Call
Center idaman Anda akhirnya beroperasi dengan mulus, memenuhi
syarat Service Level Agreements (SLA) pelanggan, memperlihatkan
kemajuan pada indikator kinerja utama atau Key Performance
Indicators (KPI), dan mampu menekan biaya operasi berkat produktivitas
yang semakin baik.
Kemudian bayangkan suatu peristiwa tak terduga pun terjadi.
Pengoperasian Call Center yang tadinya berjalan mulus berubah
menjadi mimpi buruk. Penyebabnya? Mungkin ada sedikit kegagalan
di sebagian kecil infrastrukturnya. Mungkin pula ada kebakaran
di kantor yang bersebelahan dengan kantor Anda, yang menyebabkan
harus dievakuasinya fasilitas Call Center Anda. Lebih parah
lagi, ancaman-ancaman lain yang menyebabkan d-o-a atau denial-of-access
terhadap fasilitas Anda untuk beberapa waktu lamanya.
Michael Morris, principal consultant di Front To Back Solutions
Singapura mengungkapkan bahwa setiap peristiwa semacam ini
terbukti merupakan tantangan bagi setiap perusahaan. Namun,
lanjutnya, mengingat begitu high profile-nya contact center,
interupsi-interupsi semacam ini cenderung mudah terekspose
secara cepat dibandingkan bagian lainnya. Kini, dengan semakin
meningkatnya potensi gangguan, baik yang disengaja oleh ulah
manusia maupun ancaman bencana alam, sangatlah penting bagi
setiap perusahaan untuk memiliki rencana kongkrit mengenai
apa yang akan dilakukan ketika urusan business as usual (BAU)
terganggu.
Proses perencanaan suatu business continuity plan (BCP) akan
memungkinkan perusahaan menemukan dan mengurangi (reduce) ancaman-ancaman,
merespon (respond) suatu peristiwa ketika peristiwa itu terjadi,
pulih (recover) dari dampak langsung suatu peristiwa dan akhirnya
mengembalikan (restore) operasi seperti semula. Reduce, respond,
recover dan restore ini lebih dikenal sebagai Empat R di BCP.
Dengan memiliki rencana kongkrit mengenai apa yang harus dilakukan
selama dan setelah gangguan serius terjadi, Anda dapat memastikan
bahwa gangguan itu hanya berdampak minimal pada operasi contact
center Anda, dan layanan yang layak kepada klien Anda tetap
bisa berlanjut.
Morris mengingatkan, beberapa pihak mungkin merasa bahwa perusahaannya
dalam kondisi bagus pada saat gangguan terjadi, karena merasa
sudah memiliki Disaster Recovery Plan (DRP). Memiliki DRP memang
penting dan bisa memberi jaminan bahwa sumberdaya TI bisa dipulihkan
setelah terjadi gangguan dalam periode yang cukup feasible
dalam bisnis. Namun, ini saja belum cukup, lanjut Morris.
Ia mengutip laporan benchmarking yang dibuat Call Centre Council
of Singapore tahun 2002, bahwa sekitar 88 persen dari seluruh
Call Center di Singapura memiliki DRP – yang menekankan
betapa pentingnya infrastruktur TI untuk memuluskan operasi.
Namun, DRP hanya berfokus pada sumberdaya TI, sedangkan BCP
sifatnya lebih luas dengan merencanakan secara menyeluruh keberlanjutan
sebuah bisnis. BCP mempertimbangkan akses ke berbagai fasilitas,
ketersediaan orang, proses bisnis serta pemulihan TI.
Dalam komunitas BCP, sebuah bencana (disaster) didefinisikan
sebagai apapun peristiwa tak terencana/terduga, yang mengganggu
fungsi-fungsi bisnis penting untuk periode waktu tidak tertentu.
Jadi, crash-nya sebuah server IVR misalnya, tidak serta merta
menjadikan BCP diberlakukan. Namun, peristiwa itu menyebabkan
inisiasi DRP jika diestimasikan dampaknya berupa ketidaktersediaan
sumberdaya dalam sebuah periode waktu kritis tertentu.
Membanjirnya sejumlah gangguan ke fasilitas contact center
Anda mungkin dapat menyebabkan diinisiasinya BCP, dengan respon
mungkin berupa evakuasi, relokasi ke sebuah hot-site atau alternatif-alternatif
lainnya. Pada akhirnya, sangatlah penting bahwa setiap unit
bisnis di dalam sebuah perusahaan mengetahui jawaban-jawaban
dari beberapa pertanyaan yang terkait dengan keberlanjutan
(continuity) bisnis, yaitu:
- Apa saja yang dianggap sebagai sebuah bencana untuk bisnis
saya?
- Apa saja ancaman-ancaman terhadap operasi/pekerjaan saya?
- Apa saja fungsi-fungsi kritis bisnis saya?
- Bagaimana meredakan ancaman-ancaman terhadap fungsi-fungsi kritis ini?
Mengapa BCP dipandang perlu?
Memiliki sebuah BCP dipandang sebagai sebuah jaminan kebijakan yang memberikan
kontribusi pada “good governance”-nya sebuah bisnis. Namun, tidak
semua industri atau negara di dunia menyadari pentingnya nilai BCP. Di seluruh
dunia, industri jasa keuangan adalah terdepan dibanding industri lainnya
dalam persyaratan BCP yang up-to-date-and-tested. Regulasi-regulasi ini ditegakkan
dengan audit-audit internal dan eksternal dan dalam kasus-kasus ekstrim dengan
berbagai sanksi dan denda.
Beberapa badan regulasi tertentu mengawasi persyaratan mutlak untuk BCP di
negara-negara yang berbeda. Di AS, ada US Federal Reserve Board yang melakukan
tugas ini. Kemudian di Singapura, ada Monetary Authority of Singapore (MAS)
dan di Hong Kong ada Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Biasanya badan-badan
seperti ini selalu mengikuti best practise dari seluruh dunia dan menyebarluaskannya
ke institusi-institusi di bawahnya.
Dampaknya, sebagian besar dari kita terjamin tenang bahwa jika ada bencana
yang menimpa bank, perusahaan sekuritas, asuransi atau institusi keuangan lainnya
yang menjadi rekan usaha kita, mereka mampu bertahan dari peristiwa tersebut
untuk melanjutkan pelayanan kepada Anda sebagai customer dalam periode waktu
yang sewajarnya.
Morris mengambil contoh bencana besar yang dialami perusahaan-perusahaan seperti
Merrill Lynch dan Deutsch Bank di New York pada 11 September 2001 lalu. Bencana
ini menghancurkan masing-masing kantor pusat lokalnya dan menewaskan ratusan
karyawannya. Namun toh setelah situasi stabil, masing-masing mampu melanjutkan
operasinya dengan mulus dari sebuah lokasi alternatif tanpa hilangnya data-data
yang kritis.
Pencapaian luar biasa ini merupakan bukti kecanggihan dari BCP dan DRP perusahaan-perusahaan
tersebut. Industri keuangan/perbankan dikenal lekat dengan standar-standar
tertinggi dalam hal pengujian planning mereka secara berkala, untuk menjamin
bahwa semua pihak aware terhadap prosedur-prosedur ini, sehingga planning tersebut
tetap sejalan dengan realita dan tujuan bisnis. Sementara industri-industri
lainnya cukup banyak variasinya dalam hal pengelolaan BCP dan DRP-nya.
Morris mengingatkan, ada ongkos riil yang harus dibayar untuk merespon dan
memulihkan diri dari sebuah bencana tanpa ada persiapan rencana mitigasi. Ongkos
kuantitatif untuk memperpanjang interupsi bisnis seperti biaya lembur karyawan,
penyewaan fasilitas ad hoc, prioritas akuisisi perangkat keras, denda, dan
SLA yang tidak terpenuhi bisa sangat besar.
Perusahaan-perusahaan yang ingin menampilkan tingkat profesionalisme yang lebih
baik dan fokus pada perlindungan dan meningkatkan nilai stakeholder, semakin
melihat bahwa continuity plan diperlukan sebagai langkah menghindari interupsi
bisnis dan dampaknya dalam ongkos maupun hal-hal lainnya yang tinggi nilainya.
Apa saja yang dibutuhkan?
Menurut Morris, untuk membangun sebuah BCP dibutuhkan informasi-informasi dari
beberapa bagian yang berbeda seperti pengetahuan mengenai pengoperasian, memahami
fungsi-fungsi bisnis yang penting di dalam pengoperasian, penentuan waktu sasaran
waktu pemulihan (recovery) untuk fungsi-fungsi ini, memahami ancaman lokal,
pengetahuan mengenai regulasi lokal, dan beberapa hal lainnya.
Barangkali hal terpenting bagi setiap perusahaan yang berniat membangun BCP
adalah mendapatkan dukungan dari pihak manajemen. Sudah terlalu sering BCP
menempati urutan prioritas terendah, atau proyek ini ditangani staf junior.
Dalam kasus contact center, manajer contact center senior seharusnya juga anggota
komite pengawas BCP dan harus menyokong usaha ini dengan kuat.
Orang yang bertugas sebagai koordinator BCP harus memimpin usaha ini selayaknya
seorang project manager, seperti halnya inisiatif-inisiatif formal lainnya
yang lazim dilakukan sebuah perusahaan. Namun demikian, memahami seluk beluk
pengoperasian Call Center akan sangat membantu dalam menyiapkan planning yang
relevan dan praktis. Sudah barang tentu beberapa team leader yang bertanggung
jawab terhadap berbagai aspek pengoperasian contact center atau access channel
Anda harus dilibatkan untuk membantu memahami fungsi-fungsi bisnis yang penting,
dan membantu membuat prioritas dan menentukan recovery time objectives (RTO).
Langkah-langkah yang lazim dalam membangun sebuah BCP yang baik meliputi:
Risk Analysis: Menilai ancaman, kerentanan, risiko, kendali-kendali yang tersedia
dan ongkos/keuntungan kendali tersebut.
Business Impact Analysis: Penentuan dampak terhadap perusahaan jika potential
loss yang teridentifikasi oleh risk analysis sungguh-sungguh terjadi.
Business Continuity Strategy Development: Menentukan strategi pengoperasian
business recovery alternatif untuk pemulihan bisnis dan kapabilitas TI di dalam
periode recovery time yang sudah ditentukan.
Emergency Response and Operations: Pengimplementasian prosedur-prosedur untuk
merespon dan menstabilkan situasi setelah insiden terjadi.
Awareness and Training Programmes: Penyiapan sebuah program awareness korporat
dan meningkatkan ketrampilan untuk mengembangkan, mengelola dan menjalanlan
BCP.
Maintaining and Exercising BCPs: Pra-perencanaan dan koordinasi plan exercise
serta evaluasi dan dokumentasi hasil dari exercise.
Risk Analysis (RA) dan Business Impact Analysis (BIA) seringkali dijalankan
dengan fokus utamanya pada potensi dampak atau kebalikan dari BAU (business
as usual).
Perhatian utama lainnya untuk kontinuitas sebuah Call Center adalah risiko-risiko
yang berkaitan dengan pengoperasian dari satu lokasi tunggal, yang berakibat
hilangnya akses ke infrastruktur seperti PABX, IVR atau voice recorder selama
terjadinya ‘denial of access’.
RA dan BIA perlu menilai risiko berdasarkan catatan historis dari bencana alam
dan konsekuensi dari denial of access ke lokasi contact center dan menimbang
risiko-risiko ini terhadap fungsi-fungsi penting yang dijalankan sebuah call
center. Biasanya fungsi-fungsi yang menuntut down time paling kecil ini adalah
fungsi-fungsi yang memiliki dampak finansial yang signifikan (misalnya sebuah
bank tidak mampu menerima telepon dari seorang customer untuk memblokir pembayaran
sebuah cek) atau yang menyebabkan terjadinya pelanggaran SLA.
Perusahaan-perusahaan lainnya mungkin akan menganggap ketidaktersediaan selama
periode inbound yang kritis (misalnya setelah kampanye promosi diluncurkan)
atau periode-periode sibuk yang sudah jadi tradisi (misalnya saat lebaran,
natal atau tahun baru) akan berdampak sangat besar sehingga memerlukan kelonggaran
dan memiliki strategi pelaksanaan recovery. Segera setelah direncanakan, BCP
harus diuji atau di-exercise. Untuk hal ini, pengetahuan seluk beluk contact
center menjadi syarat mutlak bagi seorang koordinator BCP yang berusaha merancang
exercise yang secara realistis memasukkan seluruh skenario kedalamnya, tanpa
harus mengganggu BAU.
Peran contact center sangat jelas terlihat terutama saat masa-masa krisis dan
seringkali diintrepretasikan sebagai sebuah sinyal kondisi sebuah perusahaan,
apakah baik atau buruk. Jadi, memang penting bahwa contact center memiliki
sebuah rencana untuk melanjutkan pengoperasian selama bencana terjadi.
Dengan BCP, perusahaan bisa memformulasikan rencana kelanjutan bisnisnya secara
jelas ketika bencana terjadi dan dapat mengurangi potensi gangguan-gangguan
terhadap pengoperasian call center Anda serta mengembalikannya ke keadaan semula
seefisien mungkin, tutup Morris.• |