Dalam
kondisi pasar yang berubah sangat cepat dengan tingkat kompetisi
yang kian ketat, mempertahankan minat pelanggan atau buyers
justru menjadi masalah yang cukup merepotkan. Bahkan diakui
Henry bukan cukup repot, tapi benar-benar repot. Untuk dan
mempertahankan minat buyers, diterbitkan e-newsletter secara
berkala yang menampilkan produk-produk baru dan terseleksi
sesuai minat masing-masing buyers. Jangan sampai buyers yang
hanya berminat pada produk furniture malahan memperoleh newsletter
yang menampilkan produk non furnitur. “Kalau itu terjadi
sudah pasti dia akan unsubscribe secepatnya,” jelas
Henry.
Fasilitas komunikasi menjadi sangat penting untuk buyers. Hanya
melalui komunikasi yang intensif dan proaktif sebuah eMarketplace
bisa menarik dan mempertahankan kehadiran mereka. Namun, untuk
bisa menjadi buyers dari sebuah eMarketplace biasanya melalui
suatu seleksi administratif. Seleksi semacam ini dilakukan
dengan memunculkan semacam form administratif yang harus diisi
oleh setiap buyers ketika pertama kali berbelanja dalam eMarketplace
bersangkutan.
Dari data administrasi yang diisi, buyers bisa dikelompokkan
dalam sejumlah kategori seperti minat dan jenis bisnisnya.
Dulu, seperti diakui Henry, pengisian form bisa menjadi penghalang
bagi kegiatan berbelanja. Hanya dengan mengisi form secara
utuh, buyers akan memperoleh password dan ID untuk bisa melakukan
permintaan. Akibatnya, angka ketidakberhasilan buyers dalam
mengeksekusi belanja menjadi besar. Untuk memperkecilnya, pengisian
form administrasi itu digeser pada saat inquiries dieksekusi.
Password dan ID tetap diperoleh setelah melakukan pengisian
form tersebut secara utuh, Langkah ini ternyata memudahkan
buyers yang baru sekalipun.
Menurut Atjing, untuk kemudahan dan kenyamanan transaksi TIC
memberikan keleluasaan penuh bagi eSellers dan eBuyers dalam
menjajaki dan melakukan transaksi. Untuk itu, TIC mencantumkan
secara lengkap alamat eSellers dalam direktorinya, sehingga
bisa diakses baik secara online maupun offline.
Mengingat adanya sejumlah kemungkinan sampai terjadinya transaksi
jual beli, mulai dari penjualan dan pembelian seperti umumnya,
hingga pelelangan dan reverse auction, maka TIC berusaha men-support
semua kemungkinan tersebut. “Mereka bisa berhubungan
langsung, karena tugas TIC hanyalah memediasi komunikasi di
antara mereka,” jelas Atjing. Setelah terjadinya deal
bisnis, barulah TIC membuka informasi tentang pembeli dan penjualnya
ke masing-masing pihak.
Dengan begitu, keamanan dan kenyamanan bertransaksi bisa dijaga
secara utuh. Tugas mediasi ini, menurut Atjing dilakukan dan
difasilitasi secara gratis kepada peserta TIC. Menurutnya,
kebijakan pembebasan fee ini diberlakukan dalam rangka mempromosikan
agar komunitas tekstil nasional mau menggunakan sarana TIC.
Tahapan transaksi biasanya diikuti dengan tahapan pembayaran.
Henry mengakui bahwa pembayaran transaksi di indo.com sudah
bisa dilakukan dengan mempergunakan kartu kredit. Namun untuk
rajacraft.com, pembayarannya kebanyakan dilakukan secara offline.
Ini terkait dengan persoalan bahwa produl-produk yang ada di
rajacraft.com bukanlah barang jadi. Sehingga perlu menunggu
penyelesaian produksi dan pengiriman nya.
Untuk masalah pembayaran ini terdapat kendala yang cukup serius
hingga saat ini. Menurut Henry, terdapat dua opsi yang harus
dipertimbangkan. Opsi pertama adalah pembayaran dilakukan langsung
kepada seller-nya. Sedang opsi kedua, pembayaran dilakukan
tidak langsung melalui rajacraft.com. Persoalan ini bersumber
pada situasi riil bahwa penggunaan Internet belumlah menyeluruh,
sehingga bila buyers mengontak sellers belum tentu ada tanggapan. “Bisa
jadi sellers membuka e-mailnya hanya sekali dalam sebulan,” ungkap
Henry.
Akibatnya diambil langkah proaktif, dan cukup merepotkan yaitu
Master Inquiries rajacraft.com harus me-reply setiap kontak
yang masuk dari buyers. Dalam waktu yang sama, dilakukan pula
forward kotak itu ke sellers agar bisa memperoleh tanggapan
secepatnya. Ini dilakukan baik melalui Internet maupun faksimili
atau dengan menelponnya langsung. Dengan cara inilah, mau tidak
mau partisipan rajacraft.com bertindak aktif. Namun, ia juga
mengakui bahwa rajacraft.com memang lebih fokus mengurusi fasilitas
transaksi, bukan terjadinya transaksi.
 |
| Dengan adanya eMarketplace diharapkan
dapat mendorong terciptanya peluang pasar
di luar negeri bagi produk nasional. |
TIC mengakui bahwa sebagai eMarketplace untuk produk tekstil,
justru kecil kemungkinannya untuk menggunakan kartu kredit
sebagai alat pembayaran. Untuk itu, TIC sedang menyiapkan
solusi untuk menentukan adanya pembatasan komoditas dan anggotanya,
pembentukan aliansi yang mau menyediakan solusi atau mediasi
dalam soal payment, quality assurance dan logistik. Di samping
juga membenahi masalah-masalah kecil yang tidak kalah pentingnya
bagi sebuah eMarketplace, seperti perubahan kultur anggota
TIC agar siap bertransaksi secara online. Namun, ketika ditanya
kapan hal tersebut ditargetkan bisa diimplementasikan, Atjing
hanya menjawab “I Wish I Knew”.
Harus diakui bila konsep eMarketplace yang berlaku di dunia
sudah terimplementasi secara terintegrasi, bahkan hingga mencapai
tahapan pelibatan lembaga asuransi, perbankan dan ekspedisi.
Bahkan sejumlah eMarketplace sudah pula dilengkapi dengan fasilitas
audit dan tracking, sehingga bisa diketahui secara pasti di
mana sebuah kiriman barang berada secara real time. Henry misalnya
mengakui bahwa hingga kini kedua fasilitas di atas masih belum
ditampilkan dalam rajacraft.com. Ini paling tidak memberikan
kesan adanya ketidak pastian bagi buyers.
Yang menjadi concern dari penyedia sarana eMarketplace semacam
rajacraft.com TIC saat ini adalah penilaian akan situasi di
Indonesia yang serba tidak pasti oleh negara luar. Akibatnya,
misalnya, ia menunjuk pada pemberlakuan travel warning dan
tarif premium pada transportasi laut. Ini tentu membuat produk
nasional menjadi tidak kompetitif di mata buyers asing.
Padahal tujuan dari pembangunan eMarketplace adalah mendorong
terciptanya peluang pasar di luar negeri bagi produk nasional.
Kondisi semacam inilah yang membuat mereka amat kuatir dengan
masa depan kemampuan perekonomian nasional dalam pentas pasar
global. Akibatnya, eMarketplace tidak bisa banyak mencapai
target utamanya, yaitu pemberdayaan produk dan industri nasional
terutama UKM dan Koperasi.
Masalah lain yang menambah kepusingan pengelola eMarketplace
adalah kontinuitas kuantitas dan kontrol kualitas. Namun,
terlepas dari semua masalah eksternal tersebut, di mata Atjing,
eBusiness
adalah sebuah konsep yang sangat menarik, namun tidak mudah
untuk mengimplementasikannya. Baginya, Internet, by definition,
adalah sebuah network. eBusiness adalah sebuah network economy.
Bisnis eMarketplace akan eksis kalau networknya eksis, dan “No
matter how large is your network, you must be part of larger
network”. •EW
RELATED ARTICLES:
Ketika UKM Menantang Dunia
|