Volume I Nomor 09 - Juli 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Online, offline dan Mispersepsi

Ketika David Menantang Goliath
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Dalam kondisi pasar yang berubah sangat cepat dengan tingkat kompetisi yang kian ketat, mempertahankan minat pelanggan atau buyers justru menjadi masalah yang cukup merepotkan. Bahkan diakui Henry bukan cukup repot, tapi benar-benar repot. Untuk dan mempertahankan minat buyers, diterbitkan e-newsletter secara berkala yang menampilkan produk-produk baru dan terseleksi sesuai minat masing-masing buyers. Jangan sampai buyers yang hanya berminat pada produk furniture malahan memperoleh newsletter yang menampilkan produk non furnitur. “Kalau itu terjadi sudah pasti dia akan unsubscribe secepatnya,” jelas Henry.

Fasilitas komunikasi menjadi sangat penting untuk buyers. Hanya melalui komunikasi yang intensif dan proaktif sebuah eMarketplace bisa menarik dan mempertahankan kehadiran mereka. Namun, untuk bisa menjadi buyers dari sebuah eMarketplace biasanya melalui suatu seleksi administratif. Seleksi semacam ini dilakukan dengan memunculkan semacam form administratif yang harus diisi oleh setiap buyers ketika pertama kali berbelanja dalam eMarketplace bersangkutan.

Dari data administrasi yang diisi, buyers bisa dikelompokkan dalam sejumlah kategori seperti minat dan jenis bisnisnya. Dulu, seperti diakui Henry, pengisian form bisa menjadi penghalang bagi kegiatan berbelanja. Hanya dengan mengisi form secara utuh, buyers akan memperoleh password dan ID untuk bisa melakukan permintaan. Akibatnya, angka ketidakberhasilan buyers dalam mengeksekusi belanja menjadi besar. Untuk memperkecilnya, pengisian form administrasi itu digeser pada saat inquiries dieksekusi. Password dan ID tetap diperoleh setelah melakukan pengisian form tersebut secara utuh, Langkah ini ternyata memudahkan buyers yang baru sekalipun.

Menurut Atjing, untuk kemudahan dan kenyamanan transaksi TIC memberikan keleluasaan penuh bagi eSellers dan eBuyers dalam menjajaki dan melakukan transaksi. Untuk itu, TIC mencantumkan secara lengkap alamat eSellers dalam direktorinya, sehingga bisa diakses baik secara online maupun offline.

Mengingat adanya sejumlah kemungkinan sampai terjadinya transaksi jual beli, mulai dari penjualan dan pembelian seperti umumnya, hingga pelelangan dan reverse auction, maka TIC berusaha men-support semua kemungkinan tersebut. “Mereka bisa berhubungan langsung, karena tugas TIC hanyalah memediasi komunikasi di antara mereka,” jelas Atjing. Setelah terjadinya deal bisnis, barulah TIC membuka informasi tentang pembeli dan penjualnya ke masing-masing pihak.

Dengan begitu, keamanan dan kenyamanan bertransaksi bisa dijaga secara utuh. Tugas mediasi ini, menurut Atjing dilakukan dan difasilitasi secara gratis kepada peserta TIC. Menurutnya, kebijakan pembebasan fee ini diberlakukan dalam rangka mempromosikan agar komunitas tekstil nasional mau menggunakan sarana TIC.

Tahapan transaksi biasanya diikuti dengan tahapan pembayaran. Henry mengakui bahwa pembayaran transaksi di indo.com sudah bisa dilakukan dengan mempergunakan kartu kredit. Namun untuk rajacraft.com, pembayarannya kebanyakan dilakukan secara offline. Ini terkait dengan persoalan bahwa produl-produk yang ada di rajacraft.com bukanlah barang jadi. Sehingga perlu menunggu penyelesaian produksi dan pengiriman nya.

Untuk masalah pembayaran ini terdapat kendala yang cukup serius hingga saat ini. Menurut Henry, terdapat dua opsi yang harus dipertimbangkan. Opsi pertama adalah pembayaran dilakukan langsung kepada seller-nya. Sedang opsi kedua, pembayaran dilakukan tidak langsung melalui rajacraft.com. Persoalan ini bersumber pada situasi riil bahwa penggunaan Internet belumlah menyeluruh, sehingga bila buyers mengontak sellers belum tentu ada tanggapan. “Bisa jadi sellers membuka e-mailnya hanya sekali dalam sebulan,” ungkap Henry.

Akibatnya diambil langkah proaktif, dan cukup merepotkan yaitu Master Inquiries rajacraft.com harus me-reply setiap kontak yang masuk dari buyers. Dalam waktu yang sama, dilakukan pula forward kotak itu ke sellers agar bisa memperoleh tanggapan secepatnya. Ini dilakukan baik melalui Internet maupun faksimili atau dengan menelponnya langsung. Dengan cara inilah, mau tidak mau partisipan rajacraft.com bertindak aktif. Namun, ia juga mengakui bahwa rajacraft.com memang lebih fokus mengurusi fasilitas transaksi, bukan terjadinya transaksi.

Dengan adanya eMarketplace diharapkan dapat mendorong terciptanya peluang pasar di luar negeri bagi produk nasional.

TIC mengakui bahwa sebagai eMarketplace untuk produk tekstil, justru kecil kemungkinannya untuk menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran. Untuk itu, TIC sedang menyiapkan solusi untuk menentukan adanya pembatasan komoditas dan anggotanya, pembentukan aliansi yang mau menyediakan solusi atau mediasi dalam soal payment, quality assurance dan logistik. Di samping juga membenahi masalah-masalah kecil yang tidak kalah pentingnya bagi sebuah eMarketplace, seperti perubahan kultur anggota TIC agar siap bertransaksi secara online. Namun, ketika ditanya kapan hal tersebut ditargetkan bisa diimplementasikan, Atjing hanya menjawab “I Wish I Knew”.

Harus diakui bila konsep eMarketplace yang berlaku di dunia sudah terimplementasi secara terintegrasi, bahkan hingga mencapai tahapan pelibatan lembaga asuransi, perbankan dan ekspedisi. Bahkan sejumlah eMarketplace sudah pula dilengkapi dengan fasilitas audit dan tracking, sehingga bisa diketahui secara pasti di mana sebuah kiriman barang berada secara real time. Henry misalnya mengakui bahwa hingga kini kedua fasilitas di atas masih belum ditampilkan dalam rajacraft.com. Ini paling tidak memberikan kesan adanya ketidak pastian bagi buyers.

Yang menjadi concern dari penyedia sarana eMarketplace semacam rajacraft.com TIC saat ini adalah penilaian akan situasi di Indonesia yang serba tidak pasti oleh negara luar. Akibatnya, misalnya, ia menunjuk pada pemberlakuan travel warning dan tarif premium pada transportasi laut. Ini tentu membuat produk nasional menjadi tidak kompetitif di mata buyers asing.

Padahal tujuan dari pembangunan eMarketplace adalah mendorong terciptanya peluang pasar di luar negeri bagi produk nasional. Kondisi semacam inilah yang membuat mereka amat kuatir dengan masa depan kemampuan perekonomian nasional dalam pentas pasar global. Akibatnya, eMarketplace tidak bisa banyak mencapai target utamanya, yaitu pemberdayaan produk dan industri nasional terutama UKM dan Koperasi.

Masalah lain yang menambah kepusingan pengelola eMarketplace adalah kontinuitas kuantitas dan kontrol kualitas. Namun, terlepas dari semua masalah eksternal tersebut, di mata Atjing, eBusiness adalah sebuah konsep yang sangat menarik, namun tidak mudah untuk mengimplementasikannya. Baginya, Internet, by definition, adalah sebuah network. eBusiness adalah sebuah network economy. Bisnis eMarketplace akan eksis kalau networknya eksis, dan “No matter how large is your network, you must be part of larger network”. •EW

RELATED ARTICLES:
Ketika UKM Menantang Dunia

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved