Volume I Nomor 09 - Juli 2003

MALAYSIA

Rosetta Net Uji Coba Bea Cukai Elektronis di Malaysia


Ketatnya persaingan dagang dunia, kadang memaksa berbagai industri manufaktur dari negara-negara industri mengalihkan production base-nya ke negara-negara lain, umumnya negara berkembang, untuk menekan biaya produksi. Umumnya, produk-produk tersebut berorientasi ekspor, atau untuk kasus produk-produk komponen setengah jadi, diekspor ke negara tempat dimana final assembly-nya berada.

Untuk kasus ini, kelengkapan dan kelancaran lalu lintas informasi arus barang seperti dokumentasi bea cukai merupakan suatu hal yang penting. Dokumentasi bea cukai yang tidak memadai inilah yang seringkali dikeluhkan pihak negara maju, khususnya AS. Beberapa perusahaan AS, khususnya perusahaan-perusahaan elektronik, berusaha mengatasi masalah ini dengan memperbaiki aliran supply chain-nya.

Baru-baru ini dikabarkan, dua perusahaan elektronika terkemuka AS, Intel dan Dell tengah mengujicoba Notify of Shipping Documentation Partner Interface Process 3B18 (PIP) buatan konsorsium RosettaNet bekerjasama dengan pihak bea cukai Malaysia. Sistem ini dirancang untuk memungkinkan pemasok dan distributor mengomunikasikan dokumentasi pengiriman ke pihak bea cukai secara elektronis.

“Jika usaha ini berhasil, kami akan mulai memperkenalkan Rosetta-Net PIP ke berbagai pihak bea cukai di negara-negara lain selain Malaysia, sehingga diharapkan nantinya semua bea cukai di dunia juga bisa menerapkan sistem ini,” ujar S.Y. Foong, vice president RosettaNet Asia. “Masing-masing badan bea cukai akan memiliki prosedur yang sama dan bekerja dengan formulir impor ekspor yang sama, yang seluruhnya dikerjakan secara elektronis.”

Dengan mengambil contoh Malaysia, jelas Foong, sebuah perusahaan AS yang mengirim barang ke negara tersebut mengisi formulir dokumentasi yang dibutuhkan biro ekspor AS (U.S. Bureau of Export), seperti Bill of Lading, Certificate of Origin, Commercial Invoice, Export Declaration, Packing List, Pro Forma Invoice, dan Shippers Letter of Instruction.

Form tersebut kemudian dikirim secara elektronis ke forwarding agent di Malaysia dan kemudian mengirimnya ke departemen bea cukai setempat untuk persetujuan. Pemerintah Malaysia mensyaratkan adanya application service provider (ASP) yang bertindak sebagai agen bagi perusahaan-perusahaan yang mengirim informasi tersebut karena pemerintah Malaysia tidak mau menerima transmisi tak dikenal, ujar Foong.

“Karena form ini dibuat secara otomatis, Anda tidak perlu lagi mengisi seluruh informasi tersebut,” lanjutnya. “Langkah ini akan mengotomatisasi proses supply chain.”

Ketika semakin banyak komponen mengalir melintasi berbagai batas negara, apalagi dengan meningkatnya produksi industri manufaktur di pasar negara-negara berkembang, para pengamat mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di pasar tersebut dan juga yang berada di pasar yang lebih mapan, seperti AS dan Eropa, harus lebih baik dalam penanganan dokumentasi pengapalan dan bea cukai.

Menurut sebuah penelitian yang dirilis perusahaan konsultasi manajemen dari New York, Booz Allen Hamilton dan International Finance Corp, perpanjangan tangan grup Bank Dunia di sektor swasta, khusus sektor elektronika, penjualan produk-produk manufaktur elektronika di emerging markets tahun 2005 mendatang akan mencapai 125 milyar dolar, naik dari 65 milyar dolar tahun 2001 lalu.•


SINGAPURA

Industri Pakaian Jadi Go ERP

Intentia International AB, penyedia solusi collaborative enterprise dunia mengumumkan kerjasamanya dengan Ocean Sky International Limited, sebuah produsen pakaian yang bermarkas di Singapura, untuk mengimplementasikan Movex Fashion di seluruh lokasi pengoperasian Ocean Sky di dunia.

Berdasarkan perjanjian kerjasama yang nilainya sekitar 1,1 juta dolar Singapura ini Ocean Sky akan menerapkan solusi Movex Fashion di seluruh jejaring globalnya. Movex akan mendukung proses-proses bisnis penting, antara lain manufaktur, keuangan, supply chain management dan customer relationship management. Dengan penerapan solusi ini, diharapkan Ocean Sky bisa memiliki keunggulan-keunggulan berupa real-time, informasi yang terintegrasi penuh dan kapabilitas analisis menghadapi persaingan industri pakaian yang digerakkan oleh permintaan konsumen.

Didirikan tahun 1995, Ocean Sky baru-baru ini terdaftar di bursa Singapura dan diakui sebagai salah satu perusahaan Singapura dengan pertumbuhan tercepat. Ocean Sky Group memiliki sekitar 9.000 karyawan dan menebar jejaring pemasaran, sourcing dan fasilitas produksi di sembilan negara, antara lain di Brunei, Kamboja, Malaysia, Hong Kong, Cina, Honduras, El Salvador dan AS. Inti usaha Ocean Sky adalah manufaktur pakaian jadi dengan kapabilitas supply chain management. Pelanggan-pelanggan Ocean Sky antara lain GAP, DKNY, May Department Stores, Sears, Mervyn’s, Target, Foot Locker dan Philips-Van Heusen.

Dengan fasilitas produksi di lokasi strategis, dan keanekaragaman jejaring globalnya, pihak manajemen Ocean Sky sangat yakin bahwa berinvestasi di sistem kolaboratif terintegrasi akan bisa meningkatkan efisiensi operasional dan biaya perusahaan. Perjanjian perdagangan bebas antara Singapura, AS dan Jepang akan mewadahi rencana Ocean Sky untuk memperluas operasinya secara global, dan disinilah Movex akan memainkan peran kuncinya.

“Ketika kami melihat solusi teknologi yang ada sekarang dan bagaimana kesesuaiannya dengan rencana pertumbuhan jangka panjang, kami menyadari bahwa kami membutuhkan sebuah solusi terintegrasi, yang bisa memberikan fungsionalitas, fleksibilitas, skalabilitas dan reliabilitas,” ujar Edward Ang, executive chairman dan CEO Ocean Sky International. “Dengan menerapkan Movex, kami akan mampu menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan fleksibel, yang bisa memberikan keuntungan berupa pengurangan biaya dan meningkatkan visibilitas ke dalam operasi kami. Selain itu, kombinasi perangkat lunak dan layanan akan memberikan keluwesan bagi kami untuk menyesuaikan solusi dengan kebutuhan pelanggan yang selalu berubah.”

Movex Fashion sendiri telah diimplementasikan di sekitar 250 produsen aksesori, fesyen dan pakaian jadi, termasuk sekitar 60 perusahaan di wilayah Asia Pasifik.•


INDIA


TCS Kembangkan Aplikasi Kartu-Pintar


Salah satu eksportir jasa TI terbesar India, Tata Consultancy Services (TCS) merencanakan untuk mengembangkan kartu-pintarnya sendiri berdasarkan aplikasi kriptografi untuk mempercepat pengadopsian public key infrastructure (PKI) di negara tersebut.

Kartu tersebut dapat menyimpan aplikasi-aplikasi, seperti tanda tangan digital dan informasi-informasi pribadi lainnya, sehingga para pemiliknya bisa mengakses berbagai layanan yang diberikan berbagai institusi swasta maupun pemerintah dengan aman.

TCS pun berusaha agar bisa menekan harga kartu-pintar ini, mengingat harga kartu yang begitu tinggi bagi kebanyakan penduduk India merupakan salah satu faktor penghambat dalam kemajuan layanan digital di negara tersebut.

“Penerapan PKI di negeri ini sangat lambat, karena tingginya biaya untuk membuat kartu,” jelas M Vidyasagar, wakil presiden eksekutif bidang teknologi TCS. “Sekarang ini misalnya, kartu-kartu pintar yang beredar berharga sekitar 700 sampai 2.500 rupee (125 ribu sampai 440 ribu rupiah). Rencananya kami akan menekan harga kartu ke kisaran 100-200 rupee (17-36 ribu rupiah).”

“Kami memiliki tim kuat yang berpengalaman dalam teknologi integrasi skala besar. Orang-orang inilah yang akan mengembangkan teknologi kartu-pintar dan kami harap kartu itu akan tersedia dalam waktu enam bulan,” ujarnya.

TCS adalah salah satu perusahaan certifying authority (CA) yang berhak mengeluarkan sertifikat digital dan juga menyediakan konsultasi PKI, serta produk-produk dan layanan yang PKI-enabling.

TCS baru-baru ini menerima kontrak proyek prestisius dari Netaji Subhas Institute of Technology (NSIT), Delhi, dimana TCS akan menempatkan layanan PKI dan tanda tangan digitalnya di institut tersebut. NSIT akan menjadi subordinat-CA, sehingga lembaga ini dapat menerbitkan sertifikat bagi para pelanggan dengan menggunakan fasilitas dan infrastruktur milik TCS.

Perusahaan-perusahaan lain yang juga menjadi subordinat-CA TCS, antara lain Bursa Saham Bombay, Central Depository Services Ltd, National Securities Depository Ltd dan zona ekonomi khusus Noida.

“Kami melihat penerapan PKI ini sebagai sebuah security-enabler bagi perusahaan-perusahaan dan perorangan di negeri ini, dan bukan sebagai sumber pendapatan utama untuk TCS,” ujar Vidyasagar.

TCS sebelumnya telah mengembangkan Dhruvam, sebuah paket PKI yang komprehensif dan telah diimplementasikan di Institute for Development and Research in Banking Technology dan National Informatics Centre, kedua perusahaan itu sendiri adalah juga CA.

“ Kami adalah satu-satunya perusahaan yang selain sebagai CA juga vendor piranti lunak PKI,” klaim Vidyasagar.•

Go to next page

 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved