Columns Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Empat Pertimbangan

 

oleh Aditya Syahrizal

Meski pertama kali digunakan untuk meningkatkan mutu proses kerja di bidang manufaktur, namun penerapan konsep Six Sigma terus berkembang. Saat ini, boleh dikatakan, banyak perusahaan yang telah menerapkan Six Sigma, yakni selain untuk meningkatkan mutu di industri manufaktur, juga meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan jasa – fungsi pelayanan dalam setiap sektor industri.

Six Sigma, awalnya dikembangkan oleh Motorola sekitar tahun 1980-an di masa kepemimpinan Bob Galvin. Penerapannya ditujukan untuk proses produksi, karena volume produksi yang tinggi dan juga tingkat standarisasinya. Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi bahan sisa (waste) melalui pencapaian hasil yang hampir sempurna (tingkatan mutu Six Sigma berarti tidak lebih dari 3,4 defect per satu juta produk atau 99.99966% produk atau layanan yang bermutu sesuai dengan harapan customer).

Penerapan Six Sigma jelas memiliki fokus pada peningkatan mutu, baik kepada produk maupun layanan ke customer, yang berarti: melakukan yang lebih baik, sumber daya yang lebih efisien, melakukan yang lebih cepat dan dengan mutu yang lebih tinggi dari perspektif permintaan customer!

Selama ini, pertanyaan dan ulasan yang selalu muncul terhadap penilaian mutu kinerja proses suatu perusahaan lebih tertuju ke dalam atau menggunakan kacamata internal; bahwa proses Anda sudah baik, sudah bermutu tinggi atau sudah cepat dan lain sebagainya, tetapi penilaian tersebut datangnya dari Anda atau team Anda sendiri. Anda jarang bertanya apakah customer Anda memiliki persepsi dan penilaian yang sama terhadap mutu dari proses delivery yang Anda berikan. Kemampuan untuk mengenali kebutuhan customer dan bagaimana proses Anda mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seberapa cepat Anda dapat melayani mereka atau seberapa tinggi mutu produk dan layanan yang Anda berikan kepada mereka, adalah inti dari penerapan konsep 6 Sigma. Pendekatan pemikiran semacam ini juga lebih dikenal dengan istilah Outside-In Thinking Approach.

Mengapa berdasarkan permintaan customer? Karena customer-lah yang menggunakan dan memutuskan untuk menggunakan atau menggunakan kembali atau bahkan tidak menggunakan sama sekali produk atau jasa perusahaan Anda. Lebih dari itu, karena fokus pada customer, maka setiap perubahan atau peningkatan mutu yang dilakukan harus pula mampu dirasakan oleh customer.

Seperti diungkapkan mantan pimpinan General Electric, Jack Welch, bahwa “Customer menentukan mutu”. Selanjutnya, sebagai konsekuensinya, karyawan menentukan mutu pada setiap titik proses di dalam perusahaan. Diharapkan dari berbagai proses yang dilakukan, yang telah meningkat mutunya tersebut, kebutuhan customer akan dapat dipenuhi. Tetapi, akhirnya, yang lebih menentukan adalah customer.

Karenanya, upaya meningkatkan mutu produk, proses dan layanan akan mampu membawa pada suatu titik dimana customer tidak lagi memiliki alasan untuk tidak memilih produk atau layanan Anda. Karena Anda mampu memberikan “sesuatu” yang melebihi harapan customer.

Semakin baik upaya Anda untuk secara terus-menerus berusaha memenuhi harapan atau bahkan mampu melampaui harapan customer itulah yang menjadi titik utama konsep penerapan mutu dalam Six Sigma.
Penerapan konsep Six Sigma dapat dilihat dari dua sisi yang saling melengkapi dan menyatu. Ke dalam berarti peningkatan efisiensi dan efektivitas seluruh proses yang saling terkait dan ke luar berarti peningkatan pemenuhan layanan yang melebihi harapan customer (mutu yang memiliki customer impact!)

Lebih dari itu, customer pun dapat dilihat dari masing-masing sisi, di dalam customer adalah bagian atau divisi yang akan menggunakan layanan divisi lain yang terkait, yang membentuk satu proses yang terpadu (our next process is our customer). Sedang di luar, customer adalah mereka yang akan menggunakan produk atau layanan yang dijual oleh suatu perusahaan.

Secara esensial apa yang dilakukan dalam konteks penerapan Six Sigma ini adalah bagaimana terjadi suatu proses peningkatan, baik produk maupun layanan, yang secara signifikan dapat diukur (measurable). Dengan begitu, mutu lebih dipahami sebagai upaya untuk melakukan sesuatu secara benar sejak awal guna memenuhi harapan customer. Konsisten dan benar untuk setiap output proses guna mencapai kestabilan kinerja proses yang ada.

Lantas apa hubungannya dengan penghematan atau pendapatan perusahaan? Akankah penerapan Six Sigma meningkatkan efisiensi, pendapatan perusahaan dan jumlah customer?

Jika proses peningkatan mutu dan berarti juga kinerja proses dilakukan, baik dalam bentuk kecepatan (speed), ketepatan (accuracy), tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction level), efisiensi kerja (efficiency) dan efektivitas kerja (effectiveness), maka secara langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap Net Income perusahaan atau dalam konsep mutu biasa dikenal dengan istilah “Quality Net Income (QNI)”.

Namun, mungkin Anda belum mengetahui seberapa besar dampaknya. Tetapi, yang paling penting adalah bahwa proses peningkatan mutu yang dilakukan harus memiliki dampak terhadap peningkatan Quality Net Income. Yaitu peningkatan terhadap produktivitas, pertumbuhan, pengelolaan tingkat resiko dan perhatian terhadap pelanggan.

Sebaliknya produk atau layanan yang buruk, jika hanya dilihat dari perspektif biaya, ibarat sebongkah es dalam air, yang hanya terlihat bagian atasnya saja. Namun, dampak yang sesungguhnya jauh lebih besar yang terkadang tak mudah dilihat atau diketahui, karena tak mudah diukur.

Dengan layanan yang buruk mutunya, perusahaan akan kehilangan kesempatan yang baik, yang sangat mungkin diraihnya. Mungkin juga akan kehilangan penjualan, kehilangan kepercayaan pelanggan dan pemesanan yang berubah, yang mestinya sudah diperoleh.

Lebih dari itu, sebagai konsekuensinya, perusahaan akan mengeluarkan biaya lainnya, seperti biaya perbaikan (maintenance), biaya servis tambahan, biaya kekecewaan pelanggan, biaya over stock dan biaya waktu yang terbuang. Dari pengalaman biaya tambahan yang dibutuhkan sebagai akibat buruknya mutu layanan dapat mencapai 25%-35% dari total penjualan.

Di sisi lain, dengan penerapan Six Sigma, terbukti banyak memberikan dampak yang positif, salah satunya berupa penghematan pengeluaran perusahaan, di samping tentunya efisiensi internal. Honeywell (sekarang AlliedSignal), misalnya, terbukti berhasil menghemat lebih dari 800 juta dolar AS setelah menerapkan Six Sigma sejak 1998.

Motorola, yang menerapkan Six Sigma sejak 1986, mampu menghemat tak kurang dari 16 milyar dolar AS untuk 11 tahun terakhir. Untuk tahun 1987-1994 perusahaan ini mampu menghemat 1,4 milyar dolar AS di proses manufaktur. Sedang General Electric (GE), yang menerapkannya sejak tahun 1995, terbukti mampu menghemat sekitar 12 milyar dolar AS selama kurun waktu 5 tahun.•

Aditya Syahrizal
• pengamat & praktisi Total Quality Management, dan telah meraih Black Belt Certified.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved