 |
| Salah satu pabrik milik Bayer
di Dormagen, Jerman: 30 persen R&D Bayer dialihdayakan. |
Gagasan yang lahir tahun 90-an itu intinya adalah Anda harus
mengetahui hal-hal apa yang tidak bisa (atau tidak mau) Anda
kerjakan dan mencari pihak lain yang bisa mengerjakannya untuk
Anda. Sebagaimana sering diucapkan para eksekutif perusahaan,
“Bisnis kami kan bukan TI, jadi outsource-kan saja ke
pihak lain yang bergerak di bidang tersebut.”
Menurut John Erik Garr, partner, DiamondCluster International,
sebuah perusahaan konsultan manajemen, outsourcing, dalam
skala yang lebih luas, kini memang menghangat kembali, khususnya
karena begitu ‘berhasratnya’ para eksekutif ‘membersihkan’
TI dari perusahaannya. Internet, begitu juga platform komunikasi
antar perusahaan yang dipicunya, memungkinkan aliansi dan
kerjasama jenis baru dimana kini beberapa perusahaan mulai
bereksperimen.
Garr memisalkan apa yang dilakukan peritel Internet Amazon.com
Inc dan pengecer barang-barang elektronik Circuit City Stores
Inc. Kedua perusahaan ini meneken kerjasama awal tahun 2002
lalu, yang memungkinkan seorang pelanggan log-in ke Amazon,
membeli barang elektronik yang diinginkan, dan mengambilnya
di counter Circuit City terdekat. Jika terjadi kerusakan pada
barang yang dibelinya, si pelanggan dapat membawanya kembali
ke Circuit City untuk memperoleh gantinya. Dengan cara ini,
Amazon meng-outsource order fulfillment dan layanan pelanggannya
ke Circuit City.
Seperti dalam kasus kerjasama Amazon - Circuit City ini, outsourcing
kini lebih dari sekedar pengalihan operasi suatu bagian perusahaan,
seperti TI, ke perusahaan lain. Alih-alih, proses bisnis yang
bersifat lintas bagian – seperti logistik atau manufaktur
atau bahkan riset - kini mulai dialihkan ke luar perusahaan.
Menurut perkiraan perusahaan riset Gartner Group, business-process
outsourcing (BPO) akan tumbuh 23 persen pertahun dan akan
menjadi ladang bisnis menggiurkan senilai 300 milyar dolar
di seluruh dunia pada 2004 mendatang.
Apakah outsourcing tepat untuk Anda lakukan? Menurut Garr,
dalam beberapa hal, ya. Namun sebelum itu, para eksekutif
perlu belajar dari kesalahan-kesalahan yang dibuat para ‘pionir’
outsourcing TI era lama dan para pionir outsourcing era baru.
Sebelum memutuskan melakukan outsourcing, Garr menyarankan
para eksekutif untuk mempertimbangkan 5 pertanyaan berikut
ini:
1.
Batasan-batasan apa saja yang ditimbulkan core business-nya?
Ini termasuk pertanyaan yang sulit. Beberapa perusahaan hampir
tidak menganggap batasan-batasan ini ada. Lihat saja raksasa
obat dari Jerman, Bayer AG. Perusahaan ini bahkan meng-outsource
sekitar 30 persen dari suatu bidang yang dapat menentukan
jatuh tidaknya suatu perusahaan: penelitian dan pengembangan
(R&D) jangka panjangnya.
Dari seluruh industri farmasi, sekitar 20 persen dari pekerjaan
pengembangan obat kini di-outsource-kan. Perusahaan riset
Frost & Sullivan memperkirakan bahwa sampai tahun 2004,
hampir 42 persen dari seluruh pengeluaran pengembangan obat
farmasi (38,4 milyar dolar) akan dikeluarkan untuk biaya outsourcing
ke mitra kerjanya.
Namun, perusahaan masih bisa berbuat kesalahan jika mereka
menilai kapabilitas perusahaannya per bagian dan tidak mempertimbangkan
seberapa banyak satu proses atau bagian saling mempengaruhi.
Ketika perusahaan-perusahaan WallStreet mengevaluasi outsourcing
TI, mereka melihat bahwa mereka akan meraih efisiensi. Tetapi,
mereka juga menyadari bahwa mereka tidak dapat melihat efisiensi
tersebut secara terpisah, dan pihak yang merancang instrumen
keuangannya akan kehilangan kelincahan. Padahal, perusahaan-perusahaan
semacam ini sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk
merancang dan memasarkan produk-produk keuangan mereka ke
pasar dengan cepat. Mereka mengambil keputusan tepat dengan
melupakan efisiensi yang mungkin bisa dihasilkan outsourcing.
2.
Bidang apa yang kompetitif?
Perusahaan elektronika Swedia, Telefon AB L.M Ericsson, dulu
memutuskan bahwa pemotongan biaya adalah hal yang terpenting
bagi industri. Akhirnya, Ericsson memutuskan untuk meng-outsource
pembuatan telepon selulernya ke Flextronics Corp, sebuah perusahaan
yang bermarkas di Singapura. Dengan cara ini, Ericsson mencoba
menghindari investasi modal di peralatan dan teknologi yang
cenderung cepat kadaluwarsa.
Flextronics, yang juga membuat ponsel untuk Motorola Inc.,
handheld untuk Palm Inc., printer untuk Hewlett Packard, dan
piranti videogame Xbox-nya Microsoft Corp mendapatkan skala
ekonomi yang lebih baik dalam hal purchasing dan produksi
dibandingkan jika Ericsson sendiri yang mengerjakannya.
Di sisi lain, justru Cisco Systems Inc mengalami kerugian
ketika melakukan deal dengan pemanufaktur yang dikontraknya.
Si pemanufaktur menginginkan order yang dapat diprediksi,
sehingga mereka dapat beroperasi seefisien mungkin. Kemudian
Cisco mengikat diri dengan kontrak jangka panjang, padahal
tidak lama kemudian pasar peralatan networking justru menurun.
Akibatnya Cisco harus me-write off inventarisnya yang bernilai
2,5 milyar dolar awal 2001 lalu, yang pada dasarnya disebabkan
mereka mengira bidang kompetitifnya membutuhkan efisiensi,
padahal yang dibutuhkan adalah keluwesan.
3.
Seberapa pentingkah fleksibilitas?
Outsourcing TI terbukti suatu hal yang rentan. Banyak perusahaan
yang terkejut ketika menyadari bahwa TI yang penting bagi
masa depannya justru ‘out of scope’ dari kontrak
outsourcing. Hal ini terjadi pada masa-masa Internet berkembang
dengan cepat, dan perusahaan menginginkan para outsourcer-nya
membuat situs Web dan intranet internalnya dengan menggunakan
teknologi baru. Karena masalah seperti inilah, Mutual of New
York dan Computer Sciences Corp. harus berurusan dengan lembaga
arbitrasi pada tahun kedua dari masa kontrak outsourcing selama
tujuh tahun karena perselisihan mengenai pengaturan scope
kerjanya.
Perusahaan yang tengah mempertimbangkan business-process outsourcing
perlu memastikan adanya fleksibilitas dalam kontrak yang dibuatnya
agar mereka dapat menyesuaikan diri sejalan dengan berubahnya
waktu.
4.
Seberapa besar pengawasan manajemen yang dibutuhkan?
Outsourcing seringkali ditawarkan dengan anggapan bahwa ia
akan mengurangi kebutuhan akan pengawasan oleh para manajer
senior. Faktanya, outsourcing bisa jadi justru hanya menimbulkan
keruwetan manajerial baru.
Contohnya, perusahaan-perusahaan asuransi telah lama mencoba
untuk mengoutsource pekerjaan underwriting dari produk-produk
khusus, seperti professional liability insurance untuk firma-firma
hukum kepada para broker besar, dimana para broker tersebut
dianggap lebih memahami risikonya daripada perusahaan asuransi.
Dalam prosesnya, perusahaan-perusahaan asuransi tersebut memang
bisa menyingkirkan keruwetan operasionalnya. Namun, disisi
lain, mereka justru menambah keruwetan manajemen-umum-nya
karena mereka masih harus mencari cara untuk membatasi risiko
yang mereka ambil, meskipun mereka telah mendelegasikan risiko
evaluasi ke pegawai perusahaan lain.
Untuk itu, sangat penting untuk melakukan pengukuran berapa
banyak waktu, jika ada, yang akan dihemat manajemen dengan
meng-outsoure sebuah proses bisnis.
5.
Apakah kualitas produk akan berubah?
Produsen mesin diesel terkemuka dunia, Cummins Diesel, tahu
bahwa ia dapat mengoutsource pembuatan sebagian besar komponen-komponen
mesinnya. Namun ia menyadari bahwa, untuk mempertahankan kualitas,
Cummins masih perlu membuat beberapa bagian penting dari komponen
itu sendiri.
Dalam kondisi perekonomian yang tengah menurun seperti sekarang
ini, adalah hal yang wajar untuk mengurangi biaya sebanyak
mungkin, dan ini dapat berarti munculnya wajah baru outsourcing.
Namun sebagaimana pelajaran yang telah diambil Cummins, Cisco,
perusahaan-perusahaan asuransi, dan banyak perusahaan lain,
sejauh inilah hanya tren ini yang bisa Anda ambil. •aa |