MALAYSIA
Rosetta Net
Uji Coba Bea Cukai Elektronis di
Malaysia
Ketatnya persaingan dagang dunia, kadang memaksa berbagai
industri manufaktur dari negara-negara industri mengalihkan
production base-nya ke negara-negara lain, umumnya negara
berkembang, untuk menekan biaya produksi. Umumnya, produk-produk
tersebut berorientasi ekspor, atau untuk kasus produk-produk
komponen setengah jadi, diekspor ke negara tempat dimana
final assembly-nya berada.
Untuk kasus ini, kelengkapan dan kelancaran lalu lintas informasi
arus barang seperti dokumentasi bea cukai merupakan suatu
hal yang penting. Dokumentasi bea cukai yang tidak memadai
inilah yang seringkali dikeluhkan pihak negara maju, khususnya
AS. Beberapa perusahaan AS, khususnya perusahaan-perusahaan
elektronik, berusaha mengatasi masalah ini dengan memperbaiki
aliran supply chain-nya.
Baru-baru ini dikabarkan, dua perusahaan elektronika terkemuka
AS, Intel dan Dell tengah mengujicoba Notify of Shipping
Documentation Partner Interface Process 3B18 (PIP) buatan
konsorsium RosettaNet bekerjasama dengan pihak bea cukai
Malaysia. Sistem ini dirancang untuk memungkinkan pemasok
dan distributor mengomunikasikan dokumentasi pengiriman ke
pihak bea cukai secara elektronis.
“Jika usaha ini berhasil, kami akan mulai memperkenalkan
Rosetta-Net PIP ke berbagai pihak bea cukai di negara-negara
lain selain
Malaysia, sehingga diharapkan nantinya semua bea cukai di
dunia juga bisa menerapkan sistem ini,” ujar S.Y. Foong,
vice president RosettaNet Asia. “Masing-masing badan
bea cukai akan memiliki prosedur yang sama dan bekerja dengan
formulir impor ekspor yang sama, yang seluruhnya dikerjakan
secara elektronis.”
Dengan mengambil contoh Malaysia, jelas Foong, sebuah perusahaan
AS yang mengirim barang ke negara tersebut mengisi formulir
dokumentasi yang dibutuhkan biro ekspor AS (U.S. Bureau of
Export), seperti Bill of Lading, Certificate of Origin, Commercial
Invoice, Export Declaration, Packing List, Pro Forma Invoice,
dan Shippers Letter of Instruction.
Form tersebut kemudian dikirim secara elektronis ke forwarding
agent di Malaysia dan kemudian mengirimnya ke departemen
bea cukai setempat untuk persetujuan. Pemerintah Malaysia
mensyaratkan adanya application service provider (ASP) yang
bertindak sebagai agen bagi perusahaan-perusahaan yang mengirim
informasi tersebut karena pemerintah Malaysia tidak mau menerima
transmisi tak dikenal, ujar Foong.
“Karena form ini dibuat secara otomatis, Anda tidak
perlu lagi mengisi seluruh informasi tersebut,” lanjutnya. “Langkah
ini akan mengotomatisasi proses supply chain.”
Ketika semakin banyak komponen mengalir melintasi berbagai
batas negara, apalagi dengan meningkatnya produksi industri
manufaktur di pasar negara-negara berkembang, para pengamat
mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di pasar tersebut
dan juga yang berada di pasar yang lebih mapan, seperti AS
dan Eropa, harus lebih baik dalam penanganan dokumentasi
pengapalan dan bea cukai.
Menurut sebuah penelitian yang dirilis perusahaan konsultasi
manajemen dari New York, Booz Allen Hamilton dan International
Finance Corp, perpanjangan tangan grup Bank Dunia di sektor
swasta, khusus sektor elektronika, penjualan produk-produk
manufaktur elektronika di emerging markets tahun 2005 mendatang
akan mencapai 125 milyar dolar, naik dari 65 milyar dolar
tahun 2001 lalu.•
SINGAPURA
Industri
Pakaian Jadi Go ERP
Intentia International AB, penyedia solusi collaborative
enterprise dunia mengumumkan kerjasamanya dengan Ocean Sky
International Limited, sebuah produsen pakaian yang bermarkas
di Singapura, untuk mengimplementasikan Movex Fashion di
seluruh lokasi pengoperasian Ocean Sky di dunia.
Berdasarkan perjanjian kerjasama yang nilainya sekitar 1,1
juta dolar Singapura ini Ocean Sky akan menerapkan solusi
Movex Fashion di seluruh jejaring globalnya. Movex akan mendukung
proses-proses bisnis penting, antara lain manufaktur, keuangan,
supply chain management dan customer relationship management.
Dengan penerapan solusi ini, diharapkan Ocean Sky bisa memiliki
keunggulan-keunggulan berupa real-time, informasi yang terintegrasi
penuh dan kapabilitas analisis menghadapi persaingan industri
pakaian yang digerakkan oleh permintaan konsumen.
Didirikan tahun 1995, Ocean Sky baru-baru ini terdaftar di
bursa Singapura dan diakui sebagai salah satu perusahaan
Singapura dengan pertumbuhan tercepat. Ocean Sky Group memiliki
sekitar 9.000 karyawan dan menebar jejaring pemasaran, sourcing
dan fasilitas produksi di sembilan negara, antara lain di
Brunei, Kamboja, Malaysia, Hong Kong, Cina, Honduras, El
Salvador dan AS. Inti usaha Ocean Sky adalah manufaktur pakaian
jadi dengan kapabilitas supply chain management. Pelanggan-pelanggan
Ocean Sky antara lain GAP, DKNY, May Department Stores, Sears,
Mervyn’s, Target, Foot Locker dan Philips-Van Heusen.
Dengan fasilitas produksi di lokasi strategis, dan keanekaragaman
jejaring globalnya, pihak manajemen Ocean Sky sangat yakin
bahwa berinvestasi di sistem kolaboratif terintegrasi akan
bisa meningkatkan efisiensi operasional dan biaya perusahaan.
Perjanjian perdagangan bebas antara Singapura, AS dan Jepang
akan mewadahi rencana Ocean Sky untuk memperluas operasinya
secara global, dan disinilah Movex akan memainkan peran kuncinya.
“Ketika kami melihat solusi teknologi yang ada
sekarang dan bagaimana kesesuaiannya dengan rencana pertumbuhan
jangka
panjang, kami menyadari bahwa kami membutuhkan sebuah solusi
terintegrasi, yang bisa memberikan fungsionalitas, fleksibilitas,
skalabilitas dan reliabilitas,” ujar Edward Ang, executive
chairman dan CEO Ocean Sky International. “Dengan menerapkan
Movex, kami akan mampu menciptakan lingkungan yang lebih
stabil dan fleksibel, yang bisa memberikan keuntungan berupa
pengurangan biaya dan meningkatkan visibilitas ke dalam operasi
kami. Selain itu, kombinasi perangkat lunak dan layanan akan
memberikan keluwesan bagi kami untuk menyesuaikan solusi
dengan kebutuhan pelanggan yang selalu berubah.”
Movex Fashion sendiri telah diimplementasikan di sekitar
250 produsen aksesori, fesyen dan pakaian jadi, termasuk
sekitar 60 perusahaan di wilayah Asia Pasifik.•
INDIA
TCS Kembangkan Aplikasi Kartu-Pintar
Salah satu eksportir jasa TI terbesar India, Tata Consultancy
Services (TCS) merencanakan untuk mengembangkan kartu-pintarnya
sendiri berdasarkan aplikasi kriptografi untuk mempercepat
pengadopsian public key infrastructure (PKI) di negara tersebut.
Kartu tersebut dapat menyimpan aplikasi-aplikasi, seperti
tanda tangan digital dan informasi-informasi pribadi lainnya,
sehingga para pemiliknya bisa mengakses berbagai layanan
yang diberikan berbagai institusi swasta maupun pemerintah
dengan aman.
TCS pun berusaha agar bisa menekan harga kartu-pintar ini,
mengingat harga kartu yang begitu tinggi bagi kebanyakan
penduduk India merupakan salah satu faktor penghambat dalam
kemajuan layanan digital di negara tersebut.
“Penerapan PKI di negeri ini sangat lambat, karena
tingginya biaya untuk membuat kartu,” jelas M Vidyasagar, wakil
presiden eksekutif bidang teknologi TCS. “Sekarang
ini misalnya, kartu-kartu pintar yang beredar berharga sekitar
700 sampai 2.500 rupee (125 ribu sampai 440 ribu rupiah).
Rencananya kami akan menekan harga kartu ke kisaran 100-200
rupee (17-36 ribu rupiah).”
“Kami memiliki tim kuat yang berpengalaman dalam
teknologi integrasi skala besar. Orang-orang inilah yang
akan mengembangkan
teknologi kartu-pintar dan kami harap kartu itu akan tersedia
dalam waktu enam bulan,” ujarnya.
TCS adalah salah satu perusahaan certifying authority (CA)
yang berhak mengeluarkan sertifikat digital dan juga menyediakan
konsultasi PKI, serta produk-produk dan layanan yang PKI-enabling.
TCS baru-baru ini menerima kontrak proyek prestisius dari
Netaji Subhas Institute of Technology (NSIT), Delhi, dimana
TCS akan menempatkan layanan PKI dan tanda tangan digitalnya
di institut tersebut. NSIT akan menjadi subordinat-CA, sehingga
lembaga ini dapat menerbitkan sertifikat bagi para pelanggan
dengan menggunakan fasilitas dan infrastruktur milik TCS.
Perusahaan-perusahaan lain yang juga menjadi subordinat-CA
TCS, antara lain Bursa Saham Bombay, Central Depository Services
Ltd, National Securities Depository Ltd dan zona ekonomi
khusus Noida.
“Kami melihat penerapan PKI ini sebagai sebuah
security-enabler bagi perusahaan-perusahaan dan perorangan
di negeri ini,
dan bukan sebagai sumber pendapatan utama untuk TCS,” ujar
Vidyasagar.
TCS sebelumnya telah mengembangkan Dhruvam, sebuah paket
PKI yang komprehensif dan telah diimplementasikan di Institute
for Development and Research in Banking Technology dan National
Informatics Centre, kedua perusahaan itu sendiri adalah juga
CA.
“
Kami adalah satu-satunya perusahaan yang selain sebagai CA
juga vendor piranti lunak PKI,” klaim Vidyasagar.•
Go to next page |