. Akar lainnya adalah pendekatan psiko sosial
atau psiko bisnis, yang tidak melupakan nature, culture, dan
jati diri manusia. Kita akan melihat persoalan dengan cara-cara
yang tidak berharap keajaiban datang, namun langkah nyata.
Dengan mendudukkan akar masalahnya dalam tataran filosofis
diharapkan dapat menggugah kita melihat dengan lebih jernih,
mana yang belum betul dan mana yang sudah benar dan perlu
dilanggengkan.
Dalam perkembangannya, industri telekomunikasi memiliki karakter
yang unik dan solid. Secara alami, industri ini tumbuh dari
industri yang diatur: baik dari segi penanganan teknologi,
pelanggan dan strategi bisnis. Faktor-faktor manuver teknologi,
sikap pasar dan persaingan, tuntutan modal dan keuangan ternyata
telah mengubah pola budaya industri ini.
Dengan kata lain, maturitas yang telah lama dimiliki coba
digerakkan untuk memasuki kurva maturitas baru, dimana tenaga
penggeraknya ternyata masih samar. Secara nyata tersirat kepentingan
mendesak untuk suatu perubahan, namun pembuatan arah strategi
dan kebijakan merupakan suatu seni pengambilan keputusan yang
amat dinamis dan kontemporer. Karenanya, bagi siapapun yang
saat ini sebagai pemegang keputusan di industri tersebut dituntut
menjadi inovator ulung, yang dapat membawa korporasinya mampu
melalui tantangan yang belum tentu arah rimbanya itu.
Faktor Dominan
Secara lebih dalam, khususnya dari kacamata telekomunikasi
Indonesia, desakan proses akulturasi industri perlu disikapi
sebelum mencoba mengambil keputusan. Caranya dengan mengenali
setiap komponen, yang secara filosofis perlu dilihat dari
aspek kekinian. Ringkasnya, sebagai berikut:
• Technology driven. Kemajuan selalu
diwarnai oleh dorongan percepatan teknologi. Hanya saja, perlu
disadari bahwa teknologi infokom adalah ‘enabler’
untuk mendorong tumbuhnya gerak industri riil dan jasa lainnya.
Karenanya, cukuplah ia menjadi roda pemercepat mencapai tujuan.
Kebiasaan manusia tidak bisa melompat. Namun, jika pendekatannya
pas, introduksi teknologi bisa berdampak epidemik, seperti
halnya industri selular. Banyak perkembangan cepat teknologi
informasi diawali dengan ‘hype’. Gelombang cepat
‘hype’ ini dihindari dengan merangkul teknologi
hanya pada tahap adanya kecerahan dan maturitas pasar. Di
tengah pengembangan industri dan bisnis yang semakin standar
dan generik, ruang inovasi semakin sempit dan cepat ditiru.
Inovasi teknologi dan konsep bisnis harus seiring dan selektif,
serta bertumpu pada kekuatan dan keunggulan yang sudah ada.
• Capital driven. Keinginan mendapatkan
keuntungan (profit taking), baik secara langsung melalui industri
(membangun korporat) maupun melalui mekanisme pasar modal
sekunder/tersier, seringkali mendorong terjadinya desinkronisasi
jalannya korporat/industri. Hendaknya konsentrasi para eksekutif
dan inovator bisnis kembali pada sektor riil di lapangan.
Misalnya dalam hal peningkatan efisiensi, pemuasan kebutuhan
pelanggan, dan pertumbuhan.
• Trend demand driven. Seringkali suatu prospek
figur dari suatu pertumbuhan menjadi dorongan yang menggairahkan
dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan. Namun perlu
dikaji mendalam, apakah cukup seimbang antara pertumbuhan
kemampuan industri dengan tuntutan pasar, atau sebaliknya.
Jangan sampai kita mengolah lahan atau pasar yang itu-itu
saja. Upaya ekstensifikasi pasar perlu diimbangi dengan intensifikasi
layanan kepada pasar agar beban ekstensifikasi menjadi lebih
ringan. Intensifikasi pasar, antara lain dengan meningkatkan
efisiensi dan kepuasan pelanggan, serta layanan yang lebih
variatif dan inovatif. Ekstensifikasi pada lahan terbatas,
hanya akan menghancurkan pasar yang ujungnya menghancurkan
industri itu sendiri, seperti terjadinya perebutan lahan melalui
persaingan harga yang tidak sehat.•
Indra M. Utoyo
• General Manager eBusiness, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi
Indonesia, Tbk.
|