REVOLUSI
di dunia seluler sungguh mencengangkan. Ketika para investor
tengah termangu-mangu dan digelayuti pertanyaan besar atas
investasi mereka di jaringan telekomunikasi tanpa kabel generasi
ketiga (3G), sudah terhembus gagasan membuat jaringan generasi
keempat (4G). Sebuah lompatan besar yang bukan main-main,
karena pada generasi berbeda biasanya menggunakan teknologi
yang sama sekali berbeda. Kalau bisa langsung masuk ke 4G
mengapa harus melewati 3G? Pandangan optimistis ini melihat
teknologi 4G sebagai peluang, karena memang tidak ada keharusan
melewati tahap teknologi generasi sebelumnya, kalau memang
teknologinya memungkinkan.
Namun, optimisme ini masih dibayangi pertanyaan besar. Sebab,
para peneliti baru memulai tugasnya untuk mencari cara yang
tepat. Tidak heran apabila gagasan ini dinilai terlalu dini,
apalagi untuk mewujudkannya. Jangankan 4G, untuk mewujudkan
3G saja masih amat sulit. Bahkan, untuk beralih generasi -dari
generasi kedua yang sekarang ke 3G - perusahaan-perusahaan
telekomunikasi besar masih menyediakan teknologi antara yang
disebut 2.5G (Generasi Dua Setengah). Salah satunya yang populer
adalah GPRS (general packet radio service) yang dijadikan
jembatan persiapan ke 3G.
Kegandrungan para perintis telekomunikasi tanpa kabel, baik
di Eropa maupun Amerika Serikat, terhadap teknologi generasi
terbaru banyak diilhami oleh langkah dramatis Jepang. Negeri
Sakura melalui perusahaan NTT DoCoMo, yang sukses dengan teknologi
2G, yang mereka namakan i-Mode dan berhasil menembus angka
20 juta pelanggan, membuat langkah mengejutkan: meluncurkan
jaringan 3G pertama dunia, Mei 2001. Keberhasilan implementasi
3G membuat DoCoMo tertarik mempersiapkan penelitian bersama
dengan perusahaan komputer AS, Hewlett-Packard, untuk mengembangkan
4G.
Keberhasilan DoCoMo tak lepas dari peran pemerintah. Melalui
Kementerian Pos dan Telekomunikasi, pemerintah Jepang malah
membentuk panel ahli guna mengembangkan standar 4G. Targetnya,
teknologi 4G sudah bisa digunakan tahun 2007 mendatang. Sampai
saat ini belum ada definisi teknis baku tentang 4G. Tapi kecepatan
tampaknya masih menjadi kriteria utama. Pada 4G, kecepatan
aksesnya berkisar antara 20 - 100 Mbps. Luar biasa! Sebab,
kecepatan telepon seluler GSM (global system for mobile communications)
sekarang hanya 9,6 Kbps, atau sebesar 115 kbps untuk GPRS.
Para pakar menggambarkan, 4G sebagai jaringan telepon tanpa
kabel ultra-cepat. Atau, bisa disamakan dengan sebuah jalan
raya (super-highway) tanpa kabel, kecepatan tinggi yang saat
ini baru bisa dipenuhi melalui jaringan kabel serat optik.
Pada kecepatan ini akan banyak memberikan solusi kualitas
yang tidak bisa dilakukan pada generasi sebelumnya, terutama
menyangkut komunikasi video real-time tanpa kabel. Selain
juga para pemakai telepon genggam 4G mampu melakukan koneksi
video dalam tiga dimensi.
Kemampuan teknologi 2,5G sekarang ini memang sudah bisa untuk
mengirimkan attachment pada e-mail dan gambar-gambar diam,
selain always on dalam mengakses Internet. Namun, untuk melakukan
pertukaran data video, kualitasnya masih agak buruk, apalagi
jika jaringannya tidak mendukung. Layanan semacam inilah yang
tersedia di Indonesia saat ini. Dipicu oleh I-M3 (Indosat
Multimedia Mobile), para operator seluler seperti Telkomsel
dan Excelcomindo berlomba-lomba menambahkan sistem GPRS dalam
jaringannya. Mereka pun gembar-gembor jika strategi ini sebagai
langkah menuju ke teknologi 3G. Padahal, dari sisi ekonomi,
kelayakan 3G masih dipertanyakan.
Di tingkat dunia, pesimisme pun sudah agak lama terdengar.
Nicholas Negroponte, bapak cyber space, pernah mengatakan
bahwa pelanggan seluler akan cukup puas dengan GPRS yang mampu
memberikan kecepatan data maksimal 115 kbps dan komunikasi
yang selalu on. Memang agak susah membayangkan pelanggan yang
bisa nyaman menjelajah Internet di terminal berlayar kecil
dan beresolusi rendah seperti sekarang, meski sudah tersedia
bandwidth data lebar seperti yang ditawarkan 3G. Tapi, bagi
kelompok optimistis, yang terjadi cuma penundaan penggelaran
3G secara massal. Nokia, industri seluler terkemuka dunia
meramalkan, 3G akan tergelar luas di Eropa tahun 2003 ini.
Motorola sedikit lebih hati-hati dengan menyatakan 3G baru
akan populer di Eropa 2004.
Barangkali implementasi 3G masih memerlukan waktu. Cuma, munculnya
kebutuhan servis berbasis IP (internet protocol), seperti
pengiriman e-mail atau aplikasi telematika menggunakan handphone,
tidak bisa ditunda lagi. Guna mengisi kekosongan itu, diperlukan
jembatan teknologi selular yang bisa cepat diaplikasikan dengan
biaya investasi rendah, tanpa mengubah secara total sistem
yang sudah ada. GPRS memenuhi syarat sebagai jalur evolusi
menuju 3G. Teknologi ini menawarkan paket data dalam network
GSM, sebagai tambahan atas service voice, sehingga membuka
kesempatan bagi operator GSM untuk meluncurkan berbagai jenis
pelayanan baru kepada pelanggan. Introduksi GPRS memerlukan
investasi relatif rendah dan waktu implementasi yang cepat
dengan kemungkinan terjadinya gangguan dalam jaringan sangat
minim.
Dengan laju rata-rata 40-50 Kbps, GPRS bisa untuk menikmati
pelayanan yang cukup atraktif seperti mobile-banking, akses
ke database, e-mail dan sebagainya. Untuk aplikasi real-time,
seperti online shopping atau buletin multimedia diperlukan
bandwidth yang lebih lebar dari GPRS. Teknologi EDGE (enhanced
data rate for global evolution) adalah langkah kedua setelah
GPRS. Secara teknik, kata peminat teknologi telekomunikasi
seluler Widjajanto Budisulistijo, EDGE menyempurnakan interface
radio GSM dengan modulasi yang lebih kuat (8 PSK) dan menggunakan
spektrum radio yang lebih efisien sehingga bisa memberikan
3 kali kecepatan pengiriman data daripada GSM.
Berbeda dengan GPRS, kecepatan data yang ditawarkan EDGE mampu
mencapai 473,6 Kbps, sehingga bisa ditumpangi pelayanan multimedia,
seperti video conferencing dan e-newspaper. Implementasi EDGE
memerlukan transceiver dan base station baru yang bisa dimasukkan
dalam rencana pengembangan operator selular. Pengembangan
selanjutnya, EDGE akan mencakup perbaikan kualitas suara,
peningkatan kapasitas pelanggan dan area pelayanan. Bagi penikmat
telepon seluler di Indonesia, harapan untuk bisa menikmati
EDGE memang baru mimpi. Tapi mestinya tidak lama lagi akan
tersedia.
Menurut Budisulistijo, pada awalnya EDGE dikhawatirkan akan
mati karena rentang waktu EDGE dianggap antara GPRS dan 3G.
Padahal, mayoritas operator di dunia meluncurkan GPRS di akhir
2001, sedang di sisi lain sudah banyak operator memperoleh
lisensi selular generasi ketiga. Tetapi, kata Budisulistijo,
ternyata teknologi ini bisa bersinergi dengan 3G, bahkan akan
menjadi katalisator percepatan peluncuran service-service
berbasis 3G.
Bagi operator GSM yang sudah mendapatkan spektrum 3G, EDGE
memberikan kesempatan untuk memenangkan pangsa pasar yang
lebih besar karena EDGE bisa diluncurkan lebih awal untuk
mendukung layanan multimedia, tanpa harus menunggu teknologi
3G siap. “Pelayanan EDGE diharapkan bisa membangkitkan
pendapatan yang nantinya akan bisa mendukung peluncuran servis
3G atau paling tidak bisa mengurangi tekanan finansial karena
harga lisensi yang mahal,” kata Budisulistijo.
Ketika para operator meluncurkan layanan 3G, EDGE masih cukup
kompetitif dan lebih ekonomis untuk ditawarkan pada pelanggan-pelanggan
rural dengan densitas pelanggan yang rendah. Dengan kelebihan
ini, operator bisa mengonsentrasikan service 3G-nya ke daerah
urban dan perkotaan atau lokasi-lokasi “hot spot”,
seperti sentral bisnis agar dapat menarik pendapatan yang
lebih besar.
Teknologi EDGE juga menawarkan kemampuan kompetitif bagi operator
GSM yang tidak berhasil mendapatkan spektrum dan lisensi 3G.
Dengan kecepatan data yang bisa mencapai 473,6 Kbps, kata
Budisulistijo, platform ini cukup bagus untuk digunakan dalam
memberikan layanan multimedia interaktif yang cukup menarik
bagi pelanggan. EDGE juga menjadi harapan bagi operator TDMA/IS-136
karena teknologi ini bisa juga diaplikasikan di standar TDMA
tersebut.
Jadi, tertundanya teknologi 3G membuat EDGE menjadi pilihan
operator sebagai jalur evolusi menuju 3G dan sekaligus sarana
untuk mengurangi tekanan atas beban lisensi spektrum yang
cukup tinggi. Di masa generasi ketiga (3G) pun teknologi ini
tetap akan kompetitif dalam mengisi kebutuhan layanan multimedia
interaktif berbasis seluler. Lalu, kapan EDGE tersedia di
Indonesia? Mestinya tidak terlalu lama lagi. Sebab, pemerintah
RI pernah melansir jika penawaran lisensi 3G paling cepat
diberikan pada 2004. •ki
|