Ternyata
diskusi mengenai CIO ini memang sangat menarik. Artikel saya
yang berjudul “Masih Relevankah CIO?” yang dimuat
di majalah eBizzAsia edisi Februari 2003 yang lalu, ternyata
mendapatkan banyak tanggapan. Terus terang saja, ini di luar
dugaan saya. Tanggapan datang dari berbagai pihak, baik sesama
teman di Lembaga Manajemen PPM, teman-teman sesama alumni
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, bahkan juga
dosen saya di sana. Begitu juga, teman-teman lain dari berbagai
kalangan, baik di dunia teknologi informasi maupun manajemen,
lingkungan akademik, maupun praktisi bisnis. Untuk semua tanggapan
tersebut, izinkanlah saya mengucapkan banyak terima kasih
karena semuanya akan menambah wawasan dan amunisi buat saya
untuk terus berkarya.
Tanggapan yang masuk ke saya memang sangat beragam, tentu
saja ada yang pro dan ada yang kontra. Tanggapan yang pro
tentu saja menyetujui pemikiran saya bahwa seorang CIO juga
harus mampu berbicara dalam “bahasa bisnis” dan
tidak hanya “bahasa teknologi”. Kalau tidak, dia
akan menjadi obsolete.
Di sisi lain, tanggapan yang kontra tetap bertahan bahwa seorang
CIO jangan sampai dipusingkan oleh hal-hal di luar masalah
teknologi informasi, melainkan dia harus fokus ke bidang teknologi
informasi. Argumennya yang diberikan oleh pendapat ini adalah,
jika tidak fokus di bidang teknologi informasi, maka mustahil
dia bisa mengembangkan teknologi informasi di perusahaan tersebut.
Tetapi yang tidak kalah menariknya adalah, munculnya pemikiran
lain yang lebih advance terhadap apa yang saya ungkapkan dalam
tulisan tersebut. Pendapat ini mengatakan, kita tidak butuh
CIO sama sekali. Di masa yang akan datang, teknologi informasi
akan berbaur dengan semua bidang fungsional di dalam perusahaan,
sehingga setiap manajer juga merupakan manajer teknologi informasi,
dan tidak perlu ada satu bidang khusus yang mengurusi teknologi
informasi. Menarik bukan?
Pada artikel ini, saya akan membahas isu yang terakhir ini
lebih lanjut. Isu ini masih sangat berkaitan dengan judul
artikel saya sebelumnya, “Masih Relevankah CIO?”.
Jika seandainya semua bidang fungsional di dalam perusahaan
sudah dipenetrasi oleh teknologi informasi, apakah kita masih
membutuhkan seorang CIO yang khusus mengurusi teknologi informasi?
Lebih dari 20 tahun yang lalu (sekitar tahun 1980), Michael
Porter, seorang guru besar manajemen di Harvard Business School
mengeluarkan teori value chain dalam bukunya yang berjudul
“Competitive Strategy”. Teori ini menjelaskan
bagaimana proses penciptaan value terjadi di dalam perusahaan
melalui suatu aktivitas utama disertai aktivitas pendukung.
Menurut Porter, secara umum aktivitas utama itu terdiri dari
logistik ke dalam (inbound logistics), operasi dan produksi,
logistik ke luar (outbound logistics) atau distribusi, pemasaran
dan penjualan, serta layanan kepada pelanggan.
Sedangkan aktivitas pendukung semua aktivitas utama di atas
secara umum terdiri dari pengadaan (procurement), manajemen
sumber daya manusia, pengembangan teknologi (termasuk teknologi
informasi), serta infrastruktur kantor yang terdiri dari keuangan,
akuntansi, dan administrasi.
Ada dua pertanyaan yang muncul berkaitan dengan teori value
chain di atas: (1) Apakah mungkin semua aktivitas pendukung
melebur dengan aktivitas utama? serta (2) Apakah semua aktivitas
pendukung bisa dialihdayakan (outsourcing)?
Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan fenomena manajemen
sumber daya manusia (SDM). Jika Anda pertama kali belajar
mengenai manajemen SDM, maka Anda akan mendengarkan semacam
doktrin, bahwa setiap manajer adalah manajer SDM (every manager
is a human resource manager). Tentu saja ini benar. Setiap
manajer tentu juga mengelola manusia sebagai bawahannya, dan
mustahil seorang manajer tidak memiliki kemampuan mengelola
manusia.
Tetapi, apakah ini berarti sebuah perusahaan tidak lagi membutuhkan
seorang manajer SDM? Tunggu dulu, implikasinya tidak mesti
begitu. Manajemen SDM, seperti halnya bidang manajemen yang
lain, memiliki dua aspek, yaitu aspek stratejik dan operasional.
Tentu saja, setiap manajer dapat menjadi manajer SDM pada
aspek operasional. Tetapi apakah memungkinkan seorang manajer
menjadi manajer SDM pada aspek stratejik? Tetap harus ada
satu orang yang bertanggung jawab terhadap manajemen SDM di
dalam perusahaan, terutama pada aspek stratejik, sehingga
keberadaan manajer SDM masih tetap relevan.
Hal yang sama juga terjadi pada bidang teknologi informasi.
Jika teknologi informasi bukan merupakan sesuatu yang stratejik
di dalam suatu perusahaan, maka tentu saja tidak dibutuhkan
seorang CIO. Tetapi sebaliknya, jika teknologi informasi merupakan
sesuatu yang stratejik (competitive weapon) untuk perusahaan
tersebut, apakah akan diserahkan kepada orang untuk mengurusi
proses utama pada value chain tadi? Tentu saja tidak mungkin.
Sesuatu yang stratejik harus dikelola dengan konsentrasi tinggi
dan terkoordinasi dengan jelas. Dengan demikian, keberadaan
seorang CIO tetap relevan di dalam perusahaan tersebut, walaupun
perannya adalah sebagai aktivitas pendukung pada value chain.
Aspek operasional bisa diserahkan kepada manajer yang lain,
tetapi aspek stratejik harus berada di tangan si CIO.•
Riri Satria • Head of Knowledge Management
dan konsultan manajemen pada Lembaga Manajemen PPM, Jakarta,
dan dosen corporate information system dan knowledge management
pada program Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen PPM,
Jakarta.
Certified.
|