|

continued from previous page
Bagaimana
Menentukan Mitra Outsourcing?
Saya sering membaca rubrik Tanya-Jawab yang Bapak asuh di
majalah eBizzAsia. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan.
Bagaimana mendorong atasan mau melakukan outsourcing, karena
yang akan di outsourcing merupakan mission critical application
di perusahaan kami? Bagaimana menentukan mitra outsourcing
yang tepat?
Marwan Ekaputra
Development Manager, Denpasar
Ada
baiknya terlebih dahulu dipahami asal mula atau sejarah diperkenalkannya
konsep outsourcing dalam dunia bisnis dan alasan mengapa pendekatan
tersebut telah menjadi salah satu tren yang menggejala di
berbagai perusahaan. Konsep outsourcing lahir sebagai salah
satu konsekuensi logis dari terjadinya persaingan yang ketat
di era globalisasi. Adapun pemikiran tersebut berakar pada
kenyataan dan pertimbangan sebagai berikut:
• Perusahaan dapat bersaing dengan baik kalau menghasilkan
produk atau jasa yang unggul (berkualitas tinggi), sesuai
dengan kebutuhan dan tuntutan konsumen.
• Perusahaan dapat menghasilkan produk atau jasa yang
unggul jika yang bersangkutan memokuskan diri pada proses
penciptaan produk atau jasa yang sesuai dengan ’core
business’-nya, dimana ’core business’ tersebut
memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan utama perusahaan
atau ’core competence’ (atau dapat juga dibalik,
bahwa ’core competence’ yang dimiliki akan menentukan
pemilihan dan pengembangan ’core business’ perusahaan).
• Karena ‘core competence’ berada di dalam
wilayah ‘core business’ (proses-proses terkait
dengan bisnis inti) dan biasanya bukan berada di domain ‘non
core business’ (bisnis sampingan atau aktivitas penunjang),
maka perusahaan dipastikan akan memiliki keunggulan kompetitif
dalam menciptakan produk atau jasanya.
• Sementara untuk sejumlah proses-proses yang berada
dalam wilayah ’non core business’, umumnya perusahaan
tidak atau kurang dapat melaksanakannya dengan cukup efisien
dan efektif.
• Pekerjaan ‘non core business’ ini kemungkinan
besar dapat dilaksanakan dengan efisiensi dan efektivitas
yang optimal apabila dikerjakan oleh perusahaan yang ’core
business’-nya dan demikian pula ’core competence’-nya
memang berada disitu.
• Oleh karena itu, mungkin lebih baik kalau pekerjaan
‘non core business’ tadi, diserahkan saja pada
perusahaan dengan ’core competence’ yang sesuai;
dengan demikian, di samping perusahaan dapat berfokus pada
’core business’ sendiri, akan memperoleh jasa
penunjang yang lebih efektif dan efisien.
Disinilah timbul ide yang kemudian berkembang menjadi model
yang banyak dilakukan oleh perusahaan dalam menerapkan outsourcing,
yaitu menyerahkan pekerjaan yang dahulu dilakukan sendiri
kepada perusahaan lain.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa adalah
merupakan suatu risiko besar (atau riskan) jika yang di-outsource
adalah sesuatu yang berkaitan erat dengan ’core business’.
Namun, jika yang di-outsource adalah ’non core business’,
seharusnya seorang atasan atau pimpinan dapat dengan mudah
mempertimbangkan dan memutuskan untuk melakukannya tanpa ragu-ragu.
Sekilas terkesan, jika aspek yang ingin dikaji adalah bersifat
’mission critical’ – yang secara definitif
terkait erat dengan ’core business’ – maka
memang sebaiknya outsourcing tidak dilakukan (kecuali jika
perusahaan outsource yang ada memang akan dijadikan mitra
bisnis strategis dan tidak memiliki hubungan erat dengan para
pesaing langsung). Suatu proses dikatakan berada di dalam
domain ’core business’ jika memenuhi minimum satu
dari 3 (tiga) kriteria, yaitu:
1. Proses yang ada terkait langsung dengan aktivitas penciptaan
produk atau jasa;
2. Perusahaan akan terancam eksistensi atau kemampuan berproduksinya
jika proses terkait terganggu; dan
3. Pelanggan atau kustomer “is willing to pay”
(bersedia membayar, dalam arti kata “value for money”)
kepada perusahaan untuk melakukan proses tersebut.
Hasil riset memperlihatkan kecenderungan perusahaan menentukan
mitra outsourcing melalui cara sebagai berikut:
• Melalui riset sendiri (in-house research) –
49,4%
• Melalui jaringan profesional (professional networks)
– 27,3%
• Melalui perusahaan konsultan (consulting firms) –
6,5%
• Melalui asosiasi dagang (trade association) –
5,2%
• Melalui konferensi (conference) – 4,0%
• Melalui artikel jurnal dagang (trade journal articles)
– 2,7%
• Melalui iklan rekanan (vendor advertising) –
1,5%
Terlihat bahwa lebih dari 75% cara yang paling efektif dalam
memilih mitra outsource adalah melalui riset sendiri atau
memanfaatkan jaringan profesional. Hal utama yang perlu dikaji
adalah ’track record’ dari perusahaan terkait.
Kunci agar perusahaan tidak dirugikan adalah terletak pada
kontrak outsource, terutama yang berkaitan dengan permasalahan
’service level’ dan penalti (seandainya terjadi
pelanggaran hukum maupun etika).
Berikut adalah kriteria yang biasa diperhatikan oleh pihak
perusahaan dalam menilai kinerja produk atau jasa dari perusahaan
yang menawarkan jasa outsource (menurut hasil riset sebuah
lembaga internasional):
• Harga atau biaya yang ditawarkan (price of services)
– 31,3%
• Kemampuan untuk melayani pelanggan (customer service
capability) – 14,7%
• Stabilitas keuangannya (financial stability) –
12,4%
• Kesamaan dengan budaya dan filosofi perusahaan (compatibility
with company culture and philosophy) – 9,2%
• Kreativitas untuk memecahkan masalah (problem solving
creativity) – 9,0%
• Reputasi secara umum (general reputation) –
8,2%
• Sistim informasi dan kemampuan teknologi yang dimiliki
(information systems and technology capability) – 6,0%
• Aset yang dimiliki (owns assets) – 2,7%
• Cakupan internasionalnya (international scope) –
1,7%
• Reputasi untuk melakukan perbaikan secara terus menerus
(reputation for continuous improvement) – 1,2%
• Besarnya perusahaan (size) – 1,0%
• Kebijakan SDMnya (human resources policy) –
1,0%
• Pengalaman hubungan dengan perusahaan (prior relationship
with company) – 0,5%•
Cara
Meningkatkan Daya Saing Perusahaan
Kami
merupakan perusahaan menengah yang tertarik untuk menerapkan
e-Business. Selama ini kami telah menggunakan komputer dan
internet, tetapi sebatas kegiatan administrasi kantor. Apa
saja yang seharusnya kami terapkan, sehingga sistem TI kami
dapat meningkatkan daya saing dan kapabilitas perusahaan kami?
Apakah harus menerapkan suatu aplikasi tertentu?
Anjas Wiguna
Manajer Operasi, Semarang.
Secara
teori, ada lima tahapan bagaimana secara evolusioner komputer
dan internet dapat dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan
daya saingnya, masing-masing, yakni sebagai berikut:
1. Tahap pertama adalah suatu kondisi dimana keberadaan komputer
dan internet dapat membantu perusahaan dalam usahanya untuk
mengurangi sejumlah biaya operasional (overhead) sehari-hari.
Pada kondisi ini, biasanya, komputer dan internet digunakan
untuk memperbaiki kinerja beragam aktivitas administratif
(back office). Contoh aplikasinya adalah: e-mail untuk menggantikan
kurir, homepage untuk menggantikan brosur, chatting untuk
menggantikan telepon interlokal, dan lain sebagainya.
2. Tahap kedua adalah suatu kondisi dimana keberadaan komputer
dan internet dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan
“leverage” dari investasinya – dalam arti
kata dapat meningkatkan sejumlah rasio kinerja yang berkaitan
dengan alokasi sumber daya yang dibutuhkan dan digunakan oleh
perusahaan. Contoh aplikasinya adalah: software ERP untuk
meningkatkan efisiensi proses manufaktur. Software intranet
untuk mempercepat dan mempermurah proses koordinasi dan komunikasi.
Software SCM untuk mempercepat proses pengadaan barang. Software
untuk melakukan proses optimalisasi terhadap berbagai model
bisnis, dan lain sebagainya.
3. Tahap ketiga adalah suatu kondisi dimana keberadaan komputer
dan internet dapat membantu perusahaan secara langsung maupun
tidak langsung dalam usahanya untuk memperbaiki kualitas produk
dan/atau jasa (pelayanan) yang ditawarkan kepada pelanggan.
Contoh aplikasinya adalah: software CRM (Customer Relationship
Management) untuk meningkatkan kualitas relasi dengan pelanggan
agar yang bersangkutan merasa puas dan loyal kepada perusahaan.
Software corporate portal untuk sarana marketing langsung
kepada pelanggan (direct marketing). Software e-commerce agar
pelanggan dapat melakukan transaksi jual beli melalui internet,
dan lain sebagainya.
4.
Tahap keempat adalah suatu kondisi dimana keberadaan komputer
dan internet dapat membantu para pimpinan perusahaan dalam
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Contoh aplikasinya
adalah: software DSS (Decision Support System) yang akan memberikan
rekomendasi kepada manajemen perusahaan mengenai keputusan
seperti apa yang sebaiknya dipilih. Software BI (Business
Intelligence) yang akan membantu manajemen dalam melakukan
segmentasi pasar dan pelanggan berdasarkan hasil analisa terhadap
data dan informasi yang dimiliki. Software Financial Advisor
yang akan membantu manajemen dalam mengelola keuangan perusahaan,
dan lain sebagainya.
5. Tahap kelima adalah suatu kondisi dimana keberadaan komputer
dan internet telah dapat “menyatukan” komunitas
pelanggan dengan perusahaan melalui pemanfaatan berbagai kanal
akses. Dalam tahapan tertinggi ini, pelanggan secara tidak
langsung telah dilibatkan dalam proses produksi (pelanggan
menjadi bagian dari perusahaan) melalui berbagai jalur interaksi
efektif yang tersedia. Contoh aplikasinya adalah: teknologi
web-TV yang memungkinkan pelanggan berinteraksi dengan entiti
perusahaan dari rumah, teknologi mobile computing yang memberi
keleluasaan kepada pelanggan untuk bertransaksi jual beli
melalui alat-alat semacam handphone dan PDA (Personal Digital
Assistant). Begitu juga, teknologi home banking yang memberi
kemudahan bagi setiap orang untuk melakukan kegiatan keuangannya
dari rumah, dan lain sebagainya.
Di negara berkembang seperti Indonesia, memang yang kerap
terjadi adalah sebuah evolusi tahap pengembangan komputer
dan internet dari tingkat yang paling bawah, dimana teknologi
informasi masih digunakan sebagai sarana penunjang proses
administrasi belaka dengan obyektif tunggal yaitu menurunkan
biaya operasional.
Namun, secara perlahan-lahan tapi pasti, pimpinan perusahaan
harus memiliki visi dan keberanian untuk mulai menggunakan
komputer dan internet untuk keperluan yang jauh lebih strategis,
yaitu meningkatkan pendapatan perusahaan (revenue) melalui
sejumlah peluang yang diciptakan.
Meningkatkan profitabilitas usaha dengan cara menekan biaya
pasti ada batasnya. Sedangk meningkatkan profitabilitas usaha
melalui peningkatan sumber pendapatan tidak ada batasnya (the
sky is the limit), sehingga e-Business harus dapat benar-benar
dimanfaatkan untuk keperluan tersebut.•
Go back to previous page |