Home Entertainment Volume I Nomor 06 - April 2003
Call Center
Tunda dulu beli piranti home entertainment sebelum datang ke
MPX Grande Boutique Cinema. Kualitas suara dan gambar sinema yang didukung oleh interior ciamiknya, niscaya menginspi-rasi model home entertainment idaman Anda.
 
SIDE BAR

Apa Saja yang Anda Butuhkan untuk Membangun Home Theater?


Memilih Proyektor Home Theater

 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Bioskop seringkali identik dengan tempat pacaran. Tak ada yang salah memang. Tapi, bagaimana seandainya bioskop menjadi tempat melakukan presentasi bisnis? Hmmm … pasti seru. Bukan sensasi, ini justru inovasi dalam berpresentasi yang umumnya membosankan. Tak jarang, baru mendengar ajakan presentasi saja orang sudah enggan. Apalagi kalau presentasi itu bersifat penawaran produk. Wah, jangan harap ada yang datang.

Tempat Presentasi yang Menyenangkan
Nah, sekarang kecemasan seperti itu sudah berakhir. Sejumlah agensi periklanan terkemuka hari-hari ini malah cenderung merekomendasikan kepada kliennya untuk memanfaatkan fasilitas sinema di MPX Grande, Pasaraya Melawai, Jakarta Selatan. Secara teknis, sebetulnya presentasi yang dilakukan di sini sama dengan tempat lain. Taruhlah, menggunakan LCD projector. Ini hanya persoalan membangun mindset bahwa undangan peserta presentasi hendak disajikan suatu entertainment.

“Sebelum perusahaan mempresentasikan suatu produk, kita putar dulu beberapa trailer film tertentu. Jadi, seolah-olah orang mau nonton. Padahal, selesai trailer masuk ke (presentasi) produk. Image-nya beda. Orang tertarik, hidup,” terang R. Trianggono, General Manager PT Multiplex Media, pengelola MPX Grande.

Boleh jadi Tri sedang membual. Eit … tunggu dulu! Suatu kali, pernah sebuah perusahaan menyebarkan undangan presentasi kepada 180-an orang. Begitu hari-H tiba, ternyata hadirin melebihi kapasitas 236 kursi. “Karena yang datang 350-an orang. Dengan relanya mereka berdiri untuk menyaksikan presentasi produk. Gila, nggak? Di Indonesia mana ada presentasi di bioskop?” ujar Tri tergelak.

Mencermati tempatnya, agaknya Tri benar. Terletak di Pasaraya Grande lantai 10, citra MPX sebagai entertainment icon sudah terbentuk sejak di lobi. Berbeda dengan sinema dalam jaringan 21 umumnya yang sumpek, lobi MPX justru menyisakan ruang nafas yang lapang (langit-langitnya saja setinggi 10 meter). Di sini ada kafetaria, petugas customer relations, puluhan boks lampu neon berisikan poster film, serta loket yang masing-masing ditata apik. Minus sofa, tidak sebagaimana bioskop umumnya. Di atas pintu masuk sinema, dipasang dua buah layar teve (big screen) berukuran 48 inci yang memutar trailer film-film mendatang. Namun, situasinya jangan dibayangkan hiruk-pikuk. Di sini, kenyamanan panca indera Anda tetap terjaga.

Fasilitas loket didesain sistematis demi kenyamanan pengunjung. Dari lima loket yang ada, layanan dibagi berdasarkan kepentingan, yaitu dua loket melayani pengunjung yang membayar dengan kartu kredit, sisanya masing-masing melayani “MPX card” (anggota pelanggan), penonton kelas diamond, dan pembelian tiket secara tunai. Setiap loket dilengkapi komputer dengan software khusus yang memudahkan accounting system pengelola dan kenyamanan penonton memilih tempat duduk lewat monitor.

R. Trianggono, General Manager PT Multiplex Media

Kenyamanan layanan dalam ticketing di atas belum seberapa. Dengan mengaplikasi keanggotaan – kartu silver atau gold – penonton dapat memesan tiket jauh sebelum hari/jam tayang. “Misalnya, pesan siang untuk nonton malam. Bahkan pesan tiket beberapa hari sebelumnya untuk tanggal tertentu juga bisa. Anggota tinggal menyebut PIN (personal identification number) sebelum memesan,” terang Tri. Tak lama lagi, pemesanan tiket MPX Grande bahkan bisa dilakukan melalui internet. Jelas, layanan ini berbeda dengan sinema lain.

Toh, komputerisasi pada ticketing bukan bebas masalah, mengingat faktor kesulitannya jadi lebih tinggi. Terkadang, komputer terjadi hang yang dapat menyebabkan printer mencetak tiket dengan nomor yang sama.

Khusus penonton diamond class, disediakan diamond lounge yang terhubung dengan sinema. Di ruang tunggu tersebut terdapat beberapa sofa, toilet dan minibar yang menyediakan makanan/minuman ringan, layaknya sebuah ruang keluarga. Sambil menunggu jam tayang, penonton bisa menghabiskan waktu dengan membaca majalah pilihan, termasuk majalah film yang tersedia.

Tak heran, dengan standar kenyamanan di atas, MPX Grande mengklaim dirinya sebagai boutique cinema. Artinya, ia tidak saja menjual kualitas gambar dan suara, melainkan juga interior (suasana).

Omong-omong, darimana MPX Grande mengadopsi konsep sinema semacam ini? Jujur Tri mengakui,”Saya sendiri waktu masuk pertama kali ke sini juga nggak tahu. Ternyata, ini ide si owner (pengusaha Abdul Latief) yang memang cemerlang. Setiap pergi ke suatu negara, dia ambil satu ide, ide lain, dijadikan satu yang nggak ada duanya. Coba, di mana ada bioskop yang warna dinding dan kain jok kursinya sama? Nggak ada (selain MPX Grande),” tutur Tri.

Memikat Penikmat Film
MPX Grande memiliki enam sinema. Tiga sinema berkapasitas 53 tempat duduk, dua sinema berkapasitas 236 tempat duduk, dan satu sinema (diamond class) berkapasitas 24 tempat duduk. Sinema diamond class, boleh dibilang model home entertainment sesungguhnya. Tata suara dan kualitas gambar di layar perak jangan ditanya. Yang membedakan diamond class dengan sinema MPX lain (gold class) sebetulnya pada tata letak tempat duduk; diletakkan per dua buah (sepasang). Setiap pasang tempat duduk dilengkapi meja kecil. Selain itu, masing-masing tempat duduk dapat disetel secara elektrik, baik sandaran punggung maupun sandaran kaki. Apalagi masih ditambah selimut dan bantal kecil yang mengingatkan pada kursi penumpang KA Argo.

Tapi, jangan salah. Diamond class bukan tempat pacaran yang Anda cari. Ukuran setiap tempat duduk yang lebar, menyulitkan Anda dari usaha memeluk mesra sang kekasih. Implisit, diamond class memang ditujukan bagi penikmat film, tanpa ‘diganggu’ oleh hasrat lain. Untuk tujuan seperti ini (nonton sambil bermesra-mesraan), Anda bisa memilih sinema gold class. Di sini, seluruh tempat duduk dilengkapi love seat alias sandaran lengan yang membatasi antarkursi dapat diangkat.

Tata suara digital surround: syarat mutlak sebuah bioskop sejati masa kini

Di antara banyak perbedaan dengan bioskop lain, tak ada yang menyamai MPX Grande dalam hal proyektor. Enam proyektor bermerk Strong Highlight II buatan AS, itu dioperasikan secara computerized. “Istilahnya, dengan satu tombol yang kita pencet, bisa menghidupkan enam proyektor sekaligus,” kata Tri. Artinya, hanya dengan satu copy film bisa diputar pada enam sinema sekaligus (main berselang sekitar 1 menit antarsinema). Dengan jenis proyektor ini, MPX Grande membutuhkan waktu satu jam untuk menggulung tujuh reel film ke dalam satu tempat yang disebut plater. Operator hanya mengontrol waktu penggantian film, termasuk hal-hal teknis seperti teks.

Daya enam proyektor yang ada disesuaikan kapasitas penonton. Untuk MPX 1 dan 2 (236 penonton), masing-masing proyektor berdaya 4.000 watt (xenon). Sedang MPX 3, 4, 5 (53 penonton) dan diamond class berdaya 2.000 watt.

Seluruh sistem suara MPX Grande merupakan digital 6 channel. Ia dikontrol oleh beberapa crossover. Di sini, setiap sistem suara suatu film dapat diatur secara optimal. Mulai SDDS (sony dynamic digital sound), DTS (digital theatre system), hingga yang paling canggih berupa THX. Sebagai jaminan kepuasan menonton, MPX Grande (diaplikasi pada MPX 1) mendatangkan khusus para ahli untuk meng-install sistem THX sebelum memperoleh sertifikasi (certified) yang akan selalu dievaluasi setiap tahun.

Meski begitu, secara bisnis MPX Grande tidak otomatis langsung menggembirakan. “Kita kan baru berdiri 10 bulan ya. Kalau dibilang rugi atau untung, kita nggak bilang rugi. Tapi kita juga nggak bilang untung,” aku Tri. Didukung oleh 36 karyawan, MPX Grande sekarang baru mencapai occupancy rate rata-rata 25 persen. Idealnya, dalam hitungan Tri, MPX Grande harus mencapai 40 – 48 persen untuk bisa dikatakan tumbuh.

Tri tidak melihat bahwa harga tiket – gold class Rp 40 ribu (Senin – Kamis) dan Rp 60 ribu (khusus Jumat – Minggu); diamond class Rp 125 ribu – sebagai kendala utama MPX berkembang. Sebaliknya dia percaya,”Di Indonesia itu kebanyakan beli gengsi.”

Toh, tak berarti segmen penonton yang sudah dipagu membuat manajemen MPX Grande berpangku tangan. Guna mengoptimalkan layanan kepada pelanggan, MPX Grande menawarkan keanggotaan. Untuk kartu silver seorang pelanggan dikutip Rp 500 ribu; kartu gold dikutip Rp 2,5 juta yang berlaku setahun. Pelanggan yang berjumlah 900 orang ini tinggal menyebut PIN untuk memperoleh tiket sebelum didebet sesuai nilai transaksi. • A. Bakti Tejamulya

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved