Kajian
yang dilakukan oleh sejumlah inkubator bisnis misalnya, memperlihatkan
bahwa hambatan terbesar dari UKM nasional adalah pasar yang
terbatas. Dengan pasar yang terbatas semacam ini, tentu sulit
diharapkan UKM dapat mengembangkan pemasaran dan kapitalisasi
modal secara mandiri. Akibatnya, UKM mengalami stagnasi dan
hanya sedikit yang mampu mencapai skala besar secara mandiri.
Hanya intervensi politik yang bisa dilakukan untuk mendorong
pertumbuhan UKM, tapi itupun tidak bisa dilakukan terus-menerus
sepanjang masa.
Untuk memperluas pasarnya, mau tidak mau dibutuhkan dana yang
tidak sedikit guna memperluas jaringan pemasaran. Jarang ada
UKM yang bisa dan mampu melakukan strategi pengembangan semacam
ini, karena memang tidak murah. Saat itu, salah satu terobosan
dalam memperluas jangkauan pemasaran adalah dengan memanfaatkan
fasilitas Belanja Lewat Pos (BLP). Program BLP ini difasilitasi
dan diorganisir oleh PT Pos Indonesia. Tujuannya jelas membantu
UKM dalam memasarkan produknya ke seluruh tanah air dengan
memanfaatkan jaringan yang dimilikinya. Bayangkan, kalau dulu
pasar hanya terbatas pada satu atau lebih kecamatan. Maka dengan
memanfaatkan BLP pasar meluas ke seluruh tanah air.
Namun setelah berapa tahun berjalan, BLP ternyata bukan bertumbuh
malah ikut-ikutan pupus. Sumber di PT Pos Indonesia menuturkan
para penjual sulit menerapkan kontrol kualitas atas produk
yang dipasarkan sendiri. Begitu juga ketersediaan produk dan
distribusinya, ketika permintaan meningkat. Akibatnya, kualitas
produk merosot, distribusi tidak lagi sesuatu waktu yang dijanjikan
dan pasarpun menghilang.
Hadirnya Internet ternyata menumbuhkan kembali kesempatan meraih
peluang pasar. Bedanya kali ini pasar yang akan direngkuh adalah
pasar dunia. Tidak terbatas lagi pada daerah, wilayah atau
kawasan tertentu. Menurut Henry J. Situmeang dari rajacraft.com,
salah satu sifat internet adalah memperpendek jarak geografis
dan melintasi batasan waktu. Selain tentu kecepatan yang menjadi
ciri utama dari wahana elektronik satu ini.
Perluasan pasar ini tentu tidak harus dilakukan dengan membangun
web site secara mandiri. Membangun web sites mandiri bisa jadi
akan membebani cashflow sebuah UKM, apalagi bila baru saja
terjun ke pasar internasional. Berbeda dengan eksportir mebel
dan furnitur semacam PT Satin Abadi, PT Kotajati dan CV Maniac
Furniture yang memang sudah lama menikmati kucuran valuta asing
dari aktivitas bisnis mereka.
Jalan paling mudah dan ekonomis dalam memperluas pemasaran
bisa dilakukan dengan bergabung pada eMarketplace, yang memang
spesifik dibangun untuk produk atau jasa tertentu. Salah satu
eMarketplace yang paling menonjol adalah amazon.com yang ditujukan
untuk bisnis penerbitan buku.
Bergabung dengan sebuah eMarketplace ternyata tidak hanya menekan
ongkos yang harus dikeluarkan dibandingkan dengan membangun
web site. Apalagi, menurut Henry, persepsi mengenai web site
masih terbatas pada sekedar penginformasian mengenai perusahaan
dan produk-produknya.
Berbeda dengan web site, eMarketplace menurut Rudy Rusdiah,
CEO PT Micronics Internusa, merupakan tempat bertemunya penjual
dan pembeli yang dilakukan di atas sarana elektronik atau
tepatnya Internet. “Layaknya pasar tradisonal atau mall yang memiliki
etalase untuk memajang produk atau jasa yang diperjual belikan,
hanya saja ini virtual,” katanya seraya menganalogikan.
Untuk seller, eMarketplace menawarkan keuntungan lain seperti
ketersediaan katalog produk atau jasa yang bisa di-update untuk
waktu tertentu, tersedianya informasi mengenai tren pasar,
dan transaksi bisnis serta pembayarannya. Sementara untuk buyers,
keuntungan yang ditawarkan berupa tersedianya katalog produk
dan jasa yang ditawarkan, layanan terkait, kemudahan dalam
transaksi dan trasmisi transaksi ke mitra supply chain, affiliasi
pemasaran, dan layanan kolaboratif untuk koordinasi perencanaan.
 |
| Henry J. Situmeang, rajacraft.com |
Itu sebabnya, di luar negeri banyak bermunculan eMarketplace.
Apalagi hal ini ditunjang oleh ketersebarluasan komputer
dan jaringan Internet terutama di negara maju. Salah satu
kendala
yang ada di Indonesia, menurut Rudy adalah masih kecilnya
ketersebaran komputer dan Internet. Namun, tidak berarti
bahwa ia tidak
optimis akan masa depan eMarketplace di sini. “Pengguna
Internet masih akan terus bertambah dan terus bertumbuh dua
kali lebih besar setiap tahunnya,” ungkapnya.
Pertumbuhan berganda ini tentu bisa menjadi pemicu munculnya
hype dalam bisnis dotcom di Indonesia. Menurut Rudy, tidak
otomatis pertumbuhan ini bisa menjamin pertumbuhan bisnis
dotcom. Ia mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu telah terjadi
Internet
bubble burst di Indonesia, “Dari dotcom menjadi dotgone,” ungkapnya.
Pecahnya gelembung tersebut terjadinya karena para pelaku bisnis
dotcom tidak mendasarkan model bisnisnya secara realistis. “Ini
persoalan sederhana, hukum penawaran dan permintaan,” lanjutnya
menjelaskan.
Persoalan hukum penawaran dan permintaan merupakan dasar
pijakan untuk membangun eMarketplace. “Proses terbentuknya eMarketplace
itu seharusnya mengikuti proses yang dilalui marketplace tradisonal,
dan tidak pernah bisa dipaksakan,” kata Atjing Tjahjana,
Director textiles-indonesia.com (TIC).
“Yang paling mendasar dari sebuah eMarketplace adalah
adanya seller dan produk yang dijual sebelum itu dibangun,” ujar
Henry yang menjadi penanggung jawab rajacraft.com. Kehadiran
para e-seller mirip dengan kehadiran tenant di sebuah mall
atau pusat perbelanjaan. Agar seller mau hadir di marketplace
yang dibangun, maka diperlukan upaya ekstra untuk meyakinkan
mereka akan adanya buyers.
Rajacraft.com misalnya, kini menampung sekitar 280 eSeller,
yang kebanyakan berdomisili di Jawa dan Bali. Buyers-nya
yang tercatat pada rajacraft.com mencapai 5000 entitas dari
seluruh
dunia. Menurut Henry, jumlah buyers ini sebenarnya telah
dimiliki oleh rajacraft.com yang merupakan divisi dari indo.com
yang
lebih berkonsentrasi di bisnis perhotelan. “Pengunjung
di indo.com yang rata-rata business traveller inilah yang kemudian
menjadi buyers awal ketika meluncurkan rajacraft.com,” jelasnya. Dari segi jumlah eSeller, sebenarnya rajacraft bukan yang terbesar.
Dari jumlah eBuyers, rajacraft merupakan eMarketplace yang
paling berhasil menarik karena sangat aktif. Jumlah tenant
atau eSeller textiles-indonesia.com yang merupakan eMarketplace
khusus tekstil dan garmen mencapai 65 perusahaan di seluruh
Indonesia, sementara jumlah peserta terbesarnya justru berasal
dari RRCina.
Itu sebabnya, TIC yang berdiri pada medio 2002 memiliki aliansi
dengan eMarketplace asal Hongkong, yaitu tradetextiles.com,
dan bekerjasama dengan salah satu perusahaan dagang terbesar
Mitsui & Co., melalui kantor perwakilannya di Jakarta. “eMarketplace
seperti TIC lebih bermanfaat untuk komoditas hulu (upstream),
seperti serat dan benang, dibanding komoditas hilir (downstream)
seperti apparel dan garmen," aku Atjing.
Sedangkan smecda.com yang dikelola di bawah kantor Deputi
Bidang Pengkajian Sumberdaya Koperasi & UKM Kementerian
Koperasi dan UKM bisa dikatakan merupakan pendatang baru
dalam eMarketplace
lokal. Namun sekalipun terhitung baru, www.smecda.com jumlah
eSeller-nya mencapai 599 UKM dan koperasi yang dari Sabang
hingga Merauke.
Jumlah buyers dan sellers sendiri tidaklah menjadi ukuran keberhasilan
sebuah marketplace. Dengan jumlah yang membludak, hingga kini
smecda.com masih berada dalam tahap awal pengembangan sebuah
eMarketplace sekalipun sudah memiliki berbagai fasilitas, seperti
layaknya sebuah eMarketplace.
 |
| Rudy Rusdiah, CEO PT Micronics
Internusa |
Para tenant atau eSeller umumnya tertarik untuk bergabung bukan
hanya karena rendahnya biaya dan perolehan fasilitas komunikasi
yang intensif. Tetapi, karena manfaatnya yang besar dalam mempromosikan
produk dan usahanya. Ario Sudiro dari smecda.com menyebutkan
bahwa calon eSeller setelah lolos seleksi akan memperoleh e-mail
address tersendiri yang berguna dalam menawarkan atau mencari
produk, distributor ataupun pembeli langsungnya.
Setelah berhasil menyakinkan eSellers dan eBuyers, sebuah
eMarketplace harus memiliki software aplikasinya. Rajacraft.com
membangun
secara in-house kebutuhan aplikasinya. “Kami membangun
dan mengelaborasi dari aplikasi indo.com,” ujar Henry.
Sedangkan TIC, seperti diutarakan Atjing, mengakui menyewa
aplikasi eMarketplace dari sebuah sumber untuk jangka waktu
tertentu. “Biasanya untuk waktu satu atau dua tahun dan
bisa diperpanjang pada masa berikutnya,” jelasnya.
Untuk memudahkan pencarian sebuah produk, eMarketplace harus
memiliki sistem kategorisasi, katalog dan pengkodean yang akurat.
Para sellers atau tenant dikategorisasikan dalam sejumlah line
yang sangat spesifik. Textiles-indonesia.com, misalnya membagi
ke dalam tujuh line mulai dari fabric coloration hingga ke
yarn. Perusahaan tekstil dan produk olah tekstil terpadu misalnya,
bisa jadi akan ditemukan namanya dalam setiap atau sebagian
line yang ada. Sedang rajacraft.com mengkategorisasikan tenant-nya
ke dalam enam line mulai dari furnitur, perlengkapan rumah
tangga, tekstil, perhiasan, folks art dan others.
Setelah kategorisasi, dilakukan pembuatan katalog produk
sekaligus kode dari masing-masing produknya. Dengan katalog,
sellers
bisa menampilkan produk-produk yang akan dijajakannya. Sedang
buyers bisa melihat rupa dari produk yang ingin dibelinya.
Atjing mengakui bahwa katalog memang sangat berguna dalam
memberikan gambaran visual, tapi tetap saja katalog tidak
bisa menggantikan
atau menggeser hand feels sebuah produk tekstil. Padahal
diakui dalam pasar tekstil dan produk olahan tekstil, hand
feels masih
sangat berperan besar dalam menentukan terjadi tidaknya suatu
transaksi. “Tidak semua informasi tentang sebuah produk
tekstil bisa di-digitalized,” katanya.
Sistem katalog juga harus bersifat dinamis. Artinya selalu
terjadi penambahan produk baru dalam jangka waktu tertentu.
Di rajacraft.com, update terjadi pada setiap Jum’at
malam. Update ini tidak hanya merupakan informasi akan adanya
produk-produk
baru dan untuk menarik minat buyers akan untuk berkunjung
ke eMarketplace-nya. Tetapi, juga membuka peluang pemasaran
sesuai
dengan musim di negara tujuan pemasaran. Misalnya, jauh hari
sebelum musim panas tiba, rajacraft.com sudah menampilkan
produk-produk kursi taman untuk pasar di negara dengan empat
musim. Rajacaraft.com
misalnya, menyiapkan tim tersendiri untuk bisa melakukan
prediksi terhadap tren pasar yang ada.
Yang sebenarnya cukup pelik adalah pengkodean. Pengkodean
ini tidak hanya menyangkut masalah pemberian kode bagi setiap
produk
yang hendak dijualbelikan. Tapi juga berkaitan dengan line
of coding di dalam database. Pengkodean berguna agar sellers
dan buyers bisa dengan akurat menerima dan mengirimkan pesanan
yang dimaksud. “Jangan sampai produk A dari perusahaan
tertentu ketika diklik justru memunculkan pesanan pembelian
untuk produk B misalnya,” jelas Henry.
Hanya saja untuk bisa melakukan hal semacam ini diperlukan
upaya ekstra, seperti membentuk tim pemasaran yang bisa memprediksi
kebutuhan-kebutuhan akan produk yang akan muncul dalam jangka
pendek, menengah dan panjang. Ini yang disebut oleh Rudy
dengan peran besar dari knowledge. “Ini hanya dimiliki
oleh skilled workers dan ini yang seharusnya dilihat sebagai
aset
dari sebuah perusahaan,” jelasnya. Sekali prediksi
yang dibuat meleset maka ada kemungkinan buyers tidak akan
tertarik.
Akibatnya, muncul persepsi negatif terhadap sebuah marketplace,
dan bila ini terjadi maka akan sulit untuk memperbaikinya lagi. • ew
RELATED ARTICLES:
Menarik Pembeli, Memberi Kemudahan
|