|
 |
Volume I Nomor
08 - Juni 2003 |
|
MALAYSIA
Malaysia
Perluas Penetrasi Broadband
Perusahaan
riset terkemuka IDC dalam salah satu laporannya mengenai pertumbuhan
Internet broadband di Asia menyebutkan bahwa dalam beberapa
tahun mendatang pertumbuhan pelanggan broadband Asia masih akan
tetap tertinggi. Untuk saat ini, di Asia (diluar Jepang), negara
berpelanggan broadband tertinggi tetap dipegang Korea Selatan
(lebih dari 10 juta pelanggan), meski pertumbuhan pelanggannya
sudah jenuh. Di Cina dan Taiwan pertumbuhan Internet broadband
(subscriber base) masing-masing 55 dan 25 persen setiap tahunnya.
Di kalangan negara Asia Tenggara, meski dari sisi subscriber
base pertumbuhannya tidak setinggi Cina dan Taiwan, namun pengguna
broadband juga marak. Singapura misalnya, menurut catatan yang
dikeluarkan badan pengembangan infokom Singapura, IDA, dari
sisi user base, penggunaan broadband meningkat pesat. Tahun
2001, pengguna broadband di negeri pulau ini sekitar 950.000
pengguna, sedang tahun 2002 lalu meningkat menjadi 1.240.000
pengguna, atau 43 persen dari seluruh penduduk Singapura.
Bagaimana dengan Malaysia? Meski start-nya relatif lambat, perusahaan-perusahaan
telekomunikasi Malaysia pun tak kalah gencar meningkatkan penetrasi
broadband, khususnya yang subscriber base dengan mempercepat
peluncuran layanan broadband baik untuk pasar konsumen/rumah
maupun dunia usaha.
Telekom Malaysia, perusahaan telekomunikasi terbesar Malaysia,
telah memasang sekitar 100.000 port di seluruh negeri untuk
memberikan layanan broadband. Perusahaan ini rencananya akan
memasang 300.000 port lagi tahun ini dan mencapai target satu
juta port dalam dua tahun, jelas salah satu pejabat senior Telekom
Malaysia, Idris Ibrahim.
Saat ini, Telekom Malaysia telah melayani 35.000 pelanggan broadband,
yang umumnya terkonsentrasi di wilayah Klang Valley tengah dan
negara bagian Penang dan Johor. Telekom Malaysia kini berada
dalam fasa kedua pemasangan port-port untuk menyediakan layanan
broadband untuk komunitas bisnis, khususnya skala menengah dan
kecil (UKM).
Penyediaan jejaring broadband ini tidak ditujukan bagi pengguna
korporat saja, namun menjangkau dunia pendidikan. Anak perusahaan
Telekom Malaysia, TM Net, dikabarkan akan menyediakan solusi
Internet broadband yang terintegrasi total dengan INTI College,
yang memiliki sekitar 14.000 siswa yang tersebar di lima kampusnya
di seluruh negeri.
Pimpinan TM Net, Md Khir Abdul Rahman mengatakan bahwa INTI
College adalah universitas swasta pertama yang mengimplementasikan
konektivitas jejaring berskala enterprise yang bersifat seamless
dan terintegrasi dari TM Net. Dana untuk penyediaan infrastruktur
TI guna mendukung inisiatif eCampus INTI ini diperkirakan sekitar
260.000 dolar AS (atau sekitar 2,6 milyar rupiah), tambah Abdul
Rahman. Kampus INTI nantinya akan memiliki LAN nirkabel yang
memungkinkan para staf dan mahasiswanya terhubung dengan Intranet
atau Internet dari lokasi manapun di dalam kampus.
Dengan jejaring berbasis satelit, biaya konektivitas tidak tergantung
jarak, dan bila ingin menambah bandwidth cukup dilakukan dengan
perubahan setting di stasiun uplink regional, jelas para pejabat
Baycom.
Layanan ini hemat biaya bagi perusahaan-perusahaan yang menjalankan
aplikasi bersifat mission critical melalui jejaring yang membentang
di 25 lokasi di seluruh negeri. Perusahaan ini kini memiliki
300 pelanggan di Malaysia, termasuk perusahaan-perusahaan multinasional,
UKM dan institusi pendidikan.•
THAILAND
Thailand Incar Pasar CRM Eropa
Para jagoan TI Asia, meski memiliki perusahaan dan SDM TI yang
handal dan berkelas dunia, namun dalam mengemas dan menjual
IT solution package yang siap pakai jauh ketinggalan. Sedang
India, meski nilai ekspor TI-nya milyaran dolar, namun nilai
software package-nya tak lebih dari 5 persen.
Namun, beberapa perusahaan Asia kini mulai giat memasarkan software
package, baik di pasar domestik maupun menantang perusahaan-perusahaan
piranti lunak yang sudah mapan di pasar Eropa dan Amerika Utara.
Perusahaan tersebut menawarkan berbagai solusi TI, mulai dari
solusi ERP, CRM hingga contact center.
Di Asia Tenggara, selain Singapura dan Malaysia, Thailand kini
mulai menonjol sebagai salah satu kekuatan TI yang patut diperhitungkan.
Computer Telephony Asia (CT Asia), merupakan salah satu perusahaan
Asia yang tengah menjajal pasar piranti lunak Eropa, khususnya
untuk solusi customer relationship management (CRM) dan call
center-nya di Eropa, dengan mendirikan kantor perwakilannya
di Stuttgart, Jerman.
Seperti diakui salah seorang pendirinya, yang juga direktur
regional CT Asia, Chalermpon Punnotok rahasia keberhasilannya
adalah CT Asia tidak sekedar berinvestasi di R&D, namun
juga pada insinyur-insinyur dan tim pemasaran yang trampil dan
handal.
Berbekal pengalamannya di call center management ketika bekerja
di GE Capital, Chalermpon bersama-sama Tospol Apikulvanich mendirikan
CT Asia lima tahun lalu. Sejak awal pendiriannya, CT Asia sudah
berkonsentrasi pada pengembangan solusi-solusi contact center
dan CRM untuk memperbaiki komunikasi bisnis dan meningkatkan
efisiensi agen call center. Setahun setelah beridiri, CT Asia
memperkenalkan produk pertamanya, InfoCentrix IVR (interactive
voice response) dan sebuah sistem fax-on-demand.
CT Asia juga memperkenalkan InfoCentrix Knowledge Service, sebuah
solusi CRM untuk tracking dan problem solving. Setelah tiga
tahun beroperasi, CT Asia memperkenalkan InfoCentrix 3.0, sebuah
versi upgrade dari produk pertamanya. Versi terbarunya ini diperkenalkan
sebagai suatu produk multimedia contact center. Solusi ini mendukung
berbagai jenis media yang digunakan customer, seperti telepon,
faks, email, SMS, chat dan VoIP melalui sebuah web site. Produk
ini dapat diintegrasikan dengan solusi knowledge service-nya
dan juga sistem database customer-nya.
Kini, CT Asia telah menambahkan unsur mobilitas untuk para supervisor
call center dengan InfoCentrix Mobility. Produk ini memungkinkan
para supervisor memantau kerja masing-masing agen atau mengelola
sumber daya contact center dari manapun, melalui perangkat Pocket
PC dan teknologi GPRS.
Sampai saat ini, solusi-solusi CT Asia telah diimplementasikan
oleh banyak perusahaan di Thailand, termasuk AIS, UBC, Avon
dan Petroleum Authority of Thailand (PTT). Setelah mendirikan
kantornya di Stuttgart, Jerman, CT Asia juga akan mendirikan
reseller di India.
Chalermpon mengatakan bahwa Eropa akan menjadi pasar terbesarnya,
karena CT Asia mampu menawarkan produk-produk dengan harga 30-40
persen lebih murah daripada pesaingnya. “Harga yang kami
tawarkan lebih murah karena labor cost-nya juga rendah,”
cetusnya, sambil menambahkan bahwa CT Asia menargetkan 100 pelanggan
di Eropa, sementara di India sekitar 50 pelanggan.•
Thailand Siapkan Standar eLearning
Di
beberapa negara, e-learning telah menjadi suatu gerakan nasional.
Bahkan di Eropa, Dewan Uni Eropa telah mencanangkan program
e-learning 2004-2006 untuk mengintegrasikan secara efektif teknologi
infokom dalam sistem pendidikan dan pelatihan. Di Asia Tenggara,
negara-negara yang diketahui tengah menggarap secara serius
inisiatif e-learning selain Filipina, juga Thailand.
Untuk mendukung inisiatif e-learning, proyek belajar on-line
nasional (NOLP), yang dikelola National Science and Technology
Development Agency Thailand, telah mengembangkan perangkat e-learning
berstandar internasional, yang diharapkan akan menguntungkan
berbagai universitas di Thailand.
Fakultas Kedokteran Universitas Khon Kaen adalah institusi pertama
yang akan menerapkan perangkat e-learning untuk tujuan penyelenggaraan
pendidikan. Perangkat yang dinamakan Content Authoring Management
System (CAMS) dan digunakan untuk merancang konten e-learning.
Managing director NOLP, Dr Surasit Vannakrairojn menjelaskan
bahwa e-learning kini melangkah maju dengan menerapkan standar
internasional yang disebut Shareable Content Object Reference
Model (SCORM). SCORM merupakan sebuah kumpulan spesifikasi yang
diadaptasi dari berbagai macam sumber guna menyediakan sebuah
paket e-learning komprehensif, yang memungkinkan interoperabilitas,
aksesibilitas dan penggunaan kembali materi belajar berbasis
web.
Menurut Surasit, Khon Kaen adalah sekolah kedokteran pertama
yang menggunakan e-learning secara penuh dan telah menerapkan
LAN dan server di berbagai asrama mahasiswa dan ruang kuliah.
Fakultas ini juga merencanakan menerapkan e-learning untuk setiap
mata kuliah yang diajarkan.
“Cara baru ini memungkinkan semua pihak memanfaatkan waktunya
dengan lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan,”
tegas Surasit, sambil menambahkan bahwa e-learning adalah suatu
proses yang berkelanjutan dan content-nya pun perlu diperbaiki,
baik dalam kualitas maupun kuantitas.
Selain dengan universitas lokal, NOLP juga bekerjasama dengan
Universitas Tokai Jepang dalam mengembangkan materi dan perangkatnya.
Ke depan, setiap institusi akademis di Thailand akan didukung
oleh sebuah tim yang akan menangani learning management system
(LMS). LMS adalah sebuah paket solusi yang dirancang untuk penyampaian,
pelacakan, pelaporan dan pengelolaan materi belajar, serta memantau
kemajuan siswa dan interaksi siswa.
Di sektor swasta, e-learning masih dalam tahap awal. Investasi
e-learning di Thailand sendiri masih relatif rendah. Jepang
sekalipun investasinya hanya sekitar 1/10 dari AS, yang menurut
IDC memiliki pasar sebesar 5,56 milyar dolar tahun lalu. •
Go back to previous page |
|
 |
|