Berbagai
inisiatif untuk membangun komunitas masyarakat sebenarnya
telah banyak dilakukan. Tapi, setelah beberapa tahun kemudian,
apa yang telah dirintis tak jua berkembang sebagaimana yang
diharapkan. Ada yang mati karena tak mampu menjaga dan mengembangkannya,
dan ada yang lenyap karena memang inisiatifnya yang kurang
“menggigit”. Belum lagi karena pembangunannya
hanya ditempatkan sebagai kegiatan “proyek” sesaat,
yang biasanya muncul menjelang pemilihan umum dilakukan.
Kalau pun ada yang bertahan hidup, tetapi keberadaannya tak
cukup menjadi pendorong perkembangan sebagaimana diharapkan.
Yang tampaknya masih cukup baik berjalan adalah inisiatif
pengembangan pusat pelayanan kesehatan masyarakat atau yang
dikenal sebagai Puskesmas.
Selain adanya inisiatif pemerintah, baik pusat maupun daerah,
masyarakat sendiri pun sebenarnya mengembangkan berbagai inisiatif
bagi pengembangan lingkungan dan komunitasnya sendiri. Tetapi
umunya, lebih bertujuan membangun komunikasi sosial dan kemasyarakat
dan jarang yang bertujuan peningkatan bisnis dan ekonomi di
wilayahnya.
Meski kita mengetahui, inisiatif-inisiatif yang bermotif bisnis
lainnya sebenarnya banyak juga dilakukan. Tetapi, biasanya,
secara perlahan lenyap seperti lampu kehilangan seterum dan
padam. Banyak aspek yang ternyata kurang mendukung bagi keberhasilannya.
Belakangan, kantor Menegristek bekerjasama dengan LIPI (Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan bermitra dengan perusahaan
swasta mengembangkan pembangunan warung teknologi informasi
(Warintek). Sampai sejauhmana inisiatif ini akan berhasil
tentu akan sangat ditentukan sampai sejauhmana inisiatif tersebut
akan memberikan “nilai lebih” dan “manfaat
ekonomis” bagi masyarakat, selain tentu berperan juga
dalam menjembatani kesenjangan teknologi/digital (digital
divide).
Sebelumnya, inisiatif pengembangan Wartel/Warnet telah mendapat
dukungan masyarakat, baik sebagai pengguna maupun sebagai
pengembang dan pengelolanya. Sukses pengembangan Wartel/Warnet
ini, selain berdampak pelayanan yang secara luas tersedia
bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sentra-sentra ekonomi,
meski masih skala kecil. Meskipun, dalam realitasnya ada Wartel/Warnet
yang berskala ekonomi yang lebih dari rata-rata, tetapi hal
ini masih belum menjadi pusat berlangsungnya aktivitas dan
interaktivitas masyarakat, khususnya yang berada di suatu
kawasan di mana Wartel/Warnet itu berada.
Namun, sejalan dengan berkembangnya teknologi informasi, telekomunikasi
dan komputer, muncul inisiatif baru yang akan bertujuan selain
menjembatani ketimpangan digital, juga diharapkan akan menjadi
pusat aktivitas dan interaktivitas, yang output-nya dapat
berupa pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Sosial
berupa peningkatan komunikasi di lingkungan komunitas atau
antar komunitas, baik di dalam maupun di luar negeri, juga
membangun jaringan bisnis dengan fokus pengembangan berasal
dari komoditas yang ada dan berkembanga di daerah di mana
pusat aktivitas dan interaktivitas itu ada.
Sebagian negara menyebutnya MCT (Multipurpose Community Telecenters),
sebagain lainnya MCC (Multipurpose Community Centers). Apapun
namanya, diharapkan pusat-pusat pengembangan komunitas ini
dapat memberikan nilai tambah dan pengembangan bisnis yang
menguntungkan bagi masyarakat.
Kami menyadari pentingnya pembangunan pusat pengembangan komunitas
ini dan itu kami sajikan dalam Cover Story. •TI
|