|
 |
Volume I Nomor
09 - Juli 2003 |
|
THAILAND
Perusahaan
Komponen Otomotif Thailand Terapkan eBusiness
Berbicara industri otomotif di Asia Tenggara, mau tidak mau
kita harus menoleh ke Thailand. Industri otomotif negeri gajah
putih ini, selain Malaysia dengan industri otomotif merek lokalnya,
beberapa tahun belakangan tumbuh pesat, bahkan tidak jarang
Thailand dijuluki sebagai Detroit-nya Asia. Tak heran, karena
di negara tersebut bercokol berbagai fasilitas manufaktur otomotif
terkemuka dunia, dari BMW, Toyota, Nissan, sampai Ford. Pesatnya
pertumbuhan manufaktur otomotif ini juga mendorong majunya
industri komponen otomotif Thailand, dan tentunya juga membuka
peluang bagi distributor dan reseller komponen otomotif.
Di Thailand, bisnis komponen otomotif sendiri sudah berjalan
cukup lama, dan banyak distributor tersebut merupakan bisnis
keluarga yang sudah dijalankan selama puluhan tahun, salah
satunya adalah Chin Seng Huat.
Ketatnya persaingan bisnis ini memaksa Chin Seng Huat menata
kembali proses bisnisnya. Dan mau tidak mau, perusahaan ini
pun menoleh solusi teknologi informasi (TI) untuk mengkomputerisasikan
proses-proses lamanya yang masih manual untuk tetap bisa bersaing. Perusahaan yang sudah bergelut di bisnis komponen otomotif
selama empat dekade ini memperkenalkan sebuah sistem informasi
yang menawarkan penyesuaian harga secara real-time untuk melayani
duaratus reseller-nya di seluruh Thailand secara lebih baik.
Chin Seng Huat yang didirikan tahun 1967 ini sangat dikenal
karena produk-produk komponen otomotif dan mekanikalnya. Pertama
kali ia menyuplai komponen-komponen untuk Isuzu. Kini, perusahaan
tersebut menawarkan berbagai komponen untuk Toyota, Nissan,
Mitsubishi, Honda, Ford dan NPR.
Namun perusahaan ini menjumpai sejumlah kesulitan ketika menangani
komponen-komponen dari para pemasok yang begitu banyak karena
back office-nya masih menggunakan sistem manual. Misalnya, dari proses permohonan pembelian sampai pengeluaran
tanda terima memakan waktu 20 menit, karena seluruh dokumennya
masih berupa kertas. Perusahaan ini juga mengelola sistem pergudangan
dan logistiknya secara manual sebelum meng-input datanya ke
dalam sebuah komputer terpusat.
“Para pelanggan kami, khususnya para reseller, selalu
mengeluhkan lamanya waktu tunggu ketika melakukan order melalui
telepon.
Mereka pun tidak puas dengan sistem komunikasi kami yang tidak
efektif karena beberapa reseller kami terlambat mengetahui
kampanye promosi baru dibandingkan lainnya dan mereka juga
menginginkan pengiriman produk yang lebih cepat,” ujar
direktur pengelola Chin Seng Huat, Kittichai Chuaratanaphong.
Chin Seng Huat menoleh Metro Systems Corp untuk membantu penataan
infrastruktur TI-nya. Metro Systems akhirnya menerapkan solusi
e-Business on demand dari IBM.
Langkah penataan ini dimulai dengan penyiapan sebuah situs
web Business-to-Business (B2B) di www.cshtrade.com untuk menawarkan
katalog, formulir e-order dan layanan e-trading secara
online dengan berbagai tingkat harga berdasarkan kapasitas
penjualan
masing-masing dealer. Masing-masing customer dapat menegosiasikan
diskon khusus jika mereka berkomitmen untuk mendistribusikan
komponen dalam jumlah besar, lanjutnya.
Chin Seng Huat juga mengganti sistem back-end in-house-nya
dengan perangkat lunak enterprise resource planning dari Infinium
dan perangkat lunak WebSphere buatan IBM untuk mengelola portal
web-nya.
Sementara itu, Chin Seng Huat juga mengkonsolidasikan sistem
server dan storage untuk pengelolaan kapasitas on-demand-nya
dan mengalihdayakan infrastuktur TI-nya ke MSC, yang menyediakan
Internet kecepatan tinggi, security, back up recovery dan manajemen
sistem.
Pembaruan sistem ini tidak hanya meliputi Chin Seng Huat saja,
karena bagi para dealer pun, perusahaan ini menyediakan PC
dan paket Internet khusus untuk mendorong mereka melakukan
online trade, jelas Kittichai.
MSC menawarkan sistem pay-per-use yang memungkinkan CSH mengurangi
atau menambah reseller baru ke sistem e-trading-nya dengan
membayar sekitar 2000 baht per bulan untuk masing-masing log
on customer.
Menurut Kittichai, total investasi TI yang dikeluarkan sekitar
60-70 juta baht. Ia menegaskan bahwa kini proses order-nya
hanya memakan waktu lima menit dan pengiriman komponen ke seluruh
negeri dapat dilakukan dalam waktu 24 jam. CSH juga menginvestasikan
sekitar 20 juta baht lagi untuk membangun sebuah sistem pergudangan
dan logistik baru.•
HONG KONG
Harga Murah
dan PDA, Kunci Pemasaran Wi-Fi di Hong Kong
Permintaan untuk layanan Wireless LAN (WLAN) di Asia memang
melonjak dengan cepat. Namun. di HongKong. justru tersendat.
Harga tinggi, layanan yang belum sempurna dan model bisnis
yang belum mapanlah yang dituding sebagai biang keladinya.
“Harga (murah) dan kenyamanan akan menjadi motor
penggerak (bisnis) nirkabel,” kata Wong Kwok-shu, asisten direktur bidang
regulasi di kantor otoritas telekomunikasi HongKong, OFTA (Office
of the Telecommunications Authority). “Namun yang terpenting
adalah harga,” tandasnya. “Jika ongkos untuk mencek
email atau log-in ke Internet secara nirkabel harganya saja
lebih mahal daripada harga secangkir kopi, masyarakat akan
menolaknya.” Wong berharap harga akses bisa turun sampai
sepersepuluh harga rata-rata secangkir kopi di HongKong, yang
sekitar 25 dolar HongKong (sekitar 26.000 rupiah).
Di luar masalah harga ini, OFTA sendiri sudah melonggarkan
aturan prosedur untuk membangun hotspot Wi-Fi untuk umum. Langkah
pemberian class license, yang dimulai Februari lalu memberikan
peluang yang sama bagi pemain non-telekom untuk menawarkan
layanan WLAN publik di pasar yang sudah lama dikuasai para
pemain telekomunikasi besar.
“Apa yang OFTA coba lakukan adalah memperbaiki persaingan,
untuk membuat layanan telekom menjadi semurah dan seluas mungkin,” kata
Connie Hsu, analis masalah telekomunikasi Hong Kong. “Jika
Hong Kong ingin menjadi hub telekomunikasi yang menarik minat
mancanegara, maka layanan telekom harus murah dan tersebar
luas.”
Meskipun tak terhindarkan kompetisi ini akan diartikan sebagai
harga yang lebih murah dan pilihan lebih banyak bagi end-user,
namun penentunya adalah apakah Wi-Fi bakal memberi keuntungan
bagi industri.
Bahkan Gartner Research dalam laporannya menyatakan ketidakoptimisannya
mengenai potensi ekonomi broadband nirkabel ini, khususnya
karena para pelanggan cenderung berharap layanan tersebut gratis.
Untuk hal yang satu ini Hsu sependapat. “Wi-Fi tidak
akan menjadi sumber pendapatan ekstra, namun hanya akan menambah
pusing operator,” ujarnya pesimis.
Ia menambahkan bahwa yang akan bisa menuai keuntungan hanya
operator yang sudah memiliki jejaring plus pelanggan atau penyewa
properti yang sudah terhubung broadband dalam jumlah cukup
besar. “Ada keuntungan bagi pengembang properti. Akses
nirkabel tidak saja akan menarik penghuni baru, namun juga
membantu properti yang sudah ada menjadi lebih atraktif,” tandas
Hsu.
Sampai akhir Maret lalu, sudah 13 pemain yang terdaftar di
OFTA untuk menyediakan akses Internet nirkabel kepada para
customer di ratusan kafe, restoran, gedung apartemen, hotel,
pusat perbelanjaan dan bandara yang seluruhnya Wi-Fi enabled.
Para pemegang class license bebas menggunakan standar teknis
apapun, mulai dari IEEE 802.11b, yang beroperasi di gelombang
2,4GHz, sampai 802.11a dan 802.11g, yang masing-masing beroperasi
di 5150-5350MHz dan 5725-5850MHz.
Meskipun kisaran frekuensi baru ini lebih mahal, mereka lebih
cepat dengan kecepatan transmisi 6-54Mbps, dibandingkan dengan
802.11b yang hanya 1-11Mbps. Frekuensi ini pun relatif tidak
padat, sehingga kecil kemungkinan ada interferensi.
“Seperti halnya ponsel, di masa-masa awalnya hanya
ada satu sampai dua kanal, jadi saat itu banyak terjadi interferensi.
Namun, kemudian masyarakat mengembangkan telepon pintar yang
bisa mencari kanal yang jernih,” ujar Wong.
“Untuk Wi-Fi, hal seperti ini memang belum ada, tetapi
pasar pasti akan mengatasinya. Kami juga berharap bahwa para
pemasok
terminal akses hotspot bisa membantu service provider dalam
masalah ini,” lanjutnya.
Kolaborasi semacam ini antara para pemasok perangkat keras
dan operator telekom mengubah peta pasar telekomunikasi secara
dramatis, jelas Hsu. “Wi-Fi akan mengubah cara kita memandang
perangkat telekomunikasi dan bagaimana cara kita mengakses
Internet. Wi-Fi pun akan menjadi katalis layanan masa depan,
akses broadband kapan saja, di mana saja.”
Selain masalah harga, berkembang tidaknya layanan Wi-Fi juga
bakal dipengaruhi popularitas perangkat genggam.
“Di Hong Kong, tidak ada kebiasaan membawa komputer
portabel, jadi mungkin belum ada permintaan untuk layanan WLAN
on the
move,” ujar Benjamin Tong, direktur eksekutif untuk Cable
Multimedia Service di HK Cable TV.
PCCW, yang meluncurkan hotspot pertamanya April 2002 lalu,
dan kini telah memiliki lebih dari 200 lokasi Wi-Fi menggunakan
layanan akses broadband miliknya, Netvigator, juga melihat
perangkat personal digital assistant (PDA) sebagai kunci menggarap
pasar Hong Kong.
Menurut Ringo Lau, asisten general manager marketing Netvigator,
ia optimis Wi-FI memperoleh dukungan para produsen perangkat
keras TI terkemuka. Intel misalnya, baru-baru ini meluncurkan
chipset WLAN Centrino, dan sebagian besar produsen PC lainnya
pun ramai-ramai meluncurkan laptop yang Wi-Fi enabled. “Ini
contoh bagus bahwa Wi-Fi punya potensi,” tandas Lau.•
Go back to previous page |
|
 |
|