Anto,
mahasiswa sebuah sekolah tinggi komputer di Yogya baru saja
datang ke rumahnya, Muntilan, Magelang, kota kecil di dekat
Candi Borobudur. Dia baru saja libur semesteran. Ayahnya adalah
pengusaha pemahat patung batu kali. Batu-batu ini asalnya
dari Gunung Merapi. Berdasar catatan sejarah, bahan bangunan
Borobudur berasal dari gunung berapi yang terkategori paling
aktif di dunia. Orang tua Anto mempunyai 10 karyawan yang
setiap hari memahat patung-patung batu pesanan instansi dan
perorangan di seluruh Indonesia.
Terkadang pesanan berupa pembuatan miniatur stupa Borobudur.
Tidak ada yang tahu mengapa penduduk sekitar Borobudur mahir
memahat batu kali yang keras itu. Mungkin merekalah pewaris
pemahat Borobudur di jaman Raja Smaratungga di kala membangun
candi itu.
Sudah tiga bulan ini Anto membaca segala macam uraian tentang
e-Business, e-Commerce dan hal terkait lainnya. Ia berpikir,
semestinya usaha bapaknya bisa menerapkan teknologi ini. Bukankah
kata para ahli, teknologi ini bisa mensejajarkan perusahaan
kecil dengan perusahaan besar?
Begitu dia membeberkan rencananya, bapaknya langsung setuju.
Ayahnya yakin kalau anaknya yang paling pintar di desanya
itu pasti punya perhitungan yang matang. Jika tidak, toh buat
apa dia sekolah tinggi-tinggi.
Proyekpun dimulai. Patung-patung mulai diatur, dan diambil
gambarnya. Untunglah dia dipinjami temannya yang kaya, sebuah
kamera digital yang bisa merekam gambar patung-patung yang
dibuat Bapaknya itu. Gambar-gambar berformat .avi atau .jpg
telah ia susun di komputernya.
Sebelum menyusun web, ia harus menyusun dulu RPD (respon
yang paling diinginkan). RPD web itu berupa orang yang melihat
dan berminat dapat memesan patung melalui web yang dia buat.
Akhirnya dia mulai membuat web. Dia telah mengamati yahoo.com,
google.com, bahwa yang penting bukan grafik, tapi teks. Dia
tahu bahwa yang bisa menjual teks bukannya grafik. Oleh karenanya,
walau yang dia jual adalah patung, tapi dia sangat sedikit
mencantumkan gambar patung. Yang dia muat lebih banyak informasi
tentang sejarah pembuatan patung, riwayat Borobudur, bahan
patung, keistimewaan patung Muntilan dibanding daerah lainnya.
Satu hal yang merisaukan, bagaimana meyakinkan calon pembeli
agar mereka yakin bahwa web-nya benar-benar akan mengirim
barang sesuai pesanan, dan bukannya web yang hanya mencuri
nomor kartu kredit.
Dia mendapat akal. Diperiksanya catatan para pembeli patung
yang ada. Dia menelpon lima orang. Anto menginginkan adanya
kesaksian pembeli patung tentang kepuasan mereka membeli patung
dari perusahaan Bapaknya. Mereka setuju, dan memperbolehkan
komentar mereka dimuat di web-nya. Masih kurang meyakinkan,
nanti jangan-jangan calon pembeli menyangka kesaksian mereka
dibuat-buat. Akhirnya atas persetujuan mereka di web itu dicantumkan
alamat lengkap dan nomor telpon. Sebagai imbalannya, Anto
membuat program komputer sederhana untuk mencatat inventori
barang pelanggan itu.
Masih kurang meyakinkan. Tidak lupa dia mencantumkan nama
dan alamat lengkap perusahaan bapaknya, lengkap dengan No
fax, dan kodepos. Masih kurang meyakinkan, Anto akhirnya ke
kantor Kabupaten Magelang agar Dinas Kebudayaan dan Dinas
Industri dan Perdagangan memberikan surat penguat. Akhirnya
didapatlah surat dari dua instansi itu. surat itu kemudian
di-scan di warnet, dan dicantumkan di web.
Web-nya didaftarkan ke Network Solutions (www.netsol.com)
agar mendapat domain. Domain yang didapat adalah www.borobudur-heritage.com.
Web sudah selesai, namun masih berbahasa Indonesia. Dia inginnya
yang ‘go global’, berarti harus berbahasa Inggris.
Celakanya dia tidak mahir bahasa itu, maka dia datang ke tetangganya
yang kebetulan guru kursus bahasa Inggris. Guru itu setuju
untuk menerjemahkan web-nya. “Nggak usah bayar, nanti
saja kalau sudah sukses baru bayar. Toh saya sudah ikut gagah,
tulisan saya dilihat orang seluruh dunia, “ kata pak
Guru itu.
Segera dia memesan web space untuk menampung web-nya. Setelah
searching cukup lama, akhirnya ditemukan perusahaan di Kanada
yang menyediakan ruang untuk web, dan sekalian sarana pembayaran
melalui kartu kredit. Perusahaan itu memungut 7% dari harga
barang yang terjual. “No problem,” pikirnya, toh
dia tidak repot lagi mengurus sarana pembayaran pakai kartu
kredit itu. Dia sendiri juga tidak tahu harus ke bank mana
di Indonesia jika ingin web-nya bisa menerima kartu kredit.
Perusahaan di Kanada itu akan mengirim sebulan dua kali uang
hasil penjualan patungnya.
Dia menyadari bahwa web-nya tidak berarti apa-apa jika tidak
diketahui orang. Maka ia segera mendaftarkan web-nya ke beberapa
search engine, mulai dari yahoo.com, google.com, altavista.com.
Dia sudah menyiapkan keyword yaitu kata-kata yang mungkin
ditemukan oleh pengguna internet melalui search engines tersebut.
Inilah keyword-nya, “statue,” “borobudur,”
“Indonesia,” tourism,” “stone-carved,”
“art.”
Tidak lupa dia membuat lima artikel tentang patung dan Borobudur.
Tanpa kesulitan ia mampu membuat lima buah artikel itu. Tidak
heran, toh tiap hari dia bergaul dengan patung-patung itu.
Sekali lagi dia meminta guru bahasa Inggris untuk menerjemahkan.
Setelah selesai, dia mulai mengirimkan artikel-artikel itu
pada newsletter tentang pariwisata dan seni. Dengan google.com,
mudah sekali menemukan newsletter semacam ini. Ia tahu kalau
penyedia newsletter sangat menunggu artikel. Mereka tidak
akan memberi imbalan kepada penulis. Sebagai imbalannya, mereka
membolehkan sedikit iklan di akhir artikel. Inilah yang dia
tulis di akhir di akhir tiap artikel. “Author: Anto
Setiono, CEO www.borobudur-heritage.com, The Most Artistic
and Original Stone-Carved from the Wonder of Borobudur.”
Dia berharap para pembaca newsletter itu akan membaca artikelnya,
dan biasanya pembaca akan membaca siapa pengarangnya. Setelah
diketahui pengarangnya, dia mengharapkan pembaca akan mengklik
web-nya.
Anto tahu kalau promosi harus integrated, gabungan antara
online dan offline. Maka dia membuat kartu nama, dan brosur
yang ia desain sendiri. Di sore hari, ia menyuruh para pemahat
membagikan brosur ini kepada para turis yang berkunjung di
Borobudur.
Liburan berakhir Anto harus kembali ke Yogyakarta. Di sana,
ia mendaftarkan web-nya pada dinas pariwisata propinsi DIY.
Tidak lupa ia singgah ke hotel Ambarukmo dan Hotel Garuda
untuk menyebarkan brosur ke tamu-tamu hotel.
Dengan berdebar-debar dia menunggu e-mail pesanan. Seminggu,
dua minggu, satu bulan tidak ada pesanan. Tiba-tiba ada e-mail
dari perusahaan Kanada tempat ia meletakkan web-nya. Ia mendapat
ORDER, 5 buah patung miniatur stupa dari orang Austria. Orang
ini pernah ke Indonesia tapi tidak sempat beli. Ia sangat
berterima kasih ada orang Indonesia yang menjual patung batu
ini.
Singkat cerita, ia berhasil mengirim patung-patung itu ke
Austria dengan selamat. Tidak lupa ia memberi bonus berupa
patung ganesha mini. Inilah “kisah” hipotetis
sebuah usaha kecil yang ingin memanfaatkan e-Business dalam
memajukan bisnisnya.
Dwi Suryanto • Praktisi dan Pengamat New Economy
tinggal di Bandung
|