|
Pasar
seluas 2,4 hektar, yang disebut-sebut sebagai pusat grosir
tekstil terbesar di Asia Tenggara, ini memiliki 7.638 unit
kios dengan jumlah pedagang 4.535 orang. Diperkirakan pasar
ini menjadi tempat perputaran uang mencapai Rp 15 trilyun
per tahun. Tak kurang dari 80 persen pelanggannya merupakan
pembeli dari daerah, hampir dari seluruh Indonesia. Belakangan,
bahkan banyak juga yang datang dari Afrika.
Pasar Tanah Abang ini telah beberapa kali dilalap si jago
merah. Itu terjadi pada tahun 1740, 1978, 1985 dan terakhir
terjadi Februari 2003 lalu. Namun, ia tetap kokoh menjadi
kawasan perdagangan yang tak mudah tergantikan. Terbakarnya
pasar tanah Abang ini, juga berdampak pada para pemasok yang
selama ini mengandalkan perdagangannya di wilayah itu.
Tetapi, Pasar Tanah Abang terlalu penting dan strategis untuk
ditelantarkan. Karenanya, perlu ada sesuatu yang perlu dikembangkan,
sehingga Pasar Tanah Abang yang secara fisik menjadi representasi
perputaran nilai binis milyaran rupiah, tak hanya tergantung
pada lingkungan fisik. Namun, adakah alternatif lain yang
mungkin dapat dilakukan? Bagaimana dengan eCommerce?
Meski tak secara sengaja, bersamaan dengan terbakarnya Pasar
Tanah Abang itu, tim eBizzAsia (Tharsikin Insa, Nh. Putri,
Dahlan Rebo Paing) berkesempatan mewawancarai Pakar Teknologi
Informasi (TI), yang juga dosen dan partner Ernst & Young,
Indonesia, Jos Luhukay, yang menyinggung alternatif apa yang
mungkin dapat dikembangkan untuk meningkatkan bisnis Pasar
Tanah Abang itu. Berikut petikannya.
Apa pandangan Anda mengenai
e-Commerce di Indonesia?
Kalau bicara e-Commerce, implementasinya kan bisa bermacam-macam.
Sekarang ini masih banyak perusahaan yang berdagang seperti
biasa, tetapi mereka telah mulai menggunakan call center atau
contact center, SMS (short message service) dan Internet.
Jadi, dengan kata lain, cara mereka melakukan perdagangannya
masih biasa, tetapi ditunjang oleh sarana TI. Itu sebenarnya
sudah masuk ke dalam e-Commerce atau tidak. Saya cenderung
mengatakannya, Ya.
Banyak juga rekan-rekan yang mulai aktif berdagang lewat saluran
elektronik. Itu juga pasti, Ya. Pertumbuhan bisnis di Indonesia
‘kan lebih banyak ditunjang oleh konsumen. Jadi bukan
korporasi, tetapi konsumen.
Customer recovery ini penting sekali, karena akibatnya menyebabkan
transaksi perorangan yang cukup tinggi. Kalau kita lihat bahwa
banyak sekali ketergantungan-ketergantungan kita pada pola-pola
pasar biasa. Misalnya, pasar Tanah Abang menunjukkan ketergantungan
kita pada pasar fisik. Seharusnya kita dan sebagainya itu
mulai mempertanyakan apakah bisa kita menggunakan pola perdagangan
e-Commerce, untuk membantu menunjang perluasan dari pasar
fisik. Jawabannya seharusnya, Ya.
Apakah e-Commerce itu berarti
menggunakan Internet?
Masalahnya adalah para pembeli di Indonesia, yang terhubung
ke Internet yang bisa menggunakan “e-transaction”
tidak banyak. Kebanyakan mereka mungkin belanjanya pun tidak
di pasar Tanah Abang. Jadi ada mismatch. Akibatnya, orang
mulai melihat bahwa jangan-jangan itu bisanya hanya dengan
menggunakan m-Commerce (mobile commerce). Bedanya antara e-Commerce
dengan m-Commerce itu apa? Kalau e-Commerce itu kita menyebutnya
dengan elektronik. Tapi, banyak juga orang yang menginterpretasikannya
menggunakan Internet.
Sedang m-Commerce itu mobile, pakai handphone. Pahadal, sebetulnya
eCommerce itu mencakup Internet dan handphone. Hanya saja,
hal itu biasanya dikonotasikan menggunakan I (Internet). Kalau
hal ini bisa dilakukan, maka pasar itu bisa meluas sendiri
dengan cepat. Karena, artinya, dalam hal ini, dukungan elektronik,
SMS dan sebagainya untuk melakukan transaksi, akan bisa sangat
membantu.
Perlu ada yang meng-encourage?
Tidak. Tidak perlu encourage. Hal itu akan terjadi sendiri.
Jadi, sekarang ini, tinggal para pengusaha selular diharapkan
bisa meningkatkan layanannya, memperluas jaringannya. Hal
itu dengan sendirinya akan terjadi.
Jadi pesanan kain cita, misalnya, sudah bisa menggunakan SMS
semua. Mereka cukup dengan menunjuk kain pesanannya dengan
identifikasi nomor berapa. Setengahnya adalah di dalam pasar
konvensional seperti di Tanah Abang, dimana selama ini orang
harus bisa meraba dan merasakan terlebih dahulu, untuk bisa
mengatakan, “Aku pilih yang ini”.
Sedang kalau menggunakan SMS, dia cukup menyebutkan kebutuhannya,
misalnya “Aku butuh kain cita kembang-kembang yang warnanya
ini, yang dibuat oleh pabrik ini, seperti yang kemarin. Namun,
hal itu susah untuk mereferensikannya kembali komoditas yang
mau ia beli atau jual.
Upaya
apa yang bisa dilakukan?
Padahal kalau hal itu ditunjang oleh sedikit fasilitas yang
agak formal saja, misalnya para penjual membuat sebuah asosiasi.
Asosiasi inilah yang kemudian menerbitkan semacam selebaran
yang isinya mengenai spesifikasi kain, misalnya, yang sudah
ada nomornya. Sehingga, pemesanan cukup dilakukan dengan menyebutkan
kain cita nomor segini, misalnya. Yang sudah ada nomornya
itu. Jadi saya tinggal menyebutkan, “Pak saya pesan
kain cita nomor CMK 012, misalnya. Panjangnya 50 meter atau
100 meter. Dia sudah tahu, karena hal itu sudah ada referensinya.
Bukankah hal itu di Indonesia
masih jauh?
Tidak. Itu dapat dengan mudah dilakukan. Itu bisa karena para
pedaganglah yang membuatnya. Cukup dengan memberi nomornya
saja. Jadi, kalau mereka mau melihat contoh, itu dapat dilakukan
di satu tempat tertentu yang tidak menjual. Untuk melakukan
otomatisasi perdagangan, maka diperlukan sentra-sentra seperti
itu. Di tempat itu tidak dilakukan transaksi, tetapi sebagai
tempat referensi saja.
Nah, kemudian katalog-katalog ini dititipkan di koran, misalnya.
Atau di pameran, sehingga semua orang dapat dengan mudah memperolehnya.
Sehingga, para pembeli bisa membuat pesanan dengan me-refer
mau beli kain cita nomor ini-ini. Atau ia bertanya, “Nomor
sekian saya suka, tapi ada nggak yang warnanya pink!
Jadi, akan tertolong banyak. Akibatnya eCommerce di Indonesia
itu selayaknya melangkah satu langkah lagi dengan membentuk
kesepakatan bersama antara para penjual dan pemasok. Tidak
usah menunggu pemerintah, tidak usah menunggu KADIN. Sedang
pembelinya tinggal merefer (mengacu) terhadap katalog yang
mereka keluarkan.
Nah, mereka bisa menerbitkannya kan dengan tempat-tempat tertentu
sebagai referensinya. Sehingga mereka tidak perlu membangun
pasar fisik sebesar dan seramai pasar Tanah Abang.
Pelajaran apa yang bisa diambil
dari terbakarnya pasar Tanah Abang?
Memang tidak mudah menggantikan pasar Tanah Abang, karena
ia punya citra tersendiri sebagai pasar ritel terbesar dan
sudah lama keberadaannya. Tetapi, kebakaran yang terjadi di
pasar Tanah Abang ini mengajarkan kepada kita satu hal baru,
bahwa kita bisa mengambil hikmahnya dengan mencoba mengembangkannya
tidak hanya di jalur fisik.
Intinya tidak muluk-muluk, cukup di antara para pemasok dan
penjual, mereka membuat kesepakatan tidak usah menggunakan
asosiasi macam-macam. Cukup 5-10 orang ngumpul berjanji, akhirnya
kita menggunakan tabel produk (katalog) tertentu, yang telah
memiliki spesifikasi atas produk-produk yang akan mereka dagangkan.
Bagaimana para produsen lainnya?
Secara otomatis produsen-produsen lainnya akan ikut. Karsa-karsa
semacam ini sudah waktunya tumbuh. Kalau hal itu tumbuh, orang
akan dengan mudah menuju ke arah sana. Sedang pembayaran atau
transaksinya kan bisa dibayarkan lewat bank. Itu ‘kan
sudah bisa.
 |
| Salah satu sudut Pasar Tanah Abang
pasca kebakaran: Memang tidak mudah menggantikan peran
pasar ritel terbesar ini. |
Tentu harus ada yang memulainya?
Hal itu juga bisa dimulai dengan pembuatan katalog produk
yang bersifat standar oleh para produsen. Katalog itu yang
kemudian bisa digunakan oleh para mitra dagang dan, bahkan,
para pembeli ritel pun bisa menggunakannya. Ketika ada pesanan
para pedagang atau pembeli bisa merefer ke katalog tertentu,
misalnya yang diterbitkan bulan April. Dan itu kan bisa dilakukan
lewat telepon, lewat SMS dan sebagainya. Jadi, tidak perlu
harus datang sendiri.
Jadi itu, sebenarnya merupakan
ekstensi dari pasar konvensional?
Ya. Jadi pasar konvensional itu cukup dengan melakukan satu
langkah lagi, maka pembentukan pasar itu sudah akan terbentuk
dengan mudah. Itu susah digantikan dengan elektronik. Karena,
bagaimana kita memberikan jalan masuk bagi orang yang jarang
atau belum masuk ke Internet. Kalaupun masuk, dia cuma melihat
contoh-contoh warna kain, yang berbeda-beda warnanya.
Kalau itu ada contoh katalog-katalognya, bisa menjadi lebih
mudah. Katalognya bisa ditempatkan di tempat-tempat tertentu,
misalnya ITPC (Indonesian Trade Promotion center) atau sentra-sentra
tertentu lainnya.
Bisa juga diterbitkan. Bayangkan kalau satu halaman koran,
bolak balik, itu sudah berapa banyak isi katalog yang termuat
di sana. Harganya bisa bermacam-macam, bisa jual lebih mahal,
atau lebih murah. Tapi yang seharusnya diterbitkan adalah
harga yang recommended. Orang boleh menjual lebih rendah,
tergantung masing-masing.
Mestinya dari para produsen,
ya?
Yah, bisa jadi. Nampaknya usulannya bisa datang dari para
produsen, yang meng-encourage para pedagang yang memiliki
latar belakang yang berbeda-beda. Kalau perusahaan kan lebih
terkoordinir. Dia bisa menerbitkan. Kalau di pekalongan ribut-ribut
pasarnya mati, sebenarnya pola ini mungkin bisa menjadi solusi
bagi mereka.
Mestinya mereka diajari bagaimana menolong diri mereka sendiri.
Inisiatif ini bisa dilakukan tidak usah menunggu sampai pasarnya
terbentuk. Kalau menunggu pasarnya terbentuk, itu akan lama
sekali. Belum lagi membangun gedungnya. Jadi, pasar yang ingin
dikembangkan akan memiliki kanal ganda, antara pasar fisik
atau melalui katalog-katalog itu. Harusnya sudah bisa dikembangkan.
Contohnya, dengan terjadinya kebakaran di Tanah Abang kita
tidak punya alternatif lain. Mestinya, apapun keadaannya ada
yang mau mengambil inisiatif. Siapa yang diuntungkan, ya sebenarnya
para produsen.
Itu eCommerce yang sebenarnya?
Itulah yang sesungguhnya e-Commerce. Kalau kita mau eCommerce
itu harus lewat Internet, juga membangun rantai pasoknya.
Itu sih oke-oke aja, tapi ya terbatas. Tidak semua orang punya
akses Internet. Kalau bicara eCommerce, ya artinya B2B aja.
Lantas bagaimana B2C?
Bagaimana potensinya?
Sebenarnya, sekarang ini pengguna teknologi seluler lewat
mobile phone kan sudah jauh melebihi fixed phone. Pengguna
handphone sudah mencapai 10 juta, sedang Internet 2 juta aja
belum. Jadi perkembangannya akan jauh lebih cepat, bisa lewat
SMS.
Siapa yang menggerakkan? Sebaiknya ya para produsen. Biarkan
pasar ini terjadi. Jangan ada regulator, malah lebih sulit.
Pemerintah hanya perlu memfasilitasi saja. Kalau inisiatifnya
datang dari swasta, kita punya mitra 5-10 orang sudah bisa
jalan. Kalau menunggu pemerintah, nanti terlalu lambat. Karena
masih studi lagi, mau berapa lama waktunya. Cukup dimulai
dengan enam orang pedagang saja hal itu sudah bisa berjalan.
Bukankah mereka juga membutuhkan
infrastruktur?
Memang betul infrastruktur memudahkan terjadinya transaksi,
tetapi bukan prasyarat, fasilitasi. Teknologi lebih bersifat
mendukung. Tetapi, tanpa teknologi pun hal itu terjadi. Memang
betul dengan adanya teknologi mereka akan dipermudah, diperlancar.
Itu betul. Tapi masyarakat akan mencari sendiri. Setiap air
akan mengalir mencari tempatnya sendiri. Tidak perlu dibuatkan
selokan airnya dahulu, air tetap akan mengalir ke tempat yang
lebih rendah.
Mengenai konsep I before e?
Saya melihat ada benarnya, tetapi tidak selalu benar. • |