Volume I Nomor 09 - Juli 2003
Bayangkan Call Center Anda berhenti beroperasi akibat tidak berfungsinya sistem-sistem paling kritis. Muncul pertanyaan, langkah apa yang akan Anda lakukan?
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Call Center idaman Anda akhirnya beroperasi dengan mulus, memenuhi syarat Service Level Agreements (SLA) pelanggan, memperlihatkan kemajuan pada indikator kinerja utama atau Key Performance Indicators (KPI), dan mampu menekan biaya operasi berkat produktivitas yang semakin baik.
Kemudian bayangkan suatu peristiwa tak terduga pun terjadi. Pengoperasian Call Center yang tadinya berjalan mulus berubah menjadi mimpi buruk. Penyebabnya? Mungkin ada sedikit kegagalan di sebagian kecil infrastrukturnya. Mungkin pula ada kebakaran di kantor yang bersebelahan dengan kantor Anda, yang menyebabkan harus dievakuasinya fasilitas Call Center Anda. Lebih parah lagi, ancaman-ancaman lain yang menyebabkan d-o-a atau denial-of-access terhadap fasilitas Anda untuk beberapa waktu lamanya.

Michael Morris, principal consultant di Front To Back Solutions Singapura mengungkapkan bahwa setiap peristiwa semacam ini terbukti merupakan tantangan bagi setiap perusahaan. Namun, lanjutnya, mengingat begitu high profile-nya contact center, interupsi-interupsi semacam ini cenderung mudah terekspose secara cepat dibandingkan bagian lainnya. Kini, dengan semakin meningkatnya potensi gangguan, baik yang disengaja oleh ulah manusia maupun ancaman bencana alam, sangatlah penting bagi setiap perusahaan untuk memiliki rencana kongkrit mengenai apa yang akan dilakukan ketika urusan business as usual (BAU) terganggu.

Proses perencanaan suatu business continuity plan (BCP) akan memungkinkan perusahaan menemukan dan mengurangi (reduce) ancaman-ancaman, merespon (respond) suatu peristiwa ketika peristiwa itu terjadi, pulih (recover) dari dampak langsung suatu peristiwa dan akhirnya mengembalikan (restore) operasi seperti semula. Reduce, respond, recover dan restore ini lebih dikenal sebagai Empat R di BCP.

Dengan memiliki rencana kongkrit mengenai apa yang harus dilakukan selama dan setelah gangguan serius terjadi, Anda dapat memastikan bahwa gangguan itu hanya berdampak minimal pada operasi contact center Anda, dan layanan yang layak kepada klien Anda tetap bisa berlanjut.

Morris mengingatkan, beberapa pihak mungkin merasa bahwa perusahaannya dalam kondisi bagus pada saat gangguan terjadi, karena merasa sudah memiliki Disaster Recovery Plan (DRP). Memiliki DRP memang penting dan bisa memberi jaminan bahwa sumberdaya TI bisa dipulihkan setelah terjadi gangguan dalam periode yang cukup feasible dalam bisnis. Namun, ini saja belum cukup, lanjut Morris.

Ia mengutip laporan benchmarking yang dibuat Call Centre Council of Singapore tahun 2002, bahwa sekitar 88 persen dari seluruh Call Center di Singapura memiliki DRP – yang menekankan betapa pentingnya infrastruktur TI untuk memuluskan operasi. Namun, DRP hanya berfokus pada sumberdaya TI, sedangkan BCP sifatnya lebih luas dengan merencanakan secara menyeluruh keberlanjutan sebuah bisnis. BCP mempertimbangkan akses ke berbagai fasilitas, ketersediaan orang, proses bisnis serta pemulihan TI.

Dalam komunitas BCP, sebuah bencana (disaster) didefinisikan sebagai apapun peristiwa tak terencana/terduga, yang mengganggu fungsi-fungsi bisnis penting untuk periode waktu tidak tertentu. Jadi, crash-nya sebuah server IVR misalnya, tidak serta merta menjadikan BCP diberlakukan. Namun, peristiwa itu menyebabkan inisiasi DRP jika diestimasikan dampaknya berupa ketidaktersediaan sumberdaya dalam sebuah periode waktu kritis tertentu.

Membanjirnya sejumlah gangguan ke fasilitas contact center Anda mungkin dapat menyebabkan diinisiasinya BCP, dengan respon mungkin berupa evakuasi, relokasi ke sebuah hot-site atau alternatif-alternatif lainnya. Pada akhirnya, sangatlah penting bahwa setiap unit bisnis di dalam sebuah perusahaan mengetahui jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan yang terkait dengan keberlanjutan (continuity) bisnis, yaitu:
- Apa saja yang dianggap sebagai sebuah bencana untuk bisnis saya?
- Apa saja ancaman-ancaman terhadap operasi/pekerjaan saya?
- Apa saja fungsi-fungsi kritis bisnis saya?
- Bagaimana meredakan ancaman-ancaman terhadap fungsi-fungsi kritis ini?

Mengapa BCP dipandang perlu?
Memiliki sebuah BCP dipandang sebagai sebuah jaminan kebijakan yang memberikan kontribusi pada “good governance”-nya sebuah bisnis. Namun, tidak semua industri atau negara di dunia menyadari pentingnya nilai BCP. Di seluruh dunia, industri jasa keuangan adalah terdepan dibanding industri lainnya dalam persyaratan BCP yang up-to-date-and-tested. Regulasi-regulasi ini ditegakkan dengan audit-audit internal dan eksternal dan dalam kasus-kasus ekstrim dengan berbagai sanksi dan denda.

Beberapa badan regulasi tertentu mengawasi persyaratan mutlak untuk BCP di negara-negara yang berbeda. Di AS, ada US Federal Reserve Board yang melakukan tugas ini. Kemudian di Singapura, ada Monetary Authority of Singapore (MAS) dan di Hong Kong ada Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Biasanya badan-badan seperti ini selalu mengikuti best practise dari seluruh dunia dan menyebarluaskannya ke institusi-institusi di bawahnya.

Dampaknya, sebagian besar dari kita terjamin tenang bahwa jika ada bencana yang menimpa bank, perusahaan sekuritas, asuransi atau institusi keuangan lainnya yang menjadi rekan usaha kita, mereka mampu bertahan dari peristiwa tersebut untuk melanjutkan pelayanan kepada Anda sebagai customer dalam periode waktu yang sewajarnya.

Morris mengambil contoh bencana besar yang dialami perusahaan-perusahaan seperti Merrill Lynch dan Deutsch Bank di New York pada 11 September 2001 lalu. Bencana ini menghancurkan masing-masing kantor pusat lokalnya dan menewaskan ratusan karyawannya. Namun toh setelah situasi stabil, masing-masing mampu melanjutkan operasinya dengan mulus dari sebuah lokasi alternatif tanpa hilangnya data-data yang kritis.

Pencapaian luar biasa ini merupakan bukti kecanggihan dari BCP dan DRP perusahaan-perusahaan tersebut. Industri keuangan/perbankan dikenal lekat dengan standar-standar tertinggi dalam hal pengujian planning mereka secara berkala, untuk menjamin bahwa semua pihak aware terhadap prosedur-prosedur ini, sehingga planning tersebut tetap sejalan dengan realita dan tujuan bisnis. Sementara industri-industri lainnya cukup banyak variasinya dalam hal pengelolaan BCP dan DRP-nya.

Morris mengingatkan, ada ongkos riil yang harus dibayar untuk merespon dan memulihkan diri dari sebuah bencana tanpa ada persiapan rencana mitigasi. Ongkos kuantitatif untuk memperpanjang interupsi bisnis seperti biaya lembur karyawan, penyewaan fasilitas ad hoc, prioritas akuisisi perangkat keras, denda, dan SLA yang tidak terpenuhi bisa sangat besar.

Perusahaan-perusahaan yang ingin menampilkan tingkat profesionalisme yang lebih baik dan fokus pada perlindungan dan meningkatkan nilai stakeholder, semakin melihat bahwa continuity plan diperlukan sebagai langkah menghindari interupsi bisnis dan dampaknya dalam ongkos maupun hal-hal lainnya yang tinggi nilainya.

Apa saja yang dibutuhkan?
Menurut Morris, untuk membangun sebuah BCP dibutuhkan informasi-informasi dari beberapa bagian yang berbeda seperti pengetahuan mengenai pengoperasian, memahami fungsi-fungsi bisnis yang penting di dalam pengoperasian, penentuan waktu sasaran waktu pemulihan (recovery) untuk fungsi-fungsi ini, memahami ancaman lokal, pengetahuan mengenai regulasi lokal, dan beberapa hal lainnya.

Barangkali hal terpenting bagi setiap perusahaan yang berniat membangun BCP adalah mendapatkan dukungan dari pihak manajemen. Sudah terlalu sering BCP menempati urutan prioritas terendah, atau proyek ini ditangani staf junior. Dalam kasus contact center, manajer contact center senior seharusnya juga anggota komite pengawas BCP dan harus menyokong usaha ini dengan kuat.

Orang yang bertugas sebagai koordinator BCP harus memimpin usaha ini selayaknya seorang project manager, seperti halnya inisiatif-inisiatif formal lainnya yang lazim dilakukan sebuah perusahaan. Namun demikian, memahami seluk beluk pengoperasian Call Center akan sangat membantu dalam menyiapkan planning yang relevan dan praktis. Sudah barang tentu beberapa team leader yang bertanggung jawab terhadap berbagai aspek pengoperasian contact center atau access channel Anda harus dilibatkan untuk membantu memahami fungsi-fungsi bisnis yang penting, dan membantu membuat prioritas dan menentukan recovery time objectives (RTO).

Langkah-langkah yang lazim dalam membangun sebuah BCP yang baik meliputi:
Risk Analysis: Menilai ancaman, kerentanan, risiko, kendali-kendali yang tersedia dan ongkos/keuntungan kendali tersebut.
Business Impact Analysis: Penentuan dampak terhadap perusahaan jika potential loss yang teridentifikasi oleh risk analysis sungguh-sungguh terjadi.
Business Continuity Strategy Development: Menentukan strategi pengoperasian business recovery alternatif untuk pemulihan bisnis dan kapabilitas TI di dalam periode recovery time yang sudah ditentukan.
Emergency Response and Operations: Pengimplementasian prosedur-prosedur untuk merespon dan menstabilkan situasi setelah insiden terjadi.
Awareness and Training Programmes: Penyiapan sebuah program awareness korporat dan meningkatkan ketrampilan untuk mengembangkan, mengelola dan menjalanlan BCP.
Maintaining and Exercising BCPs: Pra-perencanaan dan koordinasi plan exercise serta evaluasi dan dokumentasi hasil dari exercise.

Risk Analysis (RA) dan Business Impact Analysis (BIA) seringkali dijalankan dengan fokus utamanya pada potensi dampak atau kebalikan dari BAU (business as usual).

Perhatian utama lainnya untuk kontinuitas sebuah Call Center adalah risiko-risiko yang berkaitan dengan pengoperasian dari satu lokasi tunggal, yang berakibat hilangnya akses ke infrastruktur seperti PABX, IVR atau voice recorder selama terjadinya ‘denial of access’.

RA dan BIA perlu menilai risiko berdasarkan catatan historis dari bencana alam dan konsekuensi dari denial of access ke lokasi contact center dan menimbang risiko-risiko ini terhadap fungsi-fungsi penting yang dijalankan sebuah call center. Biasanya fungsi-fungsi yang menuntut down time paling kecil ini adalah fungsi-fungsi yang memiliki dampak finansial yang signifikan (misalnya sebuah bank tidak mampu menerima telepon dari seorang customer untuk memblokir pembayaran sebuah cek) atau yang menyebabkan terjadinya pelanggaran SLA.

Perusahaan-perusahaan lainnya mungkin akan menganggap ketidaktersediaan selama periode inbound yang kritis (misalnya setelah kampanye promosi diluncurkan) atau periode-periode sibuk yang sudah jadi tradisi (misalnya saat lebaran, natal atau tahun baru) akan berdampak sangat besar sehingga memerlukan kelonggaran dan memiliki strategi pelaksanaan recovery. Segera setelah direncanakan, BCP harus diuji atau di-exercise. Untuk hal ini, pengetahuan seluk beluk contact center menjadi syarat mutlak bagi seorang koordinator BCP yang berusaha merancang exercise yang secara realistis memasukkan seluruh skenario kedalamnya, tanpa harus mengganggu BAU.

Peran contact center sangat jelas terlihat terutama saat masa-masa krisis dan seringkali diintrepretasikan sebagai sebuah sinyal kondisi sebuah perusahaan, apakah baik atau buruk. Jadi, memang penting bahwa contact center memiliki sebuah rencana untuk melanjutkan pengoperasian selama bencana terjadi.

Dengan BCP, perusahaan bisa memformulasikan rencana kelanjutan bisnisnya secara jelas ketika bencana terjadi dan dapat mengurangi potensi gangguan-gangguan terhadap pengoperasian call center Anda serta mengembalikannya ke keadaan semula seefisien mungkin, tutup Morris.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved