Volume I Nomor 07 - Mei 2003
INDIA

India Produsen Software Industri Kesehatan

Menurut penelitian IDC, pengeluaran TI untuk industri kesehatan secara global sebesar 9,7 milyar dolar. Angka yang cukup menggiurkan terutama bagi negara-negara produsen piranti lunak aplikasi untuk kesehatan, termasuk India. Meski nilai ekspor piranti lunak ini hanya 3 persen dari total keseluruhan ekspor piranti lunak India, namun asosiasi perusahaan software dan jasa nasional India (Nasscom) menempatkan industri kesehatan sebagai salah satu peluang bisnis TI masa depan. Yang menarik, piranti lunak tersebut tidak saja menjadi garapan perusahaan-perusahaan besar India, namun perusahaan sekelas SME (small medium enterprise) kini mulai menunjukkan taringnya, baik di pasar domestik maupun mancanegara.

Infolife Technologies misalnya, sebuah perusahaan piranti lunak dari Bangalore yang menawarkan produk-produk piranti lunak kesehatan merencanakan untuk meningkatkan penggunaan produk unggulannya, EasyHMS, sebuah solusi manajemen rumah sakit (HMS – Hospital Management Solution). Selain pasar domestik, Infolife juga tengah mengincar pasar mancanegara, khususnya di pasar Timur Tengah, Asia Pasifik dan Sri Lanka.

“Kami telah berhasil dalam persaingan tender proyek melawan pemain-pemain besar di bidang HMS, seperti Wipro, TCS dan Siemens,” ujar CEO Infolife Technologies, J. Bennet Mendis. Menurutnya, para pelanggan cenderung menuntut solusi yang kaya fitur namun biayanya murah, yang dapat diimplementasikan secara cepat. “Sementara solusi HMS kami harganya dua sampai tiga kali lebih murah dibandingkan pesaing terdekat kami,” ujar Mendis setengah berpromosi. Infolife sendiri telah memasang 20 program HMS-nya di berbagai rumah sakit di India.

Infolife merencanakan untuk memperkokoh pasar domestiknya dengan meningkatkan kehadirannya di negara bagian Karnataka maupun di negara-negara bagian India lainnya. Infolife menargetkan pendapatan sekitar 30 juta rupee (sekitar 5,6 milyar rupiah) di tahun 2003-2004 dengan tambahan 15 customer baru.

Infolife juga mencoba merambah pasar mancanegara dengan menunjuk rekanan untuk menggarap pasar Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Sri Lanka. “Para pelanggan mancanegara umumnya menghendaki solusi Web-enabled untuk hospital management-nya, agar pengintegrasiannya mudah dan implementasinya cepat,” jelas Mendis. Selain itu, produk HMS Infolife sudah disesuaikan dengan standar internasional Healthlevel 7, yang mempermudah penjualan produk-produk semacam ini ke wilayah Eropa maupun Amerika Utara. Dalam tahun 2003-2004, Infolife berharap dapat mengimplementasikan 6 sampai 8 solusi HMS-nya di mancanegara.

Versi standar EasyHMS keluaran Infolife ini dirancang untuk rumah sakit dengan kapasitas sampai 50 tempat tidur. Dengan piranti lunak, pihak rumah sakit dapat menangani pengelolaan janji-temu dokter, pengintegrasian antara front office dengan seluruh departemen di rumah sakit dan dapat digunakan untuk membuat laporan MIS (Management Information System).

Selain versi standar, Infolife juga mengeluarkan versi untuk rumah sakit berkapasitas sampai 250 tempat tidur serta versi enterprise-nya, yang terdiri dari 28 modul yang menawarkan HMS end-to-end untuk rumah sakit berkapasitas lebih dari 250 tempat tidur. Solusi HMS yang bisa dijalankan di atas berbagai platform Windows ini mampu melayani berbagai jenis rumah sakit, panti perawatan dan klinik pribadi. Piranti lunak ini dikembangkan tim product development yang terdiri 25 insinyur. Seluruhnya ditempatkan di Bangalore dan menyediakan dukungan bagi para pelanggan Infolife.•

Cyber Café untuk Tunanetra


Cacat fisik, seperti tunanetra bukanlah penghalang bagi si penderita untuk mengakses informasi, bahkan dari Internet sekalipun. Apa yang dilakukan asosiasi nasional untuk penderita tunanetra (National Association for the Blind - NAB) India bersama Microsoft India untuk mendirikan Cyber Café bagi para tunanetra mungkin boleh dibilang salah satu upaya untuk mempersempit kesenjangan digital (digital divide) di kalangan penderita cacat fisik.

Baru-baru ini, kedua institusi tersebut mengumumkan pendirian Cyber Café untuk para tunanetra di NAB Center for Women di Hauz Khas, New Delhi.

Menurut Microsoft, Café ini akan dilengkapi dengan PC IBM Pentium4, perangkat multimedia, scanner, CD writer dan akan menjalankan piranti lunak Microsoft Windows, Office XP dan Kurzweil. Hubungan Internetnya disediakan oleh Touchtel Zipnet, dimana para pengunjung café dapat berselancar di Internet dengan menggunakan piranti lunak JAWS, yang memungkinkan perintah input maupun output cukup dilakukan dengan suara. Bahkan di café ini juga disediakan fasilitas download dan pencetakan teks dalam huruf Braille.

Cyber Café ini akan beroperasi setiap hari dari pukul sebelas siang sampai pukul tujuh malam, dan akan diawasi oleh seorang instruktur terlatih. Selain itu sekelompok sukarelawan dari lingkungan sekitar Hauz Khas, sekolah-sekolah dan universitas termasuk IIT Delhi sehari-harinya akan mendampingi para pengunjung dengan memberikan pelatihan komputer seperti membuat dokumen word, memformat error, spell check dsb.

Rajiv Kaul, managing director Microsoft India, menjelaskan bahwa mereka kini tengah mempertimbangkan pembukaan café-café serupa di kota-kota lain di seluruh India. Cyber Café untuk orang-orang dengan cacat penglihatan pertama kali didirikan oleh NAB dan Microsoft di kota Mumbai. Menurut Dr Rajendra Vyas, sekjen kehormatan NAB, cyber café yang telah berdiri di Mumbai telah memungkinkan para profesional seperti pengacara maupun pebisnis yang memiliki cacat penglihatan memiliki keleluasaan dalam melakukan perdagangan dan akses ke dunia industri perdagangan dan pendidikan.•

SINGAPURA

IDA dan Sun Kembangkan Aplikasi Internet Generasi Baru


Infocomm Development Authority of Singapore (IDA) dan Sun Microsystems baru-baru ini mengumumkan inisiatif Java Tarik ONE (Java TONE), suatu kolaborasi strategis yang akan fokus pada pengembangan kapabilitas, pengembangan pasar dan akses pasar untuk aplikasi internet generasi baru atau Next Generation Internet Applications (NGIA).

Mengikuti keberhasilan inisiatif Java Tarik sejak 1997, Java TONE bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sumberdaya manusia infokom (ONE Capability) dan mendorong inovasi dalam teknologi-teknologi terbaru (emerging technologies) untuk NGIA. Sasaran ini akan dicapai melalui inisiatif-inisiatif dalam R&D, pilot project dan pengadopsian teknologi-teknologi baru (ONE Development). Java TONE juga akan menciptakan akses ke pasar internasional bagi produk-produk inovatif yang dihasilkannya (ONE Market). Tiga wilayah inilah yang akan menjadi pilar Java TONE.

Java Tarik sendiri adalah suatu inisiatif yang sudah dikembangkan IDA dan Sun sejak 1997 lalu untuk mendorong penguasaan pemrograman Java di Singapura sekaligus menciptakan peluang untuk meraih pendapatan dari inisiatif ini. Sejak didirikan, inisiatif Java Tarik ini berhasil menyedot modal senilai 140 juta dolar Singapura.

Selain mendorong pengembangan SDM, teknologi baru dan pasar, kolaborasi senilai 100 juta Singapura ini, menurut Lam Chuan Leong, Chairman IDA juga akan menciptakan lapangan kerja baru. “Inisiatif ini akan membantu mengembangkan dan mengujicoba teknologi-teknologi baru untuk NGIA dan menciptakan sekitar 500 lowongan kerja baru untuk industri infokom Singapura,” ujarnya.

Menurut Lionel Lim, vice president dan managing director Sun Microsystems Asia Selatan, Sun ONE menyediakan model yang mendukung open standard dengan kemampuan untuk integrasi produk dan solusi.

Sebagai bagian dari kolaborasi ini, Sun juga akan mempertimbangkan tambahan sumbangan senilai 200 juta dolar Singapura dalam bentuk piranti lunak dan pelatihan-pelatihan ke sekolah-sekolah, akademi-akademi maupun universitas-universitas di Singapura.

Posisi Singapura sebagai hub internasional untuk kawasan ini mempermudah kolaborasi semacam itu dilakukan, selain tentunya infrastruktur dan sumber dayanya sudah sangat memadai. Program pengembangan SDM yang tercakup dalam pilar ONE Capability misalnya, tinggal memanfaatkan Java Competency Centers yang sudah ada di pusat-pusat riset dan institusi pendidikan tinggi lokal.

Dalam hal riset dan pengembangan (ONE Development), Singpura memperoleh keuntungan dengan mendapatkan link ke laboratorium dan center of excellence milik Sun di seluruh dunia. Untuk menjembatani kesenjangan antara teknologi dan adopsi, ONE Development juga akan memfasilitasi proyek-proyek yang akan menggunakan teknologi-teknologi baru melalui pilot project dan uji coba di berbagai sektor.

Dalam hal pemasarannya pun (ONE Market), perusahaan-perusahaan infokom Singapura. dapat memanfaatkan jejaring global milik Sun untuk mengakses sumberdaya riset dan pengembangannya, mengembangkan aliansi strategis global, dan menembus pasar mancanegara.•

MALAYSIA

Telekom Malaysia dan Maxis Bangun Jejaring 3G


Meski situasi dunia masih dilanda ketidakpastian akibat dampak perang Teluk, hal itu tidak menghalangi langkah Malaysia untuk masuk ke klub negara-negara penyedia layanan bergerak berteknologi generasi ketiga (3G). Hal ini ditegaskan Ketua Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC), Nuraizah Abdul Hamid awal April lalu.

Dua perusahaan pemenang tender penyediaan layanan 3G, Telekom Malaysia dan Maxis Communications dikabarkan akan menyediakan dana sekitar 1,97 milyar dolar (atau sekitar 19,7 trilyun rupiah) selama sepuluh tahun mendatang untuk meluncurkan jejaring 3G di Malaysia.

Layanan uji coba 3G Telekom ini akan dimulai bulan Juli mendatang, sementara layanan komersialnya baru akan tersedia awal tahun depan, jelas Nuraizah.

Sementara UMTS, salah satu anak perusahaan Maxis, akan memulai suatu layanan uji coba awal 2004 mendatang sebelum layanan komersialnya dimulai pada akhir tahun tersebut, lanjutnya.

Jejaring 3G milik Telekom diharapkan akan mencakup sekitar 80 persen dari populasi Malaysia tahun 2010 dan UMTS melengkapi sisanya empat tahun kemudian.

Pemerintah Malaysia sendiri menyadari bahwa peluncuran ini bakal melibatkan investasi yang besar dan tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan rencana tergantung pada kondisi ekonomi global maupun dalam negeri.

Laju penetrasi ponsel di Malaysia sendiri kini lebih dari 30 persen dan pemerintah Malaysia berharap bisa meraih target resmi sekitar 38 persen pada tahun 2005 dengan diluncurkannya jejaring 3G, yang memungkinkan akses data dan video secara cepat melalui Internet.•

Go back to previous page
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved