Mobile Data Communications Volume I Nomor 06 - April 2003
Untuk memenuhi aplikasi real-time diperlukan bandwidth yang lebih lebar dari GPRS. Teknologi EDGE bisa menjadi jembatan menuju ke generasi ketiga (3G).
 
artwork: Gunawan

REVOLUSI di dunia seluler sungguh mencengangkan. Ketika para investor tengah termangu-mangu dan digelayuti pertanyaan besar atas investasi mereka di jaringan telekomunikasi tanpa kabel generasi ketiga (3G), sudah terhembus gagasan membuat jaringan generasi keempat (4G). Sebuah lompatan besar yang bukan main-main, karena pada generasi berbeda biasanya menggunakan teknologi yang sama sekali berbeda. Kalau bisa langsung masuk ke 4G mengapa harus melewati 3G? Pandangan optimistis ini melihat teknologi 4G sebagai peluang, karena memang tidak ada keharusan melewati tahap teknologi generasi sebelumnya, kalau memang teknologinya memungkinkan.

Namun, optimisme ini masih dibayangi pertanyaan besar. Sebab, para peneliti baru memulai tugasnya untuk mencari cara yang tepat. Tidak heran apabila gagasan ini dinilai terlalu dini, apalagi untuk mewujudkannya. Jangankan 4G, untuk mewujudkan 3G saja masih amat sulit. Bahkan, untuk beralih generasi -dari generasi kedua yang sekarang ke 3G - perusahaan-perusahaan telekomunikasi besar masih menyediakan teknologi antara yang disebut 2.5G (Generasi Dua Setengah). Salah satunya yang populer adalah GPRS (general packet radio service) yang dijadikan jembatan persiapan ke 3G.

Kegandrungan para perintis telekomunikasi tanpa kabel, baik di Eropa maupun Amerika Serikat, terhadap teknologi generasi terbaru banyak diilhami oleh langkah dramatis Jepang. Negeri Sakura melalui perusahaan NTT DoCoMo, yang sukses dengan teknologi 2G, yang mereka namakan i-Mode dan berhasil menembus angka 20 juta pelanggan, membuat langkah mengejutkan: meluncurkan jaringan 3G pertama dunia, Mei 2001. Keberhasilan implementasi 3G membuat DoCoMo tertarik mempersiapkan penelitian bersama dengan perusahaan komputer AS, Hewlett-Packard, untuk mengembangkan 4G.

Keberhasilan DoCoMo tak lepas dari peran pemerintah. Melalui Kementerian Pos dan Telekomunikasi, pemerintah Jepang malah membentuk panel ahli guna mengembangkan standar 4G. Targetnya, teknologi 4G sudah bisa digunakan tahun 2007 mendatang. Sampai saat ini belum ada definisi teknis baku tentang 4G. Tapi kecepatan tampaknya masih menjadi kriteria utama. Pada 4G, kecepatan aksesnya berkisar antara 20 - 100 Mbps. Luar biasa! Sebab, kecepatan telepon seluler GSM (global system for mobile communications) sekarang hanya 9,6 Kbps, atau sebesar 115 kbps untuk GPRS.

Para pakar menggambarkan, 4G sebagai jaringan telepon tanpa kabel ultra-cepat. Atau, bisa disamakan dengan sebuah jalan raya (super-highway) tanpa kabel, kecepatan tinggi yang saat ini baru bisa dipenuhi melalui jaringan kabel serat optik. Pada kecepatan ini akan banyak memberikan solusi kualitas yang tidak bisa dilakukan pada generasi sebelumnya, terutama menyangkut komunikasi video real-time tanpa kabel. Selain juga para pemakai telepon genggam 4G mampu melakukan koneksi video dalam tiga dimensi.

Kemampuan teknologi 2,5G sekarang ini memang sudah bisa untuk mengirimkan attachment pada e-mail dan gambar-gambar diam, selain always on dalam mengakses Internet. Namun, untuk melakukan pertukaran data video, kualitasnya masih agak buruk, apalagi jika jaringannya tidak mendukung. Layanan semacam inilah yang tersedia di Indonesia saat ini. Dipicu oleh I-M3 (Indosat Multimedia Mobile), para operator seluler seperti Telkomsel dan Excelcomindo berlomba-lomba menambahkan sistem GPRS dalam jaringannya. Mereka pun gembar-gembor jika strategi ini sebagai langkah menuju ke teknologi 3G. Padahal, dari sisi ekonomi, kelayakan 3G masih dipertanyakan.

Di tingkat dunia, pesimisme pun sudah agak lama terdengar. Nicholas Negroponte, bapak cyber space, pernah mengatakan bahwa pelanggan seluler akan cukup puas dengan GPRS yang mampu memberikan kecepatan data maksimal 115 kbps dan komunikasi yang selalu on. Memang agak susah membayangkan pelanggan yang bisa nyaman menjelajah Internet di terminal berlayar kecil dan beresolusi rendah seperti sekarang, meski sudah tersedia bandwidth data lebar seperti yang ditawarkan 3G. Tapi, bagi kelompok optimistis, yang terjadi cuma penundaan penggelaran 3G secara massal. Nokia, industri seluler terkemuka dunia meramalkan, 3G akan tergelar luas di Eropa tahun 2003 ini. Motorola sedikit lebih hati-hati dengan menyatakan 3G baru akan populer di Eropa 2004.

Barangkali implementasi 3G masih memerlukan waktu. Cuma, munculnya kebutuhan servis berbasis IP (internet protocol), seperti pengiriman e-mail atau aplikasi telematika menggunakan handphone, tidak bisa ditunda lagi. Guna mengisi kekosongan itu, diperlukan jembatan teknologi selular yang bisa cepat diaplikasikan dengan biaya investasi rendah, tanpa mengubah secara total sistem yang sudah ada. GPRS memenuhi syarat sebagai jalur evolusi menuju 3G. Teknologi ini menawarkan paket data dalam network GSM, sebagai tambahan atas service voice, sehingga membuka kesempatan bagi operator GSM untuk meluncurkan berbagai jenis pelayanan baru kepada pelanggan. Introduksi GPRS memerlukan investasi relatif rendah dan waktu implementasi yang cepat dengan kemungkinan terjadinya gangguan dalam jaringan sangat minim.

Dengan laju rata-rata 40-50 Kbps, GPRS bisa untuk menikmati pelayanan yang cukup atraktif seperti mobile-banking, akses ke database, e-mail dan sebagainya. Untuk aplikasi real-time, seperti online shopping atau buletin multimedia diperlukan bandwidth yang lebih lebar dari GPRS. Teknologi EDGE (enhanced data rate for global evolution) adalah langkah kedua setelah GPRS. Secara teknik, kata peminat teknologi telekomunikasi seluler Widjajanto Budisulistijo, EDGE menyempurnakan interface radio GSM dengan modulasi yang lebih kuat (8 PSK) dan menggunakan spektrum radio yang lebih efisien sehingga bisa memberikan 3 kali kecepatan pengiriman data daripada GSM.

Berbeda dengan GPRS, kecepatan data yang ditawarkan EDGE mampu mencapai 473,6 Kbps, sehingga bisa ditumpangi pelayanan multimedia, seperti video conferencing dan e-newspaper. Implementasi EDGE memerlukan transceiver dan base station baru yang bisa dimasukkan dalam rencana pengembangan operator selular. Pengembangan selanjutnya, EDGE akan mencakup perbaikan kualitas suara, peningkatan kapasitas pelanggan dan area pelayanan. Bagi penikmat telepon seluler di Indonesia, harapan untuk bisa menikmati EDGE memang baru mimpi. Tapi mestinya tidak lama lagi akan tersedia.

Menurut Budisulistijo, pada awalnya EDGE dikhawatirkan akan mati karena rentang waktu EDGE dianggap antara GPRS dan 3G. Padahal, mayoritas operator di dunia meluncurkan GPRS di akhir 2001, sedang di sisi lain sudah banyak operator memperoleh lisensi selular generasi ketiga. Tetapi, kata Budisulistijo, ternyata teknologi ini bisa bersinergi dengan 3G, bahkan akan menjadi katalisator percepatan peluncuran service-service berbasis 3G.

Bagi operator GSM yang sudah mendapatkan spektrum 3G, EDGE memberikan kesempatan untuk memenangkan pangsa pasar yang lebih besar karena EDGE bisa diluncurkan lebih awal untuk mendukung layanan multimedia, tanpa harus menunggu teknologi 3G siap. “Pelayanan EDGE diharapkan bisa membangkitkan pendapatan yang nantinya akan bisa mendukung peluncuran servis 3G atau paling tidak bisa mengurangi tekanan finansial karena harga lisensi yang mahal,” kata Budisulistijo.

Ketika para operator meluncurkan layanan 3G, EDGE masih cukup kompetitif dan lebih ekonomis untuk ditawarkan pada pelanggan-pelanggan rural dengan densitas pelanggan yang rendah. Dengan kelebihan ini, operator bisa mengonsentrasikan service 3G-nya ke daerah urban dan perkotaan atau lokasi-lokasi “hot spot”, seperti sentral bisnis agar dapat menarik pendapatan yang lebih besar.

Teknologi EDGE juga menawarkan kemampuan kompetitif bagi operator GSM yang tidak berhasil mendapatkan spektrum dan lisensi 3G. Dengan kecepatan data yang bisa mencapai 473,6 Kbps, kata Budisulistijo, platform ini cukup bagus untuk digunakan dalam memberikan layanan multimedia interaktif yang cukup menarik bagi pelanggan. EDGE juga menjadi harapan bagi operator TDMA/IS-136 karena teknologi ini bisa juga diaplikasikan di standar TDMA tersebut.

Jadi, tertundanya teknologi 3G membuat EDGE menjadi pilihan operator sebagai jalur evolusi menuju 3G dan sekaligus sarana untuk mengurangi tekanan atas beban lisensi spektrum yang cukup tinggi. Di masa generasi ketiga (3G) pun teknologi ini tetap akan kompetitif dalam mengisi kebutuhan layanan multimedia interaktif berbasis seluler. Lalu, kapan EDGE tersedia di Indonesia? Mestinya tidak terlalu lama lagi. Sebab, pemerintah RI pernah melansir jika penawaran lisensi 3G paling cepat diberikan pada 2004. •ki

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved