|
... continued from page one
 |
| Malaysian Airlines: Sudah melakukan
strategi outsourcing. (photo: airliners.net) |
Agar outsourcing ini berhasil, ada dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, kata Richard, pemilihan terhadap perusahaan yang
akan diserahi tugas outsourcing. Perusahaan tersebut harus
teruji kualitasnya seperti yang dijanjikan. Kedua, outsourcing
jangan hanya cuma menyewa tenaga layaknya pengiriman TKI.
Tapi bagaimana konsepnya, fleksibilitasnya, dan kerja sama
bisa terjalin untuk mengoptimalkan TI dalam menunjang strategi
bisnis. “Konsep menyewakan tenaga itu kurang baik, mutunya
pun rendah karena tak terintegrasi dengan strategis bisnis,”
kata Richard.
Karena itulah, untuk melakukan outsourcing, kata Richard,
ada empat fase yang harus dilalui. Fase pertama, bagaimana
menciptakan saling pengertian antara kedua belah pihak, antara
business owner dan perusahaan yang akan diserahi tugas outsource.
Business owner mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana
harus membelinya. Sebaliknya, perusahaan outsourcer mengerti
apa yang di-deliver dan apa yang akan diberikan ke perusahaan
penerima outsource. Pada tahap ini dibutuhkan due diligence
dan saling mempelajari satu sama lain.
Fase kedua, formalisasi kontrak berkaitan dengan aplikasi
yang akan dikerjakan. Kontrak harus dibuat sedetil mungkin,
dan bukan bersifat umum. Misalnya, aplikasinya apa, kecocokannya
seperti apa, sejauhmana fleksibilitasnya, bagaimana hardware-nya,
apakah sistem bisa down time (boleh mati atau tidak harus
hidup selama 24 jam) dan bagaimana improvement bisa dilakukan
dari waktu ke waktu. Richard mencontohkan dalam inventory
system misalnya, bagaimana sistem tidak hanya cuma bisa menyimpan
nomor register obat, tapi expired date juga masuk. Jadi, amat
detil.
Fase ketiga, transisi. Fase ini merupakan implementasi perubahan-perubahan
dari proses bisnis, business management dan achieve management.
Pada fase ini juga ditentukan perubahan SOP (standard operating
procedure) yang meliputi: (a) change management; (b) komunikasi
yang intens di antara komunitas kelompok kerja; dan (c) training.
Pada bagian akhir ini, training harus dilakukan secara benar
dan menyeluruh. Bukan hanya bos-bosnya saja, tapi juga para
pelakunya.
Fase keempat, kestabilan. Pada fase ini perlu dilakukan review,
checking, maintenance dan komunikasi. “Jika semua sudah
berjalan, apa perbaikan yang perlu dilakukan, new ideas dan
mungkin bisa memindahkan dari orang yang transisi menjadi
permanen,” kata Richard. Untuk memuluskan itu, diperlukan
seorang IT Manager yang senior dan amat berpengaruh.
Jadi, kata Richard, jika disederhanakan ada beberapa keuntungan
dari outsourcing, yaitu (a) biaya investasi berubah menjadi
biaya belanja; (b) tidak lagi dipusingkan oleh turn over tenaga
TI; (c) memungkinkan pemakaian new technology; (d) quality
service meningkat; (e) memungkinkan dorongan pada perubahan
manajemen; (f) business owner bisa fokus pada bisnis inti
(core business); (g) kecepatan dalam implementasi TI; (h)
cost reduction; (i) kemudahan dalam up grade terhadap teknologi
baru; (j) kestabilan akan merubah bentuk kompetisi baru; dan
(k) membuat inovasi jauh lebih mungkin, dan inovasi pun jauh
lebih cepat untuk go to market.
Ke depan, kata Richard, outsourcing merupakan bisnis yang
menarik. Di Indonesia, trend yang ada baru sedikit dan sederhana,
seperti rental dan penyewaan tenaga kerja TI. Berbeda dengan
yang terjadi di luar negeri. Malaysian Airlines atau Bank
Bumi Putera Malaysia misalnya, sudah melakukan strategi outsourcing
seperti di atas. “Di Indonesia masih belum ada, karena
belum terbiasa,” kata Richard. Jika pun ada, rata-rata
perusahaan asing, seperti General Electric, General Motor
atau Bank of Tokyo. Hal ini juga tercermin dari rata-rata
spending TI mereka cuma 0,5-2 persen, sementara di luar negeri
rata-rata 2-10 persen.
Realitas itulah yang terjadi pada PT Pasifik Satelit Nusantara
(PSN) dan PT Rio Tinto Indonesia (RTI). PT RTI, perusahaan
pertambangan asal Amerika Serikat itu meng-outsource-kan sebagian
urusan TI-nya kepada PT Mincom Indoservices sejak Januari
2002 lalu. Terutama masalah operasional teknis sehari-sehari,
seperti IT services maintenance, technical equipment problem,
back up system dan yang lain. “Konsultan pada dasarnya
hanya menangani masalah-masalah teknis TI sehari-hari,”
kata juru bicara RTI, Lutti. Ke depan, kebijakan, prosedur
hingga justifikasi yang diterapkan tetap menjadi tanggungjawab
manajemen RTI. Manajemen RTI menerapkan mekanisme kontrol
agar sesuai denga misi dan visi perusahaan.
Senada dengan RTI, perusahaan telekomunikasi berbasis satelit,
PT PSN, juga tidak meng-outsource-kan seluruh urusan TI-nya.
Bagian yang di-outsource adalah Call Center & Mediation
Device, sementara Customer Care & Billing System (CCBS)
ditangani sendiri. Untuk call center, PSN menggandeng Siemens,
sementara untuk Mediation Device diserahkan ke Danet (Jerman).
“Ini tidak dapat kami tangani sendiri,” kata Rian
Alisjahbana, Direktur Operasi PT PSN. Itu pun cuma untuk maintenance
dan annual technical support saja, misalnya konektivitas gateway
dengan CCBS yang terputus dan tidak aktif.
PT PSN, kata Rian, sebenarnya mungkin saja menangani dua urusan
tadi. “Tapi akan amat tidak efisien, boros dan penyelesaiannya
tidak sesuai waktu,” kata Rian. Sebab, ada hal-hal yang
lebih kompleks yang jauh lebih efisien jika diserahkan ke
pihak lain yang lebih berpengalaman. Sementara untuk urusan
CCBS, PSN memiliki SDM (sumber daya manusia) yang kompeten.
Buktinya, kata Rian, PSN berhasil mengembangkan sendiri CCBS
untuk ACeS Services yang jika dibeli dari pihak lain bisa
mencapai US$ 5 miliar.
PSN, kata Rian, menguasai mission critical system sendiri.
Ini akan mengurangi ketergantungan kepada vendor, selain juga
bisa menjawab kebutuhan pasar lebih cepat dengan biaya yang
jauh lebih murah. PSN, kata Rian, juga punya divisi TI sendiri
yang menangani infrastruktur TI (System, Network dan Database),
pengembangan aplikasi dan dukungan operasional. Ini tidak
diserahkan ke pihak lain, karena inilah core business PSN.
Keuntungannya, kata Rian, biaya maintenance CCBS jadi ringan.
Sementara jika membeli dari pihak lain, maintenance bisa mencapai
20 persen per tahun dari harga beli. Penambahan fungsi pun
akan amat mahal. “Agar manfaatnya maksimal, janganlah
meng-outsource-kan bidang-bidang yang menjadi core business,”
kata Rian memberi resep.
Menurut Lutti, sebenarnya mungkin saja urusan yang di-outsource-kan
itu ditangani sendiri. Tetapi, itu mengharuskan RTI memiliki
lebih dari satu karyawan yang mahir dalam beberapa bidang
TI. Padahal, tenaga ini tidak 100 persen bisa meng-handle
berbagai problem yang muncul. Sementara jika di-outsource-kan,
akan terjadi efisiensi tenaga kerja, waktu, dan RTI bisa fokus
kepada bisnis inti. Tidak cuma itu, RTI juga mendapat masukan-masukan
tentang teknologi terbaru dari konsultan, mendapatkan seluruh
tenaga kerja TI yang diperlukan korporasi, bahkan mengambil
pelajaran dari problem TI yang dihadapi perusahaan lain yang
juga menjadi klien konsultan. Untuk itu semua, RTI mengeluarkan
fee sebesar US$ 3.500 per bulan. “Ada efisiensi biaya,
tapi kecil,” kata Lutti. Pernah ada problem, tapi berangsur-angsur
bisa dituntaskan.
Bagi perusahaan lain, pelajaran dari PSN dan RTI, dan resep
Richard mengenai tahap-tahap dalam outsourcing patut dipertimbangkan
baik-baik.• ki
back to previous page
|