Sering
kita mendengar konsep dan definisi mengenai kualitas atau
mutu, dan bagaimana konsep itu sebaiknya dijalankan. Sering
juga kita mendengar bahwa hal itu terkesan mudah dijalankan.
Tetapi, benarkah demikian? Dalam praktiknya, konsep kualitas
dan proses pekerjaan kita sehari-hari cenderung terpisah satu
sama lain dan sulit diimplementasikan.
Sementara, metodologi mengenai kualitas banyak sekali ragamnya
dan indah ceritanya untuk didengar, tetapi tidak mudah atau
sulit dilaksanakan. Belum lagi bila kita mencoba membandingkan
kualitas antara dua atau lebih proses kerja atau unit kerja:
mana yang lebih baik, departemen marketing atau departemen
customer service, misalnya.
Kalau kita hanya melihatnya dari sisi hasil, maka marketing
akan sangat terkait dengan banyaknya volume penjualan, sementara
customer service menyangkut kualitas customer satisfaction
level di mata pengguna jasa atau produk perusahaan kita. Apakah
karena marketing membuat penjualan yang tinggi kita anggap
lebih baik dibandingkan dengan kualitas customer satisfaction
index yang dibuat oleh departemen customer service? Sulit
bukan?
Di sisi lain, kalau kita lihat dari kinerja proses departemen
marketing ternyata pencapaian service level mereka 90%, sedang
kinerja proses departemen customer service memiliki service
level 32 detik untuk mampu merespon inquiry dari customer.
Kembali kita bertanya, mana yang lebih baik? Marketing atau
customer service? Kembali menjadi lebih sulit lagi kalau kita
menilai kualitas dari kedua departemen tersebut.
Namun, dengan adanya Metodologi Six Sigma, kita akan dapat
dengan mudah menilai dan mempraktikkan mengenai kualitas.
Karena Six Sigma merupakan suatu Sistem Manajemen Kualitas
(Quality Management System) yang ditujukan untuk meningkatkan
pendapatan perusahaan dengan memenuhi lebih dari yang diharapkan
customer. Dengan metodologi tertentu, Six Sigma fokus pada
peningkatan, perancangan dan pemantauan proses kerja sehingga
setiap proses berjalan tanpa terjadinya kegagalan proses atau
defect.
Beberapa hal terpenting dari contoh di atas dapat kita lihat
secara lebih mendalam. Ada beberapa hal yang perlu ditelisik
lebih lanjut, agar apa yang kita lakukan benar-benar menjawab
kebutuhan atas tuntutan kualitas yang diharapkan customer.
Pertanyaannya, sudahkan kita benar-benar mengenal customer
kita? Sudahkan departemen marketing dan customer service mengidentifikasi
dengan baik siapa customer yang akan merasakan kinerja proses
mereka? Kalau telah mengenalinya dengan baik, sudahkan kita
mengidentifikasi berapa ukuran minimal yang bisa ditoleransi
untuk diterima atau bahkan melebihi harapan customer itu sendiri?
Setelah kita mengetahui ukuran kuantitatif customer, maka
kita baru dapat melakukan pengukuran kinerja proses kita terhadap
ukuran yang diminta oleh customer. Karenanya, ketika setiap
proses kita tidak mampu memenuhi ukuran customer, maka proses
kerja tersebut harus kita catat sebagai kegagalan proses atau
defect.
Apabila defect yang terjadi mencapai 3,4 kali atau unit untuk
setiap 1 juta kesempatan, maka disebut sebagai Six Sigma atau
99,99966% tidak ada kesalahan atau defect.
Mari kita lihat bersama perbedaan kualitas dalam sisi pandang
Six Sigma melalui tabel perbandingan sederhana disamping.
Dengan contoh didalam tabel, maka dengan mudah kita dapat
membandingkan mana departemen yang lebih baik, apakah marketing
atau customer service.
Kalau bicara mengenai pengukuran kualitas kerja sehari-hari,
kita sering merasa bahwa mengukur hal itu tidak penting. Atau
sebaliknya, banyak sekali hal yang harus diukur, karena menganggap
semuanya penting.
Padahal, yang sesungguhnya perlu diukur adalah apa yang diharapkan
oleh customer. Agar dengan begitu, karena yang akan menggunakan
jasa atau produk yang kita hasilkan adalah customer, maka
setiap perubahan atau peningkatan kualitas yang dilakukan
harusnya berdampak terhadap harapan customer.
Mari sejenak kita secara lebih mudah melihat hal sehari-hari
yang kita lakukan secara tidak efisien dalam bekerja, yang
tentunya sangat terkait dengan kualitas.
Six Sigma mewajibkan kita untuk selalu berfikir dari kacamata
customer. Mari kita lihat apakah kita mengukur kualitas kinerja
proses kita saat berinteraksi dengan customer. Kita sering
lupa ada beberapa proses yang tidak kita monitor dengan baik,
padahal proses tersebut adalah “moment of truth”
antara kita dengan customer. Sebaliknya, proses yang tidak
dianggap penting oleh customer malah justru kita ukur secara
terus-menerus.
Mengenai ukur mengukur kualitas, ada beberapa kata bijak dari
Six Sigma yang patut kita renungkan dengan sungguh-sungguh,
yakni:
1. We don’t know what we don’t know.
2. We can’t do what we don’t know.
3. We don’t know until we measure.
4. We don’t measure anything that doesn’t have
the added value.
5. We can’t give added value to everything that we don’t
measure.
Jadi ingatlah bahwa ukuran kualitas diukur dari ukuran customer,
dan customer tidak meminta banyak terhadap ukuran-ukuran yang
ada. Bayangkan Anda menjadi customer. Saya yakin, untuk suatu
proses atau produk tidak lebih dari 5 item saja yang sebenarnya
akan Anda minta dari suatu perusahaan.
Misalkan kalau Anda akan membeli mobil secara kredit, yang
Anda minta adalah angsuran yang terjangkau, bunga yang kompetitif,
cepat, persyaratannya mudah tidak berbelit-belit dan aman.
Atau kalau Anda mau membeli makanan di restoran, yang Anda
harapkan adalah makanan yang rasanya enak, bersih dan representatif,
harganya tidak mahal, dan enjoy untuk mengajak keluarga.
Dalam apa yang menjadi harapan konsumen itu terpenuhi dengan
baik dan konsumen puas menerimanya, berarti Anda sudah memenuhi
kebutuhan akan kualitas.•
Aditya Syahrizal
•pengamat & praktisi Total Quality Management, dan
telah meraih Black Belt Certified.
|