Bioskop
seringkali identik dengan tempat pacaran. Tak ada yang salah
memang. Tapi, bagaimana seandainya bioskop menjadi tempat
melakukan presentasi bisnis? Hmmm … pasti seru. Bukan
sensasi, ini justru inovasi dalam berpresentasi yang umumnya
membosankan. Tak jarang, baru mendengar ajakan presentasi
saja orang sudah enggan. Apalagi kalau presentasi itu bersifat
penawaran produk. Wah, jangan harap ada yang datang.
Tempat Presentasi yang Menyenangkan
Nah, sekarang kecemasan seperti itu sudah berakhir. Sejumlah
agensi periklanan terkemuka hari-hari ini malah cenderung
merekomendasikan kepada kliennya untuk memanfaatkan fasilitas
sinema di MPX Grande, Pasaraya Melawai, Jakarta Selatan. Secara
teknis, sebetulnya presentasi yang dilakukan di sini sama
dengan tempat lain. Taruhlah, menggunakan LCD projector. Ini
hanya persoalan membangun mindset bahwa undangan peserta presentasi
hendak disajikan suatu entertainment.
“Sebelum perusahaan mempresentasikan suatu produk, kita
putar dulu beberapa trailer film tertentu. Jadi, seolah-olah
orang mau nonton. Padahal, selesai trailer masuk ke (presentasi)
produk. Image-nya beda. Orang tertarik, hidup,” terang
R. Trianggono, General Manager PT Multiplex Media, pengelola
MPX Grande.
Boleh jadi Tri sedang membual. Eit … tunggu dulu! Suatu
kali, pernah sebuah perusahaan menyebarkan undangan presentasi
kepada 180-an orang. Begitu hari-H tiba, ternyata hadirin
melebihi kapasitas 236 kursi. “Karena yang datang 350-an
orang. Dengan relanya mereka berdiri untuk menyaksikan presentasi
produk. Gila, nggak? Di Indonesia mana ada presentasi di bioskop?”
ujar Tri tergelak.
Mencermati tempatnya, agaknya Tri benar. Terletak di Pasaraya
Grande lantai 10, citra MPX sebagai entertainment icon sudah
terbentuk sejak di lobi. Berbeda dengan sinema dalam jaringan
21 umumnya yang sumpek, lobi MPX justru menyisakan ruang nafas
yang lapang (langit-langitnya saja setinggi 10 meter). Di
sini ada kafetaria, petugas customer relations, puluhan boks
lampu neon berisikan poster film, serta loket yang masing-masing
ditata apik. Minus sofa, tidak sebagaimana bioskop umumnya.
Di atas pintu masuk sinema, dipasang dua buah layar teve (big
screen) berukuran 48 inci yang memutar trailer film-film mendatang.
Namun, situasinya jangan dibayangkan hiruk-pikuk. Di sini,
kenyamanan panca indera Anda tetap terjaga.
Fasilitas loket didesain sistematis demi kenyamanan pengunjung.
Dari lima loket yang ada, layanan dibagi berdasarkan kepentingan,
yaitu dua loket melayani pengunjung yang membayar dengan kartu
kredit, sisanya masing-masing melayani “MPX card”
(anggota pelanggan), penonton kelas diamond, dan pembelian
tiket secara tunai. Setiap loket dilengkapi komputer dengan
software khusus yang memudahkan accounting system pengelola
dan kenyamanan penonton memilih tempat duduk lewat monitor.
 |
| R. Trianggono, General Manager
PT Multiplex Media |
Kenyamanan layanan dalam ticketing di atas belum seberapa.
Dengan mengaplikasi keanggotaan – kartu silver atau
gold – penonton dapat memesan tiket jauh sebelum hari/jam
tayang. “Misalnya, pesan siang untuk nonton malam. Bahkan
pesan tiket beberapa hari sebelumnya untuk tanggal tertentu
juga bisa. Anggota tinggal menyebut PIN (personal identification
number) sebelum memesan,” terang Tri. Tak lama lagi,
pemesanan tiket MPX Grande bahkan bisa dilakukan melalui internet.
Jelas, layanan ini berbeda dengan sinema lain.
Toh, komputerisasi pada ticketing bukan bebas masalah, mengingat
faktor kesulitannya jadi lebih tinggi. Terkadang, komputer
terjadi hang yang dapat menyebabkan printer mencetak tiket
dengan nomor yang sama.
Khusus penonton diamond class, disediakan diamond lounge yang
terhubung dengan sinema. Di ruang tunggu tersebut terdapat
beberapa sofa, toilet dan minibar yang menyediakan makanan/minuman
ringan, layaknya sebuah ruang keluarga. Sambil menunggu jam
tayang, penonton bisa menghabiskan waktu dengan membaca majalah
pilihan, termasuk majalah film yang tersedia.
Tak heran, dengan standar kenyamanan di atas, MPX Grande mengklaim
dirinya sebagai boutique cinema. Artinya, ia tidak saja menjual
kualitas gambar dan suara, melainkan juga interior (suasana).
Omong-omong, darimana MPX Grande mengadopsi konsep sinema
semacam ini? Jujur Tri mengakui,”Saya sendiri waktu
masuk pertama kali ke sini juga nggak tahu. Ternyata, ini
ide si owner (pengusaha Abdul Latief) yang memang cemerlang.
Setiap pergi ke suatu negara, dia ambil satu ide, ide lain,
dijadikan satu yang nggak ada duanya. Coba, di mana ada bioskop
yang warna dinding dan kain jok kursinya sama? Nggak ada (selain
MPX Grande),” tutur Tri.
Memikat Penikmat Film
MPX Grande memiliki enam sinema. Tiga sinema berkapasitas
53 tempat duduk, dua sinema berkapasitas 236 tempat duduk,
dan satu sinema (diamond class) berkapasitas 24 tempat duduk.
Sinema diamond class, boleh dibilang model home entertainment
sesungguhnya. Tata suara dan kualitas gambar di layar perak
jangan ditanya. Yang membedakan diamond class dengan sinema
MPX lain (gold class) sebetulnya pada tata letak tempat duduk;
diletakkan per dua buah (sepasang). Setiap pasang tempat duduk
dilengkapi meja kecil. Selain itu, masing-masing tempat duduk
dapat disetel secara elektrik, baik sandaran punggung maupun
sandaran kaki. Apalagi masih ditambah selimut dan bantal kecil
yang mengingatkan pada kursi penumpang KA Argo.
Tapi, jangan salah. Diamond class bukan tempat pacaran yang
Anda cari. Ukuran setiap tempat duduk yang lebar, menyulitkan
Anda dari usaha memeluk mesra sang kekasih. Implisit, diamond
class memang ditujukan bagi penikmat film, tanpa ‘diganggu’
oleh hasrat lain. Untuk tujuan seperti ini (nonton sambil
bermesra-mesraan), Anda bisa memilih sinema gold class. Di
sini, seluruh tempat duduk dilengkapi love seat alias sandaran
lengan yang membatasi antarkursi dapat diangkat.
 |
| Tata suara digital surround: syarat
mutlak sebuah bioskop sejati masa kini |
Di antara banyak perbedaan dengan bioskop lain, tak ada yang
menyamai MPX Grande dalam hal proyektor. Enam proyektor bermerk
Strong Highlight II buatan AS, itu dioperasikan secara computerized.
“Istilahnya, dengan satu tombol yang kita pencet, bisa
menghidupkan enam proyektor sekaligus,” kata Tri. Artinya,
hanya dengan satu copy film bisa diputar pada enam sinema
sekaligus (main berselang sekitar 1 menit antarsinema). Dengan
jenis proyektor ini, MPX Grande membutuhkan waktu satu jam
untuk menggulung tujuh reel film ke dalam satu tempat yang
disebut plater. Operator hanya mengontrol waktu penggantian
film, termasuk hal-hal teknis seperti teks.
Daya enam proyektor yang ada disesuaikan kapasitas penonton.
Untuk MPX 1 dan 2 (236 penonton), masing-masing proyektor
berdaya 4.000 watt (xenon). Sedang MPX 3, 4, 5 (53 penonton)
dan diamond class berdaya 2.000 watt.
Seluruh sistem suara MPX Grande merupakan digital 6 channel.
Ia dikontrol oleh beberapa crossover. Di sini, setiap sistem
suara suatu film dapat diatur secara optimal. Mulai SDDS (sony
dynamic digital sound), DTS (digital theatre system), hingga
yang paling canggih berupa THX. Sebagai jaminan kepuasan menonton,
MPX Grande (diaplikasi pada MPX 1) mendatangkan khusus para
ahli untuk meng-install sistem THX sebelum memperoleh sertifikasi
(certified) yang akan selalu dievaluasi setiap tahun.
Meski begitu, secara bisnis MPX Grande tidak otomatis langsung
menggembirakan. “Kita kan baru berdiri 10 bulan ya.
Kalau dibilang rugi atau untung, kita nggak bilang rugi. Tapi
kita juga nggak bilang untung,” aku Tri. Didukung oleh
36 karyawan, MPX Grande sekarang baru mencapai occupancy rate
rata-rata 25 persen. Idealnya, dalam hitungan Tri, MPX Grande
harus mencapai 40 – 48 persen untuk bisa dikatakan tumbuh.
Tri tidak melihat bahwa harga tiket – gold class Rp
40 ribu (Senin – Kamis) dan Rp 60 ribu (khusus Jumat
– Minggu); diamond class Rp 125 ribu – sebagai
kendala utama MPX berkembang. Sebaliknya dia percaya,”Di
Indonesia itu kebanyakan beli gengsi.”
Toh, tak berarti segmen penonton yang sudah dipagu membuat
manajemen MPX Grande berpangku tangan. Guna mengoptimalkan
layanan kepada pelanggan, MPX Grande menawarkan keanggotaan.
Untuk kartu silver seorang pelanggan dikutip Rp 500 ribu;
kartu gold dikutip Rp 2,5 juta yang berlaku setahun. Pelanggan
yang berjumlah 900 orang ini tinggal menyebut PIN untuk memperoleh
tiket sebelum didebet sesuai nilai transaksi. • A.
Bakti Tejamulya |