|
“Masa depan itu sekarang” tutur sejumlah pakar
teknologi informasi (TI) dan manajemen pada akhir abad lalu.
Revolusi di bidang TI telah mengubah lanskap bisnis secara
drastis. Menurut Profesor Eli Snir, perubahan kemampuan mentransmisikan
secara instan yang berkelanjutan dari TI telah mengubah lingkungan
komunikasi.
Peningkatan kecepatan pemrosesan memungkinkan analisis dilakukan
terhadap data. Ini terkait dengan hukum Moore, yang menyebutkan
kemampuan penyimpanan data dalam chip komputer yang akan
berlipat dua dalam setiap delapanbelas bulan.
Kemajuan TI yang berkonvergensi dengan teknologi komunikasi
merupakan pemicu utama munculnya beragam fenomena baru dalam
bisnis. Kini, sulit membedakan Amazon.com sebagai sebuah
perusahaan yang bergerak dalam bisnis eceran atau toko buku.
Kenapa? Karena Amazon.com tidak memiliki toko dan gudang
secara fisik, dan sebenarnya juga hanya memiliki sedikit
sekali daftar inventori.
Yang sebenarnya dimiliki adalah informasi dalam jumlah sangat
besar, terutama menyangkut profil pelanggan dan apa saja
yang telah dibeli oleh mereka. Amazon.com dengan cerdik mengolah
informasi tesebut daripada sekedar menyimpannya di gudang
yang pengap dan berdebu. Informasi yang diolah digunakan
untuk meyakinkan pelanggannya yang telah memiliki pengalaman
berbelanja online. Secara proaktif Amazon.com merekomendasikan
buku ke pelanggannya berdasarkan informasi pembelian sebelumnya.
Ini diperoleh dari profil pelanggan sehingga dapat melihat
tren belanjanya.
Bisa dikatakan, Amazon.com merupakan usaha yang bisnis intinya
adalah informasi. Keuntungan kompetitif utamanya berasal
dari kecanggihan sistem informasi yang diimplementasikannya.
Perusahaan ini secara dramatis mengubah lanskap bisnis karena
pemahamannya mengenai basisdata, sistem operasional, dan
situs yang menyatukannya dengan pelanggan, pemasok dan mitrabisnis.
Cara yang sama digunakan juga oleh sejumlah perusahaan “tradisional” untuk
memperoleh keuntungan kompetitif dari pengolahan informasi
yang dimilikinya. Wal-Mart, salah satu raksasa bisnis eceran,
mengumpulkan informasi penjualan dari tiap outlet-nya berdasarkan
jadwal harian. Informasi itu dikonsolidasikan ke dalam datawarehouse,
dan disediakan bagi pemasoknya. Berdasarkan informasi itu,
pemasok secara proaktif menyetok ulang (restock) barang-barang
yang akan dijual. Wal-Mart telah menemukan aturan baru manajemen
pengadaan (procurement management). Hasilnya, pengurangan
biaya sekaligus peningkatan efisiensi. Ini membuatnya bisa
menawarkan barang dengan harga lebih murah setiap hari.
Perusahaan-perusahaan yang berhasil membangun supply chain
dapat melakukan lompatan ke depan dibanding kompetitornya,
yang tidak melihat secara optimis proses pengadaan logistik,
mulai dari suplai material hingga pengirimannya ke pelanggan.
Dwight Klappich, peneliti dari META Group, mengungkapkan
bahwa kecepatan merupakan salah satu dari empat persoalan
strategis dalam revolusi SCM. Efek dari kecepatan yang paling
utama adalah memotong rentang waktu dari sekedar gagasan
yang hadir di kepala hingga kehadiran produk secara fisik
di pasar. Kecepatan saja tidak cukup, karena kekuatan informasi
terletak pada adanya konsistensi dari kebijakan yang bagus
dan kecepatan dalam memutuskan sebuah kebijakan.
Tidak heran bila semua perusahaan besar di dunia telah menerapkan
eSCM (electronic supply chain management) jauh sebelum pergantian
abad lalu. Kecenderungan yang terjadi, termasuk di Indonesia,
penerapannya bermula dari perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan
semacam ini memiliki banyak pemasok yang mungkin saja tersebar
secara geografis. Namun dengan memanfaatkan ICT (information
and communication technology), persoalan geografis dan perbedaan
waktu tidak menjadi isu besar.
Di Indonesia, perusahaan besar sekelas Toyota Astra Motor,
Federal Motor, Indofood telah menerapkan eSCM. Pada dasarnya,
eSCM mengintegrasikan mulai dari pengiriman order dan prosesnya,
pengadaan bahan mentah, order tracking, penyebaran informasi,
perencanaan kolaboratif, pengukuran kinerja, pelayanan purna
jual, dan pengembangan produk baru. eSCM juga mengintegrasikan
perusahaan secara virtual dengan para vendor, pelanggan dan
mitra bisnisnya.
Itu tidak berati perusahaan lain yang berada di bawahnya
tidak meminati eSCM. Willy Sidharta dari Aqua mengungkapkan
bahwa implementasi eSCM secara penuh akan meningkatkan layanan
ke pelanggan. Namun, menurutnya, ini membutuhkan bukan hanya
disiplin dalam prosedur dan data collection, tetapi juga
sikap proaktif pihak-pihak yang nantinya akan terintegrasi
di dalamnya. Apalagi mengingat bahwa Aqua harus mengintegrasikan
tiga belas pabrik dan puluhan distribution center di seluruh
Indonesia. Ini belum lagi berbicara mengenai jumlah vendor
bahan
baku dan bahan kemasan, pelanggan yang berupa distributor besar,
dan mitra bisnis lainnya.
Sedemikian luasnya eSCM, membuat banyak perusahaan sangat hati-hati
dalam mengimplementasikan eSCM. eSCM fokus pada pengelolaan arus
informasi, bahan baku, dan dana sepanjang matarantai suplai.
Arus tersebut mencerminkan core processes dari sebuah perusahaan
yang mengimplementasikannya. Untuk bisa mengelola arus tersebut
secara efektif diperlukan lingkungan akan kepercayaan dan kerja
sama antara perusahaan dengan mitra bisnisnya.
eSCM juga menyangkut investasi yang tidak sedikit jumlahnya
sehingga menurut Yulnofrins Napilus, ICT Manager Frisian
Flag Indonesia,
harus berhati-hati agar, “Total Cost of Ownership-nya jangan
sampai membengkak sehingga tidak efisien,” ungkapnya.
Karena itu, sejak awal ia melihat perlunya pembenahan atas
backbone komunikasi dan pengimplementasian ERP (enterprise
resource planning). “Pendekatannya
berawal dari ERP, karena eSCM berada setelah itu diimplementasikan,” paparnya
gamblang. Pa–ling tidak, eSCM dan ERP dibangun secara
paralel dengan menggunakan ERP sebagai basisnya.
Untuk bisa mengimplementasikannya, diperlukan identifikasi atas
orientasi bisnis perusahaan ke depan. Ini akan memudahkan perencanaan
atas business process yang hendak dibangun, dan harus diterjemahkan
ke dalam perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang. Tanpa
itu, di matanya, akan sulit merealisasikan semuanya. Yang juga
menjadi perhatiannya adalah diperlukan komitmen manajemen puncak
yang kuat agar bisa mendorong terwujudnya proses tersebut.
Pihaknya kini berada dalam transisi ke pengimplementasian ERP
dan eSCM secara pararel. “Kalau tidak ada aral melintang,
per Januari 2004 nanti implementasi eSCM sudah berjalan,” katanya.
Hanya saja, ERP direncanakan dalam skala regional, sementara
SCM berskala nasional.
Selama ini, diakuinya perusahaannya telah mengimplementasikan
Prism. Prism mungkin dapat dikategorikan sebagai Enterprise
Management Solution (EMS), yang nyaris sudah tidak mungkin
lagi untuk dikembangkan
di masa datang. “Kami tidak mengimplementasikan MRP, namun
hanya penjadualan produksi yang sebagian dikerjakan secara otomatis,” paparnya.
Penjadualan produksi memanfaatkan Prism. Setiap jadual produksi
yang diproses akan mendebet secara otomatis persediaan stok bahan
baku. Ini memudahkan bagian pengadaan dalam memonitornya. Tapi
karena pendekatannya tidak melalui konsep MRP, melainkan dicek
langsung oleh user ke sistem, baru kemudian user dari bagian
pengadaan memutuskan kapan pengadaan bahan mentahnya harus dilakukan.
Purchasing order pun mempergunakan Prism.
Untuk keperluan logistics hingga transportation cost, ditambahkan
submodul tersendiri ke dalam Prism. Untuk mendapatkan pelaporan
dan submodul lainnya, maka semua data harus ditransportasikan
ke aplikasi keuangan yang ada. “Eksekusinya pun harus dengan
intervensi manual,” ungkapnya. Untuk mengompilasikan
laporan dan sejumlah simulasi yang dianggap penting, seperti
manajemen
akuntansi, harus didownload ke spreadsheet. Sistem yang ada
saat ini cenderung untuk melakukan pencatatan dibandingkan
proses
pengolahan yang lebih kompleks.
Dengan sistem yang semi otomatis, bisa dibayangkan kerumitan
yang bakal terjadi. Apalagi sebagian besar lemak susu dan lembaran
kaleng susu masih harus diimpor dari luar negeri. Padahal, supply
chain tidak hanya terbatas pada soal pengadaan barang, tetapi
juga terkait dengan order tracking, pemesanan oleh para distributor,
pengiriman barang, dan penjualan.
Karena tidak seluruhnya otomatis, information sharing tidak berjalan
mulus dan perencanaan kolaboratif pun agak terhambat. Penyusunan
laporan dan simulasi prediksi untuk jangka waktu tertentu, misalnya,
juga tidak lebih mudah. Semua data harus di-download baru kemudian
diolah dengan program lain yang memang digunakan oleh bagian
bersangkutan.
Tidak otomatisnya informasi yang ada mengharuskan upaya ekstra
dari bagian pengadaan agar dapat memberikan informasi yang tepat.
Padahal, masalah kecepatan dan ketepatan data dalam informasi
yang hendak disajikan merupakan sesuatu yang sangat penting.
Tanpa sistem online dan otomatis maka kecepatan penyajian informasi
bisa terhambat.
Untuk mengatasi masalah yang muncul, Frisian Flag Indonesia mulai
melirik pengimplementasian eSCM yang berjalan pararel dengan
ERP. Kini, sebagai persiapan untuk melangkah ke arah implementasi
keduanya, telah pula dilakukan berbagai langkah awal. Salah satunya
adalah pembenahan internal dengan menyatukan empat lokasi menjadi
hanya satu lokasi terpusat.
 |
| Yulnofrins Napilus, ICT Manager
Frisian Flag Indonesia: “Total Cost of Ownership
eSCM jangan sampai membengkak sehingga tidak efisien.” |
Langkah lainnya adalah melakukan penilaian atas aplikasi dan
software yang tidak seragam . Nantinya, semua software dan aplikasi
yang digunakan bersifat standar. Selain itu, sebagian besar hardware
mau tidak mau harus diganti.
Yang juga penting adalah penyiapan infrastruktur dan backbone
komunikasinya. “Kami memilih frame relay karena lebih mudah
perawatannya dan efisien,” papar Nofrins. Namun yang
penting adalah kehandalan saluran komunikasinya. Ini terutama
bila masih
menggunakan dial-up, baik untuk kantor perwakilan dan distributor
yang tidak berlokasi di kota-kota besar.
Yang penting dalam penerapan eSCM nantinya adalah interlayer.
Interlayer ini ada dalam aplikasi, namun dengan informasi
yang lebih rinci dibanding sebelumnya. Artinya, bila dulu
data supplier
dan distributor hanya bersifat mayor, kini harus lebih rinci
dengan menyertakan data-data minor. “Ini membutuhkan upaya
ekstra,” ungkapnya lebih lanjut. Lebih lengkap data
yang terekam, semakin mudah dan lengkap simulasi yang bisa
ditampilkan.
eSCM diharapkan mampu mendorong hingga ke tingkat transaksi online.
Transaksi hanya membutuhkan sekali data entry, sehingga tidak
perlu lagi mengirim hardcopy melalui faksimili. Karena itu, diharapkan
bisa mengintegrasikan sistem konfirmasi dan otorisasinya sekaligus.
Transisi merupakan tahap kritis, karena menyangkut migrasi data
dari Prism ke eSCM dan ERP. Banyak perusahaan menggelar operasi
pararel antara sistem lama dan baru. FFI justru memilih untuk
melakukan operasi Big Bang atau pemutusan parsial antara keduanya.
Menurun Nofrins pararel akan membuat orang cenderung kembali
lagi ke sistem lama. Ini terjadi karena sistem lama sudah sedemikian
familiarnya, sehingga dirasakan lebih mudah dan enak dalam penggunaannya.
Itu sebabnya tidak semua data lama dimigrasikan, karena akan
menyebabkan pembengkakan biaya dan upaya yang luar biasa
besarnya. Karena itu, pilihan jatuh pada memigrasikan data-data
dalam
jangka waktu tertentu. “Tentunya data dalam sekuen waktu yang
paling relevan dengan pekerjaan mereka,” jelasnya. •ew |