Volume I Nomor 07 - Mei 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Alih Daya Menghilangkan Peran CIO?

 

Ternyata diskusi mengenai CIO ini memang sangat menarik. Artikel saya yang berjudul “Masih Relevankah CIO?” yang dimuat di majalah eBizzAsia edisi Februari 2003 yang lalu, ternyata mendapatkan banyak tanggapan. Terus terang saja, ini di luar dugaan saya. Tanggapan datang dari berbagai pihak, baik sesama teman di Lembaga Manajemen PPM, teman-teman sesama alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, bahkan juga dosen saya di sana. Begitu juga, teman-teman lain dari berbagai kalangan, baik di dunia teknologi informasi maupun manajemen, lingkungan akademik, maupun praktisi bisnis. Untuk semua tanggapan tersebut, izinkanlah saya mengucapkan banyak terima kasih karena semuanya akan menambah wawasan dan amunisi buat saya untuk terus berkarya.

Tanggapan yang masuk ke saya memang sangat beragam, tentu saja ada yang pro dan ada yang kontra. Tanggapan yang pro tentu saja menyetujui pemikiran saya bahwa seorang CIO juga harus mampu berbicara dalam “bahasa bisnis” dan tidak hanya “bahasa teknologi”. Kalau tidak, dia akan menjadi obsolete.

Di sisi lain, tanggapan yang kontra tetap bertahan bahwa seorang CIO jangan sampai dipusingkan oleh hal-hal di luar masalah teknologi informasi, melainkan dia harus fokus ke bidang teknologi informasi. Argumennya yang diberikan oleh pendapat ini adalah, jika tidak fokus di bidang teknologi informasi, maka mustahil dia bisa mengembangkan teknologi informasi di perusahaan tersebut.

Tetapi yang tidak kalah menariknya adalah, munculnya pemikiran lain yang lebih advance terhadap apa yang saya ungkapkan dalam tulisan tersebut. Pendapat ini mengatakan, kita tidak butuh CIO sama sekali. Di masa yang akan datang, teknologi informasi akan berbaur dengan semua bidang fungsional di dalam perusahaan, sehingga setiap manajer juga merupakan manajer teknologi informasi, dan tidak perlu ada satu bidang khusus yang mengurusi teknologi informasi. Menarik bukan?

Pada artikel ini, saya akan membahas isu yang terakhir ini lebih lanjut. Isu ini masih sangat berkaitan dengan judul artikel saya sebelumnya, “Masih Relevankah CIO?”. Jika seandainya semua bidang fungsional di dalam perusahaan sudah dipenetrasi oleh teknologi informasi, apakah kita masih membutuhkan seorang CIO yang khusus mengurusi teknologi informasi?

Lebih dari 20 tahun yang lalu (sekitar tahun 1980), Michael Porter, seorang guru besar manajemen di Harvard Business School mengeluarkan teori value chain dalam bukunya yang berjudul “Competitive Strategy”. Teori ini menjelaskan bagaimana proses penciptaan value terjadi di dalam perusahaan melalui suatu aktivitas utama disertai aktivitas pendukung. Menurut Porter, secara umum aktivitas utama itu terdiri dari logistik ke dalam (inbound logistics), operasi dan produksi, logistik ke luar (outbound logistics) atau distribusi, pemasaran dan penjualan, serta layanan kepada pelanggan.

Sedangkan aktivitas pendukung semua aktivitas utama di atas secara umum terdiri dari pengadaan (procurement), manajemen sumber daya manusia, pengembangan teknologi (termasuk teknologi informasi), serta infrastruktur kantor yang terdiri dari keuangan, akuntansi, dan administrasi.

Ada dua pertanyaan yang muncul berkaitan dengan teori value chain di atas: (1) Apakah mungkin semua aktivitas pendukung melebur dengan aktivitas utama? serta (2) Apakah semua aktivitas pendukung bisa dialihdayakan (outsourcing)?

Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan fenomena manajemen sumber daya manusia (SDM). Jika Anda pertama kali belajar mengenai manajemen SDM, maka Anda akan mendengarkan semacam doktrin, bahwa setiap manajer adalah manajer SDM (every manager is a human resource manager). Tentu saja ini benar. Setiap manajer tentu juga mengelola manusia sebagai bawahannya, dan mustahil seorang manajer tidak memiliki kemampuan mengelola manusia.

Tetapi, apakah ini berarti sebuah perusahaan tidak lagi membutuhkan seorang manajer SDM? Tunggu dulu, implikasinya tidak mesti begitu. Manajemen SDM, seperti halnya bidang manajemen yang lain, memiliki dua aspek, yaitu aspek stratejik dan operasional. Tentu saja, setiap manajer dapat menjadi manajer SDM pada aspek operasional. Tetapi apakah memungkinkan seorang manajer menjadi manajer SDM pada aspek stratejik? Tetap harus ada satu orang yang bertanggung jawab terhadap manajemen SDM di dalam perusahaan, terutama pada aspek stratejik, sehingga keberadaan manajer SDM masih tetap relevan.

Hal yang sama juga terjadi pada bidang teknologi informasi. Jika teknologi informasi bukan merupakan sesuatu yang stratejik di dalam suatu perusahaan, maka tentu saja tidak dibutuhkan seorang CIO. Tetapi sebaliknya, jika teknologi informasi merupakan sesuatu yang stratejik (competitive weapon) untuk perusahaan tersebut, apakah akan diserahkan kepada orang untuk mengurusi proses utama pada value chain tadi? Tentu saja tidak mungkin. Sesuatu yang stratejik harus dikelola dengan konsentrasi tinggi dan terkoordinasi dengan jelas. Dengan demikian, keberadaan seorang CIO tetap relevan di dalam perusahaan tersebut, walaupun perannya adalah sebagai aktivitas pendukung pada value chain. Aspek operasional bisa diserahkan kepada manajer yang lain, tetapi aspek stratejik harus berada di tangan si CIO.•

Riri Satria
• Head of Knowledge Management dan konsultan manajemen pada Lembaga Manajemen PPM, Jakarta, dan dosen corporate information system dan knowledge management pada program Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta.
Certified.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved