Wabah
Sindrom Pernapasan Akut Gawat (SARS) membuat kunjungan staf
dari prinsipal saya yang ada di Singapura harus ditunda. Wabah
ini juga membuat satu perusahaan di Jakarta terpaksa menerapkan
aturan terhadap staf yang baru pulang dari negara-negara epidemik
SARS agar tidak masuk kantor selama 10 hari. Bagi beberapa
karyawan aturan ini mungkin akan menguntungkan karena dapat
cuti tambahan, tetapi bagi perusahaan sebetulnya merugikan.
Di Hong Kong dan beberapa negara epidemik SARS lainnya, wabah
ini sudah mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. Umumnya,
mereka belum memasukkan wabah penyakit semacam SARS ini dalam
Business Continuity Plan mereka.
Virtual Workplace/Teleworking
Wabah ini secara langsung dan tidak langsung mengingatkan
perusahaan agar menyiapkan suatu fasilitas bagi karyawan supaya
dapat bekerja dari rumah atau tempat lainnya, seperti hotel.
Solusi tradisional yang umum dilakukan adalah dengan membangun
fasilitas dial-up remote access dengan menyiapkan peralatan
seperti server remote access, modem, dan tentunya jalur telepon.
Tetapi dalam menerapkan solusi ini seringkali perusahaan terbentur
sejumlah kendala, seperti kesulitan melakukan pengadaan atau
penambahan jalur telepon, perlunya dana ekstra untuk penambahan
staf dalam melakukan tugas administrasi dan pemeliharaan fasilitas
remote access. Juga, perlu adanya pengadaan operator jaga
jika fasilitas ini diperuntukkan sebagai layanan 24 jam. Terlebih
lagi jika fasilitas ini diakses dari kota atau daerah yang
berbeda atau bahkan dari negara yang berbeda, maka tarif telepon
dapat menjadi kendala yang signifikan.
Solusi Alternatif
Internet adalah media yang boleh dikatakan dapat diakses dari
manapun. Di Indonesia sendiri jumlah Penyedia Jasa Internet
(ISP) yang terdaftar dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) tahun 2002 sebanyak 119 perusahaan. Walaupun
sebagian besar ISP ini terkonsentrasi di Jakarta beberapa
ISP seperti TelkomNet, CBN, dan Indosat mempunyai nomor telepon
yang dapat diakses dari manapun di Indonesia dengan tarif
yang sama.
Jika kita telah menggunakan cable TV, maka kita dapat melakukan
akses ke Internet dengan menambahkan peralatan cable modem.
Mengingat sifatnya yang mudah diakses inilah, beberapa perusahaan
menggunakan media Internet untuk keperluan remote access.
Selain kemudahan akses, alasan lain mereka menggunakan Internet
sebagai media remote access adalah:
Investasi yang relatif lebih
murah dan fleksibel. Perusahaan tidak
perlu melakukan investasi untuk pengadaan server remote access,
modem, dan jalur telepon. Perusahaan juga akan lebih fleksibel,
cepat dan murah dalam menambah atau mengurangi pengguna remote
access.
Tarif akses yang lebih murah.
Tarif remote access via Internet akan terasa lebih murah jika
akses dilakukan dari luar kota atau negara. Bahkan sekarang
beberapa hotel telah memberikan akses Internet secara gratis.
Biaya pemeliharaan yang
lebih murah. Perusahaan tidak perlu memikirkan
lagi tambahan staf untuk pemeliharaan fasilitas remote access
dan operator, karena hal ini secara tidak langsung sudah di-outsource
ke perusahaan ISP dan perusahaan mendapatkan porsi keuntungan
dari large economic scale yang dilakukan ISP.
Begitu pula, jika suatu perusahaan tidak puas dengan layanan
yang diberikan oleh suatu ISP, maka perusahaan dapat dengan
mudah beralih ke ISP lain tanpa menggangu layanan remote access
secara signifikan.
Tetapi di luar keuntungan-keuntungan yang sudah disebut di
atas, solusi ini juga tak lekang dari kendala; yang utamanya
adalah masalah KEAMANAN. Kita tidak dapat mencegah orang untuk
tidak menangkap paket data yang kita kirim melalui Internet.
Jika paket tersebut mudah dibaca, seperti umumnya layanan
yang mempergunakan protokol Internet (IP) misalnya telnet,
web dan sebagainya, maka kerahasiaan data tidak dapat dijamin.
Selain itu, kemudahan memodifikasi paket data yang dikirim
via Internet akan menambah risiko keamanan.
Virtual Private Network (VPN)
Tentunya yang diinginkan perusahaan adalah tetap mempergunakan
Internet karena alasan-alasan keuntungan di atas, tetapi aman.
Solusinya adalah membuat mekanisme agar paket yang dikirim
tidak dapat dibaca kecuali oleh si penerima, dan jika seseorang
mengubah paket data di tengah jalan, maka si penerima dapat
mengetahuinya.
Untuk itu, diperlukan mekanisme tambahan yaitu melalui pengacakan
data atau enkripsi, autentikasi, dan pengecekan integritas
paket data yang dikirim. Komunikasi via Internet dengan menggunakan
tambahan ketiga mekanisme itu disebut Virtual Private Network
(VPN). Untuk dapat menggunakan remote access VPN, selain tentu
tersedianya jalur ke Internet, perusahaan juga harus menyediakan
VPN gateway dan memasang VPN client software di laptop maupun
desktop user.
Penggunaan VPN tidak hanya terbatas pada remote access, tetapi
dapat pula dimanfaatkan untuk menghubungkan antar kantor dalam
suatu perusahaan (Intranet) maupun dengan mitra kerja dan
pelanggannya (Extranet). Perusahaan cukup memasang satu jalur
koneksi ke Internet bagi keperluan Intranet maupun Extranet-nya.
Hal ini tentunya akan menekan biaya komunikasi dan waktu instalasi
akan lebih cepat dibanding jika perusahaan harus menggunakan
jalur khusus (dedicated line). Karena kemudahan dan waktu
instalasi yang cepat inilah menyebabkan VPN selain dapat dipakai
sebagai jalur komunikasi sehari-hari, sekarang merupakan komponen
yang perlu diperhitungkan dalam Business Continuity Planning
suatu perusahaan.•
Agus Pracoyo •channel manager / security consultant
pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com
|