Volume I Nomor 07 - Mei 2003
Call Center
Fasilitas baru
dengan kelengkapan
teknologi informasi
dan multimedia kini
telah hadir. Siapa berminat
menggunakannya?
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Pernahkan Anda ikut serta dalam sebuah seminar, workshop atau kongres di sebuah hotel atau gedung pertemuan, namun tiba-tiba internet sebagai sarana vital yang sangat dibutuhkan mengalami gangguan koneksi? Itu belum seberapa, jika Anda sebagai pelaksana, ketika akan mengadakan training atau workshop untuk beberapa staf Anda, mendadak Anda harus ikut memboyong perangkat kerja berupa komputer plus menyediakan jaringan internet agar kegiatan dapat berjalan lancar.

Karenanya, biasanya, ada pertimbangan matang untuk mencari tempat kegiatan semacam itu yang layak dan memenuhi persyaratan, kalau tidak mau menghadapi masalah, yang bukan tidak mungkin membuyarkan image kegiatan yang direncanakan sebelumnya.

Jika mengalami kondisi seperti itu, Polaris Technology Center (PTC) bisa menjadi solusinya. Sesuai dengan namanya, PTC merupakan pusat pertukaran informasi mengenai teknologi, baik baru maupun lama. Tempat tersebut dikelola oleh PT Jaring Semesta Infosolusi dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas kegiatan yang canggih, yang cocok digunakan, antara lain, untuk kongres atau sekedar workshop, konperensi pers, dan kegiatan bisnis lainnya yang membutuhkan dukungan teknologi.

“Bisnis kami sangat simpel,” kata Henry Iswaratioso, Executive Director JSI kepada eBizzAsia. Menurut Henry, bak cerita anak yang biasa di tulis oleh penulis legendaris asal Inggris Enid Blayton, kekompakkan dan kesetiakawanan sejak kecil ternyata mampu mewujudkan sebuah cita-cita bersama. Adalah enam sekawan, Henry bersama lima sahabatnya yang lain, Raymon Yunarouw, Chairul Sugiharto, Andi Zein, Ramses Korompis, dan Eddy Dharma berteman sejak mereka belum mengenal bangku sekolah. Ketika mereka telah berhasil menyelesaikan sekolah tinggi masing-masing, ternyata mereka memiliki pandangan yang sama tentang satu hal.

“Kami bercita-cita dapat memberikan awareness kepada masyarakat bagaimana perkembangan dan kemajuan teknologi, baik di Indonesia maupun di dunia. Karena menurut pandangan kami, teknologi sangat berguna bagi kemajuan usaha, lifestyle dan berbagai bidang lainnya termasuk pendidikan. Sayangnya teknologi di Indonesia berkembang dalam ruang lingkup kecil, padahal jika bicara produk tidak ketinggalan. Tetapi, yang mengerti tentang produk atau teknologi terbaru hanya orang-orang tertentu saja. Jadi, pasarnya sangat kecil, padahal teknologi seharusnya diketahui dan dimanfaatkan oleh orang banyak,” ujar Henry memberikan latar belakang berdirinya PTC.

Alasan lainnya menurut Henry, penginformasian tentang produk dan teknologi baru kepada masyarakat lewat seminar atau kongres hanya membidik kalangan tertentu. Sehingga masyarakat kehilangan kesempatan untuk dapat ikut serta dalam memperoleh informasi tersebut. “Untuk itu kami membuat tempat seperti ini, yang terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi setiap hari. Dengan begitu, informasi teknologi baru yang datang dari manapun dapat diperoleh dari tempat kami,” tambahnya.

Dengan bermodalkan uang sebesar Rp. 2 miliar, enam sekawan pada bulan September lalu memperkenalkan bisnis baru yang diklaim oleh Henry bahwa PTC adalah bisnis baru dan pertama kali ada di dunia. “Kami bersyukur, ternyata PTC mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat,” tukas jebolan SMA I Tarakanita Jakarta yang melanjutkan S1 di Amerika dan menggaet gelar Master Bisnisnya di Tokyo, Jepang.

Henry Iswaratioso, Executive Director JSI

Meski tanggapan cukup positif, namun Henry dan kawan-kawan sadar kondisi masyarakat di tanah air memiliki sifat wait and see. Karena itu, manajemen PTC lebih bersikap agresif dengan menerapkan sistem jemput bola. “Kami merangkul vendor-vendor untuk mendukung bisnis kami. Sejauh ini PT Telkom, Bhineka, Samsung dan Digital Studio telah memberikan dukungan nyata pada kami.

Selain itu, kami juga mengajak vendor dan juga menawarkan pada perusahaan-perusahaan untuk menyelenggarakan event di tempat kami. Dan sejauh ini, dalam satu bulan sejak kami berdiri minimal dua hingga tiga event besar bisa kami selenggarakan di tempat ini,” kata Henry panjang lebar.

Salah satunya adalah workshop tentang on-line trading, merangkul vendor yang memiliki software on-line trading, peserta yang berminat dapat membeli undangan. Contoh lainnya adalah menggelar workshop ketika Intel meluncurkan produk baru. PTC akan akan menghubungi perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan teknologi terbaru tersebut untuk ikut serta. Setelah pelaksanaan workshop selesai, baru kemudian Polaris memberikan kesempatan pada masyarakat luas untuk ikut serta mengetahui dan memahami teknologi tersebut. Baik perusahaan maupun masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menggali teknologi tersebut sedalam-dalamnya, karena produk atau teknologi baru yang diperkenalkan akan disediakan di tempat itu.

Meskipun terbuka untuk umum, namun PTC menerapkan sistem membership. Pihak manajemen tidak bersikap kaku mengingat Polaris baru berkembang. “Setiap member dikenakan biaya mulai dari Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,- atau Rp. 200.000,- dan seterusnya. Dengan uang tersebut mereka mendapatkan waktu tertentu. Jadi menggunakan fasilitas, waktu yang terpakai akan memotong uang yang didepositkan, seolah sistem prabayar.

Bagi non-member juga dapat menggunakan fasilitas yang tersedia. Pengunjung kalangan ini biasanya datang dari luar Jakarta, seperti Bandung misalnya. Untuk dapat menggunakan fasilitas, mereka yang bukan member, dikenakan biaya Rp. 10.000,- setiap jamnya. Fasilitas yang disediakan sama, baik member maupun non-member. Tujuan membership ini lebih untuk membangun komunitas Polaris di masa datang,” kata Henry menerangkan.

Fasilitas yang tersedia berupa 120 buah PC Pentium 4 dengan monitor LCD (Liquid Crystal Digital), juga proyektor, multimedia audio, dan jaringan internet dengan kapasitas 1,5 Mbps yang disediakan Telkom. Dengan membership dan sekitar 20 oran non-member yang menggunakan fasilitas, diperkirakan pengembalian modalnya akan tercapai dalam 2 tahun.

Selain bersaing dengan hotel atau tempat-tempat pertemuan lainnya, PTC juga sering dikesankan sebagai warnet. Sebenarnya simpel saja, ujar Henry, sesuai namanya PTC merupakan pusat teknologi dengan banyak komputer. Namun, gambaran yang ingin ditampilkan adalah bahwa teknologi bukan sekedar produk, tapi yang juga penting adalah content-nya. Karena, dewasa ini, PC itu telah menjadi komoditi, sedang yang mengalami perubahan cepat adalah content-nya. Content-nya yang sesungguhnya akan berpengaruh besar.

“Seperti majalah yang sering menerima produk untuk di test dan direview dalam bentuk tulisan, di sini test dan review dilakukan langsung oleh masyarakat,” ujar Henry menambahkan. •jl

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved