|

Yang Perlu Diperhatikan di dalam e-Procurement
Terima
kasih. Saya sangat tertarik dengan rubrik yang pak Eko asuh
ini. Saya ingin bertanya. Dalam pengadaan barang, sekarang
ini kan ada aplikasi yang disebut e-procurement, manfaat apa
yang dapat diraih dengan menerapkannya? Hal apa yang sepatutnya
diperhatikan dalam mengimplementasikan e-procurement ini?
Gugun Indrawan,
Operation Manager, Jawa Timur.
Manfaat
dari penerapan konsep e-procurement bagi sebuah perusahaan
sebenarnya tersirat dari sejumlah definisi dari “e-procurement”,
seperti:
• “E-Procurement is a fully automated internet-based,
self service application that streamlines the transactions
between buyers and suppliers, and provides key information
for strategic analysis’
• “E-Procurement is the automating the procurement
to payment process between buyers and suppliers to buy or
replenish materials and services by applying technologies
and process improvements” (KPMG Consulting)
• “E-Procurement is the automation of procurement
processes from the requisitioning, approval, purchasing, inventory
management, receiving, and reconciling to bill payment process”
(Verian Technologies)
Atau
ringkasnya dapat disarikan sebagai “sebuah rangkaian
proses transaksi secara elektronik (otomatis) yang terjadi
antara pembeli dan penjual yang dilakukan melalui medium internet”.
Berdasarkan pengalaman dari beragam perusahaan yang telah
menerapkan konsep ini, sejumlah manfaat langsung yang dapat
dirasakan oleh perusahaan yang bersangkutan adalah:
• Pengurangan harga pembelian barang (5%-20%).
- Lebih banyak sumber pasokan yang dapat diakses.
- Pemasok baru lebih gampang diperoleh.
- Dengan demikian, mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
- Meluaskan jangkauan geografis.
• Pengurangan waktu proses pembelian (25%-30%).
- Mempercepat mencari sumber pembelian.
- Mempercepat waktu permintaan penawaran.
- Mempercepat waktu pengiriman penawaran.
- Mempercepat waktu evaluasi penawaran.
- Mempercepat waktu pengeluaran pesanan.
- Mempercepat waktu penindak lanjutan.
- Mempermudah pelacakan pesanan.
• Pengurangan waktu proses penagihan dan pembayaran.
- Akibatnya adalah berpotensi mendapatkan tambahan potongan
harga.
- Mengurangi kesalahan atau ketidak cocokan antara surat pesanan,
dokumen penerimaan dan tagihan.
• Pengurangan biaya administrasi.
- Mengurangi/menghilangkan pekerjaan manual dan pekerjaan
kertas.
- Meningkatkan produktivitas pembeli.
• Peningkatan kemampuan untuk menciptakan/mengelola
basis pasokan secara optimal.
- Memperbaiki data pasar.
- Memperkecil pengaruh pemuncakan kebutuhan.
• Memperlancar komunikasi pembeli-penjual.
- Lebih cepat dan akurat.
- Persoalan yang mungkin timbul dapat cepat dideteksi dan
diatasi.
• Menunjang pelaksanaan pembelian tepat waktu (just-in-time
purchasing)
- Komunikasi kebutuhan harian.
- Komunikasi pengiriman harian.
- Meminimalkan persediaan.
• Menunjang pelaksanaan manajemen rantai pasokan (supply
chain management)
- Komunikasi informasi antar mata rantai secara transparan,
waktu nyata.
- Komunikasi pengapalan, tagihan, pembayaran secara sinkron
dan otomatis.
• Menunjang pelaksanaan kemitraan pembeli-penjual.
- Menunjang komunikasi yang rutin, cepat, akurat.
- Menunjang transparansi antara mitra.
Dengan demikian, sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa
e-procurement memberikan keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
• e-procurement menawarkan kesempatan seluas-luasnya
untuk perbaikan dalam biaya dan produktivitas,
• e-procurement adalah salah satu cara yang paling efektif
untuk menyempurnakan manajemen dalam proses langsung, maupun
tidak langsung dalam pencarian sumber pembelian,
• strategi e-procurement yang efektif akan merupakan
kunci keberhasilan dalam meningkatkan daya saing di waktu
yang akan datang.
Adapun hal yang perlu diperhatikan atau prasyarat dalam mengimplementasikan
e-procurement antara lain adalah:
• Manajemen harus bersepakat untuk mendesain ulang rangkaian
proses pembeliannya (process redesign) dari yang bersifat
manual ke elektronik, dimana dalam perancangan rangkaian proses
baru tersebut akan terjadi usaha eliminasi, simplifikasi,
integrasi, dan otomatisasi terhadap sejumlah proses lama.
• Adanya komitmen dari segenap pimpinan dan karyawan
perusahaan untuk merubah budaya kerja (change management)
akibat penerapan konsep e-procurement yang berbasis pada penggunaan
teknologi informasi secara optimal ini, terutama dalam kaitannya
dengan menjalin kemitraan strategis dengan para pemasok (suppliers).
• Disamping harus menguasai cara-cara menggunakan perangkat
teknologi informasi (komputer, aplikasi, database, dsb.) dengan
baik, SDM perusahaan yang terlibat dalam proses e-procurement
harus memahami secara sungguh-sungguh kerangka perdagangan
yang terjadi di dunia maya (cyber trading) atau internet beserta
karakteristiknya.
• Tersedianya perangkat pendukung implementasi konsep
e-procurement baik yang bersifat internal maupun eksternal,
seperti misalnya: standarisasi kode barang, kerangka hukum
yang berlaku, infrastruktur teknologi informasi yang memadai,
sistem aplikasi dan database terpadu/terintegrasi, dan lain
sebagainya.•
Perlunya
Tim Implementasi dalam Menerapkan eBusiness
Saya
bekerja di perusahaan minuman dan makanan, dan ingin menanyakan
kepada Bapak mengenai, apakah penerapan SCM harus terlebih
dahulu menerapkan ERP atau CRM? Atau sama sekali tidak selalu
terkait dan harus mengikuti urutan seperti itu? Katanya ada
juga perusahaan yang menerapkan SCM, sedang mereka belum menerapkan
ERP secara komprehensif?
Wawan Hendarmawan, Product Manager, Jakarta.
Secara
evolusi, penerapan SCM pada dasarnya tidak harus didahului
dengan penerapan ERP terlebih dahulu, walaupun secara teori
keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Perusahaan
yang menerapkan SCM terlebih dahulu biasanya dihadapkan pada
sejumlah permasalahan kritis terkait dengan aktivitas atau
business process pemasokan sumber daya yang dibutuhkan perusahaan
untuk berproduksi (proses menghasilkan/menciptakan produk
dan jasa). Yang dimaksud dengan sumber daya tersebut dapat
berupa bahan mentah (raw materials), suku cadang (spare parts),
bahan baku, produk jadi, alat-alat produksi, atau pun material
penunjang aktivitas bisnis lainnya seperti peralatan kantor,
kendaraan transportasi, sumber daya finansial, dan lain sebagainya.
Dikatakan kritis karena tanpa dimiliki mekanisme yang efisien
dan efektif di dalam proses pemasokan ini, perusahaan akan
mengalami kesulitan dalam bersaing dengan sejumlah kompetitor
yang ada.
Berbeda dengan ERP yang sebagian besar business process-nya
berada dalam domain internal perusahaan, pada SCM business
process terkait berada pada teritori lintas batas perusahaan,
yaitu antara perusahaan dengan para mitra pemasoknya (supplier).
Sehingga untuk dapat merancang dan menerapkan konsep SCM secara
efektif, keterlibatan dan komitmen para mitra bisnis tersebut
sangat diperlukan. Jika SCM telah berhasil dibangun, memang
sebagai konsekuensinya secara alami (natural) akan membawa
perusahaan pada usahanya untuk menerapkan ERP demi peningkatan
keunggulan kompetitifnya.•
back to previous page
|